Merpati Kertas

Merpati Kertas
DIA ADALAH ISTRI SAHKU


__ADS_3

Aku duduk didepan sebuah api kecil . Di tanganku ada berlembar-lembar kertas yang ku remas satu-satu dan melemparkannya ke dalam api. Kertas itu adalah surat kontrak yang ditandatangani bersama Jeni. Aku tidak membutuhkan hal ini lagi, Jeni adalah istri sah ku sekarang. Aku telah mendaftarkan pernikahan kami ke negara. 


Siapa yang paling tidak terima? tentu saja ibuku. Aku mengatakan sesuatu yang membuat Ibuku sangat murka dan membuat drama masuk rumah sakit karena penyakit vertigo nya kambuh.


" Jeni adalah pilihanku mom. Aku mencintainya, aku tidak meminta ibu untuk menerimanya sebagai menantu tetapi tolong hargai pilihanku".


Akhir pekan kali ini aku mengajak Jeni untuk bertemu Flits dan keluarga kecilnya. Saat memasuki pekarangan rumah kecil mereka, Jeni terlihat sangat senang.


“ Sayang, aku suka rumah seperti ini. Di lingkungan yang ramah anak, ada taman di tengah perumahan. Pekarangannya luas dan satu hal lagi, rumah kecil itu lebih hangat. Kamu tahu kenapa?”, Jeni berbicara padaku saat kami berdiri di pekarangan rumah milik Flits. 


“ Kenapa?”, aku memberikan mimik penasaran. Aku suka jika istriku ini sudah mulai mengoceh.


“ Karena ketika kamu memiliki rumah yang sangat besar kehangatan akan kurang terasa karena semua memilih berada di wilayahnya masing-masing, misalnya kamar dan hanya bertemu saat makan malam. Tapi rumah sederhana seperti ini membuat kita menjadi lebih sering bertemu dan jauh menjadi lebih akrab”, terangnya dengan wajah yang sangat serius.


“ Teori siapa itu?”, aku bertanya sambil tersenyum karena melihat mimik wajahnya.


“ Teori aku. Makanya aku menjelaskan padamu”, katanya masih sangat serius. Wajahnya yang seperti itu membuatku gemas. 


“ Baiklah kalau begitu besok kita akan membeli rumah sederhana”, jawabku membelai wajahnya.


Dia tersenyum senang. Kami bergandengan tangan berjalan menuju pintu rumah dan Flits menyambut kami dengan hangat. 


Setelah makan siang bersama, aku dan Flits duduk berdua menikmati udara segar di teras. Sedangkan Jeni sedang menggendong anak Flits dan mengobrol bersama istrinya di dalam rumah.


“ Jadi ini pilihanmu?”, Flits bertanya. 


“ Ya.. Aku menaruh hatiku padanya. Aku bergantung padanya saat ini”, aku menjawab lalu meneguk minumanku di botol. 


“ Kau sudah memastikan hatimu?”, Flits bertanya sambil melihat ke arahku. 


Aku terdiam menatap halaman luas di depanku yang dipenuhi rumput hijau dan terlihat cantik menenangkan. “ Ya kak. Aku memilih keluar dari penyesalanku dan melangkah bersamanya. Aku.. mencintainya”, aku mengakui.


“ Syukurlah…aku ikut bahagia bro”, Flits tersenyum. 


Aku menghela nafas panjang dan menatap ke langit. Kisah cintaku akan dimulai dari sekarang, kehidupanku yang baru sedang aku jalankan sekarang. Aku akan menjalaninya dengan benar tanpa menengok ke belakang lagi. Aku membakar foto Embun bersama surat kontrak itu.


" Kak, apa yang kau pikirkan saat keluar dari rumah?", tanyaku penasaran.


Flits menatap langit siang yang cerah itu sambil tersenyum. "Kebebasan dan masa depan yang sudah ku rancang dalam kepalaku", jawabnya enteng.


" Apa itu tercapai?", aku bertanya lagi.

__ADS_1


" Ya.. Kau lihat betapa bahagianya aku sekarang. Mungkin saat itu jika aku tidak melangkah keluar rumah aku tidak akan sebahagia ini Juan. Kau tahu? Ini adalah pilihan tepat dalam hidupku dan aku tidak akan pernah menyesalinya", Flits menatapku dengan tatapan seorang kakak yang hangat.


Aku tersenyum. Benar apa yang dia katakan, saat ini dia lebih terlihat muda dan bahagia di bandingkan saat di rumah. Harta dan kekayaan bukanlah segalanya, Kami di lahir kan dengan hidup yang sudah di rancang oleh ayahku.


Saat Flits pergi, aku sangat membencinya. Aku kira kebencianku terjadi karena memikul beban yang seharusnya bukan untukku. Mewarisi tanggung jawab dari ayahku. Tetapi setelah waktu berlalu akhirnya aku tahu, bahwa aku membencinya karena dia berani mengambil langkah yang aku juga inginkan, karena Flits memiliki keberanian sedangkan aku tidak. Dan aku membencinya karena dia pergi tidak membawaku bersamanya, karena dulu aku sangat mengaguminya.


Setelah bertahun-tahun aku sadar Flits adalah teman, sahabat dan panutanku. Hanya saja aku tak pernah mengakuinya. Aku menepuk bahu kakakku.


" Sepertinya setelah aku, adik bungsumu akan memberontak", kataku dan membuat kami tertawa bersama.


" Juan kau tahu, mom sebenarnya mencintai kita. Hanya saja tekanan dari ayah dan keluarganya membuatnya seperti itu. Lebih ramah lah kepadanya karena suatu saat dia akan mengerti", kata Flits tersenyum.


" Tapi dia belum menerima kalian di rumah kan?", kataku lagi.


"Iya itu karena dia menjauhkan ku dari keluarga ayah Juan. Dia tidak benar-benar membenci kami. Dia datang dan bertemu dengan istriku Dian, hanya untuk melihat Mika cucunya. Tapi di saat aku tidak ada, itu adalah rahasia mom dan Dian. Tapi aku punya cctv", Flits tersenyum.


Dan aku ikut tersenyum senang karena kabar itu.


***


Aku membawa Jeni ke rumah utama untuk menemui ibuku. Ibuku tidak menyembunyikan wajah sewotnya pada Jeni. Dan Jeni dengan terang-terangan menjadi calon mantu pemberontak di mata ibuku. 


Saat makan malam berlangsung, ibuku mulai menginterogasi Jeni dengan macam-macam pertanyaan.


Aku diam saja mendengar pertanyaan ibuku.  


" Perusahaan H group, tapi aku sudah keluar dari rumah dan hidup mandiri", jawab Jeni sopan. 


Ibuku menyipitkan mata " lulusan universitas mana?",tanya ibuku lagi.


"SMA Negri 2 Jakarta. Saya tidak kuliah karena tidak punya biaya bu", Jawab Jeni berani. 


"What? Juan… kamu… sudah gila ya? Aduh kepala mama sakit mendengar ini", ibuku memijat keningnya. 


" Kamu… berani sekali merayu anakku", ibuku mulai marah-marah di meja makan. 


" Mom…", aku menenangkannya. 


Jeni dengan tenang meletakan sendok dan garpunya lalu berbicara ke arah ibuku. "Mom, bukan saya yang merayu anak anda. Tapi anak andalah yang merayu saya. Dan kami saling mencintai", jawab Jeni mantap. 


Aku tersenyum mendengar perlawanannya. 

__ADS_1


" Mom tenang saja, walaupun lulus SMA aku bisa mengurus suamiku dengan baik dan menjadi ibu rumah tangga yang telaten", lanjutnya lagi. 


Ibuku sangat syok mendengarkan perkataan Jeni. " Juan, mama tidak bisa terima ini. Kalian harus segera pisah. Kalian tidak cocok, aku tidak merestui", ibuku marah-marah. 


Aku tahu makan malam ini telah usai tanpa perlu menghabiskan makanan di piring masing-masing. 


" Mom, Jeni benar. Akulah yang mengejarnya terlebih dahulu. Aku memaksanya menyukaiku. Jeni adalah pilihanku mom, aku tidak akan meninggalkannya. Aku harap mom dapat lebih bijaksana", aku berdiri dari kursiku diikuti Jeni. 


Beberapa keluargaku yang ikut makan malam hanya terdiam tidak berani berkomentar. Bagaimanapun juga mereka tahu, kasta tertinggi di dalam rumah ini adalah aku. Akulah pemegang kendali dari keluarga ini. 


" Aku harap semua keluarga menyetujui pernikahanku tanpa penolakan. Dan hormatilah istriku selayaknya kalian menghormati ku", aku berkata dingin. 


Setelah itu aku meraih tangan Jeni dan berjalan meninggalkan ruang makan itu. Tidak memperdulikan keributan kecil karena ibuku yang mendadak pingsan. Aku tahu itu hanya drama yang sedang ibu mainkan. Hanya Bella yang mengantar kami keluar rumah. 


" Kakak ipar, bagaimanapun juga aku ada di pihakmu", kata Bella bergelayut manja pada Jeni. 


" Terima kasih Bella ", Jeni memeluk Bella hangat. 


Saat melihatku Bella menatap ketus " Jangan lupa janji kakak, awas kalau sampai berbohong", ancamnya. 


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Bella. Saat tiba di mobil Jeni menghembuskan nafas panjang. 


" Juan tadi aku takut banget", kata Jeni histeris di dalam mobil. Sepertinya dia sudah menahannya sejak tadi. 


" Kamu takut? Tapi tadi kamu terlihat seperti wonder woman", kataku sambil tersenyum. 


" Iiih … itu karena aku tidak ingin terintimidasi tapi jempol kakiku gemetar tau", katanya dengan raut wajah lucu. 


Doni ikut tersenyum mendengar ocehan Jeni. 


" Kamu harus kuat agar tidak terintimidasi. Tidak apa-apa, ibuku tidak bermaksud jahat. Dia hanya terlalu kaku", kataku membelai wajah Jeni. 


" Ya.  Aku mengerti", Jawab Jeni sambil tersenyum. 


"Tuan sekarang kita akan ke mana?", tanya Doni ke arahku.


" Pulang. Aku ada urusan dengan istriku", aku menautkan alisku sambil melihat Jeni. 


" Urusan apa?", tanya Jeni bingung. 


Aku menunduk dan berbisik " menambah keturunan".

__ADS_1


Wajah Jeni bersemu merah. Dia memukul pelan dadaku. " Jangan keras-keras nanti Doni dengar", bisiknya membuatku tersenyum. 


***


__ADS_2