Merpati Kertas

Merpati Kertas
TRAUMA JENI


__ADS_3

Minggu berikutnya kami menghabiskan waktu kencan kami bersama dengan pergi ke tempat yang diinginkan oleh Jeni. Aku tidak pernah mencoba untuk melakukan hal yang seperti saat piknik kepadanya. Kami hanya berpegangan tangan, mencium kening dan berpelukan. Aku berusaha menahan diriku sebisa mungkin, seandainya boleh aku ingin membakar kontrak yang kami tanda tangani saat itu. 


Suatu hari saat aku dan Jeni tengah berada di sebuah restoran, kami bertemu dengan orang tua angkatnya. Tanpa malu-malu mereka datang menghampiri kami dan bisa ku lihat bagaimana wajah Jeni menjadi datar dan dingin. 


“ Wah Jeni sayang bagaimana bisa kita bertemu di sini?”, Nyonya Hartanto menegur. 


“ Tante”, Jeni yang kaget melihat tantenya langsung berdiri dari kursi. 


Aku sangat yakin 100% ini bukan sebuah kebetulan, mereka pasti berusaha mengatur pertemuan tidak sengaja ini karena aku menolak undangan makan malam bersama mereka. Aku hanya  bisa tersenyum ramah ke arah pasangan ini. 


“ Kamu semakin cantik ya dan apakah ini adalah suamimu?”, Nyonya Hartanto pura-pura tidak tahu. 


“ Ya.. Dia suamiku. Juan sepertinya kita harus pulang, kamu ada janji dengan klien kan?”, Jeni melihatku harap-harap cemas. 


Aku tersenyum “ Apakah kita harus balik sekarang?”, aku balik bertanya. Jeni menangguk cepat. 


“ Kenapa buru-buru. Kamu belum memperkenalkan suamimu kepada kami, kami adalah keluargamu”, Nyonya Hartanto berbicara lembut sambil melihat Jeni sedikit kesal. 


“ Keluarga? Keluargaku hanya satu, kakek Darmawan”, sahut Jeni berani. 


Pasangan itu terdiam lalu tersenyum canggung. “ Kamu masih marah karena ibu membiarkan kamu keluar dari rumah? Maafkan ibu saat itu ibu sangat marah sekali padamu karena tidak menurut “, Nyonya Hartanto memeluk Jeni lembut. 


“ Boleh kan kami bergabung dengan kalian? “, Tuan Hartanto berbicara kali ini.


Belum sempat aku menjawab, Jeni sudah lebih dulu menyambar. “ Tidak, kami sedang buru-buru om. Suamiku ada janji, maafkan kami karena tidak sopan. Lain kali jika ada kesempatan aku akan mengundang kalian makan malam”, Jeni berbicara cepat sambil tersenyum. Aku melihat perubahan di wajah nyonya Hartanto. 


Aku berdiri dan tersenyum ke arah mereka ramah. “ Maaf, kami pamit lebih dulu”, aku menggenggam tangan Jeni. 


Saat akan pergi Nyonya Hartanto berbicara dalam suara yang dingin “Jeni kamu tidak berubah, masih keras kepala dan tidak menurut seperti ibumu”.


Jeni terdiam dia memegang erat lenganku lalu berbalik dan tersenyum ke arah nyonya Hartanto. 

__ADS_1


“ Aku banyak berubah tante. Saat ini hatiku sekuat baja, keras kepalaku yang seperti batu sudah mencair karena suamiku dan aku sekarang adalah istri yang penurut hanya kepada suamiku tidak kepada orang lain”, Jeni menjawab dingin.


Setelah itu kami berlalu pergi meninggalkan restoran itu. Sampai di dalam mobil Jeni lebih banyak diam, wajahnya pucat dan aku tidak bertanya. Ketika di tengah jalan Jeni minta agar mobil di hentikan di pinggir jalan. 


Dia keluar dari mobil dengan terburu-buru, aku ikut keluar karena cemas padanya.  Jeni mengalami muntah hebat di pinggir jalan sepi itu. Dia muntah sambil menangis,  terlihat seperti orang yang mengalami gangguan kecemasan hebat. Aku mendekatinya tetapi dia mengangkat tangannya menyuruhku mundur. 


“ Jangan kesini dan jangan melihat. Ini buruk Juan, sepertinya aku masuk angin karena terlambat makan. Pergilah, tinggalkan aku sendiri”, Seruny padaku. 


Aku berdiri terpaku, hatiku nyeri melihatnya terisak-isak seperti itu sambil sesekali mengeluarkan isi perutnya. Pada akhirnya aku hanya berdiri menunggunya dan memperhatikan. Cukup lama aku berdiri di sana dan Jeni terus berjongkok sampai suara tangisnya hilang. Ketika mulai tenang dia berdiri dan menghapus air matanya. 


Dia berbalik dan menatapku. “ Maafkan aku Juan, sepertinya aku masuk angin. Ini menjijikan, sana masuk ke dalam mobil. Mulutku baunya tidak enak, aku takut kamu tidak nyaman. AKu tidak akan banyak bicara di dalam mobil ”, katanya sambil tersenyum. 


Aku menatapnya dalam diam, bagaimana bisa dia masih berusaha tersenyum. Tidak bersandar padaku, menangis dalam pelukanku tetapi malah berdiri tegak dengan kedua kakinya dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Seandainya saat ini dia minta aku menghancurkan keluarga itu maka akan ku lakukan. 


Pada akhirnya aku hanya menghela nafas dan mengangguk. Kami masuk ke dalam mobil dan terus terdiam sampai tiba kamar hotel kami. Tidak ada percakapan di antara kami sampai saat kami naik ke atas tempat tidur masing-masing dan aku hanya memperhatikan pergerakannya. 


Menjelang tengah malam aku seperti mendengar suara Jeni yang turun dari tempat tidur. Aku membuka mataku dan menemukan Jeni berjalan keluar dari kamar. Dengan setengah mengantuk aku turun dari tempat tidur dan mengikutinya. Jeni berjalan lunglai ke arah kulkas, dia membuka pintu kulkas dengan susah payah. Lampu dapur yang redup membuat penglihatanku yang masih setengah ngantuk tampak kabur. Aku menyalakan lampu, Jeni tampak kaget dan berbalik ke arahku. 


“ Juan, kamu kenapa ikut bangun”, katanya dengan suara parau.


“ Kamu demam? Kenapa tidak membangunkanku?”, tanyaku cemas.


“ Tidak Juan ini hanya sebentar, Nanti juga sembuh”, katanya sambil memegang botol  air mineral yang dingin. 


“ Lepaskan botol itu. Ayo kembali ke tempat tidur, aku akan merawatmu. Bila perlu aku akan panggilkan dokter”, Aku berkata tegas. 


Jeni tersenyum dengan bibir pucatnya “ Tidak perlu Juan. Aku baik-baik saja”, katanya. 


Aku menarik tangannya dan dia mengikutiku tapi tiba-tiba berhenti berjalan membuatku ikut berhenti. Aku berbalik ke arahnya. 


“ Juan…”, dia berbicara lirih lalu detik berikutnya dia jatuh dan dengan cepat aku menangkapnya. Jeni pingsan, aku menggendongnya dan membawanya ke kamar. Meletakkannya di atas tempat tidurku dan dengan cepat menelpon Doni. 

__ADS_1


“ Halo tuan”, terdengar suara Doni yang setengah mengantuk di sebrang. 


“Jeni pingsan, cepat bawa dokter keluarga kemari”, kataku setengah berteriak. 


“ Baik tuan”, Doni menjawab gelagapan.


***


Jeni diberikan cairan melalui infus sepertinya vitamin. Aku menatapnya dengan sedih, apa aku kurang menjaganya selama ini.


“ Saat ini nyonya baik-baik saja tuan Juan. Kami sudah mengambil darah untuk pemeriksaan lab, hasilnya sebentar lagi keluar. Apakah nyonya memiliki keluhan belakangan ini?”, dokter Brata bertanya padaku. 


“ Sekitar pukul 10 malam tadi dia mengalami muntah-muntah hebat setelah bertemu beberapa orang kenalan lama. Apakah dia kelelahan?”, aku bertanya penasaran. 


“ Mungkin nyonya lelah, kita akan melihatnya dari hasil lab”, jawab dokter tenang. 


“ Dok, hasil lab sudah keluar”, Doni memberikan Tab berisi hasil lab kepada dokter Brata. 


Dokter membaca sejenak lalu tersenyum kearahku. “ Hasil lab nyonya baik-baik saja. Tuan apakah nyonya pernah mengalami ini sebelumnya?”, tanya dokter. 


“ Setelah menikah aku baru melihatnya seperti ini”, Jawabku jujur. 


“ Apakah ada sesuatu yang memicu nyonya mengalami muntah hebat ?”, tanya dokter. 


“ Ya, sepertinya begitu. Apakah gangguan kecemasan akan membuat seseorang seperti ini walaupun itu hanya muncul sekali? ”, tanyaku. 


Dokter mengangguk “ Ya bisa tuan. Bisa jadi karena trauma lama yang membuat seseorang menjadi syok. Ketakutan berlebihan pada sesuatu yang sudah berlalu, takut itu terulang kembali dapat membuat seseorang menjadi cemas.  Nyonya akan segera bangun. Jika malam nanti nyonya mengalami demam lagi,  anda bisa memberikan obat penurun panas yang saya resepkan. Boleh Setiap 4 jam jika  panasnya tidak turun. Jika tidak ada perubahan silahkan bawa nyonya ke Rumah Sakit”, jelas dokter. 


“ Baik dokter Brata, terima kasih”, aku tersenyum pada dokter Brata. 


“ Baik saya permisi tuan Juan”, pamitnya. 

__ADS_1


Aku mengangguk, setelah itu aku berpaling ke arah Jeni dan memperhatikannya yang tertidur tenang dengan infus di tangannya. 


***


__ADS_2