Merpati Kertas

Merpati Kertas
SEBUAH KEBOHONGAN


__ADS_3

Setelah hari aku memesan bunga di tokonya, permusuhan di antara kami mulai menyala kembali. Dia yang memusuhiku sebenarnya.


Sedangkan ibuku merasa senang sekaligus bingung karena begitu banyak bunga yang dikirim ke rumah utama. 


Pagi ini aku duduk di tengah rapat bersama direksi. Seorang karyawan menyampaikan presentasinya dengan lancar. Aku memainkan pulpen di tanganku, sedangkan Max sahabatku duduk memperhatikan ke arah pemberi presentasi itu dengan malas. 


Tiba-tiba aku mengangkat tanganku ke udara, secara otomatis pemberi presentasi itu terdiam dan semua kepala di ruangan itu menoleh ke arahku. Aku melempar setumpuk kertas yang sedari tadi aku coret-coret  ke tengah meja rapat.


Max melepas pulpennya dan menatap malas ke wajah seorang direktur pemasaran.Sepertinya dia sama kesalnya sepertiku.


“ Direktur pemasaran Radityo, sepertinya anda bosan bekerja di perusahaan ini”, aku berkata dingin. 


Orang yang aku maksudkan hanya terdiam, tidak berani mengatakan apapun. “ Bagaimana mungkin kau memberikan ide sampah seperti ini kepadaku? kau tahu ini sampah dan masih berani membuang waktuku dengan mempresentasikan ini di hadapanku? “, aku marah. 


“ Maaf pak”, Radityo direktur pemasaran meminta maaf. 


“ Aku mau Gold Group membuat perubahan dalam pemasaran G Food bukan memberikan ide-ide sampah yang sudah aku dengar sebelumnya”, aku menarik nafas menenangkan diri.


Aku kesal karena merasa waktuku terbuang percuma karena sampah ini. “ Lakukan dengan benar, besok pagi presentasikan kepadaku dengan ide baru tanpa melakukan plagiat. Jika tidak... Max ganti semua pengurus bagian pemasaran serta jajarannya. Sepertinya mereka mulai mengalami penuruna daya kerja otak", aku berkata tegas tanpa belas kasihan membuat semua orang di dalam ruangan itu terdiam takut.


Aku berjalan keluar diikuti Doni, Sekretaris kantorku, Max dan beberapa petinggi lainnya. “ Apa jadwalku sekarang Maria”, aku berbicara ke arah sekertarisku. 


“ Kunjungan pasar Pak, Rapat internal bersama direksi guna membahas pembangunan hotel, Lalu ada acara makan malam bersama CEO Y Group”,jelas Maria panjang lebar.


“ Wakil CEO Max tolong lakukan kunjungan pasar tanpa aku”, aku berkata tanpa melihat Max.


“ Kenapa? Kau ada urusan lain?”, Max bertanya heran saat keluar dari lift. 


“ Ya, aku ada urusan penting”, aku berkata pelan. 


“ Baiklah”, Max menjawab singkat. 


Kami menaiki mobil masing-masing, saat didalam mobil aku masih menimbang-nimbang tentang pikiranku saat ini. 


“ Tuan, kita akan pergi ke mana?”, tanya Doni dibalik kemudinya. 


“ Kita ke rumah kakek itu. Aku akan melakukan pendekatan yang berbeda. Tidak ada waktu lagi Doni”, aku berkata sedikit cemas.


“ Baik tuan”, Doni melajukan mobilnya ke arah rumah kakek Jeni. 

__ADS_1


***


Saat sampai di sana aku melihat pria tua itu sedang duduk di depan rumah. Aku turun dari mobil dan berjalan mendekati pagar rumah itu, aku meminta Doni tidak mengikutiku, jadi dia hanya berdiri di dekat mobil. 


“ Selamat pagi pak Darmawan”, aku menyapanya dengan sopan dari luar pagar. 


Kakek Darmawan melihat ke arahku dan tersenyum ramah “ Selamat pagi nak. Mari masuk”, katanya ramah. 


Tentu saja kakek Darmawan mengenalku, saat semua anak buahku mengangkat tangan untuk membujuknya. Dengan terpaksa beberapa kali aku menemuinya untuk melakukan negosiasi. Tapi tidak membuahkan hasil. Aku berjalan melewati pagar, lalu memasuki taman kecil itu dengan langkah cemas. Kali ini aku harus berhasil pikirku.


“ Silahkan duduk nak. Aku tidak melihatmu dalam beberapa waktu, aku kira kau sudah menyerah nak”, kakek Darmawan berbicara tanpa basa basi.


Aku duduk sambil tersenyum masam. “ Pak Darmawan, apa anda belum berubah pikiran? Jujur saja tanpa tanah itu, saya tidak bisa membangun bisnis saya”, aku berkata jujur padanya. 


“ Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya. Aku akan menjualnya jika cucuku menikah, jika aku menjualnya sekarang maka uang itu akan habis untuk biaya pengobatanku. Cucuku itu sangat keras kepala, dia pasti akan menggunakan itu untuk kepentingan kesehatan ku bukan untuk kepentingannya”, Kakek Darmawan berkata sambil menatapku.


Memang benar Jeni adalah wanita keras kepala. Dia sekeras batu di sungai, susah dipecahkan dan tekadnya kuat sekali. Seperti sekarang tekadnya kuat untuk melawanku. Aku menghela nafas panjang. 


“ Nah itu cucuku datang”, tiba-tiba kakek Darmawan menunjuk ke arah luar pagar. Seorang wanita turun dari motor lalu berjalan menghampiri Doni. Berbicara sebentar dan dia berpaling ke arahku tidak suka.  Dalam sekejap aku menemukan ide yang akan membuatnya terikat bersamaku selamanya. 


“ Wanita itu cucu anda?”, aku bertanya pura-pura tidak tahu.


“ Ya. Sangat kenal. Jeni adalah pacarku”, Aku berbicara sambil menatap Jeni yang berjalan memasuki taman kecil mereka. Ada sedikit keterkejutan di wajah kakek Dermawan karena perkataanku. 


“ Maksudmu kalian memiliki hubungan?”, tanyanya lagi. 


“ Ya. Kami sudah memiliki hubungan cukup lama”, aku tersenyum pada Kakek Darmawan. 


“ Tuan som…eh Juan apa yang kamu lakukan di sini?”, Jeni melotot ke arahku. 


“ Aku ada urusan dengan Pak Darmawan”, aku menatapnya lembut seolah-olah dia adalah pacarku. 


“ Kakek, aku datang”, Jeni mencium tangan kakeknya. “ Aku bawa banyak buah-buahan untuk kakek, kita makan bareng ya”, Jeni berkata lembut pada kakeknya, lalu menatapku tajam “ jIka urusanmu sudah selesai kembalilah ke kantor”, katanya tajam. 


“ Baiklah”, aku patuh padanya. 


“ Tunggu sebentar. Jeni bagaimana mungkin kamu begitu kasar pada pacarmu?”, Kakek Darmawan berkata di luar dugaanku. 


“ Pacar? Siapa? “, Jeni bingung. 

__ADS_1


Dengan cepat aku mulai berakting “ sayang maafkan aku. Aku tidak tahu kakek Darmawan adalah Kakekmu. Aku benar-benar memiliki urusan bisnis dengan kakek Darmawan”, Aku menggenggam tangan Jeni sambil menatapnya penuh arti. 


“ Sayang?”, Jeni menatapku kebingungan. 


“ Kenapa?Ada masalah apa?”, Kakek bertanya penasaran. 


“ Kakek aku dan..”, Jeni berniat menjelaskan tetapi dengan cepat aku memeluknya dan membuat kakek terkejut lalu berdehem. 


“ Ehem.. kalian berdua jangan bertengkar. Jika sudah berdamai temui aku di ruang tamu”, Kakek berkata dingin. 


Jeni yang kaget terus memukuli pinggangku dengan sebelah tangannya. Saat kakek masuk ke dalam rumah, aku melepaskan pelukanku pada Jeni. Wanita mungil ini menatapku tidak suka. 


“ Ayo kita bicara”, aku menariknya untuk masuk ke dalam mobil. 


“ Aku tidak mau”, katanya keras kepala. 


“ Kau mau masuk ke mobil dengan kakimu sendiri atau aku menggendongmu”, aku tidak sabar.


“ Aku masuk dengan kakiku sendiri”, Jeni berkata ketus. Jeni lalu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan wajah marah. 


Aku menghela nafas masih merasa heran dengan keras kepalanya, lalu berjalan memutari mobil masuk melalui pintu yang lain. Setelah duduk bersama aku mulai berbicara.


“ Kau tahu aku ingin membeli tanah milik kakekmu. Tapi karena sebuah alasan beliau masih menunda untuk menjualnya”, kataku. 


“ Jadi apa urusannya dengan berpura-pura menjadi pacarku? kakekku memang tidak ingin menjualnya padamu kan”,Jeni berbicara tanpa melihatku. 


“ Kakekmu akan menjualnya padaku jika kau menikah. Karena dia ingin uang itu untuk kehidupanmu setelah menikah bukan untuk kesehatannya”.


Jeni terdiam mendengar perkataanku. Raut wajahnya berubah sedih, seperti biasa dia menahan tangisnya. Aku menunggu responnya. 


“ Aku tidak bisa Juan. Itu sama saja dengan membohongi kakekku. Aku hanya memilikinya di dunia ini, kalau dia marah padaku karena aku membohonginya. Aku tidak tahu harus pulang ke mana. Maafkan aku”, Jeni berkata tegas. 


Rasa kecewa melandaku. Aku tidak tahu apa aku kecewa karena tidak berhasil mendapatkan tanah itu atau kecewa karena wanita ini menolak bersamaku walaupun cuma pura-pura. Aku tidak bisa berkata lagi, tidak ada kata yang bisa kukeluarkan untuk membujuknya.


“ Juan jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Urusan antara aku dan kamu, mari kita selesaikan tanpa melibatkan keluargaku”, Jeni berkata lalu membuka pintu mobil dan berjalan memasuki pekarangan rumahnya. 


Aku memukul kursi pengemudi di depanku dengan penuh kemarahan. Aku tidak boleh gagal, jika hari ini aku gagal maka aku pasti kehilangan proyek ini. Aku turun dari mobil dan berjalan mengikuti Jeni masuk ke pekarangan. Aku melihat Jeni masuk ke dalam rumah, aku mengikutinya. Belum sempat aku menginjak kakiku di teras aku mendengar suara teriakan Jeni kencang dari dalam rumah.


“ Kakek”. 

__ADS_1


***


__ADS_2