Merpati Kertas

Merpati Kertas
BALAS DENDAM


__ADS_3

" Doni kapan renovasi rumah selesai?", aku bertanya pada Doni saat di lift.


" 2 hari lagi tuan", jawab Doni.


" Baiklah. Segera urus kepindahanku dalam 2 hari, aku akan membawa istriku berbulan madu ke luar negri dalam waktu dekat", perintahku.


" Baik tuan. Tuan, sepertinya nyonya besar datang ke toko bunga untuk menemui nyonya Jeni", lapor Doni.


Aku menarik nafas penuh sabar. " Ada apa lagi?",tanyaku paa Doni.


" Sepertinya nyonya besar hanya datang mengunjungi tuan. Karena tidak ada perdebatan seperti biasanya", lanjut Doni.


Aku terdiam sesaat, memikirkan segala kemungkinan yang di inginkan ibuku. Apakah ibu ingin aku berpisah dari Jeni lagi?


" Segera laporkan padaku jika ibu datang menemui Jeni lagi", perintahku.


" Baik tuan", jawab Doni patuh.


***


Setibanya di kamar hotel aku melangkah masuk. Aku melihat Jeni masih cuek padaku, aku pura-pura tidak peduli dan langsung membersihkan diriku.


Malam ini pasti dia masih akan menghukum ku lagi. Aku menunggu dan saat itu tiba. Jeni datang ke hadapanku dengan baju tidurnya yang sangat menggemaskan.


Aku berpura-pura tidak melihatnya, sibuk dengan laptopku. Dia mondar mandir di hadapanku sampai akhirnya dia datang dan menaruh kakinya di pahaku.


Aku menatapnya. "Ada apa?", tanyaku datar padahal hati dan tanganku ingin menariknya ke arahku.


" Kamu tidak peduli padaku Juan?", tanya Jeni penasaran.


Aku menahan senyum dan menurunkan kakinya dari pahaku. " aku peduli padamu", jawabku singkat lalu melanjutkan pekerjaanku.


Dengan tidak sabar Jeni menutup laptopku. Aku langsung berdiri dan menariknya dalam pelukanku.


"Kamu yang memulainya sayang", kataku dengan senyuman nakal.


" Ya BEBIH", jawab Jeni seperti yang sudah-sudah. " Tapi aku ngantuk, aku mau tidur saja", Jeni melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mengantarmu ke tempat tidur", aku mengangkatnya dalam gendonganku.


" Sayang lepaskan turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri", Jeni memohon tau bahwa dia sudah kalah.


Aku menurunkannya di dekat pintu. " Jadi mau sampai kapan kami cemburu sayang", aku mengelus kepalanya.


" Aku cemburu? Kapan?", tanya Jeni pura-pura.


" Kamu cemburu pada Anna kan?", tebak ku tepat ke sasaran.


Jeni gelagapan lalu mengakuinya. " Ya, dia manja sekali ke kamu. Kalian pernah pacaran ya?", Tanya Jeni padaku.


" Tidak. Aku tidak akan memacarinya. Walau di dunia ini hanya tersisa Anna, aku tidak akan pernah menjadi pacarnya", kataku tegas.


" Bohong. Anna itu cantik, s*xi, wanita karir.. Emm suaranya manja juga. Juaaan Bebih...", Jeni menirukan gaya Anna sambil berjalan balik ke arah dapur.


Aku tertawa lalu mengikuti Jeni. "Kamu cemburu banget sama dia? Ya dia cantik sih. Dia juga pintar. Dan wow.. Dia memang s*xi", pujiku semakin membuat Jeni panas.


Jeni menutup pintu kulkas kuat karena marah. " Ya sudah sana tinggal sama Anna", Jeni melengos.


Aku tertawa dan meraih Jeni dalam pelukanku. " Hei dengarkan aku. Bagiku kamulah yang tercantik, kamu yang ters*xi apalagi dengan si merahmu kemarin", kataku membelai rambutnya penuh sayang.


" Ya. Kenapa aku harus berbohong dan lagi aku hanya mencintaimu. Jadi kenapa kamu harus cemburu padanya", kataku menenangkan.


Jeni berpikir sejenak. Aku mencium bibirnya lembut ingin memulai tapi ternyata tidak semudah itu.


"Tapi aku khawatir setiap kamu bersamanya. Apa kamu tidak tergoda?", tanya Jeni lagi cemas. " Dia terus bersikap manja padamu".


"Hahaha tenang saja sayang aku tidak akan tergoda pada wanita manapun. Dan aku akan memberitahumu sebuah rahasia. Mau dengar?", tawarku.


"Apa itu?", tanya Jeni penasaran.


Aku berbisik pelan. " Rahasia ini hanya aku dan Max yang tahu. Tapi kalau suatu saat kamu bertemu dengannya, jangan pernah menatapnya. Janji?".


" Ya aku janji", Jeni menautkan kelingkingnya pada kelingkingku.


"Anna itu... Emm.. Transgender", kataku tegas.

__ADS_1


Jeni terkejut, matanya sampai tidak berkedip. " kamu sedang bohong ya? Dia cantik sekali aku sampai insecure", kata Jeni tidak percaya.


" Aku sangat yakin. Dia adalah temanku saat SMA, namanya dulu adalah Junet. Dan sekarang dia adalah Anna. Jadi buang semua kecemasan yang tidak perlu itu", kataku tersenyum.


Wajah Jeni merona merah "Aku cemburu padanya", Jeni menutup wajahnya dengan tangan.


Aku tertawa puas. " Tidak apa-apa, tidak usah malu. Dulu Max malah jatuh cinta padanya. Makanya sekarang mereka tidak pernah akur jika bertemu. Max merasa di bohongi dan Anna merasa ketiban sial di sukai Max", terangku membuat Jeni tertawa terpingkal-pingkal.


Aku meraih pinggang Jeni dan menariknya mendekat " Jadi sampai di mana tadi istriku?", tanyaku membuatnya tertawa geli.


" Istriku kau harus membayar kerugian ku selama dua hari ini. Aku sangat menderita. Menderita sekali", aku mencium tulang selangkanya. Aroma tubuhnya membuatku mabuk.


" Suamiku, maafkan aku. Aku hanya terbakar api cemburu buta", Jeni berkata sambil tertawa kecil.


" Ya aku tahu. Kamu membuatku berpikir keras selama dua hari untuk mencari apa kesalahanku padamu", aku membuka kimono satin miliknya dan menjatuhkannya di lantai. meninggalkan baju tidur berbahan transparan yang melekat padanya.


" Kamu ingin membalas dendam?", Jeni bertanya sambil melihatku terkejut.


" Tentu saja. suamimu ini adalah seorang pendendam", kataku mulai menjelajahi leher, bahu dan selangkanya.


Aku mengangkatnya dalam gendonganku dan membawanya ke kamar kami. Jeni tertawa memeluk leherku.


" Ya aku bersalah. Hukum saja aku", katanya pasrah.


" Kita mulai dengan ini", aku menciumnya penuh sayang lalu menggelitik perutnya.


Jeni tertawa merasa geli "Oke.. Maafkan aku sayang.. Cukup.. Maafkan aku", teriaknya.


Aku berhenti menggelitik pinggangnya dan menatap Jeni yang mengusap air matanya karena tertawa.


" Jeni, apapun yang terjadi aku saat ini hanya mencintaimu. Aku ingin menghabiskan seumur hidupku bersamamu. Kejadian seminggu ini mengajarkan ku bahwa kau begitu berarti untukku, terima kasih karena sudah menyelamatkanku dari rasa penyesalanku di masa lalu", aku berkata dengan tulus.


Jeni tersenyum lalu mengecup bibirku penuh sayang. " aku mencintaimu. Apapun yang terjadi aku percaya padamu, aku percaya kamu mencintaiku dengan hatimu", Jawab Jeni penuh sayang.


Aku tersenyum dan membenamkan wajahku di lehernya. Jeni mengelus lembut kepalaku. Beberapa saat kemudian tanganku mulai menjelajahi tubuhnya. Pahanya dan naik sampai ke kedua miliknya.


Kami saling berciuman dalam rasa cinta yang dalam. Aku mencintainya dan tidak akan membiarkannya pergi meninggalkanku. Kami larut dalam rasa kami lalu dia tertidur dalam pelukanku.

__ADS_1


***


__ADS_2