Merpati Kertas

Merpati Kertas
Ancaman Terbuka


__ADS_3

Keesokan harinya di sekolah saat jam istirahat, aku dan Elsa duduk di kantin sambil mengobrol.


" Embun, liburan semester kan sudah dekat. Kamu liburan kemana?", Elsa bertanya sambil sesekali menyeruput es tehnya.


" Gak ke mana-mana. Aku di rumah aja sih. Emang kamu mau ke mana?".


" Rencananya aku dan keluargaku mau ke Labuan Bajo. Mengunjungi keluarga sekalian wisata. Kalau kamu gak ada acara ikut aja. Seru kok", Elsa menawarkan.


Aku tersenyum " Makasih Sa, tapi aku di rumah aja. Kasihan si bibi kalau di tinggal", Aku menolak halus. 


" Ah iya benar juga ya", Elsa lalu menyeruput es tehnya lagi.


" Adam kemana sih. Lama banget, ini Jus dia ku minum juga kalau kelamaan", Elsa mengomel. 


" Mungkin mereka masih ada kelas. Atau lagi main bola?", aku menduga-duga. Aku juga sebenarnya gelisah menunggu kemunculan Juan, waktu istirahat tinggal sebentar lagi.


Elsa menggeleng lalu mengangguk sekali ke arah pintu. Juan dan gengnya muncul. Ada Adam, Leo dan bahkan Junet. Ramai sekali mereka. 


Juan langsung datang menghampiriku dan Elsa bersama Adam. Temannya yang lain mengambil kursi di pojokan tempat mereka biasa berkumpul di kantin. Entah kenapa itu seperti menjadi area terlarang untuk adik kelas. 


" Hai cantik ", Juan duduk di sampingku. Aku melihatnya dengan senyum bahagia di wajahku. 


" Hai… kamu hari ini ada les tambahan?", tanyaku sambil melihat ke arah Juan.


" Ada. Tapi jam 3. Nanti aku antar kamu pulang dulu. Mau makan bareng?", tanya Juan padaku. 


" Mau..  ", aku menjawab terlalu bersemangat. 


Juan tersenyum padaku " Semangat banget. Segitu senangnya aku ajak makan ?", Juan menggoda. 


Aku tersadar, pipiku panas " Gak. Kata siapa? ", aku memalingkan wajah seolah-olah tidak peduli.


Juan tertawa, dia menarik kursiku mendekat padanya lalu berbisik " hari minggu kita jalan-jalan ke Labuan Bajo yuk. Kita lihat birunya laut yang indah ", ajak Juan.


Aku melihat ke arahnya lalu balas berbisik mengabaikan Adam dan Elsa yang melihat kami dengan sinis. 


" Mau pacaran jauh banget sampai sana?", bisikku. 


Belum sempat Juan membalas bisikanku, Adam menyela. 


" Hei… Hei. . Ini kantin bukan dunia kalian. Bisa gak jangan terlalu romantis", Adam sewot. 


" Lah kau kan punya pacar juga, sirik banget", Juan membela keromantisan kami yang menyebalkan di mata mereka. 


" Duilee… Juan… bucin banget…  ", Junet bersorak disambut sorakan teman-temannya yang lain.


" Dasar sirik kalian", Juan membalas mereka disambut tawa ramai yang membuatku sedikit merasa malu tapi Juan tampak biasa saja malah tidak peduli.

__ADS_1


" Pulang sekolah kita makan dulu deh ya", kata Juan ke Adam. 


" Oke", Sahut Adam. " Nanti aku antar kamu pulang ya Nai", Adam berbicara ke Elsa.


Disambut anggukan setuju dari Elsa. 


" Eh.. Nai itu apa?", tanyaku penasaran. Aku ingat Nandes pernah memanggilku begitu  


" Nai itu artinya hati aku … yaaa semacam panggilan sayang lah", jawab Adam. 


Aku ber oh panjang, sambil mengunyah es batu. Alay juga si Nandes itu. 


"  Kenapa? Juan pernah manggil kamu begitu?", Tanya Adam. 


" Gak… cuma kayaknya pernah dengar di mana gitu. Makanya penasaran", aku buru-buru menjawab agar tidak terlihat salah tingkah.


Juan memegang tanganku. " Yuk balik kelas, udah bel masuk".


Aku mengikuti Juan dari belakang, dia membayar makananku dan Elsa. Dan kami berjalan beriringan ke kelas masing-masing.


***


Aku menunggu Juan di taman depan kelasku, Elsa sedang pergi ke ruang latihan menari untuk mengembalikan beberapa kostum yang sudah di cuci. 


" Nai….Nai….", aku tersenyum kecil, Nandes terlalu berani memanggil cewek yang baru dikenalnya dengan sebutan seperti itu. 


Juan datang membuyarkan lamunanku " Kamu melamun sampai gak sadar aku datang ya". 


Karena terlalu bersemangat berdiri, aku tersandung kakiku sendiri dan limbung. Juan dengan cepat menarik ku dan membantuku berdiri tegak. 


Aku melihat Juan yang cukup syok dengan ketidak hati-hatian ku ini.


" Minggu kemarin lutut nabrak meja, sekarang kamu hampir jatuh. . Embun hati-hati, jangan tergesa-gesa", Juan mengingatkanku. 


" Iya.. aku mulai besok lebih hati-hati. Makasih ya ", aku nyengir sambil melihat Juan. 


Juan menghela nafas, lalu mengelus kepalaku dengan sayang " Ya udah, ayo kita samperin Elsa dan Adam", Juan menggenggam tanganku agar berjalan bersamanya.


Sepertinya Juan takut aku terjatuh atau terantuk sesuatu dan menyebabkan hal seperti tadi terjadi. 


Kami akan makan di salah satu kedai didekat sekolah. Biasanya jam segini di kedai itu ramai dengan anak sekolah kami yang baru pulang. Ada yang makan tapi ada juga yang sekedar nongkrong saja. 


Aku sedang mengobrol tentang rencana liburan Elsa ketika seseorang memanggilku " Embun". Aku menengok ke arah datangnya suara itu. Juan dan yang lainnya ikut berhenti.


Nandes dan seorang temannya duduk di tembok belakang sekolah kami, sedangkan yang lain berdiri di bawah sambil sibuk mengobrol dan merokok. Tembok itu memang tidak terlalu tinggi, tapi cukup merepotkan untuk di panjat. 


Saat aku melihatnya dia menyapaku dengan senyum di wajahnya " Hai… Molas. Kangen deh", katanya tanpa memperdulikan Juan dan yang lainnya.

__ADS_1


Aku diam saja, dia memang berbeda kalau sudah seperti ini. Aku ingat kejadian terkahir kali di rumahku, tapi di lihat dari tindak tanduknya, sepertinya dia sudah tidak marah lagi padaku.


Nandes melompat turun dari atas tembok tanpa masalah. Membuang putung rokok dan menginjaknya dengan ujung sepatu. Dia berjalan mendekatiku tanpa ragu.


" Kamu cantik deh hari ini. Udah pulang ya? Mau aku antar?", Nandes melihat ke arahku benar-benar mengabaikan Juan. 


Aku melihatnya tanpa berkedip " Kamu… merokok ya?", hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku. 


Kening Nandes berkerut " Kamu gak suka perokok ya ?Oke mulai hari ini aku akan berhenti merokok", Nandes mengangkat tangannya seperti bersumpah. 


Juan tertawa, tawa sinis yang membuatku merinding. Nandes mengibaskan tangannya seperti sedang mengusir sesuatu " Ada suara lalat, kamu dengar gak?", Nandes bertanya kepada Elsa. 


Elsa yang takut melihat kelakuan Nandes memegang tanganku, Elsa diam saja tidak memberikan respon apapun. 


" Hei bajingan, jangan bikin onar di sekolah orang" , Adam menarik Elsa dan aku mundur ke belakangnya. 


Nandes menatap Adam " Wah… ternyata si saudara lalat bisa ngomong. Kirain selama ini bisu". 


Aku sedikit terkejut Nandes mengatakan hal seperti itu. Seperti ada kebencian besar di dalan suaranya. 


Adam maju tapi di tahan oleh Juan. Juan maju dan berbicara kepada Nandes dengan sangat tenang. " Kau ada urusan apa di sini?" .


" Ck.. saya di sini karena kangen dengan calon pacar Saya. Embun ", Nandes memiringkan kepalanya sedikit melihat ke arahku yang tertutup setengah badan Juan. 


" Calon pacar ? Saya kira kalian hanya berteman ternyata kau ada maksud lain. Tolong jangan dekati Embun lagi",Juan berkata tajam. 


Nandes melihat ke arah Juan lalu mengangguk " Kalian pacaran?".


" Ya", Juan menjawab singkat. 


"Oke", Nandes menjawab santai.


Aku menarik nafas Lega, berpikir masalah ini sudah berakhir dan Nandes tidak akan ribut-ribut menjadikanku calon pacarnya. Tetapi itu hanya pikiranku, bukan Nandes namanya kalau tidak bisa membuat Juan emosi.


" Tapi… kalian baru pacaran bukan menikah. Sebelum ada kata SAH dari hukum negara kita tercinta ini, Embun akan tetap bisa saya rebut.. ingat ! akan saya REBUT. bagaimanapun caranya Juan", Nandes berbicara lebih tajam.  Jarak mereka sudah sangat dekat seperti akan adu jotos. 


Kakiku terasa lemas, rasanya ingin menghilang dari muka bumi ini. Juan sepertinya tidak terpancing, tapi raut wajahnya sangat ...sangat menyeramkan. Aku maju dan menarik Juan memberikan jarak lebar di antara mereka. 


" Ayo Juan… ayo pergi ", kataku seperti ingin menangis.


Juan masih menatap Nandes degan tatapan ' Aku akan membunuhmu nanti'.


Nandes tersenyum sinis, lalu melihat ke arahku sedikit membungkuk agar wajahnya sejajar denganku. 


" Embun…. Kalau kamu sudah bosan sama dia bilang ya. Aku akan datang menjemputmu".


Aku diam saja tidak menjawab, menunjukkan ketidaksukaan ku pada keributan yang di buat Nandes.

__ADS_1


Juan menggenggam tanganku dan membawaku pergi tanpa menoleh lagi. Aku berjalan mengikutinya dalam diam. Meninggalkan Nandes yang menatap kami dengan tatapan penuh arti.


***


__ADS_2