
Juan lebih banyak diam saat makan sampai dia mengantarku pulang ke rumah. Sepertinya dia sangat kesal, pembawaannya yang selalu tenang tidak bisa menutupi kekesalannya siang ini.
Aku turun dari motor melepaskan helmku dan menyerahkannya ke Juan. " Makasih udah anterin aku", kataku pelan.
" Ya… ", Juan memegang salah satu tanganku. " Soal tadi… ", Juan terdiam, menarik nafasnya pelan.
Aku menunggu apa yang akan dia katakan.
" …. Sebesar apapun usahanya aku harap kamu tidak akan menyukainya ", lanjut Juan mengutarakan isi hatinya.
Aku tersenyum " Kak, aku hanya menganggap kak Nandes teman… dan lagi aku hanya menyukai kakak".
Juan tersenyum " Ya… tapi Nandes tidak. Dia menganggap mu lebih dan aku sangat mengenal Nandes. Kalau dia sudah berniat, maka dia akan mengerjakan niatnya itu dengan sungguh-sungguh", Juan menunjukan kekhawatirannya.
Aku terdiam mendengar perkataan Juan. Lalu aku mendekat pada Juan dan memegang ujung jaketnya " Kakak… sebesar apapun usaha yang akan dilakukannya, aku akan tetap menyukai kakak. Jadi… kakak jangan khawatir", aku berkata tenang sambil menatap wajahnya.
Juan menatapku dan detik berikutnya dia menarik ku dalam pelukannya. Karena terkejut dengan aksi itu, aku mencubit punggungnya.
" awww….", Juan mengurai pelukannya karena kesakitan. " Kok aku di cubit", protesnya.
" Nanti aku digosipin tetangga. Masa pakai seragam peluk-pelukan ", aku mengomel dengan sebuah bisikan.
Juan mengangguk lalu balas berbisik " Jadi kalau pakai baju bebas boleh pelukan?".
Aku melotot padanya dan memukul helmnya pelan " Gak boleh. Kalau aku yang peluk duluan baru boleh".
Juan tertawa " Keadilan macam apa ini?", Juan pura-pura kecewa.
Aku tertawa kecil " udah sana, nanti kamu telat ikut lesnya".
" Iyaa.. ini helm kamu simpan aja. Kalau ke mana-mana tinggal bawa kan", kata Juan menyerahkan helm yang biasa aku pakai.
" Ini beneran buat aku? Kayaknya mahal".
Juan tersenyum " Ya udah ya… ntar malam aku telpon kamu. Kita kerjain PR bareng", janji Juan.
" Okee..Daaa… hati-hati ya".
Juan memakai helmnya dan meninggalkanku sendirian di depan pagar. Siang yang melelahkan, apa yang harus kulakukan pada Nandes kalau sudah begini. Aku tidak mau mereka berkelahi terlepas karena aku atau karena masalah pribadi mereka.
Aku bertekad akan menegaskan kepada Nandes bahwa aku hanya berteman dengannya, ya akan kulakukan jika bertemu dengannya nanti. Aku tidak mau Juan salah paham dan mengira aku membuka sebuah peluang kesempatan untuk Nandes.
Aku membaringkan diriku di sofa, memikirkan hal itu sampai tertidur.
***
Libur semester tiba. Rasanya seperti angin segar selalu berhembus melalui jendela kamarku. Tidak perlu bangun pagi buta, tidak harus selalu mandi. Ah senangnya. Dan yang paling membuatku bahagia adalah rencanaku jalan-jalan bersama Juan ke Labuan Bajo. Cuma sehari katanya tapi aku terlalu menantikannya.
__ADS_1
Setelah kejadian hari itu Nandes lebih sering datang berkunjung ke rumahku. Kadang hanya mengantar coklat atau sekedar menyapa. Dan aku sudah berkali-kali mengatakan kepada Nandes bahwa aku hanya ingin berteman.
Sekali waktu Nandes datang ke rumah dan aku menolak untuk bertemu dengannya. Karena tekadnya yang sekuat baja, dia menungguku selama 1 jam di depan pagar rumahku.
Sampai pada akhirnya aku mengalah dan keluar untuk menemuinya. Karena hal itu aku menjadi yakin bahwa Nandes tidak akan mudah ' terusir' hanya dengan sebuah kata penolakan.
Juan tau yang dilakukan Nandes tapi aku tidak bisa membaca ekspresinya saat dia melihat Nandes datang menemui ku di depan matanya.
Saat itu aku dan Juan sedang duduk di teras rumahku saat Nandes datang dan memanggil namaku , padahal dia seharusnya sudah melihat aku dan Juan duduk di sana.
" Embun… hai… selamat sore",Nandes menyapaku sambil tetap duduk di atas motornya.
Aku yang cukup terkejut dengan keberaniannya di hadapan Juan, tidak mampu membalas sapaannya. Juan berdiri melihat ke arah Nandes, ekspresi Juan tidak bisa ditebak tapi aura menakutkan terpancar darinya.
" Oh lagi ada tamu to. Ya udah.. nanti aku datang lagi ya molas. Bye Embun", Nandes menyalakan motornya lagi lalu pergi setelah melambaikan tangan padaku , seperti biasa mengabaikan Juan.
Saat itu Juan duduk dan hanya mengeluarkan sebuah kalimat " Suatu saat akan ku hancurkan tulang rahangnya".
***
Suatu malam Nandes meneleponku dan bertanya tentang rencanaku di hari kamis sore besok.
" Kamis besok aku main ke rumah ya", Kata Nandes melalui sambungan telepon.
" Gak bisa … gak boleh", kataku cepat.
Aku tertawa " Tidaklah.. Juan tidak seperti itu. Dia itu baik banget. Aku hanya ada rencana saja", jawabku.
" Rencana apa? ", Nandes penasaran
" Emmm… besok aku di ajak Juan ke Labuan Bajo", aku berbicara dengan penuh semangat.
Tidak ada respon dari Nandes, aku mengira sambungan telepon kami terputus.
" Halo… Nandes.. hei… Halo", aku memanggil Nandes.
" Oh hai… ya… besok aku jemput kamu", Nandes menanggapi ceritaku. Lalu Nandes memutuskan sambungan telepon.
Aku bingung, apa Nandes lagi bicara sama orang lain tadi ya. Sudahlah, mungkin dia lagi sibuk. Aku meletakan hp di atas tempat tidur dan membuka lemari mencari baju yang cocok untuk berpergian besok.
***
Dan besoknya terjadilah hal yang selalu aku takutkan selama ini.
Jam 9 pagi, terlalu bersemangat aku sudah bersiap di depan cermin. Sibuk memilih tas mana yang akan aku bawa. Kamarku seperti kapal pecah, aku terlalu bersemangat pergi bersama Juan.
Terdengar suara mesin mobil di depan rumah. Eh Juan cepat banget datangnya.
__ADS_1
" Bukannya janjian jam setengah 10 ya", aku berjalan keluar kamar.
Bibi menghampiriku " Non ada temannya datang. Bukan nak Juan".
Aku bingung " siapa ya?", aku berjalan keluar rumah dan melihat Nandes di depan pagar rumahku. Cukup heran aku menghampirinya.
Bibi melihatku dari pintu lalu meninggalkan kami setelah memastikan bahwa yang datang adalah temanku.
Saat melihat Nandes aku menyapanya sambil membuka pintu pagar rumahku " Hai, ada apa ni pagi-pagi ke sini ?", tanyaku padanya.
" Hai juga… ayo kita pergi", kata Nandes.
Aku mengangkat sebelah alis " Gak bisa. Aku mau pergi sama Juan", jawabku.
Nandes meraih sebelah tanganku lalu menarik ku mendekati mobil. Aku yang terkejut dengan aksi itu mencoba melepaskan tanganku.
" Aku tidak bisa Nandes, jangan begini", aku melepaskan tanganku. Tapi genggaman Nandes cukup kuat membuat tanganku terasa sakit.
" Ayo naik, hanya kali ini. Ku mohon", Nandes menarik ku.
" Tidak, aku sudah janji pada Juan", Aku keras kepala.
Tanpa diduga Nandes yang tidak sabaran langsung menggendongku dengan paksa. Aku meronta-ronta memukul dadanya. Dia meletakkan ku di kursi penumpang sebelah kemudi.
" Kamu gila ya, dasar babon… ini namanya penculikan. Aku bakal laporkan kamu ke polisi. Dasar kambing jelek …. ", Aku mencaci maki sambil memukul-mukul lengan Nandes yang berusaha memasangkan sabuk pengaman padaku.
Nandes diam saja, dia lalu menutup pintu dan mengunci otomatis pintu mobil dari luar. Aku panik. Panik dan takut dengan apa yang dilakukan Nandes kali ini.
Aku melihat Nandes dengan cepat masuk ke kursi kemudi tanpa memberi kesempatan padaku untuk kabur. Dan Nandes melajukan mobilnya tanpa banyak bicara dengan aku yang mulai menangis di kursi penumpang, tidak membawa dompet, hp, bahkan tidak memakai sandal.
Aku menangis tanpa suara memikirkan betapa jahatnya Nandes kali ini dan betapa tidak berdayanya aku untuk melawan. Memikirkan Juan yang mungkin saat ini sedang kebingungan karena aku tidak menepati janjiku. Apakah Juan masih percaya padaku nanti.
Setelah perjalanan yang cukup lama dan jauh, Nandes menghentikan mobilnya di pinggir jalan sepi. Aku tidak tau kami sedang ada di mana, tapi yang ku tahu hanya ada pepohonan tinggi di kiri dan kanan jalan dan hutan yang cukup hijau membuat udara terasa sejuk.
Aku cepat-cepat membuka sabuk pengamanku dan keluar dari mobil, berjalan ke arah kami datang. Kakiku terasa sakit karena langsung menginjak bebatuan di aspal. Nandes dengan cepat keluar dan mengikuti aku dari belakang, menarik ku agar berhenti. Aku berbalik dan langsung menamparnya dengan cukup keras.
Plaaak.. dan keheningan langsung menyelimuti kami.
Nandes melihat ke arahku dan meraih tanganku " Aku salah. Maafin aku. Kamu boleh pukul aku tapi tolong masuk ke mobil Embun. Cuacanya dingin dan kaki kamu nanti luka, kamu gak pakai alas kaki. Ayo, please. Embun", Nandes berkata lembut padaku. Dia tau aku takut padanya.
" Aku janji gak akan nyentuh kamu. Tapi tolong masuk ke mobil. Kamu gemetar karena dingin", Nandes berusaha meraihku.
Aku menghindar tapi aku sadar saat ini gigiku bergemeletuk karena marah dan kedinginan. Aku mengigit bibirku marah dan sedikit berkata lirih " Awas kalau kamu nyentuh aku ", ancam ku.
" Iya, aku janji", Nandes mengangkat tangannya berjanji.
***
__ADS_1