
Saat pertama kali melihatnya aku jatuh cinta. Cinta pertamaku di masa remaja. Senyumnya yang manis, matanya yang berbinar membuat hatiku bergetar.
Aku mengulurkan tangan padanya "Nama saya Nandes".
Dia menyambut uluran tanganku "Embun".
Aku tersenyum mendengar namanya.
Embun, gadis yang membuatku merasakan dunia ini berputar dengan pusatnya berada di gengaman tangannya. Membuatku jatuh cinta berkali-kali, Merasakan lembut suaranya, membelai indah rambut hitamnya yang panjang, mendengar rekaman tawa bahagianya di kepalaku setiap hari dan menjatuhkanku dalam patah hati terdalam.
Aku jatuh dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongku. Aku kalah. Aku mencintainya dengan hidupku dan aku membencinya dengan pikiranku. Membawa pergi hatiku. Aku mati rasa, tidak ada yang bisa mengetuk pintu hatiku lagi.
Aku hancur.
***
Satu setengah tahun yang lalu . .
Aku duduk di meja bar dengan segelas alkohol di tanganku, sebelah tanganku yang lain memijat pelan keningku. Alex sahabatku sekaligus teman kantor duduk di sebelahku sedang tertawa terbahak-bahak. Tentu saja dia menertawakanku.
“ Jadi kamu melarikan diri setelah menciumnya?”, Alex berbicara di tengah tawanya.
“ Ah.. sial”, aku menyembunyikan wajahku di antara kedua tangan. Merasakan kata-kata Alex menghantam harga diriku sebagai laki-laki tulen.
Alex menarik nafas menenangkan dirinya “Bro tapi lebih baik begitu daripada kamu menyerangnya kan ?!”,Alex menepuk pundakku sok bijak. Lalu Alex melanjutkan “ Soalnya kamu seperti singa yang tidak diberi makan bertahun-tahun”, Alex tertawa lagi mengolok-olok aku.
__ADS_1
“ Ck.. diam kau”, aku membentaknya kesal dan membuat tawanya semakin keras.
Aku telah melakukan tindak pidana beberapa jam yang lalu dan mungkin akan membuat Embun memandangku sebagai pria mesum sepanjang masa. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun menahan diri dengan melihat Embun berkeliaran di depan mataku, membiarkan Embun memelukku seenaknya, keluar masuk apartemenku semaunya, aku bisa goyah karena satu aksi tidak terduga yang sangat menggoda imanku.
Jantungku nyaris berhenti saat melihat punggungnya yang mulus dan caranya mendekatiku. selama bertahun-tahun dia tidak pernah memakai baju seperti itu. Tiba-tiba malam itu Embun datang seperti malaikat yang sedang menguji keimananku, saat itu aku masih bisa menahan diriku untuk tidak berubah menjadi predator ganas yang menyerangnya. Dia tidak tahu seberapa berbahaya aksinya itu di dalam rumah laki-laki bujang yang telah menyukainya selama bertahun-tahun.
Sampai saat Adam mengatakan Juan kembali dan sedang mencari Embun. Keimananku goyah, aku bukan nyaris menyerang Embun. Tapi aku menyerangnya secara sadar, alkohol hanya sebuah kambing hitam yang aku gunakan untuk berubah menjadi predator. Saat Embun membuka peluang aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Berdasarkan rasa cinta yang kupendam selama bertahun-tahun dan rasa takut kehilangannya aku menciumnya untuk pertama kali.
Aku bisa merasakan manis bibirnya di dalam mulutku, wangi greentea dari bahunya yang kuhirup dalam-dalam saat bersamanya tadi. Duniaku berputar padanya, aku mabuk bukan karena alkohol tapi karena aroma tubuhnya. Jika aku tidak pergi meninggalkannya, aku pasti akan menyerangnya lagi. Haah.. dan sekarang aku menjadi pengecut yang melarikan diri darinya.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”, Alex bertanya tapi matanya menatap seorang wanita di ujung meja bar kami.
“ aku tidak tahu. Akan aku pikirkan nanti”, aku menegak minumanku tanpa perasaan. “ Pergi saja jika kamu menginginkan wanita itu”, aku melihat Alex yang mulai gelisah.
Pukul 3 pagi aku kembali ke apartemen, aku berdiri di depan pintu kamar Embun cukup lama. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika Embun bertemu Juan. Apakah Embun akan meninggalkanku dan kembali bersama Juan? sebelum aku jatuh semakin dalam karena rasa cintaku padanya, aku harus bersiap. Mempersiapkan hatiku untuk merelakannya. Tapi sanggupkah aku? aku tidak tahu. Aku menghela nafas dan masuk kedalam kamarku, tidur dengan alkohol yang memutari isi kepalaku.
***
Aku menunggunya dalam gelapnya ruang tamuku. Dengan 3 botol alkohol yang sudah kuhabiskan. Embun pergi. Pergi menemui cinta pertamanya, aku menyesap minumanku dengan hatiku yang seperti tertusuk. Menghirup asap rokok ku sedalam mungkin dan menghembuskannya kuat, berharap asap itu membawa semua kekalutan hatiku pergi. Embun menelponku dia mengatakan akan bertemu Juan dan memastikan perasaannya.
Aku akan menunggunya, aku menegak habis isi gelasku. Pukul 11 malam, saat bel pintu apartemenku berbunyi. Jantungku berdebar tidak karuan. Aku mematikan rokok dan berjalan ke arah pintu. Aku melihat di layar intercom pintu, Embun berdiri di luar pintu mengatur nafasnya sepertinya dia berlari kesini.
Aku tersenyum, ada desiran kebahagiaan di hatiku. Bel berbunyi sekali lagi. Aku membuka pintu dan menemukan dia berdiri disana, menatapku.
“ Ya, aku kembali untuk perasaanku padamu”, Embun berbicara dan terlihat pipinya bersemu merah.
__ADS_1
Aku canggung tidak tahu apa yang harus kulakukan. Alkohol tidak membantu sama sekali.
“ Apa kamu akan membiarkanku berdiri di luar pintu sampai besok pagi?”, Embun bertanya canggung.
Aku menatapnya “ Jika kamu masuk aku tidak akan membiarkanmu keluar dengan mudah dan aku tidak bisa menjamin apakah aku bisa menahan diriku atau tidak”.
Dan tanpa kuduga, Embun masuk melewati batas pintu itu dan membuat hatiku melompat keluar dari tempatnya.
“ Aku tidak berniat untuk keluar dari apartemenmu dan kamu tidak perlu menahan diri”, Embun berkata pelan.
Kata-kata yang sangat berbahaya bagi laki-laki sepertiku. Naluriku sebagai lelaki meledak. Aku menariknya dalam pelukanku. Merasakan hangat mulutnya dalam mulutku dan tidak ada penolakan sama sekali. Kami berciuman dalam rasa yang bergelora, aku bisa merasakan aromanya dalam ingatanku. Aku mabuk, mabuk akan pesonanya.
Suara desahannya di bawahku, membuatku larut dalam gairahku. Gairah yang kupendam selama bertahun-tahun hanya untuknya. Menunggunya siap menerimaku, menunggunya mencintaiku. Saat Embun berbisik “ aku menyukaimu sangat menyukaimu Nandes”. aku merasa semesta berpihak kepadaku, aku mendekap tubuh polosnya, mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat seperti milikku.
Saat aku memasukinya aku tahu, aku merobek sesuatu yang berdarah di dalamnya. Menjadikan bukti bahwa aku orang pertama yang bersamanya, bagaimana dia benar-benar mencintaiku dan menyerahkan dirinya kepadaku.
“ Sakit… “, bisik Embun.
“ Peluk aku, aku akan melakukannya dengan lembut”,aku mencium keningnya.
Aku meraih Embun dalam pelukanku saat aku mencapai puncaknya, aku bisa mendengar suaranya yang terlena dalam sentuhanku. Aku membenamkan kepalaku dalam wangi rambutnya melepas semua kenikmatan cintaku kepadanya.
Aku menutupinya dengan selimut, mencium punggungnya. Memperhatikannya dengan seksama. Merasa bahagia menemukan bagaimana Embun juga mencintaiku. Aku tidak akan pernah menyesal menunggunya selama ini. Cintaku kepadanya semakin dalam setelah malam ini dan jika seribu tahun berlalu aku akan tetap mencintainya seperti saat ini.
***
__ADS_1