Merpati Kertas

Merpati Kertas
NANDES: APA KAMU BAHAGIA?


__ADS_3

Aku duduk di ruang tamu apartemen. Gelas kaca berisi vodka di tanganku. Proyektor mini memantulkan  video seorang wanita yang sedang tertawa sambil memegang cone es krim di tangannya. Aku memperhatikan pergerakannya di setiap video yang berputar silih berganti. Banyak aktifitas yang dilakukan wanita ini. Memasak, berendam di bathup, berdansa denganku dan wajah cemberutnya saat bangun tidur. 


Aku merindukannya, dadaku terasa sesak, hatiku sakit. Rasanya seperti ada yang menusuk hatiku dengan belati saat melihat dia tersenyum di video itu. Aku benar-benar merindukannya. Rindu yang ku pendam mati-matian di siang hari. Dan saat malam tiba aku akan duduk berjam-jam untuk melihatnya di dalam video ini. Aku melakukan hal yang sama selama 2 setengah tahun lebih. 


" Embun… ", aku mulai meratapi patah hatiku. 


Dan aku tertidur di sofa dengan botol minuman di sebelahku dan video Embun sebagai pengantar tidurku. 


***


Aku terbangun dengan rasa pusing menyerang kepalaku. Mulutku terasa kering karena minuman keras yang ku minum. Aku duduk berusaha mengembalikan kesadaranku. 


Matahari masuk melalui jendela, ini adalah hari minggu. Hari dimana semua orang bersantai dan berolahraga. Tetapi aku membunuh diriku dengan semua minuman keras ini. 


Aku berdiri dan berjalan ke arah dapur mengambil air hangat. Aku berkumur lalu memuntahkan semua isi perutku ke wastafel. Aku pasti sudah gila, karena perbuatan wanita jahat itu, aku menjadi seperti sampah. Aku membencinya tapi juga merindukannya. 


Aku menghela nafas dan berjalan kembali ke sofa. Mencari-cari Hpku. Banyak pesan masuk, salah satunya dari Elsa. 


Aku membuka pesan itu, tidak biasanya dia mengirim pesan video. Mataku membesar saat melihat video itu. Aku menemukannya, Embun. Dia ada di dalam video yang dikirim Elsa. 


Aku memutar ulang video itu berkali-kali, Embun dia masih secantik dulu. Senyumnya menghangatkan hatiku. Aku melihat lambang organisasi di baju milik wanita yang diwawancarai itu. 


" Cendrawasih Health Center ? ", aku memiringkan kepala, berpikir sangat keras. Seperti pernah mendengarnya entah dimana. Aku melihat Embun dikelilingi anak-anak kecil dari Papua. 


" Embun pernah di Papua?", aku mengacak-acak rambutku frustasi tidak bisa menebak dia berada di mana. 


Akhirnya aku menelpon seseorang. Pada deringan kedua telpon di angkat. 


"Halo Rian. Sudah lihat video yang aku kirim ?", aku bertanya pelan tapi tegas. 


"Ya, sepertinya dia ada di sana. Aku sudah memastikan bahwa itu dia. Temukan wanita itu. Aku akan memberikan dana bantuan ke organisasi itu atas namamu. Lalu bawa dia kehadapanku menggunakan alasan dana bantuan itu", aku memberitahu rencanaku. 

__ADS_1


Terdengar jawaban dari sebelah telpon menyanggupi semua permintaanku. Aku menarik nafas lega.


" Akan ku bayar lebih jika berhasil menyeretnya ke hadapanku", aku berkata dingin.


Setelah menutup telepon aku berdiri dengan sempoyongan dan dengan cepat memegang ujung meja. Aku menutup mataku dan menghela nafas " akhirnya aku menemukanmu, Embun".


***


Selama seminggu aku merasa gelisah, menunggu kabar dari anak buahku. Saat kabar itu datang, aku merasa sedikit daya hidupku naik ke permukaan. 


" Pak, kami menemukannya di ujung timur Papua. Kami sudah melakukan yang anda minta. Sekarang tinggal menunggunya datang menemui Anda", Rian berbicara di telepon. 


" Bagus. Bagaimana kabarnya?”, aku bertanya dengan suara  berat.


“ Nyonya sangat sehat dan baik-baik saja pak. Dan… nyonya terlihat bahagia”, Rian berkata jujur.


Aku menghela nafas “ Kabari perkembangan selanjutnya. Selalu awasi setiap pergerakannya, jangan sampai kita kehilangan dia lagi”, aku berkata tegas. 


Aku menghenyakan diri di kursi. Memikirkan apa yang harus kulakukan jika aku bertemu wanita jahat itu. Mungkin aku akan menumpahkan semua kemarahan, kekecewaanku dan rasa sakit hatiku padanya. Aku membencinya, aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan saat dia meninggalkanku. Aku akan membuatnya menderita, akan ku pastikan itu. 


***


Dua bulan berlalu, jantungku berdebar kencang saat menerima kabar Embun bersedia datang sebagai perwakilan organisasinya untuk bertemu dengan sponsor baru yang dia tidak ketahui idedintasnya. Aku duduk menunggunya dalam diam di salah satu ruang privasi sebuah restoran mewah. Saat mendengar suara pintu dibuka, Jantungku berdebar cepat. 


“ Terima kasih”, Embun berbicara dengan pelayan yang mengantarnya. Suaranya yang lembut menusuk jantungku. Aku membencinya tapi aku tidak bisa berbohong, aku sangat merindukannya lebih dari apapun. Rasanya aku ingin berlari dan memeluknya tapi dengan sekuat tenaga aku menanam kakiku di lantai agar tidak bergerak sembarangan.


“ Tuan, perwakilan sponsor sudah tiba”, Asisten pribadiku berbicara padaku yang membelakangi pintu masuk. 


Aku memasang wajah dingin sebisaku dan berdiri berbalik menyambut Embun. Dengan suara datar aku menyapanya “ Selamat malam nona, terima kasih sudah memenuhi undanganku”, aku tersenyum dingin.


Embun tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Dia bergegas berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu, tapi percuma pintu itu terkunci dari luar atas permintaanku. Aku dengan santai duduk di seberang meja.

__ADS_1


“ Silahkan duduk nona, kita akan makan malam bersama. Sebagai utusan organisasi dan penyokong dana kalian”, aku meliriknya sekilas. 


“ Nandes, berhenti mempermainkanku”, Embun marah.


Aku menatapnya dengan dahi berkerut “ Dimana sopan santun anda nona? apakah semua anggota organisasi anda seperti ini perilakunya? mengecewakan”, aku tersenyum sinis.


Dengan langkah berat dia menarik kursi dan duduk di sisi lain meja menghadap ke arahku. Aku memperhatikannya, wajahnya masih cantik seperti dulu, tatapan matanya yang menyejukan, rambutnya yang pendek sebahu masih mampu membuat jantungku berdebar. Hanya saja tidak ada senyuman di wajahnya, senyum yang selalu dia tunjukan setiap melihatku.


Aku merindukan wanita jahat ini, sangat merindukan sekaligus membencinya. Aku menghembuskan nafas panjang menenangkan diriku sendiri " Silahkan pesan menunya nona", Aku tersenyum ramah.


Dia diam saja tidak membuka buku menu itu. Jauh didalam lubuk hatiku setitik rasa bersalah muncul karena memganggu hidupnya yang damai. Seandainya boleh, aku ingin memeluknya dan mengatakan 'aku merindukanmu Embun. Aku Sangat merindukanmu'. Namun tidak ada kalimat yang keluar dari mulutku, aku membatu.


" Kenapa tidak memesan?", aku bertanya melihatnya. " Oh baiklah. Aku akan membantumu. emm... bagaimana kalau Steak ? atau Pasta?", Aku melihatnya menunggu jawaban.


Embun tetap diam. Aku mengangguk paham lalu melihat ke arah pelayan " tolong 1 pasta dan steak. Medium rate Dan wine terbaik yang kalian punya. Sedikit cerita, dulu aku mempunyai seorang wanita yang menyukai pasta. Jadi ku pikir mungkin kamu menyukainya. Kamu mau tau di mana wanita itu sekarang? Dia berubah menjadi jahat. Ah maaf seharusnya aku tidak membicarakan hal yang pribadi di sini ", aku tertawa hambar.


Embun menatapku dingin. Sepeninggalan pelayan, aku mulai membuka pembicaraan resmiku dengan Embun. " Organisasi kalian membangun sekolah gratis dengan tujuan apa? Bisa jelaskan kepadaku?", aku melihat ke arah Embun.


Embun menatapku seperti tidak percaya tujuanku memanggilnya adalah untuk sebuah profesionalitas. Aku menaikan sebelah alisku menunggu jawaban, tapi dia tetap diam.


Pelayan menuangkan wine untuk gelas kami. " Tidak ada penjelasan yang berarti? Apakah aku salah tempat dalam memberikan sokongan dana?", aku sedikit memprovokasinya.


Embun batuk pelan dan merapihkan posisi duduknya, lalu mulai bebicara. Dia berusaha serileks mungkin. Aku tersenyum kecil.


" Selamat malam Tuan. Perkenalkan nama saya Embun. Saya adalah perwakilan dari Cendrawasih Health Center".


Aku menatapnya tanpa berkedip. Sebenarnya tanpa di jelaskanpun aku tahu untuk apa organisasi ini berdiri. Tapi hanya dengan cara inilah aku bisa menahannya lebih lama. Dengan sedikit kelicikan yang ku punya, akan ku buat dia diam dan menyadari bahwa seharusnya dia berada di sebelahku bukan meninggalkanku.


Dengan tidak sabar aku memotong penjelasannya " Cukup basa basinya. Bagaimana kabarmu Embun? lama tidak bertemu. Apa kau bahagia? ".


***

__ADS_1


__ADS_2