Merpati Kertas

Merpati Kertas
DIA WANITAKU


__ADS_3

Aku bangun dengan Nandes yang masih tidur menelungkup di sampingku hanya menggunakan selimut untuk menutupi pinggang ke bawah.  Alarm berbunyi dengan berisik. Aku dengan malas meraih benda tipis itu untuk mematikannya. Sedikit rasa nyeri menyerang bagian di sekitar sela kakiku.


Aku berbalik memperhatikan wajah Nandes, hidungnya matanya bibirnya alisnya semuanya milikku. Aku saat ini menyukainya melebihi apapun. Aku mencium pundaknya, mencium matanya, menelusuri bibirnya dengan jariku. Sepertinya ini adalah kebiasaan baruku saat bersamanya.


Aku bangun pelan-pelan, meraih kaos Nandes di bawah tempat tidur dan memakainya. Nandes menarikku sampai aku berbaring kembali di sebelahnya. 


" Siapa yang mengijinkan kamu bangun?", Nandes berbisik di sela tidurnya. Tangannya yang berat memeluk leherku.


" Pekerjaan menyuruhku bangun. Ayo bangun ini sudah pagi", aku mengecup sebelah matanya. 


" Aku tidak mau bangun. Aku takut ini mimpi dan lagi ini hari minggu sayang", Nandes malas-malasan makin menempelkan wajahnya di rambutku.


" Nandes yang budiman. Anda merusak kemeja saya tadi malam dan sekarang anda harus bertanggung jawab mengantar saya bekerja", aku berusaha mengangkat tangannya agar aku bisa bebas bergerak. 


" Hmmm… bagaimana kalau ronde pagi?", Nandes tersenyum nakal sambil mencium leherku. 


" Tidak… aku harus bergegas", aku menyentil pelan keningnya. 


" Baiklah… ", Nandes melepaskanku. 


Aku tersenyum dan berjalan ke kamar mandi. Saat akan menutup pintu kamar mandi Nandes menahannya menggunakan kaki dan ikut masuk ke dalam. 


" Hei… ", aku protes melihat Nandes yang mengikutiku menggunakan selimut yang di pakai menutupi badannya.


" Kita harus olahraga dulu sebelum bekerja sayang", Nandes meraihku dalam pelukannya dan menciumku dengan lembut. 


Aku melepaskan ciumannya " Aku belum sikat gigi", protesku. 


" Sama aku juga. Aku suka semua yang ada padamu", kata Nandes cuek.


Aku manyun, mataku teralihkan pada bercak darah yang menempel pada bagian selimut yanh Nandes bawa " Lepaskan selimut itu biar aku masukan ke mesin cuci", aku tersipu.


Nandes tersenyum " Aku senang melihatnya, tandanya aku adalah yang pertama untukmu dan kamu adalah milikku. Ayo kita menikah".


Aku melotot ke arahnya " Sebelum menikah aku harus pergi kerja. Minggir", aku membalas candaan Nandes itu dengan menyikut rusuknya.


" aww.... awww...", Nandes memegang dada yang ku sikut.


Aku panik " Sakit banget ya ?", aku memeluknya.


" Kena kamu !", Nandes mengunciku dalam pelukannya lalu memberikan ciuman bertubi-tubi untukku dan terjadilah aku berangkat kerja dengan terburu-buru karena ulahnya. 


***

__ADS_1


Sepertinya kebahagiaan yang terpancar sangat terlihat. Aku menjadi terlalu ceria. Kebahagiaanku itu masih terlihat sampai hari-hari berikutnya. Aku menghabiskan waktu beberapa hari bersama Nandes di apartemennya.


Bangun pagi dengannya di sebelahku, sarapan pagi bersama dan menghabiskam waktu liburku dengan piknik, nonton dan hal-hal yang di lakukan pasangan pada umumnya.


" Kaki ", kataku pada Nandes saat di meja makan.


Nandes menyondorkan kakinya ke arahku di bawah meja, aku meletakan kakiku diatas punggung kakinya. Dia tersenyum, ini adalah rutinitas baru kami.


Aku mulai mengunyah rotiku dengan Nandes yang menyeruput kopinya. Hpnya bergetar Monica menelpon. Nandes mengangkat telpon tanpa meninggalkan meja.


" Ya... Halo", jawab Nandes. Monica berbicara cepat di ujung sana. "Harus aku yang pergi? Kamu tidak bisa? Aku sedang bulan madu", Nandes keberatan.


Aku mendengar Monica berteriak di telepon membuat Nandes menjauhkan telepon itu dari telinganya dan sambungan telepon terputus.


"Ada apa?", Aku penasaran.


" Monica menyuruhku ke Bandung. Ada kunjungan yang harus aku yang pergi atau dia. Tapi saat ini Monica sedang mengurus hal lain", Nandes menjelaskan.


Aku mengangguk " Kapan?", tanyaku.


" Jumat depan", Nandes menyeruput kopinya lagi seperti engan untuk pergi.


Aku tersenyum " pergi saja. Nanti aku balik kosan", jawabku.


" Akan ku pikirkan nanti", Nandes menjawab malas.


***


Aku mengalami hal tidak menyenangkan tepat 1 hari sebelum keberangkatan Nandes ke Bandung. Aku bersenandung di dalam mobilku saat pulang bekerja. Aku hendak mengunjungi sebuah toko buku, saat akan memutar balik sebuah mobil menyerobot masuk dan menabrak bagian samping mobilku. 


Aku sangat kaget sampai tanganku gemetar. Aku melihat keluar jendela hari memang sudah mulai sore. Tidak banyak orang yang memperhatikan kami. Seorang bapak-bapak turun dari mobilnya sambil menyumpah-nyumpah. 


Dia menunjuk ke arahku memintaku untuk turun. Aku turun dari mobilku dan melihat kerusakan yang kudapat. 


" Anjing, kau tau bawa mobil tidak? ", bapak berusia paruh baya itu memakiku. 


" Loh bapak yang nyerobot kenapa jadi marah ke saya?", aku mulai bersabar.


" Apa? Biadab kau yang masuk jalan  saya", selanya tidak mau mengaku. 


" Jelas-jelas dari posisi kerusakannya bapak yang menabrak saya", kataku mencoba sabar. 


" Apa kau bilang? Dasar perempuan setan. Beraninya kau nuduh saya ", serunya membuat beberapa orang di jalan melihat ke arah kami.

__ADS_1


Suasana lengang tidak banyak orang di jalanan itu. Aku yang tidak mau tersulut emosi langsung berbalik hendak masuk ke dalam mobil. Ketika bapak itu menarik paksa tanganku berusaha meminta ganti rugi. 


" Aduh apa-apaan nih. Ini namanya kekerasan", aku marah. 


" Apa? Kau Mau kabur ya. Ganti rugi", teriaknya. Istri pria itu turun dari mobil berusaha menenangkan suaminya yang seperti kesetanan.


" Udah gila ya. Situ yang menabrak kenapa saya yang ganti rugi. Minggir ", aku berteriak marah. 


Pria itu mengangkat tangannya hendak memukulku. Aku berlari masuk ke dalam mobil menguncinya dan mencari hpku. Pria itu menggedor-gedor jendela mobil. Tanganku gemetar tidak bisa menyalakan mesin mobil.  Beberapa orang mulai mendekat tapi aku takut itu adalah komplotan perampok. 


" Halo sayang", Nandes mengangkat telepon. 


Aku menangis " tolong aku. Huuuuhuuu…. Aku mau dipukul orang huhuhu… mereka menabrak mobilku tapi mereka malah menyerangku".


" Kamu di mana? Aku kesana sekarang", Nandes berkata panik. 


Aku menyebutkan tempatku saat ini dengan terisak. Aku benar-benar ketakutan. Pria itu berusaha membuka pintu mobilku sambil memukul kaca jendela. Aku berteriak ketakutan di dalam mobil. Beberapa orang berusaha menenangkan tapi beberapa lagi mengintip ke dalam mobil. 


Aku melihat seorang pria mendekat, Itu Juan. Aku tidak tahu dia datang dari mana. Juan sendirian tidak bersama asistennya seperti biasanya. Dia berbicara di luar mobilku dengan pria itu, lalu Juan mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. 


Pria tersebut masih marah-marah dan menunjuk ke arahku. Juan mengatakan sesuatu dan pria yang tadi menabrak mobilku terlihat melotot ke arahnya. Yang kulihat berikutnya adalah pria itu berusaha menyerang Juan.  Aku menangis sejadinya di dalam mobil. Aku menelungkupkan badanku pada stir mobil. Aku tidak bisa melakukan apa-apa seluruh badanku gemetar karena takut. 


Aku melihat lagi keluar mobilku dengan wajah sembab karena menangis. Aku mengangkat kepala melihat Nandes sudah bersama Juan. Nandes memegang Hp menelpon seseorang, sedangkan Juan mengunci badan pria itu di tanah. Aku melihat istrinya memohon sambil menangis kepada Juan untuk melepaskan suaminya. Karena melihat itu Nandes meraih lengan Juan menyuruhnya melepaskan pria itu. Pria itu pergi bersama istrinya dengan sumpah serapah yang tidak ingin ku dengar. 


Nandes mengetuk kaca mobil. Aku keluar dari mobil tapi kakiku lemas, aku tidak seimbang, Juan dan Nandes sama-sama menangkapku dari kiri dan kanan. Aku melihat ke arah Juan dan dia melepaskan tanganku. Aku masuk ke pelukan Nandes. Badanku gemetar karena takut, aku menangis sejadinya. Nandes memelukku erat. 


" Sudah sudah aku ada disini. Jangan menangis lagi", Nandes mengusap kepalaku. 


Aku terisak di pelukannya, airmataku membasahi kemeja kantornya. Juan memperhatikan kami dalam diam. Aku tidak tahu apakah dia sadar saat ini aku bersama Nandes. 


" Bro terima kasih karena sudah menolong Embun. Dari sini biar aku yang mengurusnya ", Nandes berkata kepada Juan. 


" Embun, kamu tidak apa-apa? ", Juan bertanya kepadaku. 


Aku hanya mengangguk. Tidak ada kata yang bisa terucap dari mulutku. Nandes membawaku masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman.


Nandes berbicara sebentar dengan Juan. Aku mendengar sedikit percakapan mereka. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelum aku bertemu Juan. Karena Nandes tidak kaget dengan kedatangan Juan.


" Dia wanitaku", Kata Nandes kepada Juan.


" Lalu?", Juan tersenyum sinis.


" Aku tahu kau mengikutinya selama ini Juan. Berhenti melakukan hal itu", kata Nandes sabar.

__ADS_1


 Juan tidak memberikan respon apapun. Nandes lalu naik di balik kemudi mobilku dan berlalu meninggalkan Juan yang masih berdiri di tempat yang sama.


***


__ADS_2