
Aku tertidur dalam setengah perjalanan pulang kembali ke kota Ruteng. Nandes membawa mobil di temani musik tahun 90an yang mengalun pelan. Entah sejak kapan aku mulai terlelap. Aku terbangun karena Nandes yang membangunkan ku.
" Embun, ayo bangun", Nandes memanggilku pelan.
Aku membuka mataku perlahan, rasanya mataku seperti di lem karena sulit sekali untuk terbuka. Aku melihat berkeliling belum benar-benar bangun dari tidurku.
Aku menemukan Nandes sedang tersenyum sambil menatapku. " Sudah sampai ya?", aku melihat ke arah jam tanganku. Pukul setengah 7 malam.
" Belum. Tapi ada yang jemput kamu", Nandes menunjuk keluar jendela mobil.
Aku melihat Juan berdiri di luar mobil dengan wajah datar dan dingin. Sedikit terkejut melihat keberadaan Juan di sana.
" Loh, kita di mana? Juan kok ada di sini?", aku linglung.
" Sudah di dalam kota. Aku keluar duluan ya. Lihat betapa murkanya dia", Nandes melihat ke arah Juan tanpa rasa takut sedikitpun malah perkataan Nandes terdengar seperti sebuah lelucon untuk dirinya sendiri.
Aku menatap Juan dalam diam, rasanya aku seperti sedang tertangkap basah karena melakukan sebuah kebohongan.
Sekilas aku melihat kejadiannya sangat cepat. Setelah Nandes keluar dari mobil aku melihat Juan meraih kerah jaket Nandes dan menghantamnya tepat di wajah.
Aku memekik kaget, cepat-cepat membuka sabuk pengaman berusaha membuka pintu mobil tetapi Nandes sengaja mengunciku dari luar. Aku berteriak dari dalam mobil menyuruh Juan berhenti, tapi tentu saja tidak mereka dengar.
Juan menghantam sekali lagi wajah Nandes yang membuat Nandes terjatuh ke atas aspal yang keras. Nandes berdiri dan balas menghantam Juan di bagian perut dan wajahnya. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku menangis di dalam mobil, ingin rasanya memecahkan kaca dan keluar dari mobil.
Aku berusaha membuka pintu dengan menekan tombol central lock di samping kursi pengemudi. Bunyi klik pelan membuatku langsung membuka pintu dan menghambur keluar.
Aku melihat Juan berada di atas Nandes dengan penuh emosi. Juan menghantam wajah Nandes dan mencengkram kerahnya. Aku ketakutan, di mataku Juan benar-benar seperti orang yang berbeda. Orang yang mengerikan. Aku sampai tidak bisa mengingat bagaimana suaranya saat memanggilku dengan penuh sayang.
Aku menarik lengan Juan sambil menangis " Juan sudah…Juan please… berhenti ", aku menarik Juan dengan sekuat tenaga. Di sela tangisku aku mendengar Nandes berteriak pada Juan.
" Cukup Meggy Juan… jangan Embun".
Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan Nandes. Tetapi yang aku tahu, kata-kata itu membuat tangan Juan membeku di udara dan cengkraman pada lengan Nandes mengendur. Juan terdiam terpaku dan Nandes menatap Juan dengan penuh rasa benci bercampur dengan kesedihan yang mendalam
Aku bergegas menarik Juan sekuat tenaga, menjauhkan Juan dari Nandes. Aku terisak, berharap ini segera berlalu.
__ADS_1
" Sudah… aku gak mau kayak gini", aku berkata pelan ke Juan sambil terisak.
Juan diam saja hanya menatap Nandes yang masih berbaring diatas aspal menutupi wajahnya dengan lengan kanan tanpa berniat untuk bangun. Setelah pikiranku jernih, aku berpikir apakah saat itu Nandes sedang menangis? aku menduga-duga.
Berapa detik berikutnya Juan seperti tersadar. Dia merangkulku yang menangis sesenggukan sambil mencengkram lengan bajunya dengan kuat, takut Juan memukul Nandes lagi.
" Jangan seperti ini Nandes, saya tidak mau mengotori tangan saya dengan darahmu. Berhenti dekati Embun atau kau mati", Juan mengancam dengan suara dingin tanpa ekspresi. Dan sepertinya aku mendengar Nandes hanya tertawa mendengar ancaman itu.
Mendengar itu aku makin takut dan air mataku mengalir semakin deras. Aku tidak berani melihat Juan, apalagi melihat Nandes. Mendengar Aku yang menangis Juan menuntunku ke arah motornya.
Juan memandangku lalu mengusap air mata yang mengalir di pipiku dengan jarinya yang berdarah. Tanpa bersuara Juan membawaku pergi dari tempat itu, meninggalkan Nandes yang masih berbaring di atas aspal.
***
Sepanjang perjalanan, yang entah aku di bawa ke mana oleh Juan aku menangis dalam diam sampai rasanya hidungku tersumbat.
Juan membawa motornya lebih cepat dari biasanya, seperti menuangkan semua emosinya saat itu ke dalam setiap tarikan gas. Aku memeluk punggung Juan erat dan jaket Juan basah karena air mataku. Udara malam yang dingin tidak mampu memberikan kesejukan seperti yang kuharapkan sebelumnya.
Juan tidak membawaku ke rumahku sendiri tetapi ke rumahnya. Aku tidak berusaha bertanya karena aku takut. Aku masih memikirkan Juan yang berbeda, aku takut saat aku mengeluarkan suara akan membuat kecanggungan yang lebih parah.
Juan membuka pintu pagar rumahnya yang cukup tinggi dan memintaku masuk ke dalam rumah.
" Ayo", ajak Juan.
Aku diam saja tidak bergerak, aku takut. Takut pada Juan, jantungku berdetak tidak beraturan. Juan sepertinya paham aku takut padanya.
" Embun, ayo masuk. Di luar dingin", Juan berkata lebih lembut.
Mendengar suaranya yang lembut, aku dengan sedikit ragu melangkah masuk melewati pagar rumahnya. Sisa air mata masih membekas di wajahku. Aku tidak mengucapkan sepatah katapun. Saat berada di ruang tamu Juan aku hanya berdiri, seperti orang asing yang baru saling mengenal. Juan yang melihatku seperti itu, menghampiri dan mendudukkan aku di sofa.
Dia lalu menghilang ke dalam rumah, lalu kembali sambil membawa segelas air untukku. Dia berlutut di depanku sehingga wajah kami sejajar.
Aku terdiam kaku, rasanya ada yang mengganjal di dada membuatku susah bernafas di hadapan Juan. Apa Juan akan membentak ku? Apa Juan tidak akan percaya padaku? Apa Juan membenciku sekarang? Atau Juan merasa aku mengkhianatinya? Banyak pikiran praduga yang berkelebat di kepalaku. Tetapi apa yang dilakukan Juan detik berikutnya membuat air mataku keluar dengan sendirinya.
" Maafkan aku Embun, lain kali aku tidak akan memukul orang seperti itu lagi. Kamu pasti takut? Aku bukan orang yang seburuk itu", Juan menggenggam tanganku.
__ADS_1
Aku menangis, air mata keluar tanpa bisa berhenti. Juan mengusap air mataku. " Maafkan aku Embun, lain kali aku tidak akan begitu", kata Juan.
Dengan terisak aku berbicara " kamu… tidak … marah padaku?aku … takut… kamu yang… seperti.. itu".
Juan mengusap kepalaku sayang " maafkan aku Embun. Maafkan aku. Jangan menangis lagi ".
Aku pelan-pelan menghentikan tangisku. Juan menyodorkan air hangat kepadaku, agar aku lebih tenang.
" Aku tau kamu dibawa pergi dengan paksa. Maafin aku yang datang terlambat", Juan mengelus kepalaku.
Aku diam saja, sebenarnya ini semua salahku. Aku yang menceritakan semua rencana kami kepada Nandes. Seandainya aku diam saja, mungkin hal ini tidak akan terjadi.
" Kamu sudah makan malam?", tanya Juan padaku.
Aku menggeleng, merasa lebih tenang.
" Ayo kita makan bareng. Aku sendirian di sini, kita makan yang mudah dimasak saja ya " , kata Juan sambil berdiri.
" Orang tua kamu kemana?", aku bertanya spontan.
" Kerja ", Jawab Juan singkat seperti enggan menjawab.
Aku tidak bertanya lebih lanjut " Boleh aku pinjam kamar mandi kamu Juan. Aku ingin cuci muka. Kalau aku pulang seperti ini pasti bibi akan kebingungan".
" Boleh. Kamu jalan lurus ke sana, nanti belok kiri. Di sana ada kamar mandi. Apa kamu mau ganti baju juga ?aku ada kaos kalau kamu mau?", Juan menawarkan sopan.
Aku mengangguk. Juan tersenyum lalu masuk kembali ke dalam dan keluar membawa sebuah kaos warna hitam untukku. Cukup kebesaran.
" Terima kasih", kataku canggung. Juan tersenyum lebih kaku.
"Ya udah aku siapin dulu air buat masak mie. Nanti habis makan aku anterin kamu pulang ya", kata Juan.
Aku mengangguk mengiyakan.
***
__ADS_1