
Aku tertawa terbahak-bahak ketika besoknya Jeni datang dan membawa sebuket bunga mawar hitam untukku. Mawar hitam melambangkan, kematian, kesialan dan kebencian kepada penerimanya. Jeni menyerahkan bunga itu kepadaku dengan senyum mematikan yang di paksakan.
Doni menerima bunga itu dan meletakkannya di dalam vas yang sudah disediakan khusus untuk semua penerima bunganya setiap pagi. Va bunga itu berwana seperti matanya, cokelat keemasan.
“ Duduk”, aku memberi perintah padanya tapi dia menolak dan tetap diam berdiri di tempatnya. Aku duduk di sofa dan menatapnya. “ Apa aku harus kesana dan membantumu duduk? jangan membuatku memberikan perintah dua kali. Aku benci hal seperti itu ”, aku berkata tegas.
Dengan cepat Jeni langsung mengambil duduk di sofa depanku. “ Apa yang harus ku lakukan untuk menebus KESALAHANKU”, dia menekan kata kesalahan dengan kesal.
Doni menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Jeni. “ Kau harus membayar DOSAMU dengan bekerja padaku. Itu adalah kontrak kerja. Bacalah lalu ingat!, aku tidak menerima revisi apapun dari seorang pelaku”, aku menatapnya merasa seru sendiri.
Jeni membuka lembaran itu dan mengernyitkan wajah saat membaca salah satu poin yang tertera di sana. “ pihak kedua yaitu pelaku setiap pagi harus membawakan sebuket bunga untuk pihak pertama yaitu korban. Gila ya”, Jeni berdiri emosi.
Aku menjentikan jariku ke arah Doni “ telepon kakeknya”, membuat Jeni langsung terduduk dengan sopan. " Bawakan sebuket bunga untukku dan rangkai di vas bunga yang sudah ku sediakan".
Dia lalu membaca poin yang lain “ Pihak kedua yaitu pelaku harus langsung datang ketika dipanggil oleh pihak pertama yaitu korban dan pihak kedua yaitu pelaku harus menurut pada apa yang dikatakan oleh pihak pertama yaitu korban “, Jeni menatapku kesal “ Kau mau menjebakku lagi ya?”.
“ Tidak. Kau sedang membayar dosamu, ingat”, aku tersenyum sinis. " Kalau kau tidak bersedia tidak apa, hanya saja kau tau konsekuensinya. Aku akan meminta pertanggungjawaban dari kakekmu, bapak Darmawan. Doni ambil lembaran itu", aku menatap mata Jeni yang berwarna amber itu.
“ Pulpen”, Jeni memalingkan wajahnya ke arah Doni yang langsung menyerahkan pulpen kepadanya. Dia menandatangani kertas itu dengan marah.
“ Kau tidak mau membaca semuanya? “, aku memberi peringatan.
“ Tidak perlu. Aku tahu semua isi poin ini merugikanku”, Dia menatapku kesal. “ Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan?”, Dia bertanya tidak sabar.
“ Duduklah disini sampai jam makan siang. Hari ini kau yang harus melayaniku makan siang”, aku berkata acuh lalu berlalu ke dalam ruang ganti baju.
__ADS_1
“ Gila ya? aku harus menjaga tokoku”, Jeni berteriak padaku.
“ Nona, tolong kata-katanya lebih sopan”, Doni yang sepertinya mulai jengah dengan ketidaksopanannya padaku mulai bereaksi.
Jeni meliriknya jengkel. “ Aku harus menjaga toko. Kalau tokoku bangkrut bagaimana?”, dia protes.
Aku keluar dengan setelan baju kantor lengkap. “ tiga karyawanmu sudah cukup untuk toko itu. Duduk disitu dan tenanglah. Doni bawakan semua berkas hari ini”, aku berkata cepat.
Sempat aku dengar dia berbicara sendiri “ orang gila ini bahkan tahu karyawanku ada berapa, cih”. Lalu detik berikutnya aku melihat dia duduk di sofa dengan tenang. Dia sangat manis jika tenang seperti itu. Aku melakukan pekerjaanku tanpa memperhatikannya lagi, seperti lupa akan keberadaanya.
***
Satu jam berlalu Jeni masuk kedalam ruangan kerjaku setelah mondar mandir di depan pintu beberapa kali. Aku yang sibuk dengan beberapa laporan tidak terlalu memperhatikannya. Dia berdiri cukup lama sedikit gelisah tanpa berbicara di hadapanku.
“ Ada apa?”, aku bertanya tanpa menatapnya.
“ Ya”, aku berkata tanpa melihatnya.
Dia lalu berlari keluar tanpa mengucapkan terima kasih. Aku melihat punggungnya berlalu menghilang di balik pintu. Lalu melihatnya kembali dengan sepiring kue dan buah , sekaleng soda di tangan yang lain. Aku menggelengkan kepala melihatnya “ Hah …Benci tapi lihat kelakuannya seperti di rumah sendiri”, Doni yang duduk di kursi meja pojok dan membantuku memeriksa berkas tersenyum kecil.
“ Sepertinya nona mulai beradaptasi tuan”, Doni menimpali.
“ Mungkin dia tidak takut apapun didunia ini selain kakeknya, lihat saja kelakuannya sekarang”, dari tempatku duduk aku bisa melihatnya tertawa terpikal-pikal karena acara komedi di televisi. “ lanjutkan pekerjaan kita. laporan ini harus selesai sebelum makan siang”, aku melanjutkan pekerjaanku.
“ Baik tuan”, Doni menurut.
__ADS_1
Berjam-jam berlalu, Doni berdiri dan mengingatkanku soal waktu. Kami sering lupa waktu ketika sudah mulai bekerja.
“ Tuan sudah pukul 14.20, maafkan saya karena lupa mengingatkan anda soal makan siang”, Doni meminta maaf.
“ Ya, tidak apa-apa. Masalah tadi memang harus langsung diselesaikan. Siapkan makan siang untukku. Kamu juga makan siang dan istirahatlah sebentar”, aku berdiri dan berjalan keluar ruangan.
Doni mengikuti di belakangku, televisi menyala dengan volume suara kecil. Aku teringat wanita itu, Jeni. Dia ikut tidak makan siang bersama kami. Aku melihat ke balik sofa dan menemukan dia tertidur di sana tanpa beban sedikitpun.
“ Akan saya bangunkan tuan”, Doni berbisik pelan.
“ Tidak perlu, siapkan saja makan siangnya. Akan aku bangunikan dia. Kamu segera selesaikan makan siangmu dan istirahatlah”, aku menepuk pundak Doni pelan.
“ Baik tuan. Pelayan akan segera datang”, Doni membungkuk hormat lalu pergi.
Aku melihat Jeni yang tertidur pulas dengan heran “ katanya membenciku, tapi bisa-bisanya dia tertidur di kamar musuhnya. Wanita bar-bar ini tidak ada rasa takutnya”, aku berlalu pergi meninggalkannya di sofa.
Doni kembali dengan seorang pelayan yang membawa makan siang. Pelayan itu menata makanan dimeja dan pergi keluar dengan Doni yang berjalan duluan di depannya. Aku kembali berdiri menatap Jeni memikirkan cara untuk membangunkannya.
“ Ehem.. hei wanita bar-bar bangun”, aku memanggil pelan. Dia tidak bereaksi. Aku menghela nafas kasar, menambah beban kerja saja. Harusnya dia disini melayaniku bukan malah menjadi bos.
“ Jen… hei.. wanita bar-bar. Ck”, aku mulai kesal karena dia tidak bangun juga. Aku menyengol kakinya pelan, bukannya bangun dia malah merubah posisi tidurnya.
Aku tertawa kecil melihatnya, "Wah tidak tahu diri. Lihat kelakuannya sekarang". Aku langsung menjitak keningnya sedikit keras. Dan dia terbangun dengan kelabakan, aku berdiri didekatnya bersedekap tangan memperhatikan apa yang akan dia lakukan karena jitakanku.
“ Awww… udah gila ya. Siapa yang berani..”, Jeni berteriak lalu tersadar melihatku yang menatapnya. “ Ha ha sakit", dia tertawa kaku.
__ADS_1
“ Bangun dan cuci muka bantalmu itu”,aku berlalu meninggalkannya dengan mengerutkan wajah. Saat melirik ke arahnya dia sedang menirukan gaya bicaraku dengan memonyongkan bibirnya. “ Cepat”, aku berteriak tidak sabar dan membuatnya gelagapan.
***