
Kami menikah dengan perayaan yang sederhana dan jauh dari pemberitaan publik sesuai permintaan Embun. Apapun yang Embun inginkan aku berikan. Tidak banyak tamu yang di undang hanya keluarga dan kerabat dekat yang hadir.
Saat aku melihatnya berjalan ke arahku menggunakan gaun pengantin yang kami pilih bersama, aku merasa hidupku sempurna karena dia memilihku untuk menemaninya sampai akhir hidupnya.
Disinilah aku berdiri bersama wanitaku, memasang cincin di jari manisnya, mengucapkan janji setia di hadapannya dan Tuhan. Melihatnya tersenyum bahagia karena bersamaku, membuat aku berjanji pada diriku sendiri akan mencintai dan menjaganya seumur hidupku.
Sejenak terlintas di benakku kejadian bertahun-tahun lalu saat kami masih remaja ketika pertama kali aku melihatnya. Saat pertama bertemu matanya yang berbinar menarikku ke arahnya seperti magnet dan besi. Aku pasti akan sangat menyesal jika dulu aku tidak mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. Alam semesta memihak kepadaku.
" Nama saya Nandes", aku mengulurkan tanganku padanya.
" Embun", dia menyambut uluran tanganku.
***
3 bulan setelah pernikahan kami…
Embun terbangun dari tidurnya di pelukanku, dengan cepat berlari ke arah kamar mandi. Aku kaget dan ikut terbangun, mataku berkunang karena bangun tiba-tiba. Terdengar suara Embun dari arah kamar mandi.
Hoeek…. Hoekk
Aku berjalan ke arah kamar mandi dan berniat untuk ikut masuk ke dalam.
" Jangan masuk ", Embun menjerit kecil.
" Kenapa?", setengah pintu sudah terbuka.
" Aku muntah dan ini jorok. Please jangan masuk",Embun merengek.
" Oke baik. Aku tunggu di luar", kataku sambil berdiri di luar pintu kamar mandi.
10 menit berlalu, Embun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit pucat. Aku menatapnya kasihan. Dia berjalan ke arah tempat tidur dan berbaring lagi di sana.
Embun sedang hamil, usia kehamilannya 5 minggu. Dan dia mulai mengalami muntah-muntah setiap pagi satu minggu belakangan ini. Aku sangat sedih melihatnya seperti itu.
Aku memaksa Embun ke dokter kandungan dan tentu saja dia menolak dengan alasan bahwa ini adalah hal yang biasa untuk ibu hamil. Aku yang uring-uringan.
Aku duduk di ujung ranjang dan memijat kakinya pelan. " Apa yang bisa ku bantu untuk mengurangi mual muntahmu sayang? Tidak bisakah kita ke dokter kandungan atau aku datangkan saja dokter kandungan itu ke rumah?", aku mulai meributkan soal dokter kandungan lagi.
Embun memijat keningnya pelan " Tidak apa-apa sayang. Memang seperti ini kehamilan trimester awal banyak ibu hamil mengalami hal seperti ini. Kita akan ke dokter kandungan sesuai jadwal. Kamu siap-siap saja ke kantor, ada mbok Nini yang menemaniku dan sebentar siang ibuku akan ke sini".
__ADS_1
" Tapi aku mau menemanimu lebih lama", aku keras kepala tidak ingin meninggalkan Embun sendirian.
Embun mengambil posisi duduk " Sayang boleh aku bicara jujur?", Embun serius.
" Ya. Katakan. Kamu ingin sesuatu?", aku menatapnya sambil tanganku terus memijat kakinya.
" Beberapa hari ini sebenarnya aku tidak ingin melihatmu di pagi hari. Aku mual mencium aroma tubuhmu", Embun menatapku gusar.
Aku tercengang. "Kenapa? Apakah aku bau?", Aku mengendus badanku sendiri, sepertinya badanku tidak bau. " Tapi Minggu lalu kamu baik-baik saja tiap bersamaku di pagi hari", aku melanjutkan tidak percaya dengan perkataan Embun.
Embun menghela nafas " Bayinya yang mau sayang. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu sekarang terutama bibirmu".
Deg… Aku sedih mendengar kata-kata itu. Penolakan pertama yang menyakitkan untukku.
***
Adam tertawa keras mendengar keluh kesahku hari ini. Aku bertandang ke kantornya hanya untuk menceritakan kejadian pagi ini.
" haha… haha… jadi kamu… ha ha patah hati karena Embun tidak ingin melihatmu di pagi hari?", Adam masih tertawa.
Aku menghela nafas panjang. " Tapi saat malam hari dia mencariku. Saat matahari terbit dia malah menyuruhku pergi. Aku sangat frustasi Adam", aku memijat keningku.
" Aku bisa gila kalau begini. Berapa lama ngidam ini akan selesai?", aku harap-harap cemas menunggu jawaban Adam.
" Aku lupa berapa lama. 3 bulan? 6 bulan? Ais ...aku bukan dokter kandungan. Sana konsultasi sama dokter kandungan ", Adam malah ngomel-ngomel.
" Setidaknya kau lebih berpengalaman dariku", aku sewot.
" Iya, makanya saranku. Nikmati saja prosesnya ha ha ha", Adam kembali tertawa. Menertawakanku yang merana karena ditolak istri sendiri.
***
Hpku berdering saat aku sedang duduk di mobil untuk segera pulang ke rumah. Aku harus menghabiskan banyak waktuku bersama Embun di malam hari.
"Ya Halo sayang", aku mengangkat telepon Embun.
"Sayang kamu di mana? Aku kangen banget", Embun mulai merengek.
Selama kehamilan ini Embun sedikit berubah. Lebih manja dari biasanya, mudah menangis, tersinggung dan yang paling aku tidak pahami adalah dia selalu minta dibelikan makanan di luar rumah. Selama ini Embun selalu memasak sendiri dengan alasan kesehatan dan sekarang dia menelpon pasti ingin makan sesuatu.
__ADS_1
" Iya sayang aku sedang di perjalanan pulang ke rumah. Sabar ya", aku menjawab lembut.
" Ya. Aku ingin makan permen kapas yang gede sayang", pinta Embun di seberang telpon.
"Kapas? Ha? Apa kapas?", aku tidak paham.
" Permen kapas, warnanya pink. Tolong belikan 2. Harus 2", Pintanya lagi.
" Permen kapas? Sayang apa tidak apa-apa makan permen malam-malam?", aku mulai cemas.
" Tidak apa-apa sayang. Ini permintaan baby. Aku tunggu sayang. Makasih ya. I love you", katanya cepat lalu menutup telepon.
Aku menghela nafas panjang " Rian, cari permen kapas, warnanya pink dan harus 2", aku berbicara ke arah Rian yang sedang fokus menyetir.
"Baik bos", Rian menjawab patuh dengan sunggingan senyum di wajahnya.
" Kenapa kau tertawa?", aku memijat keningku pelan.
" Maaf bos. Saya hanya ikut bahagia karena kerempongan anda", Rian tertawa kecil.
Aku menatapnya kesal " suatu saat kau juga akan merasakan hal yang sama. Semoga istrimu nanti ngidam dibuatkan candi. Baru tau rasa kau", aku menyumpahinya.
Disambut tawa dari Rian. Aku makin sewot.
" Karena kau berani menertawakanku. Kau harus terima akibatnya Rian", aku kesal.
Rian terdiam " Maafkan saya bos", penyesalan dalam suaranya.
" Terlambat. Mulai sekarang semua permintaan istriku kau yang harus mencarinya. Bahkan jika itu malam minggu ha ha ha", aku tertawa senang.
" Tapi bos…", Rian mau protes.
" Sudah bosan hidup ya", aku mengancam.
" Baik bos", Rian patuh.
Rasain kau Rian, aku tidak akan menderita sendiri. Cukup ditolak istriku saja membuatku menderita.
***
__ADS_1