Merpati Kertas

Merpati Kertas
NANDES: PERTANYAAN TANPA JAWABAN


__ADS_3

Embun dan Elsa berpelukan melepas kerinduan. Aku dan Adam memperhatikan mereka berdua yang terlihat seperti anak-anak. Kami menghabiskan waktu untuk makan siang bersama dan berbincang. Kami menghabiskan sepanjang hari bersama keluarga Adam.


" Jadi, om dan tante sudah tau Embun pulang?", Adam bertanya sambil meneguk minuman kalengnya. Kami berdiri di luar rumah agar bisa merokok di ruangan terbuka. 


" Belum, Embun sepertinya belum berkeinginan untuk pulang ke rumahnya", aku mematikan puntung rokok di asbak. 


Adam mengangguk " Pelan-pelan saja bro. Jangan terlalu dipaksakan, suatu saat perasaannya akan terbuka lagi padamu", Adam menasihati.


" Ya. Aku terlalu takut dia pergi. Aku berusaha membuatnya nyaman bersamaku saat ini. Terima kasih karena kau dan Elsa selalu bersamaku saat aku terpuruk Adam", aku tulus.


Adam tersenyum " itulah tugas sahabat Nandes. Saat itu Elsa ketakutan melihat keadaanmu, dia pikir kamu akan mengakhiri hidupmu sendiri. Jadi saat Embun mengirimnya pesan itu, dia langsung menghubungimu. Dia merasa bersalah karena menyembunyikan Embun darimu selama ini. Maafkan kami Nandes, Elsa pasti memilih sahabatnya", Adam memberi pengertian.


" Ya aku mengerti. Semoga dengan dia menyendiri saat itu dia bisa melupakan semua kejadian buruk itu. Yang terpenting saat ini aku akan berusaha menjaganya sebaik aku bisa", aku melihat ke arah Embun yang berdiri di dekat jendela dapur sedang menggendong anak kedua Adam dan Elsa. 


" Ya.. aku harap kalian akan berbahagia akhirnya", Adam mendoakan. 


Aku tersenyum mendengar doanya dan mengamininya di dalam hatiku. 


***


Saat pulang ke rumah hari sudah larut malam. Aku melihat Embun berjalan gontai ke arah tangga, dia berbalik ke arahku saat menaiki anak tangga ke 3. 


" Nandes, terima kasih hari ini. Aku senang sekali", Embun melihatku sambil tersenyum bahagia. 


Aku tidak menjawab, sedikit alkohol yang tadi kuminum membuat pikiranku berkelana. Aku menghampirinya dan berdiri di anak tangga paling bawah. 


" Embun…", aku menggigit bibirku cemas.


" Ya?", Embun menjawab tenang. 


" Aku… terlalu merindukanmu", aku melihat ke arahnya dengan tatapan penuh arti. 

__ADS_1


Embun diam saja tidak memberikan respon apapun. Dia melihatku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.  Aku menaiki tangga dan meraih belakang kepalanya dengan tanganku, aku menyandarkannya ke dinding dekat tangga dan menciumnya dengan brutal. Aku tidak bisa menahan diriku lagi, pertahananku jebol karena sedikit alkohol. 


Embun berusaha mendorongku menjauh "Nandes… sebentar… tunggu", Embun berusaha mendorongku. Aku mencium bibirnya, merasakan manis mulutnya, mencium pipinya, telinganya lehernya dan bahunya.


" Nandes, kamu mabuk", Embun menyadarkanku. 


Aku berhenti di bahunya, aku diam di sana " Aku … tidak mabuk. Aku gila karenamu", aku menarik diriku dan melihat bahwa aku seperti binatang buas. Setengah kancing baju Embun terlepas karena aku. Aku merapikannya, setelah itu aku turun dari tangga menghindari menatap matanya. Aku lalu pergi keluar rumah, menyalakan mesin mobil menuju bar milik Alex. 


***


 Aku mengetuk pelan meja di depanku. Embun tidak menatapku saat aku berangkat kantor, sepertinya dia marah. Aku melanggar kontrak. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Aku menelungkupkan badanku di meja, sedikit kesal karena tidak bisa menahan diriku. 


Hasratku hanya bereaksi pada Embun. Setiap melihat Embun aku merasa pertahananku sebagai laki-laki langsung runtuh, semua omong kosong tentang janji tidak akan menyentuhnya tidak berlaku di kepalaku. Aku menjadi liar, seperti hewan buas. 


Monica datang, seperti biasa masuk tanpa mengetuk pintu. Dia langsung meletakkan tablet di mejaku. Aku melihat apa yang disodorkan oleh Monica, sebuah portal berita dengan huruf besar memenuhi halaman judul " Supermodel Nadia berkencan dengan CEO Perusahaan Cain. Perusahaan terbesar di Asia".


Aku melotot melihat berita itu lalu menatap Monica yang malah asik berbaring di sofa. " Apa ini?", aku bertanya padanya. 


Aku mengambil ponsel dan membuka CCTV, Embun sedang ikut kursus memasak. Melihat itu aku menghela nafas lega. Memencet salah satu tombol di pesawat telepon dan membuat sekretarisku langsung masuk. 


" Tutup semua berita tentang ini. Dan tutup semua akses Nadia ke sini. Atur agar kita hanya berkomunikasi dengannya karena urusan bisnis", aku memberi perintah. 


"Baik pak", sekretarisku menurut.


Aku mengambil ponsel dan menelpon asisten pribadiku. "Rian datang ke kantorku sekarang", aku memberikan kalimat perintah yang membuatnya tiba di ruanganku kurang dari 5 menit. 


" Cari tau, siapa penyebar berita ini. Dan hancurkan", aku marah. 


" Baik tuan", Rian menjawab patuh dan pergi keluar ruangan. 


Monic bertepuk tangan " wah lihat-lihat, betapa hebatnya CEO kita ini. Sekali tepuk semua masalah beres. Tapi kisah cintanya sendiri tidak bisa beres", Monica berkata sinis. 

__ADS_1


Aku melihatnya kesal tapi tidak membantah. " kita harus bersiap mencari model lain. Wanita ini tidak bisa di atur", aku berbicara serius.


" Hmmm..  Oke.  Akan ku cari sesuai permintaanmu", Monica menyanggupi. 


Aku diam sambil melihat keluar jendela kantorku. Gedung tinggi menghiasi kota ini. Persaingan bisnis bukan hal yang main-main. Kalau ada satu kutu yang mengusikku maka akan ku singkirkan dengan caraku.


***


Aku pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Seperti biasa Embun sedang menyiapkan makan malam kami. Aku masuk ke rumah dengan canggung, berharap dia akan mengomeliku tetapi tidak akan mengabaikanku. 


" Kamu sudah makan?", Embun bertanya padaku yang masih berdiri sambil menatapnya.


" Belum ", aku menjawab cepat. 


" Cuci tanganmu, aku sudah masak banyak", Embun berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 


Aku merasa tidak nyaman, seharusnya dia berteriak padaku. "Embun, jika kamu ingin marah. Lakukan saja. Aku bersalah", aku menatap punggungnya.


Embun berhenti melakukan aktivitasnya. Dia berbicara dengan suara bergetar " Aku punya alasan yang belum bisa ku beritahukan kepadamu Nandes. Bisakah kamu mengerti aku?".


Egoku naik mendengar perkataannya " Alasan apa? ", aku mendesak. Embun tetap diam saja. 


" Aku merindukanmu setengah mati, aku masih menyukaimu. Apakah tidak ada sedikit saja perasaan yang tersisa untukku? Apa salahku sampai kamu begini? Apa aku menyakitimu Embun?", aku berbicara dengan suara yang tercekat. 


Embun terdiam tetap memunggungiku, bahunya bergetar. Aku tau dia menangis, tapi aku meledak. Sepanjang tahun aku menahan banyak pertanyaan di dadaku dan sekarang aku ingin jawaban. Jawaban dari semua rasa kehilanganku selama ini.


" Aku.. tidak pantas untukmu Nandes", Embun berbicara lagi.


" Lalu seperti apa yang pantas untukku? Jelaskan sesuatu yang bisa ku pahami", aku marah.


Embun terdiam tidak memberikan jawaban apapun untukku. Aku memukul meja karena marah dan berjalan pergi meninggalkan Embun. Aku sangat marah, marah karena semua perkataannya dan marah karena aku merasa hanya aku yang begitu merindukannya tetapi dia tidak.

__ADS_1


***


__ADS_2