
Besoknya aku sudah membuat janji dengan Nandes untuk menonton salah satu movie korea bertema zombie yang baru dirilis.
Aku duduk di Nurse Station sambil menggoyangkan sebelah kakiku gelisah, mataku memperhatikan perawat yang mondar mandir menjelang jam pulang. Aku sudah bekerja di unit khusus ini sekitar 5 tahun.
Seorang perawat menegurku “ Dokter belum pulang?”, tanyanya.
“ Iya ini mau pulang. Sudah semua kan? nanti yang jaga hari ini dokter Fani”, kataku sambil berdiri.
Aku gelisah karena ada satu hal yang aku rencanakan di kepalaku. Nonton bersama adalah sebuah alasan yang sedang aku pakai untuk menjalankan rencana yang sudah aku susun bersama Elsa.
Hari ini dengan niat baja aku ingin memastikan apakah Nandes masih menganggapku lebih atau hanya sebagai seorang adik.
Aku berbelanja di supermarket untuk keperluan malam ini. Makanan ringan, minuman kaleng, dan beberapa keperluan pribadiku.
Saat melewati rak keperluan pribadi aku melihat beberapa barang berbentuk kotak kecil dengan gambar strawberry dan desain lainnya. Tentu saja aku tau itu apa, aku langsung teringat perkataan Elsa tentang ovum yang harus dibuahi.
Wajahku memanas dan aku langsung tertawa sendiri “ haha.. gila. Dasar Embun otak kotor. Sudah lama tidak di belai ya? bisa-bisanya pikiran kotor begitu melintas. Aku kan hanya memastikan bukan mau mengajak Nandes tidur. Haha dasar wanita tua mesum”, aku memaki diriku sendiri dengan pelan lalu bergegas pergi ke kasir dan membayar semua belanjaanku.
Saat di mobil aku menelpon Nandes, pada dering ketiga Nandes mengangkat telepon.
“ Halo..”, jawabnya.
“ Kak, aku sudah selesai membeli cemilan. Aku ke apartemen kakak sekarang”, kataku.
“ Ya, mobilku rusak. Aku nebeng teman, sekarang dalam perjalanan kesana”, Jawab Nandes.
“ Oke”, aku ceria lalu menutup telepon dan melajukan mobilku ke apartemen milik Nandes.
Aku memasuki komplek apartemen Nandes dan akan memasuki basement parkir mobil ketika aku melihat sebuah mobil putih berhenti didepanku.
Nandes turun di susul seorang wanita yang cantik, tinggi dan seksi. seperti seorang wanita karir pada umumnya. Aku menepikan mobilku sedikit di belakang mereka, sepertinya Nandes tidak tahu aku ada disana.
__ADS_1
Nandes seperti mengucapkan sesuatu dan wanita itu tersenyum dengan genit menurutku, padahal kalau di kacamata orang lain itu adalah senyum yang biasa saja. Wanita itu memukul pelan bahu Nandes dengan gaya yang di manja-manjakan.
" Waaahh... genit sekali... dan lihat senyum Nandes ... wah dia sepertinya suka di sentuh begitu ya... hah!", Aku mengomel didalam mobil sambil melotot ke arah mereka. Tentu saja mereka tidak bisa mendengar dan melihatku.
Hatiku mencelos saat wanita itu mendekati Nandes dan membelai pipi Nandes. Tanpa sadar aku menekan klakson mobil dengan kuat, mereka berdua terkejut dan aku sendiri pun kaget dengan apa yang kulakukan.
Nandes menyipitkan mata melihat ke arahku lalu tersenyum, setelah itu dia melambai kepada wanita itu dan berlari ke arah mobilku. Aku melihat wanita itu tersenyum dan melambai kepadaku, aku memasang senyum terpaksa di wajahku untuk membalas lambaiannya.
“ Hai, kamu baru sampai ya ?”, Nandes bertanya saat sudah berada didalam mobilku.
“ Lain kali kalau mau bermesraan jangan di tengah jalan, halangi jalan orang aja”, aku mengomel dengan wajah cemberut.
Apanya yang masih menyukai, dia saja punya pacar seperti itu batinku. Tidak perlu dipastikan pun sudah terlihat. Aku jadi kesal pada diriku sendiri karena termakan omongan Elsa.
Nandes yang mendengarku mengomel langsung tersenyum “ Jadi kalau mau bermesraan harus di mana?”, Nandes menjawab tidak merasa bersalah.
“ Di mana?Ya di mana kek, di rumah kek, di kamar kek atau di hotel noh”, omelku mendengar pertanyaan aneh itu
Nandes mengangguk “ Oke, ide bagus”.
“ Embun katanya tadi kamu belanja? Kok gak di bawa”, teriak Nandes padaku.
Aku berpaling melihat ke arahnya “ Kamu aja yang bawa, aku capek”, kataku kesal lalu meninggalkan Nandes yang terbengong melihat kelakuanku yang absurd di matanya.
***
Sesampainya di apartemen Nandes aku langsung membersihkan diri sambil meredam kemarahanku.
Tapi sebentar. Kenapa aku marah? apa masalahnya? bagus jika Nandes mempunyai pacar. Aku jadi tidak perlu mempermalukan diriku sendiri dengan rencanaku yang tidak jelas tadi. Aku menutup kran shower, mengeringkan badan, memakai pakaianku dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Nandes berdiri di balik meja makan yang dipenuhi banyak plastik belanjaan. Aku pura-pura tidak memahami kekesalannya.
__ADS_1
Karena melihat aku yang cuek, dia menghampiriku yang sedang mengeringkan ujung rambutku dengan handuk di depan pintu kamar mandi. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku, aku secara refleks memundurkan wajahku. Perlu kalian tau saat ini jantungku berdebar dengan hebat dan pipiku mulai terasa panas.
Lalu dengan wajah ketus Nandes berkata.
“ Permisi nona, aku sangat capek karena mengangkat semua belanjaan yang banyak itu sendirian. Sekarang aku mau mandi”, tangan Nades meraih gagang pintu yang berada di belakang pinggangku dan membukanya.
Aku mendengus melihat kelakuannya dan dia mendorongku pelan ke samping agar aku tidak menghalangi jalannya. Pembalasan yang telak dan bisa-bisanya aku berdebar karena hal itu. Aku melihat tajam ke arahnya memikirkan pembalasan yang lain untuknya.
Saat dia berada di kamar mandi sekitar 5 menit, aku datang dan mematikan saklar kamar mandi membuat Nandes berteriak-teriak dari dalam menyuruhku menyalahkan kembali saklarnya.
“Nyalakan saja sendiri, siapa suruh mendorongku tadi”, aku menjawab santai.
Tanpa kuduga Nandes keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut pinggangnya ke bawah dan memperlihatkan dada bidangnya serta otot perutnya yang membuat wajahku memerah.
Bahunya yang lebar baru ku perhatikan sekarang, rasanya aku ingin berlari dan menyandarkan diriku di sana. Pelukannya memang sangat hangat selama ini. Aku tersadar dari keterpesonaanku dan memalingkan wajah.
“ Kamu …. pakai bajumu Nandes”, aku berteriak padanya sambil membelakangi.
Otak dan kakiku tidak sinkron, otakku menyuruhku pergi tetapi kakiku tidak bergerak sama sekali. Tidak ada jawaban dari Nandes, tetapi aku merasakan auranya ada dibelakangku. Aku bisa mencium wangi sabun menguar ke dalam hidungku saat dia menunduk dan berbisik padaku “ Apa kamu sekarang melihatku sebagai laki-laki?”.
Aku tersentak mendengar perkataannya, tanpa menoleh aku langsung berjalan masuk ke kamar tamu dan menutup pintunya. Wajahku merah padam, jantungku berdebar sangat kencang, aku merasa udara terasa panas padahal aku baru selesai mandi. Aku terduduk di pinggir tempat tidur mengingat bagaimana Nandes berbisik di telingaku, bulu kudukku meremang.
“ Waah… sadarkan dirimu Embun… Sadarkan dirimu… Ya Tuhan jauhkan aku dari segala pikiran jahat dan mesumku”, aku berlutut di pinggir tempat tidur seperti sedang berdoa.
Tiba-tiba Nandes mengetuk pintu kamarku. “ Embun, kapan mulai nonton filmnya? popcornnya sudah jadi”, Nandes memanggilku pelan.
“Iya, bentar”, aku menjawab.
Lalu aku menepuk pelan kedua pipiku agar kembali pada kenyataan, menarik nafas panjang agar pikiranku menjadi tenang. Setelah itu aku membuka pintu dan mendapati Nandes yang berdiri lengkap dengan baju rumahnya. Sedikit rasa kecewa yang tidak perlu menerpaku karena melihatnya berpakaian lengkap.
__ADS_1
Aku memaki di dalam hati dasar Embun otak mesum.
***