Merpati Kertas

Merpati Kertas
NANDES: GELISAH


__ADS_3

Aku mengetuk pelan jariku di meja, aku tidak fokus pada pemaparan presentasi di depan. Pikiranku melayang ke rumah. Apa yang Embun lakukan? Apakah dia kabur? Ataukah dia menyukai rumah yang ku berikan untuknya. Aku harus melihat CCTV yang tersambung ke ponselku. Pikiranku sedang melayang saat Monica menendang kakiku di bawah meja. Aku terkejut. Monica memberi kode padaku untuk fokus.


“ Jadi apakah ada masukan pak ?”, Monica menekankan kalimat yang sudah diulang dua kali oleh karyawan yang memberi presentasi.


“ Oh… tidak ada. Kita akhiri rapat ini”, aku menutup rapat itu dan beranjak pergi. 


Monica berjalan di sampingku sambil mengoceh “ Bagaimana mungkin seorang CEO melamun di dalam rapat penting. Payah”.


Aku menarik nafas panjang, aku sudah sering diomeli oleh Monica. Di kantor ini hanya Monica yang berani memarahiku dengan kata-kata yang tidak dilegalkan dalam tatanan bahasa Indonesia. Kami sudah berteman sejak kuliah jadi aku maklum padanya. Jika bukan karena persahabatan mungkin sudah ku pecat dia dari dulu.


Aku memasuki ruang kantorku dengan Monica yang mengekor dibelakang. “ Kenapa kamu mengikutiku ke sini”, aku melepas jas dan menggantungnya.


“ Karena ruangan ini paling nyaman, sofanya empuk dan lagi aku akan makan siang di sini”, monica berkata santai.


“ Heh ini bukan kantin. Sana keluar bikin sakit mata saja”, aku mengomel. Cepat-cepat aku mencari ponselku dan membuka CCTV yang tersambung dari rumah. Aku mencari-cari keberadaan Embun dan menemukannya sedang membuka kardus berisi beberapa perkakas dapur. Aku memperhatikannya bergerak kesana kemari dengan lincah. Sepertinya dia nyaman berada dirumah itu, tapi kenapa dia canggung setiap bersamaku. Aku menghela nafas panjang. 


“ He kenapa menghela nafas sih? kayak banyak beban aja”, Monic menegurku.


“ Kamu ini kepo sekali. Sudah aku mau pulang”,aku mengambil jas dan ponselku.


“ Loh tumben biasanya tidak ingat rumah”, Monica menatapku heran.


“ Berisik”, aku melengos pergi.


***


Aku masuk kedalam rumah dan menemukan Embun sedang memotong sayur di dapur. Dia tidak mendengar langkah kakiku karena menggunakan earphone di telinganya. Ponselnya terletak di atas meja makan, aku mengambil duduk di kursi meja makan.  Memperhatikannya dalam diam.


Seandainya boleh aku ingin memeluknya dari  belakang, aku ingin mengatakan aku merindukannya. Menciumnya dan merasakan setiap jengkal tubuhnya. Aku menarik nafas menenangkan diri. Embun adalah candu bagiku, aku harus bisa menahan diri. Jika tidak dia bisa lepas dariku.


Embun bersenandung pelan dengan lagu Killing Me Softly. Dia berbalik ke arah meja makan dan sangat terkejut melihatku. Aku berteriak tertahan “ Embun hati- hati..”, tapi terlambat karena panci yang dipegang terjatuh mengenai tulang keringnya.


“ Aduh..”, Embun menjerit kesakitan. 


Aku Refleks menggendongnya dan mendudukkannya di sofa ruang tamu. Embun meringis, memegang kuat celemeknya. Tampak warna biru mulai terlihat di sekitar kakinya. Embun lalu memegang bahuku “ tolong ambilkan kotak P3K milikku di kamar. Aku berlari ke kamarnya dan cepat kembali dengan sebuah kotak berwarna merah di tanganku.


Embun mulai merawat kakinya sendiri dengan aku yang hanya bisa melihatnya. Setelah selesai dia tersenyum padaku. 

__ADS_1


“ Kamu tidak apa-apa?”, aku bertanya kuatir.


“ Ya. Lain kali kalau pulang tolong bersuara”, Embun menyipitkan matanya padaku menyampaikan protes.


“ Ya, maafkan aku”, aku menyesal.


“ Tidak apa-apa, ini cuma memar. paling besok sembuh”, dia tersenyum padaku.


Darahku berdesir melihat senyumnya, aku pusing. Darahku mendidih karena sangat dekat dengannya, aromanya tidak berubah, wangi Green tea menyeruak masuk ke dalam hidungku. Tanganku bergetar ingin menyentuhnya. 


Aku langsung berdiri sempoyongan “ maafkan aku mengangetkanmu. Aku mandi dulu”, aku berjalan cepat ke kamar. Sampai di kamar aku naik ke atas tempat tidur, menaruh bantal di wajahku dan berteriak sekuat tenaga. Melepaskan aliran listrik yang mengalir di darahku karena Embun. Setelah puas berteriak aku bangun dan melemparkan bantal itu ke dinding.


“ Bangsat, dasar bangsat. Bagaimana bisa kau ingin menyerangnya Nandes. Dasar Binatang buas”, aku marah-marah sendiri. lalu berjalan masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Menyirami diri dengan air dingin agar aku bisa sadar dan kembali ke kenyataan.


***


“ Kakimu tidak apa-apa?”, aku bertanya padanya saat duduk di ruang makan berhadapan dengannya.


“ Tidak apa-apa. Hanya nyeri sedikit, sebentar lagi pasti sembuh”, Embun menjawab sambil meletakan udang di piringku.


“ Kenapa? makanannya tidak enak ya?”, Embun bertanya cemas.


“ Ya? Enak kok”, aku langsung tersadar.


“ Yakin? kamu tidak berbohong kan? kayaknya aku harus kursus masak dalam waktu dekat. Skil Ku tidak bertambah”, Embun mengomel sendiri.


Aku tersenyum mendengarnya, lalu kami menyelesaikan makan malam dalam diam.


Malam sebelum tidur Embun mengetuk pintu kamarku. Saat aku membuka pintu jantungku berdebar memikirkan hal gila yang ku tahan selama ini.


“ Ada apa?”, aku berkata datar.


“ Nandes… sebenarnya aku… “, Embun tampak gelisah.


“ Ada apa? apa kakimu sakit?”, aku bertanya sedikit cemas.


“ Apa boleh .. aku ikut kursus memasak?”, Embun menarik nafas.

__ADS_1


Aku menatapnya heran. “ Kamu mengetuk pintu kamarku hanya untuk ini?”, ada sedikit nada kecewa dalam suaraku.


Embun mengangguk penuh harap. Aku menghela nafas “ Ya boleh”, aku mengiyakan.


Embun tersenyum senang “ Terima kasih”.


“ Tapi Chefnya yang akan didatangkan ke sini”, aku melanjutkan dingin menutup pembicaraan.


Embun mengangguk setuju. Dia berlalu masuk ke kamarnya meninggalkanku yang diselubungi kekecewaan.


***


DI kantor aku sangat lesu. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, keberadaan Embun di dalam rumah membuatku gelisah. Sangat gelisah. Aku memijat pelan kepalaku.


“ Bisakah kalian berdua diam? Aku sedang sakit kepala sekarang”, aku memarahi Monica dan Alex yang sedang berdebat didepanku. “ Dan lagi kenapa kalian berdua berada di ruanganku”, aku melanjutkan.


“ Karena ruangan ini paling nyaman”, Monica menjawab santai tanpa memperdulikan keluhanku.


“ Dan sekretarismu sangat cantik bro”, Alex menyambung.


“ Jadi bagaimana caramu mengetahui perasaannya Nandes”, Monica bertanya.


“ Aku tidak tahu. Wajahnya sangat datar, tidak menunjukan ekspresi apapun”, aku menghela nafas frustasi.


Masalah cintaku yang rumit tidak bisa kusembunyikan dari kedua sahabatku ini.  Jadi aku tidak mengelak saat mereka mengetahui aku sudah tinggal bersama Embun, tanpa tau cara yang aku gunakan untuk mengikat Embun. Jika Monica tahu, dia pasti akan langsung menyerangku dengan berbagai macam kata-kata dari planet lain.


“ Aku punya ide”, tiba-tiba Monica nyeletuk.


“ Jangan Nandes, jangan ikuti caranya. Ingat terakhir kali dia memberi ide? aku hampir di penjara”, Alex langsung menolak mentah-mentah. 


“ Itu karena kau bodoh, tidak bisa menangkap maksud dari ide brilian itu. Asa dulu otakmu”, Monica mencela Alex. 


“ Ide apa”, aku bertanya penasaran.


Monica tersenyum penuh arti padaku dan Alex. 


***

__ADS_1


__ADS_2