
Hari ini sepulang kerja aku langsung pulang ke apartemen Nandes.
Tuk…tuk…tuk…
Suara pisau beradu dengan talenan. Aku memotong timun, tomat dan bawang. Aku mulai menggoreng nasi, telur dan membakar roti untuk Nandes. Sambil menunggu Nandes yang tentu saja menolak bangun pagi. Apalagi di hari minggu, kecuali aku harus berangkat kerja dari rumahnya maka dia dengan berat hati akan bangun pagi untuk mengantarku. Kalau tidak aku akan mengomel sepanjang masa.
Energiku habis karena meladeni Juan yang tiada henti sepanjang malam menekan bel. Awalnya dia meminta aku untuk memeriksa ayahnya yang sebenarnya tanda-tanda vitalnya di monitor sangat stabil. Semakin malam permintaannya mulai semakin aneh. Mengambilkan sedotan, menyalakan TV dan yang membuatku mulai memarahinya adalah dia memintaku memotong cake miliknya menjadi kotak-kotak kecil dengan alasan kalau terlalu besar susah untuk dimakan dan menyuruhku duduk menemaninya makan kue sialan itu.
“ Juan, sekali lagi kamu menekan bel, aku akan datang membawa benang dan jarum untuk menjahit tanganmu menjadi satu”, aku berbisik di telinganya sebelum keluar dari ruangan itu, sekilas aku melihat dia tersenyum menahan tawa. Tapi dia tidak memencet bel lagi setelahnya. Dan tim yang berjaga bersamaku sangat mendukung karena Juan menyogok mereka dengan makanan yang berlimpah setiap kali aku dinas. Ada 3 buket bunga mini berjejer di Nurse Station, bukan dari pengunjung tetapi Juan menaruhnya setiap aku berjaga. Dengan tulisan yang besar 'Semangat dokter Embun', 'Dokter Embun ayo makan malam bersama'. Aku tidak tahu gosip apa yang tersebar di antara tim ini yang berbisik di belakangku.
Aku menata meja makan dan masuk kedalam kamar untuk membangunkan Nandes. “ sayang, kamu mau tidur sampai jam berapa? ’, aku membuka gorden agar matahari masuk menerangi kamar. Nandes berguling menghindari cahaya matahari.
“ Kamu tidur sudah sangat lama. Nanti kepalamu sakit loh”, aku membuka selimut Nandes dan dia menutup wajahnya dengan bantal. Tidak hilang akal aku naik ke atas tempat tidur dan duduk di atas perutnya.
“ wow… kamu makin berat sayang”, Nandes menyingkirkan bantalnya dan meraih pinggangku.
Aku memukul dadanya “ aku hanya 46 kg. Kamu yang lemah”, aku sewot.
Nandes langsung merubah posisinya menjadi duduk dengan aku yang duduk di pahanya. “ Kamu bilang apa?”, Nandes meraihku agar lebih menempel padanya.
__ADS_1
“ Yang mana? aku 46 kg atau kamu yang lemah?”, aku memanasinya.
Dengan cepat Nandes merubah posisiku menjadi berbaring di bawahnya “ ayo kita lihat, aku selemah apa?”, Nandes memasukan tangannya ke bajuku menggodaku, dia menggelitik perutku.
Aku tertawa mencoba melepaskan diri “ geli..geli… haha… plis…”, aku meronta-ronta aku mendorong Nandes menjauh tetapi dia menangkap tanganku dan menguncinya di samping kiri kanan.
“ Anda masuk ke kandang singa Jantan nona”, Nandes mulai mencium leherku.
“ Maaf singa Jantan, aku sedang datang bulan”, aku berbisik di telinganya.
Nandes langsung lemas dan menjatuhkan dirinya di atasku “ oh, come on”, dia kecewa. Aku tertawa senang karena kali ini aku menang telak.
Nandes berjalan makin pelan seperti berusaha berkonsentrasi “ sayang, kalau kamu seperti ini aku akan kehilangan akalku”, Nandes memperingati.
Aku makin senang karena tujuan awalku adalah membuatnya sengsara, aku makin agresif menjilat bawah telinganya dan aku bisa mendengar bagaimana Nandes berusaha menenangkan dirinya dengan menghembuskan nafas panjang “ Huuuuft. Embun..”, Nandes mulai frustasi. Dan saat aku mengecup pundaknya aku sengaja memasukan tanganku kedalam celananya dan menyentuh dengan ujung jariku bagian inti miliknya. Saat itu juga Nandes tertawa lemas dan jatuh berlutut bersamaku.
Aku berguling di lantai dan tertawa terpikal-pikal karena melihat Nandes yang sedang bersujud sambil tertawa. Aku sangat puas mengerjai pacarku ini. Nandes memegang pergelangan kakiku. “ Embun kamu harus membayar untuk ini”, Nandes menggelitik perutku sampai air mataku keluar. Lalu dia mengangkatku dan menciumku bertubi-tubi. Aku berharap pagiku yang indah akan selalu dihiasi senyuman pria ini.
***
__ADS_1
Nandes menggenggam tanganku, kami menyusuri jalan kompleks perumahan orang tuaku.
“ Dulu, aku kira kamu tidak akan pernah menyukaiku”, Nandes menggenggam tanganku erat. “ Saat kamu datang ke apartemenku malam itu rasanya aku seperti bermimpi”, Nandes tersenyum ke arahku, aku membalas senyumnya sambil menggenggam tangannya erat.
“ Aku selama ini selalu menatap punggungmu, selalu ingin meraihmu dalam pelukanku. Aku selalu ingin membenamkan wajahku di rambutmu yang wanginya seperti strawberry matang. Aku terdengar seperti cowok mesum ya?", Nandes tertawa.
" Tidak, kamu terdengar seperti rohaniwan yang sedang berpuasa selama bertahun-tahun", aku menggodanya.
" Betul juga. Aku kira aku tidak akan bisa menggenggam tanganmu sebagai kekasihku. Aku tidak pernah jatuh hati kepada wanita lain selain dirimu. Malam itu aku berpikir jika kamu tidak kembali padaku apa yang harus aku lakukan? Sepertinya kau tidak akan bisa berada satu kota denganmu. Aku akan pergi menjauh darimu”.
Kami berhenti tepat di depan rumahku, Nandes membelai rambutku penuh sayang. “ aku akan hancur jika kamu pergi dariku. Kamu kebahagiaan terbesar untukku”, Nandes tersenyum padaku.
Aku memeluknya “ Maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku. Aku tidak akan pergi kemanapun, kamu akan menikahiku kan? umurku semakin tua”, aku menatapnya penuh sayang.
“ Tentu saja aku akan menikahimu. Kamu sudah kenal keluargaku dan aku juga begitu. Hanya saja kamu bilang harus selesai sekolah dulu? aku akan menunggu saat itu”,Nandes mencium keningku dan memelukku dengan penuh sayang.
Aku membalas pelukannya “ Aku akan mati jika kita berpisah”, aku berbicara di dadanya. Nandes semakin erat memelukku, seolah-olah aku akan terbang dibawa angin.
Yang tidak kusadari adalah Juan sedang berusaha membuat jarak di antara aku dan Nandes dengan segala caranya. Dan aku terlalu memberi ruang kepada Juan untuk mendekatiku saat ini.
__ADS_1
***