Merpati Kertas

Merpati Kertas
AKIBAT SKANDAL 2


__ADS_3

Aku memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk membawa kembali Jeni ke rumah. Jumpa pers itu akan di lakukan di siang hari.


Strategi yang akan kami lakukan adalah bukan memberikan langsung kepada pers tetapi Doni akan menawarkan sebuah transaksi kepada Hartanto dan istrinya.


Kami tidak akan menyerang Hartanto secara langsung tetapi kami akan memberikan informasi korup ini dengan bintang utamanya adalah pejabat X, secara otomatis semua akan terbongkar dengan sendirinya.


Doni masuk ke ruang kerjaku. " Tuan, besok pukul 10.00 pagi berita ini akan di rilis oleh wartawan kepercayaan kita".


" Bagus. Mari kita lakukan misi ini secepatnya. Aku ingin menghancurkan mereka sampai ke akarnya. Beraninya mereka mengusikku", kataku dingin.


" Putra pertama mereka terlibat kasus narkoba dan sedang di selidiki, jika terbukti kemungkinan besar besok akan di lakukan penangkapan ", lanjut Doni.


" Sekali tepuk, 3 nyamuk mati. Aku suka cara seperti ini. Kau memang hebat Doni", kataku lagi.


"Terima kasih tuan", Doni menerima pujianku dengan wajah datar seperti biasa.


"Eh ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak kemarin, tapi karena kesibukan kita aku jadi melupakannya", kataku dengan mode serius.


" Ya tuan apa yang ingin anda tanyakan? Sebisa mungkin akan saya jawab".


" Kau... Jawablah dengan jujur. Pria yang bersama Bella di kedai es krim beberapa minggu lalu itu kau kan?", aku menyipitkan mata.


Doni terbatuk-batuk dengan tiba-tiba. Dia tergagap tidak bisa menjawab pertanyaanku.


" Aku bertanya padamu sebagai kakak dari Bella. Pria itu kau kan?", aku bertanya sekali lagi.


Doni menarik nafas menenangkan diri. " Ya tuan. Di hari cuti saya hari itu, nona Bella memaksa saya untuk menemani nona jalan-jalan. Maafkan saya tuan, saya tidak mempunyai maksud buruk atau menyembunyikannya dari anda", Doni berkata jujur.


Aku melipat tanganku di dada. "Mengingat sifat kalian yang 100% bertolak belakang, aku yakin kaulah yang paling bisa ku percaya",kataku mengingat sifat Bella yang semuanya saja, aku sangat yakin pasti Bella memaksa dan mengancamnya dengan segala cara.


" Maafkan saya tuan, seharusnya saya mengatakan kepada anda sebelumnya", Doni tampak menyesal.


" Tidak apa-apa. Tapi apa kau tidak tau maksud tersembunyi adikku padamu?", aku mencoba mengorek informasi terkait adikku yang bandel itu.


" Tidak tuan, sepertinya nona hanya bosan makanya nona mencari teman", jelas Doni.


" Tidak. Aku sangat yakin dia pasti menginginkan sesuatu darimu. Aku tahu adikku", kataku dengan wajah meremehkan.


Doni hanya diam saja mendengarkan ku mengoceh tidak jelas.


" Baiklah sekarang istirahatlah, besok kita akan melakukan misi kita. sebelum konferensi pers lakukan negosiasi itu ke rumahnya", kataku.

__ADS_1


" Baik tuan", Doni berkata patuh.


Malam itu aku tidka bisa menutup mataku, aku berjaga sepanjang malam berharap pagi segera datang. Aku memikirkan Jeni, aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya.


Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang membuatku tidak bisa memperhatikannya dengan baik. Aku duduk di pinggir tempat tidur. Berharap semuanya akan berjalan lancar besok.


***


Pukul 8 pagi Doni sudah berdiri di depan pintu rumah keluarga Hartono. Di mana aku?


Aku berjalan mengendap-endap melewati pagar belakang rumah mereka dan mencari di mana pintu masuk rahasia milik Jeni. Cukup lama aku mencari dan menemukan pintu itu. Pintu itu kecil dan sudah hampir menyatu dengan tanaman pagar. Jika ingin melewati pintu ini, orang dewasa harus benar-benar merangkak di bawahnya, hampir tiarap. Tetapi untuk ukuran anak kecil seumuran SD, pintu ini terlihat muat untuk di lewati sambil berjongkok.


Aku mengendap-endap masuk ke dalam pekarangan rumah mereka, selagi mendengar Doni berbicara dengan keluarga Hartanto melalui sambungan earphone. Jika orang melihatku, mereka akan mengira aku adalah agen rahasia FBI.


Aku berjalan pelan dan senyap, memikul tangga yang ku bawa dari luar. Jendela kamar Jeni ada di lantai 2, aku berharap dia sendiri di sana.


Mengambil sebuah kerikil kecil aku melempar ke arah jendela itu. Lemparan pertama Jeni tidak muncul, lemparan kedua wajah Jeni tampak muncul di jendela. Wajahnya terlihat tirus dan kurang tidur.


Saat melihatku Jeni hampir berteriak karena senang, aku dnegan cepat memberi kode agar Jeni diam. Seperti mengerti Jeni membuka salah satu jendelanya agar aku bisa masuk.


Aku memasang tangga yang ku bawa, sebisa mungkin aku memanjat agar sampai ke atas. Negosiasi yang terjadi di ruang tamu terdengar lumayan menegangkan. Aku tidak terlalu menyimak karena sibuk dengan memanjat jendela kamar Jeni.


" Baju kamu kotor sekali, kamu masuk lewat mana?", Jeni berbisik.


" Aku masuk dari pintu rahasiamu saat SD", Aku mencium pipinya dengan penuh kerinduan.


Jeni kaget " pintu itu masih ada?".


" Ya... Kakek yang memberitahukannya padaku. Aku kangen kamu", aku menatap matanya yang berwarna Amber.


Jeni memelukku kuat. "Aku juga kangen kamu. Aku kira kamu gak ada akan datang menjemput ku", Jeni menitikkan air matanya.


" Tidak mungkin. Aku pasti akan datang menjemputmu. Ayo kemasi barangmu yang perlu di bawa. Kita pergi", kataku buru-buru.


Jeni bergegas mengambil sesuatu di dalam lemari. Sebuah album foto ukuran sedang dan sebuah kotak berwarna hitam.


" Apa isi kotak itu?", tanyaku penasaran.


" Ini kalung yang di pakai ibuku saat menikah. Saat keluar dari rumah aku tidak sempat mengambilnya", kata Jeni sambil tersenyum.


Aku mengangguk. "Ada lagi?", tanyanya.

__ADS_1


" Tidak ada", lalu dia dengan cepat memasukan kedua benda itu ke dalam tas miliknya.


Aku berjalan ke arah pintu dan Jeni berjalan ke arah jendela. Dia lalu menatapku heran, aku tersenyum.


"Aku kira kita akan lewat jendela?", tanyanya.


" Tidak. Kita akan lewat pintu depan", kataku lalu menggenggam tangannya dan membuka pintu.


Jeni memeluk lenganku sepertinya takut kejadian kemarin akan terluang. Kami berjalan menuruni tangga, membuat wajah orang-orang yang berada di ruang tamu makin tercengang.


" Kamu, lancang sekali. Masuk lewat mana kamu?", tanya nyonya Hartanto dengan wajah merah padam.


" Tentu saja lewat jendela. Jika aku lewat pintu apakah kalian akan mengijinkan ku bertemu istriku?", aku balik bertanya.


Jeni menggenggam tanganku erat, dia tidak mengatakan apapun. Wajahnya terlihat tegang, sepertinya selama di sini ibu tirinya memperlakukannya kurang baik.


" Ini namanya penipuan. Kamu berani mempermainkan kami. Jeni kembali ke kamar", Teriak nyonya Hartanto.


Jeni makin memeluk lenganku.


" Kalau begitu aku akan menuntut kalian dengan kasus penculikan dan penyekapan. Jeni saat ini tidak berstatus sebagai keluarga kalian dan dia adalah istriku",aku menatap Hartanto.


" Tapi... Kau...", belum selesai nyonya Hartanto berbicara suaminya sudah membentaknya.


" Diam !", satu kata yang membuat wanita itu terdiam membeku.


"Bawalah istrimu pergi. Jeni, paman tidak akan menganggu hidupmu lagi. pergilah", Kata Hartanto lalu terduduk di sofa.


Aku tersenyum dan membawa Jeni pergi dari ruang tamu. Aku mendengar Doni menyalahkan TV untuk keluarga Hartanto dan tentu saja informasi yang kami berikan sedang di tayangkan.


Aku dengan cepat membawa Jeni pergi dari tempat itu. Mobil kami melaju cepat meninggalkan pekarangan rumah itu.


" Kita tidak akan kembali lagi ke sana", aku menepuk tangan Jeni yang masih menggenggam tanganku.


Jeni menghembuskan nafas menenangkan diri. Aku memeluknya penuh sayang.


" Terima kasih karena sudah menungguku", aku berbisik di telinganya.


Jeni menenggelamkan diri di dalam pelukanku tanpa berbicara lagi. Dia terlalu lelah sepertinya dan aku memeluknya dalam lengan kuatku.


***

__ADS_1


__ADS_2