Merpati Kertas

Merpati Kertas
NANDES: PELAN-PELAN SAJA


__ADS_3

Aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Kemarahan memuncak di dadaku, saat lampu lalu lintas berubah merah aku menginjak rem mobil dengan kuat. Nafasku memburu karena hormon stresku meningkat menjadi sebuah kemarahan.


 Untuk menyalurkan kemarahanku aku memukul stir mobil berkali-kali dengan kuat dan berteriak di dalam mobil seperti orang gila. Buk… buk…buk… " arrrhhhh". Aku marah, sangat marah. Membayangkan wajah Juan membuat darahku mendidih. Seharusnya saat itu ku bunuh saja dia.


" Bangsat... Brengsek. ..", aku menacaci maki didalam mobil.


Apa yang aku lakukan selama ini? Hanya meratapi patah hatiku tanpa mencari tahu kebenaran. Menangis dan menyalahkan Embun di setiap malam, di setiap hari. Membencinya, mengancamnya, mengurungnya dan memanggilnya wanita jahat tanpa tahu betapa menderitanya Embun dalam traumanya yang mendalam. Apa bedanya aku dan Juan? sama-sama seperti binatang.


Aku yang merasa paling menderita karena semua hal yang terjadi menunjukan betapa bodohnya aku. Membayangkan betapa menderitanya Embun saat itu membuat dadaku sesak. Bagaimana bisa dia mencoba tersenyum setiap aku bersamanya? pura-pura tertawa bahagia?. Bagaimana bisa aku membiarkan wanitaku diperlakukan buruk oleh pria yang mengatakan mencintainya? Pria yang dulu paling dia sukai. Dunia ini gila, benar-benar gila. Kenapa harus Embunku Tuhan?. Air mataku jatuh.


" Nandes, jika kamu masuk ke kamar mandi Embun. Kamu akan menemukan 3 jenis sabun yang berbeda. Kamu tahu kenapa? Karena Embun merasa sangat kotor. Bentuk traumanya yang masih tersisa saat ini" , Elsa mengatakannya dengan suara bergetar. Setiap kata yang Elsa keluarkan tergiang-ngiang di kepalaku. Bunyi klakson mobil lain mengembalikan konsentrasiku. Aku menginjak gas dalam dan melaju menuju apartemen. 


***


Aku berdiri didepan pintu apartemen cukup lama. Saat membuka pintu apartemen aku melihat sepasang sepatu wanita, Embun ada di sini. Dengan langkah kaki yang berat aku masuk ke dalam ruang tamu. Melihat berkeliling mencari sosok wanita yang ku cintai itu dan menemukannya sedang berbaring di atas sofa. 


Aku mendekatinya dan  jatuh berlutut saat melihat wajahnya yang sedang tertidur pulas. Hatiku hancur berkeping-keping. Wanita yang aku anggap jahat ternyata lebih menderita dariku.  Menanggung mimpi buruk yang melukai hatinya paling dalam. Aku menangis sejadinya. Saat ini aku menjadi laki-laki paling cengeng yang bahkan tidak pernah ku tunjukan kepada siapapun. 


Mendengar suara tangisku Embun terbangun. " Nandes, kamu kenapa? Apa kamu sakit?", Embun langsung memegang dahiku.


Masih dengan berlutut aku meraihnya ke dalam pelukanku dan air mataku membasahi rambutnya. " Ada apa? Kenapa kamu menangis? Ada apa Nandes?", Embun berbicara dalam pelukanku. 


" Embun… Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak mengetahui apa yang kamu tanggung selama ini. Mimpi buruk itu. Maafkan aku", suaraku berat.


Tubuhnya menegang dalam pelukanku. Embun terdiam " aku… aku… ", badannya bergetar karena aku mengali lagi masa lalu yang berusaha dia kubur. Tangannya mencengkeram erat bajuku, aku meraih wajahnya untuk menatapnya.


Wajah Embun tampak syok " aku … aku tidak pantas untukmu… lepaskan aku…", Embun berkata lirih. 

__ADS_1


Aku menatap wajahnya sedih " Dengar Embun. Kamu adalah yang terbaik untukku. Aku mencintaimu apapun yang terjadi. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Maafkan aku yang tidak tahu apa-apa. Maafkan aku yang egois. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu saat itu.  Kamu adalah segalanya bagiku Embun. Walaupun dunia ini runtuh, walaupun aku terlahir kembali aku akan tetap mencintaimu", aku berkata tulus dengan menatap tepat ke manik matanya. 


Tangis Embun pecah, dia memelukku dengan kuat. Seolah-olah dia menumpahkan semua kesendiriannya selama ini, dia menangis sejadinya. Aku memeluknya erat, mendnegar semua jerit tangisnya yang menyayat hatiku. Tidak ada kata yang terucap darinya, tetapi aku bisa merasakan kepedihan hatinya. Embun terus menangis sampai dia lelah dan tertidur di pelukanku. Aku menggendongnya dan meletakkannya di kasur, membawanya dalam pelukanku, memeluknya erat seolah ingin membayar semua kebodohanku selama ini.


Aku mencium keningnya, kelopak matanya dan membersihkan bekas air matanya dengan jariku.


" Aku mencintaimu Embun", aku berkata lirih.


***


Aku terbangun di pagi hari dan menemukan Embun masih berbaring di pelukanku. Mataku melihat berkeliling ruang tidur ini, apartemen ini masih sama seperti dulu, hanya saja tampak terlihat luas karena perabotan berkurang. 


Aku mencium kening Embun, dia bergerak pelan. Matanya tampak sedikit bengkak karena menangis sepanjang malam. Embun menggeliat dan mengerjapkan matanya lalu melihatku. Dia tersenyum, senyum yang selalu ku nantikan disetiap pagiku. Senyum yang membuatku paham betapa aku mencintainya. Aku menatapnya seperti tidak ingin melewatkan setiap pergerakannya.


" Kamu tidak ke kantor?", Embun bertanya dengan suara serak. 


" Kamu terdengar seperti CEO yang malas", Embun menyipitkan mata ke arahku. 


Aku tersenyum, aku menggenggam tangannya dan meletakan di pipiku " perusahaan ini milikku, jadi aku bisa melakukan apapun". aku bisa merasakan kehangatan tangannya di wajahku. 


Aku menatapnya dalam " Embun, bisakah kita mulai dari awal? Hubungan kita?", aku terdiam sejenak lalu melanjutkan " aku tidak akan menuntut hal lain selain cintamu kepadaku. Aku akan menunggu", aku mencium punggung tangannya. 


Embun tersenyum " terima kasih Nandes. Bisakah kita memulai dari awal seperti sepasang kekasih pada umumnya?".


" Ya. Apapun yang kamu mau", Aku menatapnya penuh rasa sayang. Menenggelamkan wajahku di wangi rambutnya.


Embun tersenyum " banyak hal yang ingin kulakukan bersamamu", Embun memelukku. 

__ADS_1


" Apapun sayang", aku mengiyakan. 


" Karena hari ini kamu cuti. Aku ingin kita jalan-jalan. Sambil berpegangan tangan", Embun mendongak menatapku. 


" Boleh", darahku berdesir menahan diri untuk tidak mengecup bibirnya. 


" Jadi kemana hari ini kamu akan membawaku?", Embun bertanya.


" Rahasia", aku memeluknya.


" Tapi sebelum kita melaksanakan misi rahasia ini. Bisakah kita sarapan?", Embun berpindah posisi menjadi duduk.


Aku menariknya untuk berbaring lagi di pelukanku. " Ah, aku sudah kenyang menatapmu", aku mencoba untuk mengombal.


Sedikit cubitan di perutku dari Embun. " Lepaskan aku. Kamu tahu kan kalau aku tidak makan pagi aku bisa stres. Makan pagi itu penting untuk kesehatan kita karena kita harus melakukan aktifitas sepanjang hari", Embun mulai berkoar-koar.


Aku menutup wajahku dengan bantal " wah, mulai lagi edukasi ini".


" iss... ", Embun memukul lenganku kesal karena menolak mendengarkan pidatonya.


Aku tertawa karena berhasil menggodanya " Ya sudah ayo kita pesan makan di luar. Di sini tidak perabotan dapur", aku beranjak turun dari tempat tidur.


Embun tidak bergerak, tetap diam duduk di tengah tempat tidur.


"Apalagi?", aku bertanya sabar.


Embun merentangkan tangannya, aku tersenyum dan meraihnya dalam gendonganku. Ada sedikit kelegaan di hatiku. Kami tidak membahas apapun lagi, karena aku tahu Embun sedang memulihkan dirinya. Aku ingin memulai lembaran baru dengannya, menunjukan betapa aku mencintainya dan akan menjaganya dengan sepenuh hati di sepanjang hidupku.

__ADS_1


***


__ADS_2