
Jariku menelusuri pinggir gelas kaca didepanku. Aku dan Juan duduk berhadapan di salah satu ruang privasi di club YB. Juan memenuhi undanganku untuk bertemu dengannya.
" Terima kasih sudah datang kemari CEO Juan", aku tersenyum ramah tapi mematikan. Kebencianku padanya pasti sangat terlihat jelas.
" Melihat dari tempat pertemuannya jelas ini bukan urusan bisnis CEO Nandes. Apakah aku benar? ", Juan menyesap minumannya sambil menatapku tajam.
Sangat terlihat jelas ada percikan api permusuhan di antara kami yang bahkan bisa dilihat dari saling bertatap mata. Rian berdiri sedikit jauh di belakangku, begitu pula asisten pribadi Juan. Kami berempat di dalam ruang yang sama dengan hawa yang mematikan.
" Tentu saja", jawabku datar. " Aku dengar beberapa orangmu mengikuti wanitaku selama ini?", aku menuangkan minuman lagi kedalam gelas tanpa menambahkan es didalamnya.
Wajah Juan terlihat datar, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Alih-alih menjawab dia malah meneguk habis minumannya dalam sekali tarikan nafas. Saat itu aku langsung menyimpulkan bahwa dia benar mengikuti Embun selama ini.
Aku tertawa, tawa dingin yang menusuk, lalu berbicara lagi ke arahnya " Seharusnya aku membunuhmu hari ini Juan", aku menatapnya tajam, asistennya maju selangkah mendengarku mengancam tuannya tapi Juan mengangkat tangan menghentikan langkahnya.
" Lakukanlah jika itu yang Dia inginkan", Juan menjawab datar.
Aku bersandar ke sandaran sofa, sedikit memejamkan mata lalu menatap Juan kembali dengan tatapan penuh kebencian " aku ingin sekali melakukannya Juan. Tapi aku dengan terpaksa mengurungkan niat ini... karena wanitaku mengatakan telah memaafkanmu", aku berkata tidak senang. " Tapi aku berjanji, lain kali aku akan melakukannya", lanjutku tajam.
Ekspresi Juan berubah mendengar kata Embun memaafkannya, air mukanya tampak bersedih tapi dengan cepat dia mengganti air mukanya menjadi lebih tenang dan dingin kembali. Juan tidak mengatakan apapun lagi setelah itu.
Aku berdiri meninggalkan gelas yang sudah kosong " Ini peringatan terakhir untukmu Juan, jika kau merasa berdosa terhadapnya jangan pernah lagi muncul di hidupnya dan bahkan kau harus menghilang dari kehidupannya. Ini adalah peringatan yang ku berikan kepadamu, jika hati nuranimu masih ada", aku berjalan melewatinya saat dia memanggil.
"Nandes…".
Aku berhenti sejenak ingin mendengar apa yang akan dia katakan.
" Apakah dia baik-baik saja?", Juan bertanya dengan nada sedih dan penuh penyesalan.
Aku terdiam sejenak " Kau tidak berhak menanyakan tentangnya lagi. Hiduplah dalam penyesalanmu dan matilah", aku berkata penuh dendam.
Setelah bsrkata seperti itu, aku pergi meninggalkan ruangan itu dengan Rian berjalan di belakangku. Aku masih sempat mendengar suara gelas pecah dari dalam ruangan itu.
" Sekarang kita kemana bos?", Rian bertanya seolah ingin memastikan sesuatu.
" Boxing", jawabku singkat.
***
__ADS_1
Pagi ini aku terbangun dengan Embun yang duduk di atas perutku. Aku mengerjapkan mata setengah mengantuk.
Wajahnya cemberutnya menatapku. Aku mengelus pinggangnya sambil kembali menutup mata. "Ada apa sayang? Ini hari libur. Ayo tidur lagi", aku ngantuk.
" Sayang, ayo bangun. Sudah jam 7. Hari ini kan kita mau ketemu orang tuaku", Embun mulai ribut-ribut. Sejak dia kembali aku mulai terbiasa mendengar kicauan suaranya di setiap pagiku. Dua tahunku yang sepi sudah berlalu.
" Sayang kita janjian jam 1 siang ,kenapa bangunnya harus sekarang", aku mengeluh ngantuk mengambil sebuah bantal dan menutup wajahku.
Embun tidak menjawab, tapi tangannya mulai menyusuri perut dan dadaku, menggelitik menggunakan jarinya. Mengigit leherku dan daguku. Aku menggeram gemas karena gangguan itu. Karena aku tidak memberikan reaksi yang lebih selain geraman akhirnya Embun menyerah, dia turun dari perutku dan berjalan keluar kamar.
1 menit, 2 menit aku langsung bangun dan melempar bantal itu ke samping. Embun berhasil mengganggu tidurku, dia selalu punya cara untuk membuatku menginginkannya. Aku berjalan turun ke arah tangga dan menemukan Embun sedang mengambil sesuatu di dalam kulkas. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
" Jadi sampai di mana tadi?", aku berbisik di telinganya.
Embun tertawa karena aku menggelitik perutnya. " Gak, ah. Jangan dekat-dekat aku ", Embun mendorongku pelan lalu menutup pintu kulkas.
Aku menggigit bahunya. " Sakit sayang", Embun mengeluh tapi tidak mneolakku.
" Kamu yang mulai", aku menarik tangannya membuat sayuran terjatuh. Menyandarkannya pada pintu kulkas, mengunci tangannya di sana. Aku menciumnya dari belakang. Menggigit telinganya, Embun tertawa pelan.
" Sayang ini masih pagi. Aku belum mandi, belum sikat gigi juga ", Embun mendorongku pelan dengan lututnya.
" Kamu mau masak apa?", aku bertanya penasaran mengikutinya dari belakang.
" kamu mau sarapan apa?", Embun balik bertanya.
" Nasi goreng ", jawabku singkat sambil tetap memeluknya.
" Aku akan membuatkan nasi goreng untukmu", Embun bergeser ke sana kemari dengan aku yang terus memeluknya dari belakang.
Embun menarik nafas panjang. " Sayang, bisa tidak jangan menempel padaku. Aku susah bergerak", Embun mulai protes.
Aku lalu menghujaninya dengan ciuman yang sangat banyak di lehernya, pipinya, telinganya. setelah itu melepas pelukanku padanya. Aku menatap punggungnya, pagiku yang indah kembali. Cintaku yang pergi sudah kembali.
Aku meraih lengan Embun dan memutar badannya ke arahku. " Ayo kita menikah", aku berbisik di wajahnya.
__ADS_1
Embun menatapku bingung. " Kamu serius ngelamar aku di dapur?".
" Ya, aku serius. Aku tidak bisa romantis seperti drama koreamu itu", aku mengeluarkan cincin dari saku celana dan menyematkan di jarinya. Cincin yang sama yang pernah dia kembalikan padaku.
" Cincin ini milikmu", aku menatap matanya.
Air matanya mengalir membasahi pipi. Dia menatapku seolah tidak percaya. " Kamu masih menyimpan ini?".
" Ya. Karena aku mencintaimu", aku mengecup keningnya. " Maukah kamu menikah denganku?", aku bertanya lagi.
Embun mengangguk mantap lalu masuk kedalam pelukanku. Menangis sesegukan, air matanya membasahi dadaku yang tidak mengenakan baju.
Aku mengusap air matanya dan menggendongnya seperti pengantin baru.
" Mau ke mana?", Embun bertanya di sisa air matanya.
" Mandi", aku tersenyum penuh makna yang membuat Embun tertawa kecil.
***
Aku duduk tegak di depan ayah Embun. Untuk yang kedua kalinya aku datang untuk mengatakan maksudku kepada orang tua Embun.
Kedua orang tuaku duduk di samping kiri kananku mendampingi. Aku yang sebenarnya akrab dengan ayah Embun tetap merasa panik di situasi ini.
Setelah melalui pembicaraan yang panjang akhirnya tanggal kami bertunangan langsung di putuskan. Embun terlihat sangat ceria. Aku menarik nafas lega, aku akan mengikat wanitaku secepat mungkin.
Aku membelai wajah Embun saat kami berdua saja. " Apa kamu akan mengabari Elsa?", aku bertanya.
" Tentu saja. Aku akan bercerita panjang kali lebar dengannya. Dia kan belahan jiwaku", Embun berkata bahagia.
" Jadi aku bukan belahan jiwamu", aku pura-pura kecewa.
Embun tertawa sambil mencubitku gemas " Kamu itu adalah Jiwaku. Hidupku", Embun berkata serius sambil menatapku.
Aku tersenyum mendengarnya lalu meraihnya dalam pelukanku. " Aku menyukaimu, sangat menyukaimu".
" Aku juga", Embun menjawab bahagia.
__ADS_1
***