Merpati Kertas

Merpati Kertas
RAHASIA 2


__ADS_3

Aku meletakan Jeni di atas kasur tempat tidurku. Dia tertidur tanpa bergerak sedikitpun, aku menutupi badannya dengan selimut. Aku memperhatikan wajahnya yang manis, bekas air mata masih tercetak di kedua pipinya. Aku berjalan ke arah kamar mandi mengambil sebuah handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Aku membasuh wajah Jeni pelan.


“ Apa yang kamu lakukan di tempat itu pencuri?”, aku menatap wajahnya penasaran.


Ponselku berbunyi, dengan cepat aku mengangkat telepon itu. Doni berbicara di seberang telepon, tanpa menjawab aku mematikan sambungan telepon. Aku menatap Jeni lalu berkata pelan di dekat wajahnya. 


“ Pencuri, kamu aman di sini. Aku akan pergi sebentar”,kataku yang tentu saja tidak di respon oleh Jeni. Dia teler, sepertinya diberikan obat penenang karena Jeni tidur dengan sangat nyenyak.


Aku masuk ke ruang ganti dan memakai kaos serta jaket lalu  berjalan keluar dari kamar hotel itu dan menaiki lift. Saat memasuki mobil ponselku berbunyi, Bella adikku menelpon.


“ Halo Bella ada apa?”.


Bella menangis tersedu-sedu di seberang telpon “ Kakak, tolong aku”.


“ Kamu kenapa?’, aku tidak panik karena ini adalah hal yang biasa terjadi. Sepertinya kali ini dia kabur dari rumah karena bertengkar dengan ibuku. 


“ Aku kabur dari rumah dan ibu memblokir semua kartuku. Aku sekarang tidak bisa bayar makanan di restoran X, aku malu”,dia menangis.


“ Ya sudah tunggu disitu dan jangan pergi ke mana-mana. Sopirku akan menjemputmu”, aku lalu memutus sambungan telepon. Aku melihat ke arah sopirku “ Jemput Bella di restoran X dan bawa dia kemari. Aku akan mengemudi sendiri”. 


“ Baik tuan”, sopirku mengangguk patuh. 


Aku masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area parkir itu. 


***


Mobilku memasuki area club itu lagi, tetapi suasana sepi. Klub ini benar-benar dikosongkan oleh Doni.


Seorang bodyguard Max menjemputku.“ Selamat datang tuan”, dia menyambutku saat aku keluar dari mobil. 


“ Max di mana?”, aku bertanya. 


“ Tuan Max sudah menunggu anda”, kata pria itu mengikutiku dari belakang. 


Aku masuk ke dalam club itu dan berjalan cepat menaiki tangga lalu memasuki sebuah ruangan, Dapur khusus eksekusi milik Max. Lampu di sana cukup terang, aku melihat Doni berdiri di sudut ruangan sedangkan Max duduk di sebuah kursi dengan pria kurus itu berlutut di depannya. Dua orang pria yang tadi berada di ruangan yang sama dengan Jeni berdiri di belakangnya ketakutan, sepertinya mereka dibawa kembali oleh Max. 


Doni meletakan kursi di samping Max, aku duduk di sana dalam keheningan seperti menunggu sebuah pengakuan dosa. Semua terdiam tidak ada yang bersuara. 


“Oke, bukan aku Juan. Bajingan ini melakukan bisnis di Club milikku tanpa izin dariku. Aku tidak akan melakukan hal bejat seperti itu kau paham, wanitaku disini punya kriteria dan mereka yang mencari pekerjaan, mereka punya kontrak kerja. Bukan wanita yang kupilih dengan asal”, Max paham aku diam karena menunggunya menjelaskan situasi ini. 

__ADS_1


Aku mengangguk. “ Jelaskan”, aku berbicara dengan pria kurus itu. 


Dia tampak ketakutan menatap berkeliling ruangan “ Aku … hanya menyuruh gadis itu membayar hutangnya”, katanya takut-takut. 


Aku tersenyum sinis “ Kau akan menjualnya kan?”.  


Dia tertunduk takut. Aku menarik nafas panjang “ Perlu kau tahu, aku bukan orang yang panjang sabar. Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?”, aku berbicara sambil melepas jaketku dan menyerahkannya ke Doni. 


Aku memilih-milih stik golf yang disediakan oleh Max di ruangan itu. Aku mengayunkan salah satunya, lalu memakai sebuah sarung tangan di kedua tanganku. 


“ Ck, cepat jawab sialan. Aku tidak mau tempatku kotor karena darahmu”, Max membentaknya. 


“ Tuan, nona mempunyai hutang kepada saya, sebesar 70 juta…”, dia berbicara tapi dengan cepat aku menghantam bahunya dengan stik golf yang ku pegang. pukulanku tidak terlalu kuat tapi cukup membuatnya tersungkur. Salah satu dari pria yang berdiri sedikit jauh di belakang memekik karena terkejut, sedangkan pria yang satu lagi hanya terdiam melihat apa yang ku lakukan. 


“ Sepertinya kau kurang dididik untuk berkata jujur. Aku beri kau waktu, pikirkan dan mengakulah padaku. Jika kau tetap terus berkata bohong maka hari ini adalah hari terakhirmu berbuat dosa”, aku menatap pria bernama Bon itu tajam. 


Aku kembali duduk di kursiku dan menatap kedua pria tua itu seperti menunggu. 


“ Kami hanya datang untuk bersenang-senang”, pria tua yang ku cengkram lehernya berbicara dengan berani. Sepertinya dia yang mempunyai kekuatan diantara mereka berdua. “ Jika tahu wanita itu adalah milikmu, aku tidak akan menyentuhnya”, pria itu berkata. 


Aku berdiri dan menyerahkan tongkat golf itu ke salah satu bodyguard Max. Aku berjalan ke arah pria itu dan tersenyum seolah paham. “ Ya, aku tahu”, kataku. 


“ Ssst… “, aku meletakan jari telunjuk di bibirku menyuruh Max diam dan tentu saja Max kesal, dia marah karena ada orang yang berani berdagang di dalam klub miliknya tanpa izin darinya. “ Max, semua orang datang ke tempatmu untuk bersenang-senang. Kesalahpahaman pasti terjadi. Maafkan aku karena berlaku kasar tadi”, aku menjabat tangan pria setegah botak itu.


Pria itu terbatuk pelan tidak menyangka dengan reaksiku, mungkin dia mengira aku akan memukulnya dengan stik golf. Aku tertawa ramah “ aku tidak akan memukul seorang direktur dengan stik golf. Tidak mungkin”, aku tersenyum padanya. 


“ Baiklah aku memaafkanmu. Sekarang biarkan aku pergi”, katanya sombong.


“ Terima kasih karena kau memaafkanku. Silahkan. Apa perlu diantar oleh max?”, aku menawarkan. Tentu saja Max menatapku kesal.


“ Tidak perlu”, pria itu lalu pergi diikuti oleh pria yang lain dan bodyguardnya, mereka berjalan cepat sampai menghilang di balik pintu. 


Aku menatapnya kepergian mereka, senyum di wajahku hilang. “ Doni”, aku memanggil untuk memberikan titah.


“ Ya tuan”, Doni menjawab patuh.


“ Hancurkan semua bisnis pria tua itu sampai ke akarnya. Dan juga keluarganya”, perintahku dingin.


“ Baik tuan”, Doni menjawab patuh.

__ADS_1


“ Wah pasangan psychopath ini”, Max berkata sinis memdengar titahku.


Ada kengerian di wajah orang-orang yang ada di ruangan itu, terutama pria yang sedang berlutut itu. Sepertinya bahunya bergeser karena pukulan dariku tadi. 


“ Jadi katakan”, aku mengambil duduk kembali di kursiku dan menatap pria itu sambil menghembuskan nafas panjang.


Pria itu menatapku dengan penuh ketakutan. Dia sedikit tergagap “ Nyonya menyuruhku menjual nona kepada pria hidung belang dan mengambil fotonya lalu menyerahkan foto itu kepada Tuan. Nyonya memberikan sertifikat sebuah bangunan toko kepadaku agar Nona Jeni datang kepadaku dengan sukarela”, katanya lagi. 


Aku menghela nafas, rasanya dadaku sesak mendengar pengakuan itu. Kehidupan macam apa yang dialami oleh Jeni sebenarnya. 


“ Kau tahu tujuannya melakukan itu?”, aku bertanya lagi.


Pria itu mengangguk cepat. “ Jika tuan tau nona melakukan hal buruk, kemungkinan besar nona akan dicoret dari kartu keluarga dan perusahaan akan jatuh ke tangan kakak tirinya”.


Max bengong “ Gila keluarga serakah seperti apa ini”, Max menggeleng.


Aku tertawa mendengar tujuan dari ibu tiri Jeni. “ Wanita licik ini, sepertinya harus diberi pelajaran. Di mana sertifikat tanah itu?”,


Pria itu terdiam tidak ingin menjawab, Dia tau jika menyerahkan sertifikat itu maka dia tidak akan mendapatkan uang serupiah pun. 


Aku tertawa “ Kau kira dengan memegang sertifikat itu kau akan mendapatkan uang dengan menjualnya? Kau pintar. Aku akan membelinya”, kataku cepat.


Pria itu tersenyum berharap “ terima kasih tuan”, jawabnya.


“ Kau kira aku akan benar membelinya?”, aku tertawa mematikan.


Pria itu menatapku ngeri.


Aku berpaling ke Max sambil melepas sarung tanganku “Max aku hanya ingin sertifikat itu. Sisanya terserah kau ”, aku berbicara ke arah Max.


“ Baiklah”, Jawab Max santai. 


Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu diikuti Doni di belakangku. Sempat ku dengar pria itu berteriak ngeri saat Max mengatakan “ Ambil tang dan cabut kukunya. Beraninya kau mengotori tempatku”. 


Aku keluar dari pintu dan berjalan cepat menuruni tangga. “ Doni rahasiakan apa yang terjadi hari ini dari Jeni dan selidiki lebih dalam soal keluarganya”.


“ Baik tuan”, Doni menjawab patuh lalu membuka pintu belakang mobil untukku.


***

__ADS_1


__ADS_2