
Angin bertiup melalui hembusan jendela kamarku.
Seperti biasa, cuaca mendung menyelimuti kota. Matahari enggan menyinari kota ini.
Aku mengamati origami merpati yang di berikan Juan kepadaku saat pergi ke bukit itu. Lipatannya rapi dan teliti, tidak ada bagian yang tampak kusut.
Setelah hari itu aku berpikir, ternyata Juan punya sisi yang lembut seperti itu. Tapi kalau melihatnya di sekolah, dia tampak seperti iblis yang menggunakan topeng ketampanan,tatapan matanya yang dingin, jarang tersenyum dan sepertinya susah berteman dengannya.
Perlakuannya padaku di sekolah dan di luar sekolah sangat berbeda. Aku sampai berpikir apa dia punya penyakit kepribadian ganda.
" Hah, sudah gila ya. Baru di kasih origami 1 biji aja, mikirin sampe 2 hari. Ckckck Embun kamu juga mulai terhipnotis. Dasar lemah" , aku meletakan origami itu ke dalam laci dan menutup laci meja belajar itu dengan keras.
Aku tau dari Elsa bahwa Juan adalah anak pindahan dari Yogyakarta saat kelas 1. Parasnya yang tampan membuat heboh satu sekolah. Malahan menurut rumor, saat itu banyak kakak kelas yang membuat klub penggemar untuk Juan.
Tentu saja aku tidak heran, melihat kelakuannya yang seperti sekarang. Juara 1 kelas, mantan ketua osis, idola sekolah.
Dan sekarang kalau melihat Juan berjalan bersama teman-temannya, ada aura seperti dia adalah penguasa sekolah kami.
Aku bergidik, bagaimana bisa aku pergi ke atas bukit saat itu dengan seorang preman berkedok idola sekolah seperti dia. Untung saja aku masih diantar pulang ke rumah, kalau Juan meninggalkanku di sana mungkin aku akan pingsan karena ketakutan tidak tau arah pulang.
Membuang pikiran kotor itu jauh-jauh, aku mengambil handuk dan berjalan ke arah kamar mandi siap-siap berangkat ke sekolah.
***
Sepertinya kabar aku pergi dengan Juan menyebar sangat cepat di sekolah, bahkan petugas kebersihan di sekolahku tau.
Dan tentu saja ada yang merasa gerah dengan hal itu, Sarah dan geng. Mereka menghampiriku saat aku bersama Elsa makan di kantin sekolah.
" Oh ini anak baru yang sok cantik itu", salah satu teman Sarah menyindirku dengan suara yang cukup keras.
Aku diam saja, sampai Sarah datang duduk di sebelahku berpura-pura merapikan rambutku yang tidak perlu.
" Jangan gitu dong, dia kan kesayangan Juan ", Sarah sarkastis.
Aku meletakan sendokku padahal pengen banget ngabisin bakso yang tersisa 2 biji lagi.
" Maaf, ada apa ya ini?", aku bertanya pura-pura tidak tahu.
" Gak ada apa-apa sih. Aku cuma pengen lihat doang, secantik apa cewek yang suka merayu Juan. Ternyata gini, hem gak tau diri", kata Sarah lembut tapi membuat sumbu emosiku bergetar.
Aku menarik nafas menenangkan diri " kalau kakak suka sama kak Juan ambil saja gak apa-apa. Aku gak suka sama dia. Silahkan", aku tersenyum sinis lalu melanjutkan makanku.
Sarah tampak tidak senang dengan perlawananku, lalu dengan sengaja menyenggol mangkok bakso milikku di atas meja. Kuah tumpah ke baju dan rok seragamku. Aku cepat berdiri dan melihat ke arah Sarah dengan penuh emosi.
" Oops, maaf ya. Sengaja. Peringatan buat kamu yang sok kebagusan dan murahan" Sarah berbalik pergi meninggalkan aku yang masih syok.
Semua mata di kantin menatapku. Elsa cepat-cepat mengambil tisu untuk membantuku.
" Udah yuk ke toilet aja. Yuk yuk", Elsa menarik aku pergi.
Aku berjalan dengan kemarahan di rahangku, siap mengumpat tetapi objek yang akan ku caci maki sudah tidak terlihat di ujung lorong.
" Dasar nenek lampir, babon.... meong koreng....iihhhhh", aku mencak-mencak di depan wastafel. Mengeluarkan cacian yang menurutku paling kotor.
__ADS_1
" Sabar Embun… sabar… tarik nafas. Buang. Sabar. Untung udah jam terakhir. Sabar ya… " , Elsa membantuku.
Aku membersihkan rokku. Bajuku berwarna coklat karena kuah yang tumpah itu.
" Sabar ya... Harusnya tadi kita siram dia pake es jeruk. Biar tau rasa... Enak aja dia kayak gitu ", Elsa ikut marah-marah sambil membantuku membersihkan rok.
" Emang kamu berani? ", tanyaku penasaran dengan tekad Elsa.
" Tentu tidak", Elsa mencoba melawak.
Aku tertawa mendengar Elsa yang mencoba menghiburku.
***
Setelah kejadian di kantin hari itu. Aku mendadak jadi selebritis sekolah. Selalu diperhatikan setiap lewat di kerumunan. Bahkan ada yang pernah nyeletuk " oh ini selingkuhan kak Juan. Gila ya".
Rasanya aku ingin meremas mulut mereka dan melemparnya ke dalam tong sampah. Belum lagi setiap pulang sekolah harus menghadapi bisik-bisik iri dari geng Sarah.
Seminggu yang penuh beban dan rasa lelah. Herannya lagi Juan tidak kelihatan batang hidungnya sepanjang minggu itu, seharusnya dia yang paling bertanggung jawab untuk situasi ini.
Sampai di pagi hari minggu yang cerah, dengan terkantuk-kantuk bibi yang bekerja di rumahku membangunkan ku.
" Neng … neng. . . Ada tamu", kata bibi pelan.
" Hmmm… siapa sih? Ini kan masih subuh", kataku setengah mengantuk.
" Gak tau non. Cowok. Cakep banget. Ayo non. Lagian ini udah jam setengah 9 loh. Jangan malas bangun, nanti rejekinya di patok ayam", omel si bibi panjang lebar.
Masih mengantuk aku keluar kamar menuju teras. Dengan pakaian tidurku lengkap, tidak lupa selimut cukup tebal menutupi seluruh badan hanya menyisakan wajahku yang terlihat.
Udara terlalu dingin untuk bisa melenggang dengan baju tidur saja. Juan duduk manis di kursi teras rumahku.
" Ngapain pagi-pagi ke rumahku? ", kataku sambil menarik erat selimutku.
Juan memperhatikanku dengan seksama lalu menggeleng " Selamat pagi nona. Aku mau ajak kamu pergi".
Aku menghela napas " gak ah. Mending tidur", aku berbalik hendak masuk ke dalam rumah.
Tentu saja aku dongkol setengah mati karena seminggu ini Juan tidak muncul. Sekarang dengan seenak udelnya dia ngajak pergi.
Juan menarik ujung selimut membuat langkahku terhenti " Kamu yakin gak mau pergi? Elsa pergi sama Adam. Kamu gak kasihan sama sahabatmu itu? Kalau ditindas Adam gimana? Wah.. rupanya kamu gak setia kawan ya", Juan mengompori.
Aku berbalik melihat Juan tajam " Tunggu sini bentar aku mau ganti baju, awas kalau Adam macam-macam sama Elsa".
Juan tersenyum penuh kemenangan sambil mengatakan oke dengan isyarat tangan.
***
" Ini kita mau ke mana?", aku bertanya di atas motor.
" Sarapan", Juan menjawab singkat sambil membawa motornya dengan kecepatan yang cukup pelan.
" Bubur ayam ya", aku memberitahu Juan.
__ADS_1
" Boleh. Coba sekarang kamu fokus, hirup udara segar yang banyak", kata Juan.
" Dingin ih… lagian ya masih pagi juga", Aku misuh-misuh.
" Hey.. ini udah jam 9 haha. . . Kamu tukang molor ya?", Juan meledekku.
Tidak menanggapi. Aku menyandarkan kedua tanganku di punggung Juan sebagai pembatas agar aku bisa menyender padanya.
" Cantik… ingin rasa hati berbisik… untuk melepas keresahan… dirimu..", Juan mulai menyanyikan lagu milik Kahitna.
Aku mendengarkan dalam keheningan di kursi belakang. Suara Juan lumayan, lumayan bisa di terima oleh telingaku.
Kami berhenti di tempat penjual makanan yang berjejer di pinggir lapangan.
" Kok ramai banget, ada apa sih?", aku melihat berkeliling.
" Aku mau ajak kamu nonton tarian adat sini, namanya tarian Caci. Seru deh… lebih keren daripada kamu nonton bioskop", Juan menarik kursi tepat di sampingnya.
" Mas bubur ayam 2 ya", Juan memesan makanan.
" Mas aku gak pakai kacang, ngak pakai emping, gak pakai kerupuk, pakai sate telor sama usus, trus kuahnya jangan banyak-banyak dan jangan di kasih kecap", pesanku selow tapi cepat.
Juan berdecak kagum " kamu adiknya Niki Minaj ya?".
" Iya masih sodaraan. Eh terus ini acara tiap minggu ya", aku bertanya sambil terus meneliti ke lapangan.
" Tidak tiap minggu. Aku aja baru 2 kali nonton. Ini yang kedua", Juan menerima pesanannya.
Aku manggut-manggut " Elsa mana?", aku melihat berkeliling.
" Elsa? Di rumahnya lah. Emang kamu janjian sama dia tadi?" Juan menjawab cuek.
Aku melotot ke arah Juan. " Tadi katanya Elsa sama Adam di sini? Kamu bohong ya?".
Juan berlagak kaget " Masa? Emang aku bilang begitu?".
Aku mencubit lengan Juan menumpahkan kekesalan ku.
" Awwww… sakit", Juan berteriak lebay membuat beberapa orang di dekat situ menengok ke arah kami.
Aku melotot ke arah Juan, meminta pertanggung jawabannya.
"Ehm… iya iya maaf. Besok gak gitu lagi deh", Juan mengaku salah.
Aku mengangguk menerima permintaan maafnya.
" Besok-besok kalau mau ajak jalan-jalan langsung angkut aja", Juan menambahkan dengan senyum jahil di sudut bibirnya.
" Heh… ", aku menghardik pelan sambil mencubit pundaknya.
Juan tertawa puas.
***
__ADS_1