
Aku keluar dari kamar mandi menggunakan kimono yang sudah disiapkan. Di kamar aku menemukan dua buah gaun dari bahan satin. Satunya gaun pesta berpotongan rendah dan punggung yang terbuka dan satunya lagi gaun malam dengan potongan sama dan lebih terbuka.
Aku mendengus “ Dia pasti sudah tidak waras. Juan kira ini malam pertama pernikahan atau apa. Si babon menyebalkan itu, tukang paksa brengsek. Aku tidak akan tidur menggunakan baju sialan ini. Matipun aku tidak mau” sambil menggerutu sendiri aku mengikat mati tali kimonoku lalu naik ke atas tempat tidur. Menutupi diriku dengan selimut tebal sampai ke bawah mataku, aku harus waspada takut Juan menyerangku saat aku tertidur. Pria itu seperti serigala buas setiap melihatku dan aku seperti kelinci lemah yang tidak bisa melawan. Seharusnya dulu aku ikut latihan bela diri saja, aku menyesali hal yang sudah lalu.
Aku merindukan Nandes. Apa Nandes sedang mencariku sekarang? apa dia sedang kebingungan? bagaimana kalau Nandes tidak mau menikahiku lagi karena berpikir aku pergi bersama Juan? hatiku sedih. Elsa juga tadi pasti sangat panik mendengar teleponku. Aku bahkan tidak tahu aku dimana sekarang. Aku menarik nafas, kesal dengan keadaan yang sedang terjadi sekarang. Kebencianku pada Juan semakin menjadi.
Aku melawan Juan dengan tidak menuruti apa yang Juan inginkan yaitu makan malam bersamanya, aku lebih memilih untuk tidur. Aku lelah sekali. lelah karena kebingungan, lelah karena menangis dan tanganku mulai sakit, rasanya pegal dan berkedut-kedut. Tapi aku tidak akan minum obat penghilang nyeri karena itu akan membuatku mengantuk dan tertidur, aku tidak akan bisa melindungi diriku nantinya. Tapi ternyata tanpa obat pun aku terlelap dengan selimut yang kupegang erat menutupi badanku.
Aku terbangun karena suara bisik-bisik tapi cukup keras, aku terlalu peka untuk bunyi-bunyi yang seperti ini.
“ Maaf Tuan, saat kami datang nona sudah tidur dengan melilitkan badannya pada selimut”.
Juan menarik nafas, lalu tanpa bicara dia menyuruh para pelayan itu keluar. Aku tetap memejamkan mataku pura-pura tidur.
“ Cantik, mau sampai kapan kamu pura-pura tidur?”, Juan berkata lembut.
Aku tetap diam. Tidak bergerak sama sekali malah aku mengeluarkan suara seperti ngorok untuk meyakinkan Juan dan tentu saja Juan tertawa kecil. Dia lalu duduk di pinggir tempat tidur dan diam di sana memperhatikanku. Karena merasa tidak nyaman aku membalikkan badanku dengan susah payah karena selimut yang tebal melilit badanku, posisiku sekarang memunggungi Juan. Jujur saja sebenarnya sekarang aku sangat kepanasan. Seandainya aku tidak takut pada Juan aku ingin keluar dari selimut ini.
Juan berjalan keluar sebentar lalu duduk di tempat semula. Aku mendengar suara gitar dipetik. Juan menyanyikan lagu yang telah kulupakan bertahun-tahun lamanya. Disetiap petikan senarnya, Juan seperti ingin menyatakan perasaannya saat ini padaku.
The best thing about tonight's that we're not fighting
It couldn't be that we have been this way before
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core
But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
__ADS_1
Or I won't live to see another day
I swear its true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find
This is not what I intended
I always swore to you I'd never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed But I have loved you from the start
Oh, but hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
It's impossible to find
Setelah Juan menyanyikan lagu itu suasana sunyi, Juan lalu menarik selimut yang aku pakai dalam sekali hentakan aku terguling keluar dari selimut yang melilit tubuhku itu. Dengan cepat Juan naik keatas tempat tidur dan memelukku, Aku meronta-ronta memukul dadanya. Sial bisa-bisanya aku lengah karena sebuah lagu.
“ Embun tenang, aku hanya ingin memelukmu”, Juan menangkap tanganku yang aktif memukulnya kakiku dijepit menggunakan kakinya. Dia melihat ke arahku berusaha menenangkanku.
“ Aku sudah bertunangan Juan. Ini tidak benar”, aku melemparkan fakta yang ku tahu membuatnya terluka.
__ADS_1
“ Kamu baru bertunangan Embun, bukan menikah dengannya. Kamu masih bisa aku nikahi”, Juan tersenyum jahil.
Aku kesal dan menarik tanganku berusaha menyerangnya. Juan menarik nafas tidak sabar dia menarik tanganku dan mencium bibirku dengan paksa.
“ Hmmm…”, aku menggigit bibirnya kuat.
“Arrkh…”, Juan melepaskan ciumannya kesakitan. Dengan cepat dia merubah posisinya menjadi diatasku. Kakinya mengunci kedua kakiku dan tanganku dicengkram ke atas kepalaku. “ Kalau kamu seperti ini terus aku benar-benar akan menghamilimu”, Juan mengancam.
Mendengar itu aku langsung diam menjadi tenang dan patuh. Tapi aku menatap Juan tajam, menyalurkan semua kebencian lewat sorot mataku. “ Lepasin aku. Aku mau pulang”, aku berkata lelah.
“ Tidak bisakah kamu bersamaku disini ? apapun yang kamu mau akan kuberikan. Cinta, kebahagiaan, hidupku. Semua akan kuberikan Embun”, Juan berkata lirih.
Aku menatap ke sebelah kiriku menolak menatapnya. Juan menghela nafas lalu mengambil posisi tidur sambil memelukku dari belakang. Aku diam saja. Takut jika aku bergerak malah memprovokasinya melakukan hal berbahaya untukku. Juan menaruh dagunya di kepalaku, satu tangannya masih menggenggam tanganku di perutku.
“Kamu tidak lapar?”, Juan bertanya.
Aku menggeleng patuh menjawab pertanyaannya.
“ Kalau kamu merasa lapar tengah malam, bangunkan saja aku. Sekarang tidurlah”, Juan melanjutkan.
“ Kamu tidak kembali ke kamarmu?”, aku bertanya dengan penuh harap.
“ Ini kamarku”, jawabnya singkat.
Sial harusnya aku sadar dari awal. “ Apa kita harus tidur begini?”, aku bertanya lagi.
“Hmm…”, Juan mengantuk.
“ Tapi aku tidak nyaman?”,jawabku.
“ Karena kamu memakai jubah mandi. Seharusnya kamu pakai baju yang aku belikan untukmu”,juan membenamkan wajahnya di rambutku.
“ Tidak.. aku tidak mau. Aku tidak akan memakainya”, aku keras kepala.
Juan tertawa kecil “ Kamu memang keras kepala”.
__ADS_1
Lalu suasana menjadi hening. Juan sepertinya tertidur, secepat itu tapi pelukannya padaku masih sangat erat. Ada rasa sedih terselip di hatiku, aku seperti berkhianat pada Nandes. Mungkin saat dia dia bingung mencariku dan aku malah tidur di pelukan pria lain. Aku seperti tidak pantas menjadi tunangannya.
***