Merpati Kertas

Merpati Kertas
Fight Back Planning 2


__ADS_3

Aku menunjukan perlawananku di hari berikutnya pada Juan di sekolah, tentu saja setelah melakukan rapat besar sebelumnya bersama Elsa. Hari itu Juan berniat mengajakku makan di kantin dengan penuh intimidasi.


" Halo. . . ", kataku kaku di telepon.


" Karena kemarin kamu sudah buat aku mengupas semua bawang di rumahmu, sekarang aku tunggu di depan kang gado-gado. Di kantin sekolah kita. Kamu harus bertanggung jawab untuk setiap tetes air mataku yang jatuh kemarin ", kata Juan sok dingin. 


Aku diam sebentar. " kakak mau traktir aku makan kan?", aku pura-pura bertanya.


" Hmm.. boleh. Kamu mau makan apa?", Juan melunak. 


Aku tersenyum dibalik teleponku " aku boleh bawa teman ?", tanyaku.


" Boleh. Bawa aja ", Juan menjawab tanpa tau apa yang menantinya.


" Oke makasih kakak", aku tertawa senang. 


5 menit berikutnya, Juan melongo melihat aku bersama teman sekelas ku memenuhi kantin. Adam dan beberapa teman Juan tertawa melihat kelakuanku yang sepertinya berniat menantang Juan berperang.


Juan berdiri menghampiriku.  " Ini semua teman kamu?", tanya Juan padaku.


" Iya dong. Mereka semua teman aku. Total semuanya ada 24 orang ", kataku cepat.


Kening Juan berkerut " banyak ya".


Aku tersenyum penuh arti rasakan pembalasanku ha ha ha.


" Teman-teman, ini kakak Juan yang akan mentraktir kelas kita hari ini. Berikan tepuk tangan yang meriah untuk kakak Juan", kataku seru. 


Plok… plok.. plok…


"Makasih ya kak Juan", teman-temanku berteriak mengucapkan terima kasih. 


" Dan berikan tepuk tangan kek kak Adam yang akan mentraktir kita minuman sepuasnya", Elsa menambahkan penuh dendam, merasa sering ditindas juga. 


Adam terbatuk- batuk mendengar tepuk tangan meriah di kantin. Tanpa  ba bi bu lagi semua temanku menyerbu ke arah tukang makanan berebutan memesan.


" Wah...  gila… Juan...Adam kita juga mau dong. Masa adek kelas doang sih ", beberapa suara sumbang kakak kelas berteriak pada Juan. Tentu saja tidak Juan gubris. 


Juan hanya duduk dan tertawa kaku melihatku. Dia lalu memejamkan mata sambil memijat keningnya seperti sedang berpikir.


Adam yang duduk di depan Juan terus melihat ke arah Elsa yang sedang berpura-pura tidak peka, padahal punggungnya panas karena di tatap Adam. 


Aku mengunyah cilok dengan bahagia. Elsa tertawa di depanku sepertinya sama bahagianya denganku karena rencana kami berhasil.


Tapi tentu saja hari yang cerah pasti akan berlalu, mendung akan datang jika saatnya tiba. Dan mendung itu benar-benar datang bersama badai petir.


***


Setelah hari aku mengerjai Juan di kantin. Dia benar-benar ingin membalas dendam. Aku sampai merasakan kegigihannya.

__ADS_1


Saat bertemu, dia selalu menarik ikat rambutku, waktu kerja bakti dia datang ke kelasku dan dengan sengaja menendang ember yang penuh air ke lantai supaya aku bisa membersihkan ulang.


Di hari lain saat di kantin, waktu aku dan Elsa akan membeli gorengan dengan entengnya Juan datang dan membeli semua gorengan tanpa menyisakan satupun untukku.


Aku membalas Juan dengan membuat ban motornya kempes, menguncinya di luar gerbang saat dia terlambat, karena sekarang aku anggota osis jadi aku berhak melakukan itu. Tapi suatu pagi aku dan Juan benar-benar kena getahnya dan itu semua karena kesalahan Juan.


Saat itu kami sedang mendengarkan pengarahan pagi. Juan dengan sengaja meletakan katak karet berukuran sedang di tanganku.


Aku yang pada dasarnya takut pada katak langsung berteriak dengan heboh. Membuat 1 lapangan menjadi gempar, karena hal itu kami berdua berakhir di ruang BP.


" Jadi, karena kalian sudah buat keributan pagi ini. Bapak akan memberikan hukuman", kata guru BP tegas.


" Tapi pak, saya kan korban", aku protes.


" Sudah sudah... kalian sama-sama salah. Bapak sudah memperhatikan kalian beberapa kali. Kalian tau tidak? saling membenci itu tidak baik. Nanti kalau kalian berjodoh bagaimana?", Nasihat guru BP.


" Tidak mungkin pak... itu gak akan terjadi", aku menjawab tegas.


Juan memutar pulpen di tangannya " Semoga itu terjadi pak ", Juan menjawab santai.


" Hah... T I D A K M U N G K I N", aku menekankan setiap kata dengan tegas sambil menatap Juan penuh permusuhan.


" Sudah-sudah. Hukuman buat kalian berdua adalah sama-sama membersihkan ruangan UKS sepulang sekolah nanti. Bapak harap kalian bisa bekerjasama dengan baik. Tidak ada protes atau penolakan ", Guru BP memutuskan dengan tegas.


Aku hanya bisa menyetujui keputusan itu dan langsung pamit ke guru BP dengan sopan. Saat keluar pintu aku melihat Juan dan membuang muka.


***


Hari di mana aku bertengkar hebat dengan Juan tiba. Saat itu Adam menggenggam tangan Elsa erat. Percuma ku lawan, Adam malah lebih galak. Elsa pergi dengan paksaan bersama Adam. 


Mata Elsa berkaca-kaca, aku memberikan kode untuk meneleponku jika Adam macam-macam padanya. 


Beberapa menit berlalu Elsa belum juga kembali. Dengan marah aku mengambil tasku, dan berlari ke arah lapangan basket.


Aku melihat Juan berada di sana bersama teman-temannya. Aku menghampirinya dengan kemarahan yang sebentar lagi akan aku muntahkan padanya.


Saat Juan melihatku, dia langsung berdiri dan menghampiri. Aku melempar tasku penuh amarah padanya dan tentu saja ditangkap dengan sempurna. Juan menyampirkan tas itu ke bahunya, senyum di wajahnya hilang.


" Gila ya lo, teman lo nyulik teman gue. Balikin teman gue" , aku marah-marah kepada Juan dengan logat Jakartaku yang keluar dengan sendirinya. 


" Wah aslinya keluar", kata Juan berusaha tenang. 


" Balikin gak teman gue. Dasar preman barbar", kataku galak kepada Juan. 


" Kau bilang apa? Preman? Teman saya hanya mau ajak teman kau jalan. Emang salah? Dan lagi kita bukan preman", kata Juan dingin. 


Sebesar apapun aku mengerjainya, baru kali ini aku merasa Juan seperti orang lain. Tiba-tiba seseorang memanggilku.


" Embun, kamu ngapain di sini?".

__ADS_1


Aku berbalik dan melihat Elsa bersama Adam. " Elsa, kamu ke mana aja?", kataku cemas sambil menghampiri Elsa.


" Aku habis di ajak makan Es krim sama kak Adam. Aku kira dia galak ternyata baik banget", Elsa berbisik padaku. 


Aku melihat Adam yang menatapku ramah. Aku cepat meraih tangan Elsa dan hendak pergi meninggalkan lapangan itu beserta tatapan mata semua orang saat itu.


" Embun ", Juan memanggilku.


Hatiku mencelos saat Juan menyebut namaku tapi dengan nada yang datar. Aku berbalik. 


" Ini tas kamu. Jangan suka lempar-lempar barang sembarangan. Jangan galak-galak. Dan lagi kita bukan preman", kata Juan tenang. Setelah itu dia berbalik dan meninggalkanku bersama Elsa di pinggir lapangan. 


Saat itu aku merasa ada sedikit penyesalan karena sudah mengeluarkan kata yang kasar kepada Juan.


***


Juan tidak pernah menegurku lagi, saat berpapasan dia memperlakukanku tidak seperti biasanya. Tidak ada yang menarik ikat rambutku, memanggilku dengan nama kukang atau meneleponku untuk sesuatu yang tidak penting.


Juan bahkan tidak menatapku sama sekali, menganggap aku tidak ada. Kadang aku merasa ada sesuatu yang hilang. Tapi aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa baguslah orang yang menyebalkan sudah pergi.


Tapi tidak bisa di pungkiri setiap ada gerombolan laki-laki yang lewat didepan mataku, aku langsung cepat-cepat mencari di antara mereka apakah ada sosok Juan. Padahal aku tidak tau apa yang harus aku katakan jika bertemu dengannya.


Mungkin aku terbiasa dengan kelakuan Juan sejak awal masuk ke sini, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tentu saja bisa diubah. Begitu tekadku. 


Aku duduk di pinggir lapangan basket bersama Elsa. Dibawah pohon-pohon yang memberikan kerindangan.


Aku merasa sangat lelah, mungkin karena ini adalah hari yang panas. Matahari bersinar terik di atas kepalaku, tapi hembusan angin membawa hawa sejuk yang cukup segar.


" Kelas 3 kayaknya gak ada pelajaran olahraga hari ini ", kata Elsa kepadaku. 


" Baguslah ", aku merespon pura-pura tidak berminat. 


" Tapi, kamu kayaknya harus minta maaf deh ke kak Juan ", kata Elsa pelan. 


Aku tidak merespon. Memikirkan kata-kata Elsa dalam diam. Sudah 4 hari Juan mengabaikan aku. Aku berniat mengabaikannya juga, tapi sepertinya tidak bisa. Pelan tapi pasti, Juan sudah mendapat sedikit tempat di hatiku. 


" Sa, yuk ke toilet", ajak ku. 


Kami berjalan bergandengan tangan ke toilet. Saat itu aku melihat Juan dan gengnya menaiki tangga menuju lapangan basket. Aku memantapkan hati untuk tidak melihatnya sedikitpun. 


" Sa, kayaknya aku sakit deh", kataku pada Elsa. 


" Kamu sakit karena melihat kak Juan ya?", Elsa berbisik padaku. 


Aku tersenyum, tapi aku benar-benar merasa tidak enak badan. Hidungku rasanya sedikit tersumbat, kepalaku sakit. Aku memasuki toilet wanita dan membasuh wajahku di wastafel, mungkin aku kurang tidur.


Saat itu Seseorang memegang pundakku dari belakang. Itu Sarah.


***

__ADS_1


__ADS_2