
Aku memegang erat sebuah aquarium bulat kecil berisi 2 ekor ikan hias milik Jeni. Kami tengah berada di dalam lift untuk menuju ke lantai tempatku tinggal. Jeni menyeret sebuah koper berukuran sedang dan memegang sebuah vas bunga kecil berisi bunga tulip plastik berwarna merah. Aku menatap ikan hias di tanganku itu.
“ Kenapa kita harus membawa dua ikan kurus ini?”, tanyaku pada Jeni saat pintu lift terbuka.
“ Mereka temanku, namanya miko dan miki. Mereka selalu mendengarkan keluh kesahku tanpa banyak protes”, Jeni berbicara serius sambil terus menyeret kopernya.
Aku menggelengkan kepala mendengar jawabannya yang aneh itu. Saat masuk di dalam rumahku Jeni mengajukan pertanyaan yang aku bahkan tidak sempat memikirkannya.
“ Jadi aku harus tidur di mana? Kita tidak harus tidur bersama dalam satu ranjang kan?”, tanya Jeni polos.
“ Aku akan tidur di ruang kerjaku untuk sementara. Besok aku akan menambah satu tempat tidur lagi”, Jawabku sambil meletakan aquarium kecil itu di atas meja sebelah vas bunga.
“ Jadi kita tetap sekamar dengan tempat tidur berbeda?”, Jeni bertanya lagi siap untuk berargumen.
Aku berbalik dan mendekatinya, sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan sifatnya itu.
“ Pilihannya hanya ada dua pencuri kecil, Sekamar dengan dua bed atau sekamar dengan satu bed ! Silahkan kau tentukan sendiri ”, tidak ada nada tanya dalam suaraku yang ada hanya nada menjelaskan agar dia tidak berargumen denganku di tengah pagi buta ini.
Dia tau tidak ada pilihan baginya jadi setelah berpikir beberapa detik dia langsung menjawab “ Sekamar dua bed”.
“ Bagus. Mari kita sudahi argumen ini dan pergilah tidur. Aku akan menyelesaikan sedikit pekerjaanku dan tidur di sofa”, kataku sambil berjalan ke arah ruang kerja.
“ Kau yakin akan tidur di sofa?”, tanya Jeni lagi.
Aku berhenti dan berbalik berjalan ke arahnya. Memberikan ruang sempit diantara kami, aku mensejajarkan wajahku dengan wajahnya.
“ Jadi, kau mengijinkanku untuk bergabung bersamamu di atas tempat tidur?”, aku memastikan.
Wajahnya bersemu merah, dia tidak menduga aku akan berada sangat dekat dengannya.
“ Tidak, silahkan tidur di sofa”, katanya sedikit terbatah lalu memalingkan wajahnya.
Aku tersenyum “ Kejam sekali”, kataku lalu menarik badanku agar berdiri tegak dan berjalan meninggalkannya berdiri sendirian di tengah ruangan itu. “ Ck.. dia menggemaskan”, aku tersenyum pada diriku sendiri.
***
Jam 8 lewat Jeni masih tertidur memeluk selimut tebal. Aku menatapnya sambil tersenyum kecil, apakah dia begitu mempercayaiku sampai tertidur dengan nyenyaknya tanpa takut dengan apapun. Aku bergerak mendekatinya untuk membangunkan.
“ Hei, pencuri.. Jeni.. “, aku memanggil pelan.
Tidak ada pergerakan. Aku menarik nafas memikirkan cara terbaik untuk membangunkannya, aku mencubit pelan sebelah pipinya.
“ Bangun pemalas, hari sudah siang”, aku semakin menarik pipinya.
__ADS_1
“ Aww…. Hei… jangan tarik-tarik pipiku”, Jeni bangun dengan marah-marah.
“ Bangun. Peraturan di rumahku adalah setiap orang yang ada di sini harus sarapan”, kataku berbalik.
“ Juan... ini hari minggu. Aku ingin tidur lebih lama, sebentar saja. Aku tidak sarapan agar bisa menghemat biaya pengeluaran makan”, katanya kacau.
“ Baiklah, aku beri waktu kau satu menit untuk segera sadar dari tidurmu itu”, kataku sambil berjalan ke arah ruang tamu. Aku melihat dia kembali tertidur tanpa beban. Melihat itu aku langsung menggelengkan kepalaku dnegan heran. Satu menit berlalu aku sudah berdiri di pinggir tempat tidur.
“ Jeni bangun, jangan pura-pura tidur”, aku memencet pipinya.
Dia berbalik memunggungiku seolah-olah tidak mendengar. “ Baiklah aku hitung sampai 3, kalau tidak bangun juga aku akan mengangkatmu ke meja makan”, kataku.
“ Satu….”, aku mulai berhitung.
“ Oke baik.. aku bangun… aku bangun”, katanya langsung duduk di tempat tidur.
“ Bagus, bangun sekarang sikat gigimu dan basuh wajahmu. Kita sarapan di teras balkon”, aku berjalan meninggalkannya dengan senyuman di wajahku, bahagia sekali bisa mengerjainya. Aku bisa mendengar dia menendang selimut karena kesal.
Beberapa menit berikutnya Jeni sudah bergabung denganku di teras balkon, dia masih menggunakan piyama tidurnya dan tambahan kacamata hitam di wajahnya.
“ Kenapa kau memakai kacamata itu? “, aku penasaran ingin mendengar jawabannya.
“ Aku tidak berniat membasuh wajah karena nanti ngantukku hilang. Jadi aku memakai ini biar suasana tetap terasa gelap”, jawabnya santai membuatku tersenyum.
“ Aku capek, tidak sanggup memegang sendok", katanya menghela nafas lalu menyeruput jusnya menggunakan sedotan tanpa menyentuh gelasnya sama sekali.
“ Ck, ada-ada saja”, aku mengomel lalu mengambil piringnya dan memotong omelet itu menjadi beberapa bagian. Aku menusuk bagian yang kecil lalu mengarahkan ke wajahnya.
“ Buka mulutmu pemalas”, perintahku.
Dia membuka mulutnya menerima omelet itu, lalu menghela nafas sambil mengunyah. Aku menggeleng kepala melihat kelakuannya dan lebih anehnya lagi kenapa aku melayani kemauannya.
“ Pantai di bawah itu, apakah kita bisa pergi ke sana? “, tanyanya pada suapan ke sekian.
“ Bisa. Kau mau ke sana?”, tanyaku balik.
“ Ya aku mau. Aku memiliki daftar kencan yang sudah aku susun sebelum kita menikah. Karena ini akhir pekan kamu harus menemaniku”, katanya lagi sambil menatapku dari balik kacamatanya.
“ Hmm.. terserah kau saja”,aku menjawab pasrah mendengar ocehannya.
“ Tolong saosnya banyakin”, perintahnya melihatku hendak mengarahkan garpu itu ke mulutnya lagi.
Dan tentu saja di bawah alam sadarku aku menurutinya.
__ADS_1
***
Dan disinilah aku berakhir, berbaring di kursi pantai dengan Jeni si kursi sebelahku. Doni dan beberapa orang anak buahnya duduk sedikit jauh dari kami, berjaga tapi memberikan privasi kepada kami.
“ Hei pencuri, apa lagi yang ada di daftar keinginanmu itu?”, aku bertanya penasaran.
“ Emm… nonton film horor berdua”, jawabnya lagi.
“ Kenapa harus horror? Bukannya banyak film romantis lain?”, tanyaku lagi.
“ Karena menurut survei, orang yang pacaran akan terlihat romantis jika nonton film horror berdua. Yang aku nonton di drama korea pemeran pria biasanya memeluk wanitanya yang takut. itu romantis sekali”, katanya bersemangat.
“ Jadi, kau berharap aku memelukmu saat kau takut?”, tanyaku mulai ingin menjahilinya lagi.
“ Tidak, aku hanya sedang berlatih bersamamu. Aku akan dipeluk pacarku yang sebenarnya nanti kalau sudah berpisah darimu dan menemukan pacar yang sesungguhnya”, jawabnya tanpa perasaan.
Aku terdiam mendengar jawabannya. Dari balik kacamataku aku bisa melihat dua muda mudi yang tengah berlari di pinggir pantai dengan bahagia. “ Baiklah, aku akan melatihmu supaya kekasihmu nanti tidak tahu bahwa kau minim pengalaman”, aku sedikit mengejek.
“ Ya, terima kasih atas kebaikannya pelatih”, jawabnya.
Doni datang menghampiri kami lalu menyerahkan telepon kepadaku.
“ Halo”, jawabku.
“ Tuan, orang ini sudah mengaku”, kata salah seorang anak buah Doni.
“ Bagus. Temui aku segera. Doni akan mengirimkan tempatnya”, jawabku lalu menyerahkan benda tipis itu kembali ke Doni.
Aku menyuruhnya pergi lalu berpaling ke arah Jeni. “ Apakah hari ini kau ke toko bunga?”, tanyaku.
“ Ya, aku sedang merenovasi tokoku. Banyak pengeluaran yang tidak perlu” Keluhnya.
“ Aku akan mengantarmu ke sana. Kita pergi bersama”, kataku.
Aku lalu bangun dan berdiri menatapnya dari balik kacamataku. “ Ayo “, aku mengulurkan tangan.
“ Apa kita harus bergandengan tangan?”, tanyanya.
“ Tentu saja. Itu yang dilakukan orang pacaran. Apa di drama Korea mereka tidak bergandengan tangan?”.
“ Emmm.. bergandengan sih”, lalu dia meraih uluran tanganku sedikit canggung.
Aku tersenyum mendengar jawabannya yang polos itu. Kami bergandengan tangan layaknya orang pacaran sampai kami tiba di kamar hotelku.
__ADS_1
***