
Pintu kantor menjeblak terbuka tanpa di ketuk. Aku mendongak dan menemukan seorang wanita dengan baju yang cukup ketat menyeret sebuah koper besar ke arahku.
“ Juaaannn…. Baby….. aku kangen kamu”, teriak wanita itu begitu melihatku.
Aku tersenyum “ Hai Anna. Kamu sudah datang?”, tanyaku sambil berdiri lalu berjalan menghampirinya. Aku menepuk bahunya pelan sambil tsrsenyum.
Dia yang sudah siap merentangkan tangannya langsung memonyongkan bibir. “ Aku ingin dipeluk”, katanya dengan suara yang manja.
“ Tidak. Aku tidak akan memelukmu”, kataku lalu kembali duduk di kursi kerjaku untuk melanjutkan pekerjaan yang sedang aku kerjakan tadi.
“ Kau tidak pernah berubah ya. Aku dengar kau sudah menikah? Dengan siapa? Embunmu itu?”, tanyanya sambil melepaskan sepatu haknya yang tinggi dan mengambil posisi duduk di sofa.
“ Tidak. Aku menikahi kekasihku”, jawabku singkat sambil kembali memeriksa dokumen di meja.
“ Kau semakin tampan saja setelah kutinggalkan bertahun-tahun”, kata Anna lagi.
Aku menatapnya “ Kau juga, terlalu banyak berubah sampai aku tidak mengenalmu ANNA”, aku menekan namanya dengan maksud tertentu.
Dia tertawa ceria seolah aku sedang memujinya. “ Baiklah bagaimana rencana makan malam kita?”, tanyanya lagi.
“ Sedang diatur, sekretarisku akan mengabarimu malam nanti. Kapan kau rapat bersama direksi?”, aku bertanya.
“ 10 menit lagi. Aku kesini untuk bersantai”, katanya.
“ Dengan pakaian itu?”, tanyaku sedikit melirik ke arahnya.
“ Hmm.. apa kau menyukai lekukan tubuhku?”, tanya Anna lagi tanpa rasa malu.
“ Buang pikiran kotormu sejauh mungkin Anna. Aku tidak akan pernah menyukaimu sebagai wanita”, kataku tegas dan pasti.
“ Baiklah. Karena kita teman lama aku akan memaklumi penolakan kasarmu itu. Aku pergi dulu”, katanya berdiri lalu berjalan keluar pintu.
Aku menggeleng kepala “ Dunia ini sudah gila”, kataku lagi.
***
Aku bergegas ke toko bunga saat pulang dari kantor untuk menemui Jeni. Tokonya sangat sibuk hari ini, aku menghampirinya dan memperhatikannya dari sofa. Tidak ada satupun dari mereka yang sadar aku datang.
“ Tolong tangkai mawarnya di potong jangan terlalu pendek Mira, nanti jadinya kurang bagus”, omelnya. Lalu dia sibuk lagi dengan yang lain.
Beberapa menit kemudian dia melihatku yang terduduk di sofa. “ sayang sejak kapan kamu datang?”, tanyanya.
__ADS_1
“ Baru saja. Selesaikan urusanmu. Aku akan menunggu”, kataku lagi lembut sambil tersenyum.
“ Baiklah. Kamu tunggu aku di ruanganku saja”, katanya sambil menarik tanganku ke arah ruangannya.
Aku duduk cukup lama di ruangan itu, melihat ke luar melalui dinding kaca yang membatasi dengan ruangan luar. Di atas meja aku menemukan foto Jeni bersama kakeknya dan juga ada fotonya saat bersama orang tuanya. Aku tersenyum melihat foto itu.
Cukup lama Jeni kembali ke ruangannya dan duduk di sofa. “ Maafkan aku, kamu menunggu terlalu lama ya? kamu bosan?”, tanyanya.
“ Emm. . Cukup lama. Aku bosan, tapi setelah melihatmu rasa bosanku pergi entah kemana”, aku menatap wajahnya.
“ Ck, mulutmu manis sekali”, kata Jeni dengan wajah merah karena malu.
“ Kalian sibuk sekali hari ini”, kataku memperhatikan keluar pintu.
“ Ya, ada bookingan untuk sebuah acara pesta ulang tahun pernikahan”, katanya. “ Istrinya menginginkan ini dan itu yang membuat kami harus lebih bekerja extra. Begitulah klien”, ceritanya.
Aku menangguk. “ Bagaimana jika kita makan ice cream setelah ini?”, tawarku.
“ Baiklah kita makan dirumah sambil menonton TV”, dia melanjutkan tawaranku.
“ Oke baiklah”, kataku meyetujui.
Setelah Jeni meninggalkanku sendiri, aku membaringkan diriku di sofa ruang kerja Jeni. Memikirkan apa yang pernah aku bicarakan bersama Adam. Aku akan menetapkan hatiku, aku akan bersama gadis ini. Ini bukan pelarian, ini adalah rasa cinta. Ya aku mencintainya. Aku lalu memejamkan mataku, mengambil sedikit istirahat.
“ Juan…ayo kita pulang”, Jeni membelai wajahku pelan.
Aku terbangun dan menemukannya sedang menatapku lembut. Aku menatap matanya yang berwarna amber.
“ Jeni, apa kau menyukaiku?”, aku bertanya tentang yang terlintas di kepalaku.
Jeni tersenyum lalu menatapku dalam “ Ya aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu “, Jeni membelai rambutku penuh sayang. “ Jika orang mengatakan kau adalah begini dan begitu, aku tidak peduli. Saat ini mataku buta, telingaku tuli. Karena aku hanya menatapmu dan mendengarmu Juan. Aku jatuh cinta padamu, kau adalah cinta pertamaku”, Jeni mengakui cintanya tanpa keraguan dalam setiap kata-katanya.
Hatiku senang sekaligus sedih mendengar perkataannya. Entah apa yang membuatku sedih, mungkin karena menyesal membuatnya jatuh cinta kepadaku yang brengsek ini. Aku balas membelai wajahnya dengan penuh sayang, menyusuri tulang dagunya dengan jariku.
“ Matamu membuatku terpesona”, kataku pelan.
Dia tersenyum lalu mengecup pipiku pelan. “ Ayo pulang, sudah mulai malam”, katanya penuh semangat.
Aku bangun dari tidurku dan kami bergandengan tangan keluar dari toko.
***
__ADS_1
Aku menggulung rambut Jeni di jariku, aku bosan menatap TV di hadapanku. Adegan film demi film berlalu tanpa menarik minatku. Aku yang mengajaknya menghabiskan waktu dengan menonton TV tetapi aku juga yang bosan. Aku ingin mengobrol dengannya.
“ Jadi minggu depan apa rencanamu? kita harus kencan di mana?”, aku mencari topik.
Jeni memalingkan wajahnya padaku lalu menyuapkan popcorn ke mulutku. “ Aku… sudah kehabisan bahan kencan. Kamu melakukan hal yang manis setiap akhir pekan jadi aku bingung apa yang aku inginkan”, katanya tertawa pelan.
Aku tersenyum masih memainkan rambutnya. “ Akhir pekan ini bagaimana jika pergi ke pesta ulang tahun temanku”, ajak ku padanya.
“ Emang boleh?”, tanyanya.
“ Siapa yang bilang tidak boleh?”, aku menatapnya heran.
“ Tidak aku hanya mengira kita tidak boleh muncul ke publik secara terang-terangan”, katanya lagi.
“ Sekarang boleh. Akan aku bakar kertas kontrak itu”, kataku serius.
“ Kamu Yakin akan membakarnya? Kamu tidak berniat berpisah dariku?”, tanyanya menatapku.
“ Tidak. Aku ingin bersamamu. Tanpa kontrak, hanya sebagai suami istri yang SAH”, aku memajukan wajahku padanya.
Dia tersenyum lalu mengecup cepat bibirku dan menyuapi popcorn. Aku tertawa lalu memeluknya gemas. Malam ini aku terus menatapnya dari tempat tidurku, aku ingin menjaganya dengan hatiku.
“ Juan”, panggilnya.
“ Ya?”, aku menjawabnya.
“ Bolehkah aku bertanya tentang keluargamu?”, Jeni bertanya hati-hati.
“ Ya boleh “, aku tersenyum. “ Apa yang ingin kamu ketahui dariku selain yang ada di internet?”.
Jeni banyak bertanya tentang hidupku, tentang keluargaku. Dan aku menjawab semuanya dengan santai. Sampai akhirnya Jeni bertanya ragu.
“ Apakah keluargamu akan menyukaiku?”, tanyanya.
“ Tentu saja. JIka mereka tidak suka aku tidak akan peduli. Kamu adalah milikku bukan keluargaku. Jangan kuatir ”, aku berkata dingin. Dia terdiam.
“ Sini”, aku memanggilnya.
Dia turun dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam pelukanku. Aku menghirup wangi rambutnya dalam-dalam, wangi rambutnya yang seperti strawberry matang membuatku tenang.
“ Jika begini terus mulai besok aku akan memasang tempat tidur baru “, kataku sambil menutup mata.
__ADS_1
Jeni tertawa dan semakin menenggelamkan dirinya di dadaku.
***