
“ Hei bro, badanmu di sini tapi jiwamu di tempat lain”, Max teman bisnisku menegur.
“ Max… aku sedang banyak pikiran hari ini”, aku memijat pelan keningku.
“ Ayolah. Disini adalah tempat untukmu melepaskan semua beban yang ada di kepalamu itu. Akan ku carikan sesuatu yang segar untukmu. Kau mau yang seperti apa? rambut panjang, pendek, blonde? “, Max terus mengoceh seperti burung beo.
Aku menghela nafas dan melihat berkeliling. Mataku tertumbuk pada seorang wanita yang sedang celingak celinguk kesana kemari seperti anak hilang. Apa yang Jeni lakukan di sini? aku bertanya di dalam hati.
“ Aku mau wanita bertubuh mungil, dengan rambut panjang dan mata berwarna amber”, jawabku cepat.
“ What? amber? siapa?”, Max bingung.
“ Doni”, aku memanggil.
“ Ya tuan”, Doni menghampiriku.
“ Bawa Jeni ke ruang privatku. Sekarang”, aku menunjuk ke arah punggung gadis itu.
“ Baik tuan”, Doni menatap ke arah wanita itu.
Saat ini aku tengah berada di sebuah klub malam. Setelah tadi pagi melihatnya di toko bunga, aku menemukannya sekarang disini. Di tempat yang sama denganku, sepertinya dia memang di takdirkan terus bertemu denganku.
“ Max aku akan menyendiri, jangan ganggu aku”, aku berkata ke arahnya.
“ Ya, siapa wanita itu? pacarmu?”, Max bertanya penasaran.
Aku mengabaikan pertanyaannya dan berlalu pergi masuk ke dalam ruangan privat yang selalu ku tempati. Aku duduk di sofa dan menuangkan minuman ke gelas milikku. Saat Jeni datang bersama Doni, aku langsung tahu dia marah karena perintahku membawanya ke sini. Wajahnya di tekuk, matanya menatap tajam ke arahku tanpa malu-malu dan tentu saja dia dalam mode jutek.
“ Sedang apa kau di sini?”, dia bertanya padaku dengan ketus.
Aku tersenyum dengan sambutan tidak menyenangkan itu “ Bekerja”, jawabku singkat.
“ Hah… Kau kira aku anak kecil”, selahnya.
“ Duduklah”, aku memberi perintah.
“ Tidak”, dia menjawab tegas. “ Hari ini aku sibuk dan lagi aku tidak ingin merangkai bunga di sini untukmu. Jadi silahkan cari pelayan yang lain saja”, Jeni menjawab dengan berani. Setelah itu dia berbalik meninggalkan ruangan.
__ADS_1
“ Ha ha ha.. Lihat Doni. Pencuri kecil itu berani menjawabku dalam satu tarikan nafas”, aku tertawa keras.
Doni hanya terdiam melihatku. Aku menggenggam gelas di tanganku dengan erat, penolakan yang datang dari wanita yang sama sekali bukan tipeku membuatku sedikit naik darah.
“ Sedang apa dia di sini Doni?”, aku bertanya.
" Maaf tuan saya belum tahu mengapa nona ada di sini. Tapi dia sempat bertanya soal pintu keluar pada saya makanya saya bisa membawanya ke sini ”, Doni menjawab.
Aku menyipitkan mataku heran, mudah sekali dia di tipu. Aku mengambil ponselku lalu mengirim pesan kepadanya.
“ Kembali sekarang atau kau selesai”, aku menekan tombol send dan pesan terkirim dengan sempurna. 1 menit, 2 menit tidak ada balasan tapi tulisan ‘read’ sudah tertera di sana.
“ Berani sekali dia mengabaikanku”, aku duduk kembali di sofa dan menegak minumanku. 30 menit berlalu, dengan tidak sabar aku menekan tombol call. Entah mengapa aku menelponnya, mungkin karena dia mengabaikanku rasanya harga diriku tercoreng. panggilan masuk dijawab olehnya, tapi suaranya terdengar parau.
“ Halo”, suaranya serak.
“ Kembali ke sini atau..”,aku berteriak padanya tapi tidak melanjutkan kata-kataku saat dia mengatakan satu kata.
“ Tuan tolong aku”, bisiknya diantara gemuruh bunyi musik.
“ Tunggu aku di situ, jika ada yang menyentuhmu pukul saja dengan benda apapun ”, kataku sambil berdiri dan berjalan keluar ruangan diikuti Doni di belakangku. " kerahkan anak buahmu, cari dia. Bila perlu kosongkan club ini", perintahku.
Beberapa menit mencari tiba-tiba Doni berteriak padaku " Bos".
Doni melangkah masuk duluan ke dalam sebuah ruangan. Aku berlari kesana dan menemukan Jeni duduk di sudut ruangan memegang sebuah botol yang diarahkan ke depan seperti hendak melindungi diri. Seorang pria berdiri tidak jauh darinya berhadapan dengan Doni, sedangkan dua orang pria lain yang lebih tua berkisar usia 40 akhir duduk di sofa seperti menonton.
Aku menghampiri Jeni dengan cepat untuk meraihnya, tapi dia mengarahkan botol itu kepadaku. “ Jeni ini aku Juan, aku disini membantumu”, aku berkata pelan.
Jeni menatapku setengah sadar, aku langsung tahu mereka memberinya sesuatu.
“ Juan, tolong aku”, katanya dengan suara bergetar.
“ Ya, aku akan menolongmu”, aku mengambil botol itu dan meletakkannya hati-hati lalu meraihnya dalam pelukanku.
“ Kalian siapa? Jangan ikut campur urusan kami ”, pria yang berdiri di depan Doni membentak.
“ Apa yang anda lakukan pada nona kami?”, Doni menatapnya tajam.
__ADS_1
Aku tidak memperhatikan mereka. Aku melepaskan kemeja yang ku pakai dan membuatku bertelanjang dada. Memakaikannya ke Jeni yang setengah sadar, bajunya robek mengekspos setengah bagian atas badanya. Seluruh badannya bergetar tetapi dia tidak menangis. Hanya bekas kengerian ada di wajahnya.
“ Nona? Kalau tahu dia dari orang kaya seharusnya dia tidak menyusahkanku”, pria kurus itu berkata sinis.
“ Bon, sampai kapan aku harus menunggu. Kau membuang waktu kami”, orang tua di sofa itu berdiri dengan tidak sabar.
“ Bos maaf ini hanya masalah kecil akan aku selesaikan”, katanya sambil membungkuk hormat.
“ Ada apa ini?”, suara Doni menggelegar.
“ Bangsat kau mengagetkanku”, pria tua itu memaki. “ serahkan gadis itu, dia adalah milik kami malam ini. Kalian carilah wanita perawan yang lain”, pria itu berkata sombong.
Mendengar itu aku berdiri dan berjalan cepat ke arah pria itu langsung mencengkram lehernya. Pria hampir botak itu kesulitan bernafas, dia tampak menjijikan di mataku. Pria kurus di depan Doni menatap ngeri ke arah kami. Sedangkan pria satunya lagi berteriak keras.
“ Apa yang kau lakukan sialan! kau tidak tahu siapa kami? lepaskan tangan kotormu itu”, dia berteriak.
Wajah pria yang ku cengkram tampak merah karena susah bernafas. Gigi ku bergemeletuk karena marah.
“ Bos”, Doni memanggil. Aku tersadar dan melepaskan cengkraman membuat pria itu terbatuk-batuk dan jatuh ke sofa.
“ Sialan kau. Bon kau membawa kami dalam masalah, jangan harap kami akan membayarmu lagi”, salah seorang di antara mereka berteriak ke arah pria kurus itu.
“ Kau akan membayar perlakuan kasarmu itu nak”, pria yang ku cengkram tadi mengancam. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru, tahu bahwa aku dan Doni bukan tandingan mereka.
“ Sialan. Aku kehilangan uangku. Hei wanita jal*ng bangun. Gara-gara kau, aku kehilangan uangku”, Pria bernama Bon itu hendak meraih rambut Jeni untuk menjambaknya tetapi dengan cepat Doni menamparnya dengan sangat keras dan membuat pria itu jatuh lalu kehilangan kesadarannya.
Aku menatap pria yang tertidur di lantai itu lalu menatap Doni meminta penjelasan. Doni mengangkat kedua tangannya “ maaf tuan saya tidak mengira dia selemah itu”.
Aku mengangguk paham lalu berjalan ke arah Jeni yang masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Aku mengangkatnya dalam gendonganku “ Tidurlah, kau aman bersamaku”, aku berbisik di kepalanya. Dia menatapku sebentar lalu kepalanya terkulai di dadaku. Aku mempererat gendonganku.
“ Doni siapkan mobil, kita pulang ke hotel. Bawa pria ini di tempat biasa dan jangan sampai dia mati. Banyak yang harus ku tanyakan padanya”, aku memberi perintah.
“ Baik tuan. Tapi saat ini anda tidak memakai baju tuan. Anda akan menjadi pusat perhatian”, Doni mengingatkan.
“ Lewat pintu lain”, aku menjawab singkat.
“ Baik tuan”, Doni menjawab.
__ADS_1
***