
Apartemen milik Jeni tidak terlalu besar, lingkungannya lumayan baik dan terawat. Aku berjalan mengikutinya, sedangkan Doni menunggu di basement tempat parkir mobil. Saat memasuki apartemennya aku seperti memasuki area lain, apartemen ini didekorasi dengan cara yang feminim.
Kebanyakan didominasi dengan warna hijau muda dan putih. Rak buku yang tidak terlalu besar ada di sudut ruangan dekat sofa. Buku komik tertata rapi di sana. Meja makan mungil untuk dua orang berada di sisi lain. Ruangan ini diatur sedemikian rupa sehingga tampak manis dan membuat betah orang didalamnya. Sangat terasa wangi bunga dari ruangan ini.
Jeni masuk dan menyuruhku duduk, sedangkan dia sibuk membuka jendela agar udara bertukar. “ Tunggu di sini aku akan mandi sebentar dan berganti pakaian”, katanya lagi.
“ Jangan terlalu lama, aku ada janji malam ini”, kataku mengingat janjiku dengan CEO Y group.
Jeni mengangguk lalu menghilang dari balik sebuah pintu. Aku menunggunya sambil menyandarkan diriku di sofa agar lebih nyaman dan aku mulai mengantuk.
Dalam tidurku aku melihat Embun memakai baju berwarna putih memegang sebuah pisau kecil di tangannya. Aku berusaha berteriak melarangnya melakukan hal itu tapi tidak ada satupun suaraku yang keluar. Warna merah muncul di bajunya semakin lama semakin melebar. Aku menangis sekuat tenaga berusaha meraihnya, aku melihatnya menggerakan bibir seperti mengatakan sesuatu. Aku berusaha mendengarkan “ Juan”, Embun memanggil namaku, tapi ini bukan suara Embun. Aku seperti mengenal suara ini “ Juan bangun”.
Aku tersentak dari tidurku, sebelah tanganku mencengkram erat lengan Jeni. Entah sejak kapan dia berada di sebelahku. Aku dengan cepat melepas cengkramanku, bisa kulihat bekas warna merah disana.
“ Sejak kapan kau disini?”, aku bertanya.
“ Sejak kau berteriak minta tolong. Aku baru selesai ganti baju saat aku dengar kamu berteriak", jelasnya.
Aku memperhatikannya, rambutnya masih tampak setengah kering dan dia sudah berganti baju dengan baju rumah. Aku memperbaiki posisi dudukku.
“ Maafkan aku membuat kau panik”, kataku tidak enak.
“ Apa kau bermimpi buruk?”, Jeni bertanya.
“ Ya. Sepertinya aku kelelahan. Bisa kita mulai?”, aku bertanya menghindari keingintahuannya.
“ Ya tentu saja. Duduklah di meja makan. Aku akan membuat teh untukmu”, katanya lagi.
“ Di mana kamar mandimu?. Aku ingin membasuh wajah”, tanyaku.
Jeni menunjuk ke salah satu pintu yang tadi dia masuki. Aku berdiri dan berjalan ke dalam ruangan itu. sampai disana aku mencuci tanganku yang gemetar. Aku baru menyadarinya, cukup lama aku tidak pernah bermimpi tentang hal itu lagi sejak sibuk mengalihkan perhatianku kepada Jeni. Entah bagaimana aku bermimpi tentangnya lagi. Apakah ini sebuah peringatan untukku agar aku tidak boleh bersama wanita lain lagi? Apa jika aku mencintai seseorang itu akan menjadi sebuah kutukan?
Aku membasuh wajahku berkali-kali. Setelah itu melihat diriku di cermin wastafel itu. “ Sadarkan dirimu Juan. Ini adalah untuk kepentingan bisnis”, aku memperingati diriku sendiri. Setelah itu aku mengambil handuk bersih yang terlipat di salah satu rak lalu mengeringkan wajahku. Aku melemparkan handuk itu ke dalam keranjang kotor yang ada disitu.
Saat aku keluar Jeni sudah duduk di kursi meja makan sambil menulis sesuatu di atas kertas. “ Duduklah”, katanya.
Aku duduk berhadapan dengannya menunggu.
__ADS_1
“ Juan karena kita akan menikah beneran tapi sebenarnya palsu. Aku memiliki peraturan yang harus sama-sama kita taati. Kamu boleh menambah peraturan itu kalau mau”, katanya sambil menyodorkan kertas yang sudah berisi tulisan beberapa poin. Aku membacanya dengan seksama.
Peraturan dari pihak pertama Jeni dan harus ditaati oleh Juan sebagai pihak kedua:
●Pernikahan ini akan berlangsung sampai dengan adanya kesepakatan bahwa tujuan masing-masing kedua belah pihak tercapai.
●Pernikahan ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh kedua belah pihak dan Doni sebagai saksi.
●Di hadapan kakek, kedua bela pihak harus terlihat mesra, rukun dan saling menyayangi.
●Pihak kedua dilarang menyentuh pihak pertama saat bersama di dalam rumah
●Karena suatu alasan, pihak pertama ingin pihak kedua selalu mengajak ‘KENCAN’ di akhir pekan.
●Tidak boleh ada orang ketiga dalam pernikahan kontrak ini apapun alasannya sampai status pisah disahkan.
Aku menghela nafas, “ Hanya ini?”, aku bertanya. Jeni mengangguk yakin.
“ Kalau begitu aku akan bertanya terkait tulisan ini sebelum aku menambah peraturanku”, aku menatapnya.
“ Ya silahkan. Apa yang ingin kamu tanyakan?”, tanyanya.
“ Karena aku belum pernah punya pacar sebelumnya. Aku terlalu sibuk mencari uang. Aku tidak tahu sampai kapan pernikahan ini akan berlangsung jadi aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku. Aku ingin punya pengalaman memiliki pacar walaupun itu hanya sebuah kebohongan”, katanya polos.
Aku tersenyum mendengar kepolosannya. “ Baiklah. Aku hanya punya dua peraturan”, kataku. Lalu aku menuliskan peraturan itu di bawah poin milik Jeni.
Juan sebagai pihak kedua memiliki peraturan yang harus ditaati oleh Jeni sebagai pihak pertama :
●Pihak pertama harus menaati semua yang dikatakan oleh pihak kedua sebagai pembemberi aturan. Jika membantah dan atau menolak menaati maka akan dihitung sebagai pelanggaran kontrak.
●Kontrak sebelumnya yang sudah ditandatangani oleh pihak pertama masih berlaku sampai masing-masing tujuan kedua belah tercapai.
Aku lalu menyerahkan kertas itu kepadanya. Jeni membaca tulisan itu dengan seksama.
“ Hanya ini? Aku masih harus mengikuti kontrak waktu itu juga?”, tanyanya tidak percaya.
“ Tentu saja. Kau tidak mau? ya sudah aku akan membatalkannya”, kataku sedikit mengancam.
__ADS_1
“ Baiklah akan ku lakukan. Mari kita tanda tangani surat ini”, katanya lalu dengan cepat menandatangani surat itu.
Aku tersenyum sedikit senang, lalu menandatangani bagianku. Dengan ini secara resmi dia adalah milikku. Kami akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi dengan resmi tanpa resepsi dan sebagainya. Itu adalah keinginan Jeni, karena dia tidak menyukai kehebohan. Dan aku menurutinya.
***
Siapa yang paling syok dengan keputusan ini? Tentu saja ibuku. Beliau sangat tidak terima aku menikahi Jeni, bahkan belum sempat aku bertemu dengan wanita pilihannya.
Adikku Bella sangat senang karena keputusan ini.
“ Aku juga akan mengikuti jejak kakak, aku akan menikah dengan pria pilihanku”, katanya saat aku mengatakan akan menikah dengan Jeni dalam waktu dekat.
“ Sekolah yang benar baru bisa menikah”, aku menoyor kepalanya yang disambut dengan wajah cemberut darinya.
Hari pernikahan tiba, tentu saja ibuku tidak datang. Pernikahan itu dilangsungkan di tempat kakek Jeni, tidak ada tamu yang hadir selain beberapa orang terdekat kakek. Betapa berseri-seri wajah sang kakek. Dia terlihat sangat sehat karena keinginannya tercapai.
Saat aku bersamanya berdua saja, dia berbicara seperti seorang ayah kepadaku.
“ Nak Juan, karena kamu menikahi cucuku yang cantik aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Cucuku ini adalah gadis yang kuat seperti ibunya. Jeni melalui hidup yang sangat sulit sejak ibunya meninggal”, kakek menatap sedih ke arah Jeni yang sibuk bercengkrama dengan Bella.
“ Karena kau sudah menjadi bagian dari keluargaku, aku akan mengatakan sesuatu kepadamu. Aku merasa umurku sudah semakin pendek. Juan… sebenarnya Jeni adalah anak dari keponakanku yang lain. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Saat itu Jeni diasuh oleh adik dari ayahnya yaitu Hartono. Jeni melalui hidup yang baik karena istri dari Hartono begitu menyayanginya seperti anak sendiri. Tetapi saat Yanti meninggal dan Hartono menikah lagi. Hidup Jeni berubah. Dia harus mengalami masa sulit yangs seharusnya tidak dialami oleh anak seusianya”, kakek menarik nafas.
“ Juan.. aku meminta padamu. Jauhkan Jeni dari Hartono dan istrinya, karena saat ini mereka ingin mengambil alih perusahaan milik keluarga. Mereka sudah mengeluarkan Jeni dari daftar keluarga dan ingin Jeni menyerahkan semua warisan itu kepada mereka”.
Aku menatap kakek “ Maksud kakek ayahnya akan membunuhnya hanya untuk sebuah harta?”, aku bertanya tidak percaya.
“ Mungkin. Itulah yang mereka bicarakan di telepon kemarin, mereka memintaku untuk membawa Jeni pulang. Aku rasa Hartanto sudah di butakan oleh sifat istrinya, karena wanita itu melahirkan seorang anak untuknya”.
Aku langsung mengerti kenapa Kakek Darmawan terkena serangan jantung beberapa hari lalu.
“ Aku sudah tua Juan, aku tidak bisa menjaganya sebaik kamu menjaganya. Aku titip cucuku Juan. Aku sangat percaya padamu. Tanah itu, aku akan memberikannya sebagai hadiah pernikahan. Karena hanya itu yang ku punya saat ini”, Kakek Darmawan menatapku penuh harap.
Aku membalas tatapannya sedih. Sedikit rasa bersalah menjalar di hatiku karena membohonginya.
“ Aku berjanji”, kataku tegas di depan kakek Darmawan.
“ Terima kasih Juan”, jawabnya dengan senyum bahagia.
__ADS_1
***