
Besoknya aku bertemu Juan di halaman sekolah. Juan tersenyum padaku. Aku yang mengingat kejadian semalam menjadi canggung. Pipiku terasa panas, aku membalas senyum Juan dengan kaku.
Aku melihat Elsa di belakang Juan, aku langsung berjalan cepat menghampiri Elsa. Meninggalkan Juan yang kebingungan dengan sikapku. Tapi jantungku berdebar tidak karuan. Aku takut jika berada terlalu dekat, Juan bisa mendengar debaran jantungku.
Aku menghindari Juan selama seharian penuh. Sepertinya dia kesal dengan sikapku. Sampai saat jam pulang sekolah Juan menghampiriku di kelas yang sudah mulai sepi. Aku tidak bisa menghindar, dia membawaku ke ruang osis yang kosong. Juan menyandarkan ku di tembok memblokir jalan keluar dengan tangannya. Sedikit membungkuk ke arahku agar wajah kami sejajar.
" Jadi ada masalah apa?", Tanya Juan padaku penasaran.
" Masalah apa?", Aku berusaha mengalihkan tatapanku ke tempat lain. Wajah Juan terlalu dekat denganku.
" Apa aku membuat kesalahan? Seharian ini kamu terus menghindari ku",Juan mengeluarkan unek-uneknya.
" Ha? Oh ya? Emm. Maafkan aku", aku bingung menjelaskan.
" Ada apa?", Juan meneliti wajahku.
Aku diam menatap matanya. Terlihat Juan menunggu penjelasan dariku. Akhirnya aku mengaku kepada Juan, dengan menunduk dan menutup mataku aku berkata cepat.
" Aku malu, setiap bertemu kamu jantungku berdebar.. karena … karena… semalam … kamu… ", aku tidak melanjutkan pengakuanku.
Juan berpikir sejenak, lalu seperti paham akan permasalahannya Juan tersenyum menahan tawa. " Iya aku bisa mendengar debar jantungmu sekarang", Juan malah menggodaku.
Aku melihat ke arah Juan dengan wajah yang merah. Juan tersenyum, sepertinya gemas dengan responku. Juan makin jail, dia berbisik di telingaku.
" Aku sedang menahan diri untuk mencium bibirmu. Akan ku lakukan lain kali".
Jantungku berdebar kencang, wajah dan telingaku panas. Aku mendorong Juan dan berjalan cepat keluar pintu meninggalkan Juan yang tertawa kesenangan.
" Wah sejak kapan dia mesum begitu. Astaga", aku berjalan cepat masuk ke kelas dan buru-buru mengemasi barang-barang ku. Mengabaikan Elsa yang menatapku heran.
" Wajah kamu merah banget. Kamu kenapa? Sakit?", Elsa meneliti wajahku.
" Yuk pulang. Sebelum aku demam tinggi di sini", aku menyeret Elsa buru-buru. Berharap tidak bertemu Juan.
***
Tetapi ternyata cinta pertama itu tidak selalu indah seperti yang aku harapkan. Prahara itu datang !
Aku bertengkar dengan Juan, Saat itu aku melihat berapa luka lebam di wajahnya. Aku bertemu dengannya di perpustakaan.
" Wajah kakak kenapa?", aku refleks mengulurkan tanganku untuk memegang wajahnya.
Juan menghindar, tidak seperti biasanya " Tidak apa-apa", kata Juan. Setelah itu dia tersenyum dan pergi meninggalkanku berdiri di depan rak buku.
Aku menduga-duga, apa mungkin Juan berkelahi? Dengan siapa? Nandes?.
Saat pulang sekolah Juan mengirimiku pesan. Meminta maaf tidak bisa menemui ku atau mengantarku pulang karena sibuk. Aku berusaha memahaminya, karena tau mereka akan segera ujian.
Tetapi hari itu setelah Juan meminta maaf karena tidak bisa menemui ku, aku melihatnya di suatu tempat di pinggir jalan. Bersama Adam dan beberapa temannya. Aku berada di dalam mobilku bersama Elsa setelah pulang dari supermarket.
" Eh itu si Adam. Ada Juan juga. Samperin bentar yuk Embun", kata Elsa kepadaku yang duduk dibalik kemudi. Aku kaget karena Juan mengatakan sedang tidak enak badan saat aku memintanya main ke rumah.
Saat itu Juan terlihat seperti orang lain. Ekspresi wajahnya datar, tatapan matanya sayu, ada kekalutan dalam sorot matanya dan Juan merokok. Hal yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
__ADS_1
Aku menepikan mobil di dekat mereka. Elsa membuka jendela mobil.
" Nai… kamu ngapain di sini? Hai kak Juan", Elsa menegur.
" Eh … kalian dari mana?", Adam kaget karena kami tiba-tiba ada di dekat mereka.
" Supermarket. Temani Embun tadi", kata Elsa.
Aku melihat ke arah Juan, melalui sorot mataku aku ingin meminta jawabannya tetapi Juan memalingkan wajahnya. Seperti tidak peduli.
Nyut … ada rasa nyeri di dadaku karena Juan mengabaikan aku seperti itu. Elsa dengan cepat menyadari situasi langsung berpamitan dengan Adam. Dan kami pergi meninggalkan tempat itu.
Aku duduk di depan meja belajarku saat sampai di rumah. Memandang merpati kertas yang aku gantung di dekat jendela kamar. Ada yang salah dengan Juan. Aku ingin mendengar penjelasan dari Juan
Aku mengambil hp ku dan menelpon Juan. Tetapi Juan tidak mengangkat teleponku. Rasa nyeri di dadaku bertambah, aku tidak siap dengan Juan yang seperti ini.
Aku ingat luka lebam di wajah Juan. Akan ku pastikan sendiri. Aku mengambil kunci mobilku dan bertekad ke rumah Juan. Hari mulai gelap sekitar pukul 5 sore.
Bibi bertanya penasaran karena tidak pernah melihatku keluar rumah sesore itu.
" Non mau ke mana?", tanya bibi.
" Mau ketemu teman bi. Aku pulang cepat nanti", kataku buru-buru memakai jaket tebal milikku.
Aku melajukan mobilku menuju rumah Juan. Tepat saat sampai di sana Juan baru saja turun dari motornya. Dia cukup kaget melihat kedatanganku. Aku turun dari mobil dan menghampirinya. Dia tampak tidak siap dengan kehadiranku.
Aku menatap Juan kikuk tapi aku sudah bertekad.
" Hai ", sapaku.
Aku memasukan kedua tanganku ke saku jaket " aku kesini karena 3 hari kamu menghindar dariku, tidak mengangkat teleponku dan kamu merokok", aku langsung ke intinya.
Juan menghela nafas panjang, tidak memberikan penjelasan. " Maafin aku. Ayo aku antar kamu pulang".
Aku melihatnya dengan kesal " itu bukan jawaban kak. Kenapa kamu begitu? Apa aku buat salah?", aku mendesaknya.
" Embun aku tidak ingin berdebat sama kamu. Aku akan antar kamu pulang ini sudah malam", Juan mengulurkan tangannya.
" Aku bisa pulang sendiri. Mau sampai kapan kakak menghindari aku? Dan kakak bertengkar dengan siapa sampai lebam begitu?".
" Embun… untuk hari ini saja. Apa bisa kamu tidak mencampuri urusanku ?", Juan mengeraskan suaranya.
Aku kaget dengan pernyataan itu, nyeri di dadaku semakin melebar " Apa? Aku hanya bertanya. Kenapa kakak menghindari ku? Kakak tidak memberikan jawaban. Kakak menghindar bertemu denganku, tidak mau mengangkat teleponku tetapi kakak tidak memberi penjelasan", aku marah.
" Embun.. aku hanya sedang tidak ingin diganggu", Juan menjawab dingin.
Aku menghela nafas " Jadi aku adalah sebuah gangguan untuk kakak?", aku kecewa.
" Bukan begitu maksudku", Juan seperti menyesal karena mengatakan hal yang tidak seharusnya.
" Apa ini karena Meggy?", aku menebak tanpa memikirkan perkataanku. Juan terdiam kaku secara tidak langsung mengiyakan pertanyaanku.
" Siapa Meggy? Apa dia begitu penting di hidup kakak?", aku tidak bisa menekan rasa ingin tahuku.
__ADS_1
Juan maju ke arahku " Aku antar kamu pulang", kata Juan sambil meraih tanganku.
" Aku hanya mau mendengar jawaban kakak", aku menghindar saat Juan berusaha meraihku.
Juan menarik nafas "Embun… berhenti seperti ini. Please".
Aku menarik nafas pendek-pendek, menahan kemarahanku. Aku marah kepada Juan saat ini, entah karena dia mengabaikan ku atau karena aku cemburu. Aku berbalik meninggalkannya berjalan ke arah mobil.
Juan memanggilku " Embun… Hei dengarkan aku ".
Aku mengabaikannya karena marah, kesal, kecewa menjadi satu. Dengan cepat Juan menghampiriku, dia meraih tanganku tapi aku menepisnya dan membuka pintu mobil. Dengan sedikit kasar Juan menarik ku agar aku menghadap ke arahnya, punggungku sedikit membentur pintu mobil yang langsung tertutup kembali.
Juan melihat ke arahku, aku berusaha keras menahan air mata. Inikah rasanya marah karena di abaikan orang yang kita suka.
Juan menarik nafas panjang " Aku antar kamu pulang, mana kunci mobil", kata Juan.
Aku menolak melihat Juan. Karena menahan tangis suaraku sedikit bergetar " Gak, aku mau pulang sendiri. Kakak lakukan saja apa yang ingin kakak lakukan, aku akan pura-pura tidak tahu", aku mendorongnya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Meninggalkan Juan yang hanya melihat mobilku berlalu.
***
Aku masih marah kepada Juan. Dan Juan tidak menghubungiku sama sekali. Aku semakin sedih. Rasanya ada yang merobek hatiku. Akhirnya aku mengambil keputusan yang membawaku pada kenyataan yang menyakitkan.
Aku menelpon Nandes, pada dering kedua Nandes mengangkat teleponku.
" Halo… molas. Tumben menelpon. Ada apa ni?", Nandes ceria.
" Halo kak. Kakak di mana sekarang? Aku mau bertemu", kataku tanpa ragu.
Nandes tertawa senang " Kamu kangen sama aku? Aku ada di bengkel milikku di Hombel¹. Kamu jangan ke sini. Di sini banyak buaya darat kecuali aku. Kita bertemu di tempat lain saja", kata Nandes.
" Kita bertemu di Rumah Wunut² kak. Aku tunggu kakak di sana sekitar jam setengah 4".
" Oke", Nandes menyanggupi tanpa basa basi.
Aku menutup telepon. Lalu memandang keluar jendela. Aku bertekad untuk mencari tahu rahasia itu.
***
Hombel: Nama Kompleks perumahan
Rumah Wunut: Rumah adat simbol sejarah peradaban daerah Manggarai.
__ADS_1