
" Waaaaahh sudah gilaaaa…. Si Juan itu niat yaaa.. terniat banget.. parah sih ", Elsa berteriak heboh di toilet.
" Gimana dong El… pengennya ngak mau tapi takut… nanti kalau aku di bejek jadi gepeng gimana? ", Aku mondar mandir gelisah di dekat wastafel menunggu bel pulang.
" Gini aja, kamu balik duluan. Anak kelas 3 kan suka lama tu pulangnya karena pasti ngumpul-ngumpul dulu. Kamu duluan saja, pura-pura sakit", Elsa memberi masukan.
" Oh iya ya. Makasih ya. Kamu memang sahabat paling TOP", aku mengacungkan jempol pada Elsa.
" Pokoknya aku akan dukung kamu melawan si jahat itu dan gengnya", Elsa berkata penuh tekad.
Aku dan Elsa ribut-ribut menyusun strategi sambil berjalan menuju kelas.
Dan kenyataan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Juan benar-benar menunggu di depan pintu gerbang sekolah bersama teman gengnya.
" Duh .. gimana nih El. Masa kita manjat pagar belakang sekolah biar bisa kabur? Nanti kalau ketahuan guru bisa abis kita", Aku mengintip dari balik tembok dengan Elsa di belakangku.
" Aduh aku juga bingung. Gimana dong. Aku gak ada ide lagi. Eh tapi kok si Adam itu gak ada ya di sana? ", Elsa ikut melongok kan kepalanya untuk menghitung jumlah antek-antek Juan.
" Kalian liatin siapa?", seseorang berbisik dari belakang Elsa sambil ikut mengintip.
Elsa memekik kecil bersamaan denganku yang kaget tanpa suara.
" Wow... wow... wow...Rahasia hah", Elsa menjawab cepat " bisa gak pake samlekum atau sapaan. Jangan bikin kaget dong", Elsa sewot melihat ke arah Adam.
Adam berdiri menjulang di belakang kami. Aku mencolek tangan Elsa, mencegah niatnya yang ingin mengibarkan bendera perang ke Adam.
Adam mengangguk paham " aah.. samlekum. Permisi. Kalian lagi ngintipin teman saya ya? , Adam ikut melihat ke arah gerbang.
" Gak… gak tuh. Nuduh banget ya ", Elsa membantah penuh keberanian.
Adam menundukkan wajahnya sedikit ke arah Elsa yang tingginya sama denganku " Melawan ya, kecil-kecil pedes juga kamu".
Elsa melengos " Yuk Embun. Kita pulang", Elsa menarik tanganku.
Adam tertawa hambar lalu berteriak. "Juuuuuaan… ada yang nyari nih", Suara Adam yang menggelegar membuat semua siswa yang berada di dekat gerbang sekolah menoleh ke arah kami.
Aku dan Elsa sama-sama terpaku. Kami mempercepat langkah kaki tetapi Juan melihat ke arahku dan langsung datang menghampiri.
Sial… sial…sial… aku memaki di dalam hati.
Juan tersenyum padaku " Yuk ", Juan mengulurkan tangannya.
Aku menggelengkan kepala cepat sambil memegang erat tangan Elsa.
" Emm… kak…. Ini… Embun… sakit. Sakit… parah.. deh pokoknya", Elsa terbata-bata membelaku. Aku di sebelah Elsa memegang perut dengan wajah yang di paksakan memelas.
" Oh ya? Aku antar ke Rumah sakit", Juan masih mengulurkan tangannya.
" Emm… itu… Embun takut jarum", kata Elsa lagi, sangat kelihatan dia tidak ahli dalam berbohong.
Juan menurunkan tangannya lalu mengangguk paham.
" Elsa… aku pinjam teman kamu bentar boleh ya? Gak aku apa-apain kok. Kamu pulang bareng Adam ya", Juan tersenyum sambil menebarkan pesonanya ke Elsa.
Untuk sesaat Elsa terhipnotis pesona dari Juan. Aku cepat-cepat mencubit tangan Elsa dengan cukup keras untuk menyadarkannya dari hipnotis tidak bermutu itu.
" Tapi kak… ", Elsa tersadar tapi Adam menarik tas Elsa membuat gandengan tanganku terlepas.
__ADS_1
" Yaaa…. Embun… maaf ya… aku juga takut…", Elsa berbisik cukup keras membuat Adam tersenyum geli.
Aku merenggut karena temanku di bawa pergi. Dengan entengnya Juan memakaikan helm padaku.
" Ayo, percaya sama aku", Juan mengulurkan tangannya padaku yang ragu.
Aku tidak menyambut uluran tangannya, dia tampak kecewa sambil menjatuhkan tangannya di udara kosong. Saat berbalik aku memegang ujung baju seragamnya. Juan melihat ke arah samping bajunya.
" Aku lebih nyaman begini", kataku pelan.
Juan tersenyum " oke boleh".
Lalu aku berjalan di sampingnya. Aku merasa punggungku panas karena di tatap banyak orang, terutama sarah dan gengnya.
Memegang baju Juan adalah pilihan yang tepat, setidaknya mereka tidak akan menjambak ku karena menyentuh Juan.
'Mati deh gue besok… keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya' , batinku.
Lalu kami naik ke atas motor Juan dan berlalu meninggalkan tatapan sinis para pejuang hati Juan yang selalu gagal.
***
Di atas motor aku bertanya dengan suara cukup keras.
" Ini kita mau ke mana ya?".
" Golo Curu", Juan menjawab singkat.
Aku terdiam. Tempat apalagi itu. Sejak berada di kota ini aku tidak pernah pergi ke mana-mana selain ke sekolah dan ke rumah Elsa. Yang aku tahu, ada taman besar di kota ini yang bernama Motang Rua. Hanya itu.
Perjalanannya tidak terlalu jauh tetapi Juan harus memacu motornya untuk mendaki bukit yang cukup menjulang, jalan yang belum terlalu mulus membuat aku memegang baju seragam Juan erat-erat. Aku tidak mau terjungkal dari motor antik ini.
Aku melihat ke arah Juan penuh tanya sambil melepaskan helm.
" Ayo", Juan berjalan duluan ke arah gua itu.
" Kamu mau berdoa?", aku bertanya penasaran.
" Iya, mau ikut?", Juan melihat ke arahku.
" Oke", kami berjalan bersama ke arah gua itu.
Kami berdiri berdampingan, aku melirik ke Juan. Dia menutup matanya dan hening. Aku Pun menutup mataku sedikit bingung entah apa yang harus ku ucapkan dalam doaku ini.
"Semoga aku bisa kembali ke Jakarta secepatnya, semoga hariku menjadi baik, semoga nilaiku bagus dan semoga Juan tidak jahat lagi sama aku, biar aku tidak kesal setiap hari, tidak marah-marah dan dunia SMA ku menjadi cerah, secerah langit hari ini ', aku mengernyitkan kening berfikir permohonan apalagi yang harus aku ucapkan.
" Kamu lagi doa atau lagi marah?", Juan berbisik di dekat telingaku.
Aku kaget dan langsung membuka mata.
" Doa Lah", kataku cepat.
Juan tertawa ringan, lalu berjalan meninggalkanku di depan gua. Aku menyusul di belakangnya.
Dia mengambil tempat duduk di pinggir bukit, aku duduk di sebelahnya. Hamparan kota Ruteng terbentang di depan kami, rumah-rumah terlihat kecil dan langit berwarna biru terbentang luas di hadapan kami.
" Coba tebak, mana sekolah kita?", Juan tiba-tiba bertanya membuyarkan kekagumanku terhadap pemandangan indah ini.
__ADS_1
" Mana kelihatan, kecil begitu", kataku sambil mencari.
" Itu, yang warna biru itu sekolah kita", kata Juan yakin.
" Masa sih?", kataku setengah tidak percaya.
" Iya benar", Juan meyakinkan.
" Gak, bukan. Itu bukan sekolah kita. Kecil gitu", kataku tidak terima.
Juan mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya padaku. Sebuah teropong.
Aku menerima teropong itu sambil melihat Juan.
" Kamu punya yang kayak gini?", aku lalu mencoba memakainya. Jujur saja ini pertama kalinya aku menggunakan hal semacam ini. " Kok gak kelihatan apa-apa", kataku heran.
Juan tertawa terpingkal " dibuka dulu penutupnya atuh neng". Pipiku bersemu merah karena malu. " Sini aku bantu", Juan menambahkan.
Juan lalu membantuku menggunakan teropong untuk melihat berbagai macam hal yang jauh.
Aku yang memang dasarnya baru mencoba dibuat terkagum-kagum dengan noraknya. Beberapa kali Juan tertawa karena komentarku yang menurutnya aneh.
" Kamu sering ke sini sama teman-teman kamu ?", aku bertanya.
" Iya pernah... tapi lebih sering sendiri. Lalu sekarang berdua sama kamu. Kalau sedang banyak pikiran aku ke sini, kalau sudah lelah berinteraksi dengan sesama manusia aku ke sini ", jawab Juan selow.
Aku mengangguk paham. Semua orang butuh tempat yang tenang untuk menenangkan diri, begitu juga Juan yang selalu tampak menakutkan di mataku.
Aku berbaring di atas rumput. Mengangkat tanganku ke arah langit dan melihat awan melalui jari jariku. Juan ikut berbaring di sebelahku. Dia ikut mengangkat tangannya ke langit.
" Kalau lelah kamu bisa lihat awan di antara sela jarimu, warna putihnya tampak cantik. Putih bersih polos, seperti kapas. Tapi kalau akan ada badai warnanya jadi kelabu menakutkan. Taruh jarimu, seperti akan menggunting awan itu. Awan yang berada di antara jarimu sangat kecil. Kamu harus berpikir bahwa masalahmu, kesedihan dan kelelahan kamu sangat kecil seperti awan itu. Dan kamu bisa mengatasinya. Seperti awan kelabu, jika hujan sudah turun dia akan kembali berwarna putih bersih", aku berkata dengan sepenuh hati.
Juan diam tidak berbicara. Tapi dia melakukan gerakan yang kukatakan kepadanya, dia menggunting awan itu.
Kami terdiam cukup lama, sampai aku mengira Juan tertidur. Beberapa saat kemudian dia duduk dan mengambil sesuatu dari tasnya. Aku ikut duduk.
" Ini buat kamu. Makasih udah temani aku ke sini ", kata Juan sambil menyerahkan sebuah kertas origami berwarna hijau yang sudah di lipat.
" Ini apa? Angsa?", tanyaku sambil melihat lipatan kertas itu.
" Bukan. Itu merpati", kata Juan.
" Oh, kamu hebat juga melipat origami ", kataku sambil melihat kertas berwarna hijau itu.
Juan tersenyum lalu berdiri dan menyandangkan tasnya ke bahu.
" Mau ke mana?", tanyaku.
" Pulang. Kamu mau tidur di sini? ", kata Juan sambil melihatku heran.
Muncul lagi sikap sok cool nya itu kataku didalam hati.
" Aku mau pulang", aku berdiri dan berlari kecil ke arahnya.
" Hati-hati. Awas jatuh ", kata Juan singkat.
" Iyaa.. Gak jatuh kok ", jawabku sewot.
__ADS_1
***