Merpati Kertas

Merpati Kertas
AKU PERGI JUAN


__ADS_3

Aku setengah tersadar saat mendengar seseorang berbicara " Sepertinya nyonya sangat syok pak. Dan saya sudah membersihkan luka di telapak kaki nyonya. Ada jahitan yang nanti harus dirawat", Jelas dokter itu kepada Juan. 


" Baik, terima kasih. Nanti saya yang akan merawatnya ", Juan menjawab singkat.


Aku membuka mataku dan menemukan Juan di sana. Aku mulai menangis, air mataku keluar begitu saja saat melihat Juan. Rasa yang ku sadari saat ini adalah, aku merasa sangat kecewa atas apa yang Juan perbuat kepadaku, aku kecewa melihat Juan begitu berubah. Aku kecewa karena mendapati bahwa dia bukan orang yang sama seperti dulu. Juan menyakitiku, cintanya menyakitiku.


" Embun kamu sudah bangun?  tolong jangan menangis lagi", Juan berkata lirih sambil mendekati tempat tidur. 


Aku menarik selimut menutupi diriku menolak untuk melihat Juan. Aku benci padanya, sangat benci. Rasanya aku ingin mati saja, aku merasa tidak pantas untuk bertemu Nandes lagi. Apa yang harus aku katakan jika bertemu Nandes?. Sudah 3 hari Juan membawaku ke sini, aku tidak tahu apakah Nandes dan Elsa mencariku atau tidak.


Juan duduk di pinggir tempat tidurku. Sangat lama dia terdiam di sana. Aku tetap diam di dalam selimutku. Pakaianku sudah diganti menggunakan piyama tidur. Aku sudah tidak peduli siapa yang menggantinya, toh Juan sudah melihatku. Tidak ada yang bisa kusembunyikan darinya.


" Embun tenangkan dirimu. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang kulakukan padamu. Aku mencintaimu. Aku tidak berniat menyakitimu sayang", Juan berkata lirih. " aku akan pergi ke kantor, kamu istirahatlah. Aku akan pulang secepatnya", Juan berkata pelan. 


Aku tidak menyahut dan aku tidak berniat mengatakan apapun. Sepeninggalan Juan aku duduk di tempat tidur memikirkan hidupku. Memandangi cincin yang diberikan oleh Nandes, semua sirna karena sebuah obsesi.


Akun mulai menangis lagi. Aku berjalan ke kamar mandi, menyiram diriku dengan air dan menggosok badanku dengan sabun berkali-kali. Badanku sampai berbekas merah karena aku menggosoknya dengan kasar. Aku menangis di bawah shower sejadi-jadinya.


Aku merasa kotor, aku bukan perempuan baik, aku benci hidupku. Aku menyesal bertemu Juan, aku benci padanya. 


Berjam-jam aku di kamar mandi. Setelah merasa lebih baik aku mengenakan pakaianku dan kembali ke tempat tidur. Aku menolak untuk makan. Semua yang mereka berikan tidak aku sentuh. Aku berniat akan melawan Juan dengan caraku, Juan tidak akan pernah memilikiku sampai kapanpun. 


Sepertinya pelayan menyampaikan kepada Juan tentang aku yang menolak untuk makan dan minum. Aku hanya tidur di tempat tidurku seharian penuh. Juan datang dan memarahi semua pelayan karena aku yang menolak untuk makan. Dia penuh emosi, tapi aku tidak takut padanya. 


Juan datang ke kamarku. Dia duduk di pinggir tempat tidur. " Cantik, kenapa kamu tidak mau makan?", Juan bertanya lembut memegang tanganku. 


Aku menepis tangannya tidak menjawab. Juan frustasi " Embun tolong jangan menyiksaku seperti ini. Kamu terlihat pucat dan lemah. Aku akan menyuapimu?", Juan kembali meraih tanganku. 

__ADS_1


"Aku tidak lapar Juan. Pergilah. Biarkan aku sendiri", aku tetap menutup mataku. 


Juan tidak sabar, dia meraihku dan mendudukanku di tempat tidur dengan lembut. Aku membuka mataku, khawatir Juan akan melakukan hal itu padaku. 


" Aku salah. Aku mengakui aku salah. Tapi tolong makan. Jangan menyiksa dirimu seperti ini", Juan menatap mataku dengan lembut. 


Aku menangis " aku tidak mau. Biarkan aku mati", aku frustasi. 


" Kenapa kamu berkata seperti ini? Bisakah kamu bahagia bersamaku? Aku mencintaimu", Juan mengguncang pelan badanku. 


" Tidak Juan. Kamu tidak mencintaiku, kamu terobsesi padaku. Kamu…. Menyakitiku… obsesimu menghancurkan hidupku", aku berteriak mendorong troli makanan membuat semuanya jatuh dan pecah. 


Juan marah dia sangat murka. Dia mendekatiku dan menciumku dengan marah, hatiku hancur lebur. Air mataku bersatu dengan ciuman kami. 


" Aku mencintaimu Embun dengan segenap hatiku, bertahun-tahun aku memikirkanmu. Kamu bersama Nandes, tidur bersamanya, tertawa bersamanya, aku benci itu. Sejak awal kamu milikku. Aku mengikutimu kemanapun kamu pergi. Tapi saat aku datang, kamu menolakku. Aku sakit, aku ingin bersandar padamu. Berikan kepadaku apa yang kamu berikan kepada Nandes. Cinta, rasa sayang, tubuhmu seharusnya itu milikku ", Juan berteriak padaku.


 " Kau mengikutiku selama ini? menculikku, memperkosa aku dan mengurungku di sini? Kamu sudah gila ", aku berteriak padanya. 


" Aku memang gila Embun. Gila karenamu, seharusnya dari awal aku langsung menghampiri kamu. Tidak membiarkan perasaanmu tumbuh kepada Nandes. Haha… ", Juan berdiri hendak menghampiriku. " malam itu kamu juga menginginkanku", Juan tersenyum padaku. 


" Kalau bukan karena obat itu aku tidak akan pernah sudi disentuh olehmu Juan", aku menangis. 


" Embun lepaskan pecahan kaca itu. Maafkan aku", Juan maju selangkah lagi suaranya berubah lembut. 


" Jangan mendekat. Aku membencimu", Aku menatap Juan penuh benci.


Dua orang bodyguard berdiri dibelakangku. Aku mundur ke arah lain. Juan psychopath,  dia benar-benar gila. 

__ADS_1


" Embun kamu  ingat merpati kertas yang aku berikan padamu? Aku masih selalu melipatnya untuk diberikan padamu selama bertahun-tahun. Aku mencintaimu, aku selalu merindukanmu", Juan berkata lembut. 


Aku tidak bergeming, aku mengangkat pecahan kaca itu ke arah bodyguard Juan dan Juan bergantian. 


Kesabaran Juan habis " Kalau kamu seperti ini terus. Aku akan benar-benar menghancurkan Nandes ", Juan mengancamku.  Dia mengambil Hp miliknya dan menelpon seseorang, memintanya dalam waktu 24 jam  menarik saham dari perusahaan milik Nandes dan Adam, setelah itu dia menutup telepon. 


" Aku masih bisa membatalkan  jika kamu menurut sayang", Juan berbicara lembut dan maju selangkah. 


Aku melihat Juan dengan tatapan sedih. Aku menarik nafas panjang " Kamu benar mencintaiku Juan? ", aku bertanya. 


" Tentu saja cantik, aku mencintaimu", Juan tersenyum melihatku yang mulai menurut. 


Aku tersenyum  padanya dengan perasaan sedih "Tapi kenapa cintamu menyakitkan untukku? Kenapa cintamu membunuhku? Kamu bukan Juan yang ku kenal. Cinta pertamaku sudah mati. Aku …. ", aku menatap Juan dalam " aku akan pergi bersama cinta pertamaku", aku langsung menyayat nadiku. Tidak susah bagiku untuk menyayatnya dengan tepat mengingat latar belakangku sebagai ahli medis. 


Darah muncrat keluar bersamaan dengan teriakan Juan. Aku sudah bertekad, jika karena aku Nandes hancur dan jika karena aku Juan menggila untuk apa aku hidup. Toh aku sudah tidak pantas kembali kepada Nandes dan lagi aku tidak ingin bersama Juan. 


Aku melihat darah segar milikku mengalir membasahi lantai. Dan Juan yang menangkap tubuhku. Seorang dari mereka menekan pergelangan tanganku dengan kain kering. Aku menatap Juan yang menangis melihatku.


" Embun maafkan aku. Maafkan aku. . jangan begini. Embun ku mohon", Juan menangis memeluk kepalaku. " Siapkan mobil brengsek... cepat", Juan meraung kepada seseorang.


Juan menatapku " Embun ku mohon tetap sadar", Juan mebelai wajahku. Aku tersenyum padanya lalu melihat ke langit-langit kamarku, aku berdoa didalam hati.


" Tuhan jika ini akhir hidupku, sampaikan kepada Nandes bahwa aku mencintainya". 


Setelah itu aku merasa melayang, jantungku berdebar snagat cepat dan aku menutup mata. Selamat tinggal.


***

__ADS_1


__ADS_2