Merpati Kertas

Merpati Kertas
Tempat Pelarian


__ADS_3

Nandes sama terpakunya seperti Juan saat aku menanyakan kebenaran di balik nama Meggy. 


" Kenapa kamu menanyakan itu? Apa ini penting untukmu Embun?", Nandes sangat serius. 


" Ya… sangat penting", tegasku. 


Nandes berdiri seperti sedang mempertimbangakan sesuatu. Aku menghampiri dan memegang tangannya.


" Please… Juan terlihat seperti orang lain akhir-akhir ini. Aku bingung apa yang terjadi. Kakak please", kataku berharap. 


Nandes bersandar di jok motornya dan aku berdiri di sebelahnya menunggu dia berbicara. 


" Meggy… adalah… sahabatku dan Juan. Juga cinta pertama Juan", ada kesedihan dalam suaranya.


Hatiku sedikit mencelos mendengar kata cinta pertama, sesiap-siapnya hatiku untuk semua cerita itu tetap saja rasanya aneh membayangkan Juan pernah menyukai orang lain dengan sepenuh hatinya. 


“ Kami berteman sejak duduk di bangku TK di Yogyakarta. Sampai saat kelulusan SMP. Juan datang dari keluarga pengusaha. Kakak Juan mengurus bisnis  di Labuan Bajo dan Juan di bawa serta bersamanya. Juan memilih bersekolah di Ruteng karena permasalahan keluarganya. Juan dan meggy menjalin hubungan jarak jauh, aku tau itu. Di bulan April 2 tahun lalu Meggy mengusulkan untuk mengunjungi Juan ke sini. Harusnya aku melarang rencana itu”, pada bagian ini suara Nandes tercekat, dia menunduk seperti menyesali sesuatu. 


Jantungku berdebar seperti menangkap ujung cerita ini, tapi aku tidak bisa menghentikan egoku untuk mendengarkan rahasia mereka. Keegoisanku mengabaikan rasa sedih dari suara Nandes. 


“ Mereka berdua pergi ke Labuan Bajo tanpa aku dengan motor Juan. Aku sudah memperingati Juan, dia belum memahami dengan baik medan daerah ini. Tapi Juan bersikeras”.


Nandes diam cukup lama sampai dia berbicara dengan suara yang bergetar ” Meggy pergi dalam perjalanannya ke rumah sakit dan Juan bangun setelah 1 minggu masa perawatannya “.


Aku membisu, dapat ku bayangkan bagaimana rasa bersalah yang ditanggung Juan selama ini. 


“ Saat hari perginya Meggy aku seperti orang gila. Tetapi Juan menjadi lebih gila dariku setelah dia bangun dan mengetahui kepergian Meggy. Dia menolak pindah dari sini karena kesedihannya.


Awalnya aku tidak menyalahkannya, tetapi suatu hari aku melihat seorang teman Juan di media sosial memposting bagaimana Juan menghabiskan waktu dengan berpesta, tertawa dan memiliki seorang pacar. Aku marah, sangat marah. Beberapa kali aku melihat  bagaimana mama dari Meggy menangisi anaknya yang tiada dan Juan seperti melupakannya”.


“ Aku memutuskan untuk pindah kesini Embun. Untuk menyalahkan Juan atas rasa kehilanganku, untuk terus mengingatkan Juan atas kesalahannya. Aku terus menganggunya sampai aku tahu Juan ternyata lebih menderita dariku. Semua hal yang dia lakukan adalah pelarian. Aku tau dari kakaknya kalau Juan rutin berkonsultasi dengan psikiatri. Dia mengalami kecemasan tinggi, stres berat dan insomnia. Tapi aku tetap membencinya”.


Aku menatap Nandes yang mengakhiri ceritanya dengan tersenyum padaku. “ Itu adalah sebuah fakta Embun, bagaimana Juan masih terjebak di masa lalu, rasa bersalah itu menghantui Juan dan aku sampai sekarang”.


***

__ADS_1


Aku tetap duduk di dalam mobilku, enggan untuk masuk ke dalam rumah. Air mataku menetes. Entah apa yang kutangisi.


Fakta tentang Juan atau diriku yang sadar menjadi pelarian untuknya. Rasa nyeri di hatiku tidak bisa ku abaikan, kata orang masa remaja hanya akan dihiasi oleh cinta monyet yang tidak berarti, tetapi kenapa rasanya sakit sampai membuat dadaku terasa sangat sesak.


Aku terlalu menyukai Juan, aku jatuh cinta padanya sebagai cinta pertamaku. Aku menyukai cara bicaranya, saat dia bersamaku dan aku merasa hancur bersama dengan perasaan itu. Aku menangis cukup lama, sampai akhirnya aku memutuskan akan menunggu Juan berbicara padaku saat dia siap. Aku tidak tahu kesulitan apa yang dia hadapi akhir-akhir ini. Aku akan menunggu. 


Saat di sekolah aku mendengar dari Adam bahwa Juan tidak masuk selama 3 hari. Ada surat sakit dari dokter. Sepanjang hari aku tidak berkonsentrasi karena terus memikirkan Juan. Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang sedang disembunyikan?. 


Sore harinya aku membawa mobilku menuju ke rumah Juan. Rumah tampak sepi, aku menekan bel yang sedikit tertutup tanaman rambat di pagar rumah mereka berharap ada yang keluar dari rumah itu. Benar saja, seorang pria paruh baya keluar menghampiriku. 


“ Selamat sore pak”, kataku sopan.


Bapak itu memperhatikanku lalu bertanya dengan bahasa daerah Manggarai “ Nekarabo, kawe ceing ite¹? (maaf anda cari siapa?)”.


Aku bengong, jujur saja aku sedang dalam proses belajar bahasa daerah sini dengan mentornya adalah Elsa. Seperti menyadari bahwa aku tidak paham, pria itu tersenyum kecil lalu berbicara padaku menggunakan bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang sangat kental “ maksud saya, enu mau cari siapa di sini?”.


“Oh, Juan ada? saya teman Juan pak”, jawabku sopan.


“ Ada enu, tapi Nana² Juan sedang sakit. Silahkan masuk dulu”, katanya lagi.


“ Enu, mau minum sesuatu?”, tanya pria itu yang belakangan kuketahui bernama pak Alo. 


“Tidak terima kasih pak”, aku menolak sopan.


“ Sebentar, saya panggil nana Juan”, pamitnya. Aku mengangguk.


Aku menunggu cukup lama, sekitar 10 menit sampai Juan datang menghampiriku. Wajahnya lesu, sedikit pucat dan tampak tirus serta rambutnya sedikit berantakan. Juan menatapku, aku tidak tahu arti tatapannya. Apa seharusnya aku tidak datang saja pikirku.


“ Hai cantik”, Juan tersenyum padaku dan mengambil duduk di dekatku.


Aku melihatnya dengan sedih “ Kak Juan, bagaimana keadaanmu?”, tanyaku khawatir. 


“ Aku baik-baik saja Embun”, Juan menghembuskan nafas dengan berat.” Besok aku sudah masuk sekolah. Sebentar lagi mau ujian akhir malah sakit”, dia berbicara panjang lebar.


Aku ingin berkata aku tau beban hatimu, apakah gangguan kecemasanmu kambuh? alih-alih berkata seperti itu aku malah berkata “ apakah aku bisa menolongmu Juan?”, aku bertanya sedih.

__ADS_1


Juan sedikit kaget dengan pertanyaanku, tetapi dia menatap mataku yang memancarkan kesedihan karena melihat dia dengan keadaan yang cukup kacau. Juan tersenyum menyandarkan kepalanya di bahuku.” Bolehkah aku begini sebentar saja? aku lelah Embun”, Juan berkata lirih.


“ Ya.. bersandarlah sampai rasa lelahmu hilang Juan”, jawabku. Tidak ada jawaban dari Juan.


Juan bersandar padaku cukup lama, dia tertidur.  Aku membangunkan Juan dan menuntunnya ke dalam kamar, lalu membaringkannya di sana. Aku melihat tiga botol obat berjejer di atas meja sebelah tempat tidurnya, salah satunya adalah obat penenang yang  aku tahu fungsinya. Mataku beralih ke Juan yang tertidur pulas, seberat apa bebanmu saat ini Juan? apa aku bisa menolongmu?


Mataku tertuju pada sesuatu di sisi lain kamar. Berdiri sebuah pigura yang cukup besar membingkai lukisan seorang wanita dengan rambut yang panjang dan mata yang sayu. Tertulis disudut lukisan:


 “ Kau adalah luka yang tidak akan pernah bisa ku obati, Meggy”.


 Aku tersentak, menahan air mata yang akan jatuh. Sejak awal Juan hanya cinta bertepuk sebelah tanganku, aku adalah tempatnya untuk mencoba berlari, tetapi dia tidak bisa. Dia masih berada di masa lalunya. Aku sadar aku tidak bisa menariknya dari lumpur penyesalan itu. 


Aku pergi meninggalkan rumah Juan tanpa melihat ke belakang, meninggalkan kesedihan di hatiku. cinta pertama yang bodoh makiku didalam hati. 


***



Picture intargarm by: @like_Zina


Bahasa Manggarai:




Nekarabk, kawe ceing ite : Maaf, anda mencari siapa?




Nana: Panggilan untuk anak laki-laki, saudara laki-laki.


__ADS_1



__ADS_2