
Aku menatap cincin didepanku. Cincin denga mata berbentuk hati. Cincin yang aku pesan sejak sebulan yang lalu untuk Embun. Saat ini kami sedang saling diam, ada kesalahpahaman yang tidak terucap tapi bisa kami rasakan. Aku menatap cincin itu seperti ada kotoran yang menempel disana, lalu aku menghela nafas panjang.
Tiba-tiba Monica masuk dengan santainya tanpa mengetuk pintu, seolah-olah ini adalah kantornya “ Hai Nandes, gimana? Kamu sudah baca proposal kemarin?”, Monica mengambil duduk di sofa depanku.
Aku mendegus jengkel. “ Biasakan jika masuk ke ruangan orang ketuk pintu dulu. Sudah ku baca ”, aku duduk bersandar di kursiku dengan malas.
“ Loh. Aku setiap mau masuk ke sini baca doa dulu kok", jawab Monic cuek. " Kenapa? ada masalah?”, Monica bertanya sambil membuka salah satu bungkus permen yang ada di meja.
Aku menarik nafas dan menutup kotak cincin itu, memasukkannya ke dalam laci meja. “Tidak ada”, aku menepis pertanyaan itu.
“ Pasti karena wanita. Si mungil itu? Wah kayaknya kamu cinta mati ya”,Monica menebak. Hening sejenak sebelum dia melanjutkan “ Nadia berharap padamu Nandes. Jika kamu tidak menyukainya jangan membuatnya jatuh kepadamu”, Monica mengingatkan.
“ Aku sudah mengatakan berkali-kali padanya Mon. Aku tidak menyukainya, aku tidak ingin bersamanya. Entah kenapa dia tidak pernah dengar apa yang aku katakan ”, aku menjawab dengan sedikit enggan.
“ Hmm.. aku tahu. Tapi ada beberapa wanita yang harus melihat dengan mata kepala sendiri agar mereka mengerti perkataanmu”, Monica berdiri lalu berjalan ke arah mejaku.
“ Tolong tanda-tangannya bos. Nanti sekertarisku akan datang mengambil”, Monica lalu keluar ruangan meninggalkanku.
Aku menatap dokumen diatas meja itu, seperti tidak berminat. Sudah tiga hari berlalu aku harus pergi menemui Embun. Aku marah tapi tidak bisa seperti ini, aku harus bicara padanya.
***
Setelah pulang dari kantor aku pergi ke kosan Embun dan menemukan Juan di sana. Aku turun dari mobil dan Juan melihatku dengan tatapan dingin. Aku melihatnya tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.
“ Wah ternyata kalian masih bersama”, Juan berbicara santai.
Aku tertawa dingin “ Maaf mengecewakan anda Juan. Lebih baik kamu buang saja harapanmu seperti 10 tahun lalu”.
“ Aku akui itu adalah kesalahanku di masa lalu. Sekarang aku akan memperbaikinya, aku akan mengambil kembali milikku”, Juan berkata datar.
“ Embun bukan barang milikmu. Biarkan dia memutuskan dia kan bersama siapa. Dan lagi aku akan menikahinya”, Aku menatap Juan dengan penuh arti.
Juan mengangguk, dia lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkanku berdiri dengan pikiran yang kalut. Beberapa detik berikutnya aku melihat Embun muncul dari ujung gang, aku menarik nafas lega karena mereka tidak bertemu. Bagaimanapun juga ada rasa takut didalam hatiku yang tidak ku tunjukan kepada siapapun. Aku takut Embun memilih Juan, aku takut dia meninggalkanku.
Aku tersenyum pada Embun yang sedang menatapku. Senyum yang menyembunyikan semua kekhawatiranku.
***
Embun tidur di dalam pelukanku. Aku menatapnya seksama, menelusuri wajahnya hidungnya, bibirnya sampai ke bahunya. Aku menghirup wangi rambutnya, membenamkan kepalaku disana.
__ADS_1
Aku mengambil kotak cincin di bawah bantal yang sudah kusiapkan. Aku menatap cincin itu dan memasangkan ke jari manis Embun. Aku tersenyum lalu menutup mataku tertidur bersamanya.
Saat bangun di pagi hari, Embun melihat cincin di jarinya. Dia menatapku seperti bingung.
“ Maukah kamu menikah denganku Embun?”, aku bertanya penuh harap. Bagaimana mungkin aku melamarnya di atas tempat tidur, aku mengutuki diriku sendiri.
Tetapi di luar dugaanku,Embun menangis. Dia mengangguk lalu memelukku. Aku tersenyum senang, aku memeluknya erat dan menciumnya berkali-kali dengan penuh sayang.
“ Aku mencintaimu”, aku berbisik di lehernya.
Selama seminggu penuh aku melihat kebahagiaan terpancar di mata Embun. Dia selalu berlari ke arahku, tertawa bersamaku, menghabiskan waktu berdua. Sampai hari dimana dia menghilang tanpa jejak.
Penyesalan terbesarku adalah aku tidak mengangkat telpon darinya. Seandainya aku tidak teledor seperti itu, malapetaka ini mungkin tidak akan terjadi.
Penyesalan yang akan kutanggung seumur hidupku. Awal kehancuranku saat melihat Embun terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Kebencianku saat melihat Juan berlumuran darah milik Embun. Hal yang aku pikirkan adalah seberapa putus asanya dia sampai nekat membunuh dirinya sendiri? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak bahagia bersama Juan?.
****
Hari itu…
Elsa datang kepadaku di kantor dengan menangis, dia membuat keributan di depan pintu ruangan kantorku.
" Maaf bu, tapi jika belum membuat janji anda tidak bisa bertemu direktur", Sekertarisku marah.
" Nandes… tolong", Elsa terisak-isak.
Aku menangkap Elsa yang hampir terjungkal karena terburu-buru " Hei.. Elsa ada apa? Pelan-pelan", aku menenangkannya dan menyuruh sekertarisku keluar dengan satu angukan.
Aku memberikan air mineral kepadanya. Dia seperti terguncang. Alih alih menerima air mineral dariku, Elsa memegang kerah bajuku dan berbicara di sela isak tangisnya.
" Cepat… Juan menculik Embun", Elsa berbicara dengan nada yang takut.
" Apa? Apa maksudmu? ", Aku kaget.
Elsa menarik nafas dan bercerita bagaimana Embun menelponnya dan meminta pertolongan.
" Aku berusaha menghubungi ke ponsel Embun tapi tidak bisa", Elsa terisak " dan saat aku menelpon Juan, dia bilang akan menikahi Embun dengan caranya", Elsa menangis semakin menjadi.
Pikiranku kosong, aku tidak menyangka Juan senekat itu. Aku terdiam sejenak sampai Elsa menarik kemejaku lagi.
__ADS_1
" Nandes cepat cari… Embun… Juan itu sinting. Cepat", Elsa membentakku, mengembalikanku dalam dunia nyata.
Aku berdiri mengambil hp ku dan buru-buru keluar ruangan.
" Bapak mau ke mana?", sekertarisku menegur.
"Batalkan semua janji hari ini dan tolong antar adikku didalam ruangan itu pulang ", aku berkata tegas tanpa menengok ke arahnya.
***
Hari kedua aku tetap tidak bisa menemukan Embun. Akhirnya dengan putus asa aku pergi ke kediaman keluarga besar Juan. Aku harus menemukannya.
Aku menekan klakson di depan pagar dengan agresif. Sampai akhirnya mereka membuka pintu gerbang untukku. Aku pernah di sini dulu, saat hubungan aku dan Juan masih baik-baik saja.
Aku berjalan ke pintu depan rumah mereka tapi di halangi beberapa orang.
" Minggir, Juan mana? Suruh keluar", aku melawan.
" Maaf, tuan Juan tidak ada di rumah", salah seorang menjawab
" Juan ! bangsat keluar kau! ", aku berteriak kesetanan.
Seseorang keluar dari dalam rumah "Ada apa ini ribut-ribut?".
" Flit", aku mengenalnya. Kakak tertua Juan.
" Nandes sedang apa kamu. Hei lepaskan biar dia masuk. Dia temanku", Flit berbicara ke penjaga itu.
" Tidak Flit. Katakan dimana Juan?", aku tidak sabar.
" Juan tidak ada di sini. Ada apa?", Flit menghampiriku.
" Brengsek. Jangan sembunyikan bajingan itu", aku meraih kerah Flit emosi.
" Hei .. hei.. ada apa ini? Aku tidak berbohong Nandes", Flit berusaha menenangkanku.
Aku melepas kerah bajunya, aku kenal Flit dia tidak mungkin berbohong. " Flit tolong aku", aku menatap mata Flit sedih bercampur takut.
"Ada apa Nandes? Apa yang terjadi?", Flit bingung.
__ADS_1
"Juan… Juan menculik tunanganku".
***