
Tentu saja aku berakhir di UGD. Bukan kakiku yang terkilir tetapi tanganku, karena aku berusaha menyeimbangkan diriku. Juan menggendongku sampai UGD, aku menolaknya tapi rasa sakit di tangan dan badanku tidak dapat kuhindari dan aku tidak bisa menahannya.
Temanku dokter di UGD menyipitkan matanya “ bisa-bisanya kamu lewat tangga. Kamu kan tahu di sana banyak setannya”, temanku menggeleng sambil menyuntikan obat pereda nyeri. Juan yang mendengar itu hanya bisa terdiam.
“ Sepertinya aku memang bertemu setan tadi”, aku berkata sinis. “ Terima kasih Lala”, aku tersenyum pada temanku. Setelah diberikan obat penghilang nyeri dan menjalani banyak pemeriksaan aku diperbolehkan pulang. Aku diberikan surat sakit selama 3 hari.
Aku berusaha mencari ponselku di dalam tas. Aku tidak berbicara dengan Juan sama sekali. Aku masih marah dan aku tidak ingin berdebat dengannya. Juan menutup tasku dan menyampirkannya di bahu.
“ Haaah.. apalagi Juan?”, aku mengeluh dengan malas.
“ Aku akan mengantarmu pulang”, Juan menatapku dengan rasa bersalah. Dia sepertinya benar menyesal. Aku menarik nafas enggan.
“ Aku akan menelepon dia”, Juan melanjutkan. Dia yang Juan maksud adalah Nandes. Akhirnya aku mau naik ke mobilnya dengan sangat terpaksa. Di dalam mobil aku hanya diam dan menatap keluar jendela mobil. Aku mengingat kembali saat Juan menciumku tadi ada sedikit rasa debar di dadaku yang ku abaikan karena kemarahanku dan aku tidak ingin mengakuinya.
“ Embun maafkan aku. Aku menyesal karena kamu terjatuh dari tangga, seharusnya aku tidak membawamu ke tangga darurat”, kata Juan penuh penyesalan.
Aku melotot, jadi maksudnya dia menyesal hanya karena aku jatuh dari tangga bukan karena menciumku juga.
“ Hanya itu?”, aku terpancing.
“ Ya.. aku menyesal karena kamu kecelakaan. Seharusnya aku membawamu ke tempat yang lebih bagus. Aku tidak menyesal karena menciummu sayang, aku malah menyesal seharusnya aku membawamu ke rumahku”, Juan menggodaku.
Aku memukul bahunya dengan kekuatanku yang tersisa “ akan ku pastikan Nandes meremukan bibirmu”, aku kesal.
“ Haha… aku sudah menunggu lama untuk menghajarnya juga. Bolehkan aku memukulnya sayang?”, Juan malah membuatku marah.
Aku memalingkan wajah melihat keluar jendela, semoga Nandes benar-benar memukulnya. Juan menghantarku ke apartemen Nandes. Tentu saja Nandes sudah menungguku, sepertinya dia cepat-cepat balik dari kantor setelah Juan menelponnya. Nandes turun dari mobil, menungguku. Saat Mobil Juan berhenti aku cepat-cepat membuka sabuk pengaman mengambil tas dan berlari keluar mobil menghampiri Nandes. Sebelah tanganku tentu saja dibebat dan memakai penyangga. Nandes menyambutku dengan kekhawatiran di wajahnya.
“ Kenapa kamu bisa jatuh?”, Nandes bertanya heboh tanpa melihat ke arah Juan.
“ Super VVIP yang aku bilang itu adalah ayah Juan. dan tadi..”, aku belum selesai bicara Juan menyambar.
“ Aku memaksa menciumnya di tangga darurat, dia melawan dan mengalami cedera. Aku menyesal karena dia cedera, seharusnya aku membawa dia ke rumahku”, Juan berkata santai kepada Nandes.
__ADS_1
Mendengar itu Nandes dengan cepat menghampiri Juan dan mendorongnya sekuat tenaga lalu menghantam tepat di wajahnya. Juan terjatuh ke samping dan dia tertawa. Juan memegang sudut bibirnya yang berdarah. Juan berdiri dan membalas Nandes. Aku seperti mengalami Dejavu saat SMA dulu. Aku berlari ke arah Nandes saat dia kembali menghantam wajah Juan.
“ Bangsat, mati kau… anjing…. “, Nandes memukul Juan tanpa ampun. Juan menangkis dan membalas Nandes. aku melihat darah mengucur dari pelipis Nandes dan darah mengucur dari wajah Juan.
“ Berhenti !!!….. “, aku menarik Nandes dengan sebelah tanganku. Tentu saja mereka berdua seperti sedang kesetanan. Aku berusaha keras memisahkan mereka tidak peduli pada tanganku yang akan tersenggol dan berkat itu bahuku terkena siku Nandes. Aku jatuh ke atas aspal dan mereka berhenti mendadak sama-sama meneriaki namaku.
“ Embunn !!!”.
“ Awww…. Shit…”, aku memegang bahuku. Sepertinya aku mengalami cedera tambahan. aku berusaha duduk dengan tangan sebelahku. Nandes dan Juan sama-sama menghampiriku.
“ Embun kamu tidak apa-apa?”, Juan memegang sebelah bahuku.
“ Embun maafkan aku”, Nandes merasa bersalah dan merangkulku. Menjauhkanku dari Juan.
“Oke stop. Aku baik-baiks aja. Orang-orang menonton kalian. Stop plis”, aku mengomel.
Nandes menggendongku dan berjalan menjauhi Juan. membawaku masuk ke dalam mobil. Dia lalu kembali dan berbicara kepada Juan, aku membuka kaca mobilku untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Juan maju agar lebih dekat ke arah Nandes “ Aku masih menyukainya dan sangat menyukainya. Aku akan mengambilnya kembali. Dengan caraku “, Juan lalu berbalik hendak pergi saat dia menghampiri Nandes lagi dan berkata “ Aku suka aroma green tea dari bahunya ”, Juan memanasi Nandes.
Nandes mengepalkan tangannya tapi membiarkan Juan masuk ke dalam mobil. Dengan berani Juan mengedipkan sebelah matanya kepadaku saat lewat, tentu saja aku membuang muka. Nandes masuk ke mobil dan memukul stir mobil. Dia menyetir mobil ke basement dengan cara yang kasar. Aku hanya bisa terdiam di sebelahnya.
“ Kenapa kamu tidak cerita kepadaku soal ayah Juan?”, Nandes berbicara tanpa menatapku.
“ Aku … aku … hanya menunggu waktu yang tepat”, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Nandes.
“ Tapi kamu membiarkannya berkeliaran di sekitarmu Embun. bagi laki-laki itu adalah sebuah kesempatan”, Nandes marah.
“ Tapi aku hanya bersikap profesional. Dan lagi aku selalu mengabaikannya selama ini. Aku tidak menyangka dia senekat itu”, aku berusaha tenang.
“ Kenapa kamu menyembunyikannya ?”, Nandes berteriak padaku. Aku kaget, aku tahu Nandes merasa di bohongi. Aku tahu aku salah tapi apakah dia harus membentakku seperti itu.
“ Dia menginginkanmu Embun dan aku benci dia melakukan itu padamu “, Nandes berkata lebih lembut sadar dia telah tidak bisa membendung emosinya.
__ADS_1
Aku menangis dan mengambil tasku. Aku turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu keluar. Aku sangat syok karena Nandes bukan menenangkanku malah membentakku seperti itu. Nandes ikut turun dari mobil dan mengejarku.
“ Embun maafkan aku. Aku tidak bermaksud kasar kepadamu”, Nandes menyesal.
Aku membanting tasku “ Kamu kira aku membuka peluang untuknya, aku bisa apa kalau dia menggunakan kekuasaan dan mengancam memecat teman-temanku”, Aku marah. “ Dan aku takut Nandes aku kira Juan akan melakukan hal buruk padaku, dia terlihat seperti orang lain. Dia bukan Juan yang aku kenal”, ada kekecewaan dalam suaraku.
Nandes diam “ Kamu kecewa karena dia buka Juan yang dulu?”, Nandes salah mengartikan maksud perkataanku.
“ Bukan itu maksudku”, aku berusaha menjelaskan.
“ Aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu”, ada kesedihan di matanya.
Aku lelah dan aku tidak berniat menjelaskan apapun “ Tidak aku akan naik taksi. Dan aku … aku lelah”, aku memungut tasku dan berjalan keluar basement dengan air mata dan rasa nyeri di seluruh tanganku. Nandes tidak mengejarku dan kesalahpahaman di antara kami semakin lebar.
***
Aku berbaring di tempat tidur kosanku. Aku ingin mandi tapi tidak bisa menggerakan lengan kananku, kalau tadi aku tidak bertengkar dengan Nandes mungkin tidak akan seperti ini. Setidaknya dia masih bisa membantuku mencuci wajah. Seharusnya aku menjelaskan maksud perkataanku kepada Nandes. Tapi aku terlalu lelah untuk berbicara.
Aku tertidur, sekitar pukul 7 malam seseorang mengetuk pintu kamarku. Teman kosanku membangunkaku karena ada tamu yang datang mencariku. Nandes datang? aku dengan cepat berjalan ke ruang tamu dan menemukan Juan duduk di sana. Aku kaget, banyak memar di wajahnya bekas perkelahian sore tadi.
“ Ada apa?”, tanyaku dengan Nada biasa saja.
“ Bagaimana keadaanmu?”, Juan bertanya.
“ Yaa. Seperti ini. Aku tidak bisa makan dan mandi. Terima kasih”, aku menyindirnya.
“ Mau aku bantu?”, Juan mencoba melucu. Aku melotot padanya. “ Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku kesini hanya ingin membawakanmu makanan dan obat-obatan”, dia menyerahkan sebuah paper bag padaku. “ Dan aku membawakan kue untukmu”, Juan menunjuk kue di atas meja.
“ Terima kasih”, hanya itu yang bisa kukatakan pada Juan. Aku memperhatikan dia memakai baju kasual biasa, tidak seperti siang tadi.
Juan mengelus rambutku dan pamit pulang. Aku menunduk, Nandes benar. Akulah yang membuka peluang untuk Juan datang kepadaku. Aku yang tidak tegas padanya. Aku memikirkan Nandes dan rasa sedih menyelip di hatiku.
***
__ADS_1