Merpati Kertas

Merpati Kertas
CINTA ATAU PELARIAN?


__ADS_3

Aku merawat Jeni sepanjang subuh, suhunya mencapai 38,9 aku memberikan obat sesuai anjuran dokter Brata. Mengompresnya setelah melihat video di utub tentang cara ampuh menurunkan panas badan bila sakit di rumah. Pada akhirnya aku tertidur setelah memastikan suhunya 37,6 derajat. 


Aku terbangun karena Jeni bergerak dalam tidurnya. Aku yang linglung melihat berkeliling dan kaget karena Jeni memanggil namaku. 


“ Juan, aku haus”, katanya.


“ Ya Jeni, kamu haus? kamu ingin minum apa? Jus jeruk, air putih atau susu? teh?”, tanyaku.


Jeni tersenyum sedikit lemas. “ Air Putih hangat Juan”, katanya. 


“ Oke”, aku buru-buru ke dapur dan mengambil air putih hangat. Saat kembali Jeni sudah tertidur kembali, aku membangunkannya pelan.


“ Hei, ayo minum air putih”, aku membelai pipinya.


Jeni bangun dan aku membantunya untuk minum. Setelah itu Jeni kembali tertidur, aku menyelimutinya dengan selimut tipis seperti yang ku lihat di utub. Sepertinya Jeni mengalami stres parah karena bertemu ibu tirinya, apa yang mereka lakukan sampai dia ketakutan seperti ini. 


Aku menghela nafas panjang dan naik ke atas tempat tidur bersamanya lalu memeluknya dengan penuh sayang. 


“ Juan.. aku bau belum mandi”, Jeni berbicara pelan. 


“ Hmm… aku tau, saat ini kamu bau asam karena keringat. Tapi aku tetap akan memelukmu. Ayo kita tidur”, kataku sambil memejamkan mata. 


Aku terbangun sekitar pukul 1 siang. Saat terbangun Jeni sudah tidak ada di sebelahku, aku mencarinya berkeliling dan mendengar suara shower di kamar mandi.  Makan siang kami sudah berada di dekat tempat tidur. Doni pasti datang untuk memastikan keadaan kami tadi. 


Aku tidak turun dari tempat tidur tapi terus berbaring menunggu Jeni keluar dari kamar mandi. Untuk beberapa saat aku memejamkan mata, memastikan bahwa aku tidak akan jatuh tertidur. Jeni datang membungkuk di dekatku dan memperhatikan wajahku. 


“ Kamu jatuh cinta pada wajahku?”, aku bertanya sambil tetap memejamkan mata. 


“ Ya.. aku jatuh cinta padamu”, katanya. 


Aku membuka mata dan menemukannya sedang menatapku dengan jarak yang sangat dekat. Matanya yang berwarna amber tampak menghipnotisku, mata itu sudah tidak tampak sayu seperti tadi malam. Wajahnya terlihat lebih segar dan senyumnya sangat manis membuatku mabuk. 


“ Padaku atau wajahku saja?”, aku bertanya lagi. 


“ Padamu dan wajahmu, aku adalah wanita jujur yang realistis. Walaupun aku tidak cantik aku harus mendapatkan yang tampan. Walau aku miskin aku harus mendapatkan yang kaya ”, jawabannya  membuatku tertawa. 


Aku menariknya dan jatuh tertidur di sebelahku. Aku bertopang pada salah salah satu tanganku dan menatapnya. 

__ADS_1


“ Di waktu yang akan datang jika kau ingin menangis datanglah padaku dan menangislah dalam pelukanku. Ingat yang kukatakan menangislah dalam pelukanku supaya orang lain tidak melihat tangisanmu dan hanya aku yang bisa mendengar tangisanmu”, aku membelai pipinya. 


Jeni tersenyum menatapku, dia lalu memelukku erat. “ Terima kasih karena merawatku sepanjang malam Juan. Sebenarnya ada yang tidak kuceritakan padamu”. 


“ Ibu tiriku pernah datang menemuiku di toko bunga, saat itu aku bisa mengendalikan diriku”, Jeni mulai bercerita. 


Sejujurnya aku tahu bahwa istri Hartanto datang bertemu dengannya. Hanya saja aku tidak tahu apa yang dibicarakan pada Jeni itulah yang membuatku penasaran. 


“ dia mencarimu? untuk apa?”, aku bertanya. 


“ Dia ingin aku masuk kembali ke dalam keluarga dan membawamu ke rumah agar mengenal keluarga besar. Aku tahu dia ingin membawa namamu agar bisnis keluarga menjadi lebih baik. Dia ingin aku mengatur makan malam bersamamu”, Jeni bercerita dengan malu-malu. 


“ Maafkan aku Juan, seharusnya aku tidak membawamu ke dalam masalah keluargaku. Tante mengira aku menjual diriku padamu dan tetap tidak percaya kau telah menikahiku. Tante bilang jika aku tidak bisa membawamu ke rumah maka dia akan menjual toko bungaku. Aku menolak karena aku tahu dia tidak punya sertifikat toko itu. Ternyata kita bertemu secara tidak sengaja dengan mereka, maafkan aku Juan. Aku takut mereka melakukan hal buruk padamu”, lanjutnya. 


Aku memeluknya erat lalu mengecup puncak kepalanya. 


“ Kau tahu siapa aku?  Aku adalah naga Asia, siapa yang berani padaku?”, kataku menenangkannya. 


Jeni tertawa kecil mendengar jawabanku. “ Ya.. maafkan aku karena lupa bahwa kamu adalah naga”, katanya dengan suara biasa saja.


Aku tertawa dan tepat saat itu perutku berbunyi. Jeni langsung menatapku. 


“ Yaa… apakah kita bisa makan siang?”, aku bertanya sambil terus memeluknya. 


“ Bagaimana caranya makan siang sambil berpelukan?”, tanyanya.


AKu tertawa lalu menguraikan pelukanku. Kami makan siang di tempat tidur sambil bercerita tentang ini dan itu. 


***


Aku mengunjungi pembangunan Hotel milikku. Sambil berdiri dan bersandar di kap mobil aku menunggu seseorang datang. Beberapa saat kemudian sebuah mobil datang dan berhenti di dekatku, aku menjatuhkan rokok dan mematikannya dengan sepatuku. 


Adam turun dari mobil dan menyambut uluran tanganku. Dia tersenyum ceria.


“ Bro, apa kabar?”, aku memeluknya. 


“ Kabar baik. Kau apa kabar?”, Adam membalas pelukanku hangat. 

__ADS_1


Sudah lama aku tidak bertemu Adam, hanya Adam yang masih selalu mendukungku dan menenangkanku sebagai sahabat. Tetapi istrinya Elsa tentu saja tetap selalu membenciku. 


“ Kau terlihat lebih tua Adam”, kataku melihat wajahnya yang sedikit lelah. 


“ Dua anak bro “, dia menggeleng. 


Aku tertawa mendengar pengakuannya. Adam benar-benar banyak berubah, dia menjadi lebih dewasa dan tenang. Tidak seperti aku yang masih berenang di masa lalu.


“ Apa kabar Elsa?”, aku bertanya. 


“ Baik dan bertambah cantik”, jawab Adam. 


Aku mengangguk seperti ingin bertanya lagi tentang wanita yang lain tetapi tidak ada kata yang keluar. 


“ Dia juga bahagia Juan, berhentilah memikirkannya. Buang masa lalumu, rasa bersalahmu itu hampir membunuhmu”, Adam menyalakan rokoknya. 


Aku tersenyum mendengar perkataan Adam. Persahabatan yang cukup lama membuktikan bahwa Adam bisa tahu isi hatiku. 


“ Syukurlah “, aku menjawab.


“ Juan, bukannya kau sudah menikah?”, Adam bertanya. 


“ Ya, aku menikahi seorang gadis manis yang polos”, jawabku menyalakan rokok baru. 


“ Pelarian atau cinta?”, tanya Adam tanpa basa basi. 


Aku menghela nafas panjang seperti memikirkan pertanyaan itu. 


“ Aku tidak tahu Dam. Aku menyukainya tapi aku tidak tahu apa aku akan mencintainya. Aku menginginkannya tapi aku merasa tidak pantas. Aku terpesona padanya tapi aku berusaha menghindari pesonanya agar aku tidak jatuh. Tapi yang terbrengsek dari aku adalah aku tidak ingin melepaskannya”, Aku mengakui lalu menghembuskan asap rokokku ke udara. 


Adam dengan setia mendengarkan setiap perkataanku. 


“ Aku takut saat menyentuhnya aku akan terlihat seperti binatang. Aku bersamanya karena terkadang aku masih memikirkan Embun. Bersama wanita ini terkadang aku lupa tentang kejahatanku. Aku ingin berenang tapi skil renangku tidak berekembang sama sekali. Aku ingin melupakan Embun tapi kesalahanku terlalu besar untuk dilupakan”, lanjutku. 


Ada keheningan sesaat di antara kami. Aku dan Adam sama-sama menikmati rokok di tangan masing-masing, sambil memperhatikan kesibukan yang sedang terjadi di hadapan kami. 


“ Juan, aku hanya bisa memberimu saran sebagai sahabat. Jika tidak bisa melupakan rasa bersalahmu simpanlah di dalam hatimu, kubur jauh di dalam hatimu. Biar hanya kau yang tau rasa itu. Dan untuk istrimu saat ini, tentukan hatimu Juan. Cintailah jika ingin mencintainya, lepaskan jika hanya sebuah pelarian. Aku kenal kau sudah lama, gunakan akal sehatmu Juan. Jangan jatuh di lumpur yang sama”, Nasihat Adam. 

__ADS_1


Aku terdiam mendengar kata-kata Adam yang tepat mengenai jantungku. Saat di perjalanan pulang, aku termenung di dalam mobil. Apa yang harus aku lakukan. Mencintainya atau melepaskannya? aku buta arah. 


***


__ADS_2