
Kami berjalan bergandengan tangan. Aku menggenggam tangan Embun erat seperti takut dia akan menghilang dari pandanganku.
Ke mana kami pergi? Kami mengunjungi salah satu wahana terbesar di dunia. Ini adalah mimpi Embun yang sering dia katakan padaku dulu.
Embun menyeretku ke sana kemari dengan senyum bahagia di wajahnya. Sampai akhirnya dia kelelahan dan memilih untuk duduk di sebuah kursi taman. Embun menatapku dengan mata berbinar.
" Terima kasih Nandes, akhirnya kita bisa kesini bersama".
" Ya. Apapun akan kulakukan untukmu", aku mengelus rambutnya.
Setelah puas berjalan-jalan. Kami kembali ke hotel dalam keadaan sangat lelah. Aku dan Embun memesan kamar yang berbeda. Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman bersamaku. Di dalam kamar aku menelpon sekretaris kantorku.
" Tolong buatkan janji dengan CEO G group. Undangan pribadi, setelah aku kembali ke Indonesia".
Terdengar jawaban dari seberang telpon, setelah itu aku menutup teleponku. Aku duduk menyesap minuman di gelasku sambil memikirkan apa yang akan ku lakukan jika bertemu Juan lagi. Apa aku akan membunuhnya?
Tok..tok…tok..
Aku membuka pintu, Embun berdiri di sana. Memeluk bantalnya " Boleh aku masuk?", Embun bertanya.
" Ya.. masuklah", aku tersenyum senang.
Embun berjalan cepat lalu duduk di pinggir tempat tidur. Sepertinya dia sedang mencoba mengatasi kecanggungannya.
" Kamu mau minum?", aku menawarkan.
"Tidak terima kasih sayang", Embun menilak lalu suasana sunyi.
Aku mengambil duduk di sofa dan menghadap ke arah Embun. " Apa kamu bahagia hari ini?", aku bertanya lembut sambil meneliti wajahnya.
" Tentu saja aku sangat bahagia. Ada hal yang ingin kulakukan sekarang", Embun menatapku.
" Ya sayang. Katakan", aku menatapnya penasaran.
Embun menggigit bibirnya sepertinya sedikit ragu" Bisakah malam ini… kita tidur bersama… dengan tidak melakukan apa-apa?", Embun bertanya.
Aku sedikit terpana. " Apa kamu sudah benar-benar siap? Jangan memaksakan diri jika kamu belum siap sayang", aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Embun tersenyum " Aku sedang menyembuhkan diriku dengan kamu sebagai obatnya".
Aku tersenyum dan memeluknya " aku akan mengobatimu pelan-pelan".
Dan pada akhirnya aku berbaring di tempat tidur bersamanya dengan tangannya dalam genggamanku. Kami saling menatap, aku mengelus pelan pipinya dengan jariku yang lain.
" Boleh aku bertanya sesuatu?", aku berkata hati-hati.
" Ya".
" Kenapa dari semua tempat, kamu memilih pergi ke ujung timur Indonesia?".
Embun berpikir sebentar " Aku tidak tahu. Saat melihat video anak-anak itu ada sesuatu yang menggerakkan hatiku. Aku merasa aku harus membantu mereka. Saat aku di sana aku takut mereka tidak menerimaku. Ternyata mereka sangat baik, anak-anak itu setiap bertemu denganku selalu memanggil 'ibu dokter, ibu dokter'. Ada rasa bangga saat aku mendengar panggilan itu. Ketika mereka tersenyum bahagia karena aku berhasil menyembuhkan mereka , rasanya seperti aku sudah menebus semua dosa yang ku lakukan selama ini".
Aku mendengarkan sambil sesekali jariku menyusuri pipinya.
" Aku merasa profesiku sangat berguna di sana. Setiap selesai mengobati seseorang, aku mendengar kata 'terima kasih ibu dokter' sudah menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada uang. Kamu tahu? Aku tidak pernah kekurangan saat disana. Mungkin karena apa yang ku lakukan adalah hal baik, hatiku pun mulai sembuh secara perlahan".
Aku tersenyum mendengar ujung cerita itu. " Apakah saat itu kamu berpikir akan pulang dan menemuiku?", aku bertanya lagi.
Embun diam cukup lama. " Aku merindukanmu setiap hari Nandes. Aku selalu memandang fotomu. Salah satu dosa besar yang sedang ku tebus adalah meninggalkanmu. Aku… tahu kamu membenciku saat itu. Memikirkan bertemu denganmu saja aku tidak berani. Aku… ".
Embun membelai rambutku penuh sayang. " Aku tidak akan meninggalkanmu lagi Nandes", lalu dia mengecup keningku dengan lembut.
Aku mulai terlelap dalam pelukan nya, terlena karena suaranya. Merasakan hangat tubuhnya, belaian tangannya di wajahku. Aku benar-benar bisa gila jika dia meninggalkanku lagi. Aku mempererat pelukanku dan tertidur dalam aroma tubuhnya.
***
Setelah liburan 2 hari, kami akhirnya tiba di tanah air. Aku mengantar Embun ke rumah dan langsung menuju kantor. Sebelumnya Embun memberikan kecupan ringan di pipiku dan memelukku erat. Kemajuan yang luar biasa menurutku. Aku berseri-seri di kursi belakang mobil.
" Bos senang rasanya melihat anda menjadi sangat ceria", Rian berbicara sambil tetap menyetir.
Aku tersenyum " Apakah sangat terlihat?".
" Ya, anda tidak bisa menyembunyikannya bos",Rian tersenyum kecil.
Aku menghela nafas " Rian kamu tahu kan. Wanita itu adalah nyawaku. Aku merasa hidup setelah dia kembali".
__ADS_1
Rian mengangguk paham. "Bos, ada sesuatu yang saya ingin katakan. Seseorang mencari keberadaan nyonya. Sepertinya pemilik G group".
Senyum hilang di wajahku " Kamu yakin ?", aku memastikan lagi.
" Saya sangat yakin bos. Saya mengenal orang suruhan itu", Rian berbicara dengan pasti.
Aku diam sesaat " Rian tempatkan seseorang mengawasi Embun. Jangan terlalu dekat, bila ada yang mencurigakan dan membuatnya ketakutan… hancurkan saat itu juga", suaraku dalam dan dingin.
" Baik bos".
Aku menatap keluar jendela. Seperti dugaanku, Juan tidak mungkin hanya berdiam diri mengetahui Embun pulang ke sisiku. Apa yang dia cari akan aku pastikan sendiri saat bertemu dengannya. Bajingan itu, aku akan menghabisinya kali ini.
***
Aku duduk di kantorku meregangkan badan, banyak sekali pekerjaan yang kulakukan hari ini. Aku mengambil ponsel dan menelpon Embun.
"Hai sayang", aku menyapanya lembut.
"Hai, kamu belum pulang?", Embun bertanya di seberang telepon.
" Sebentar lagi aku akan segera pulang. Apa yang sedang kamu lakukan?", aku bertanya penasaran.
" Aku sedang berendam, badanku sakit setelah perjalanan yang jauh tadi. Kamu semangat sekali langsung pergi bekerja. Katanya perusahaan itu milikmu tapi kamu seperti karyawan magang", Embun mengoceh panjang di telepon.
Aku tertawa menanggapinya. " Baiklah aku akan segera pulang ke rumah".
" Nandes …", Embun memanggilku.
" Ya.. ".
" Setelah hampir 2 bulan ini kita kembali bersama. Aku sudah memikirkannya dan menguatkan hatiku. Ada sesuatu lagi yang ingin kulakukan bersamamu", Embun berbicara pelan.
" Apa ada lagi hal yang ingin kamu lakukan bersamaku? Katakan", aku penasaran.
" Kamu akan segera mengetahuinya", Embun lalu menutup telepon.
Aku mengetuk meja pelan. Apa ada lagi yang dia inginkan. Apa ke rumah orang tuanya? Ya benar.
__ADS_1
" Bodoh Nandes, bagaimana kamu menyukai anak orang tapi tidak bertemu orang tuanya", aku mengacak rambutku sendiri. Berdiri mengambil jas dan berjalan keluar pintu.
***