
" Apa? Apa maksudmu Nandes?", Flit seolah tidak percaya.
" Apa aku perlu mengulang Flit?", aku kesal. " Apa aku perlu mengulang kejahatan yang dilakukan adikmu?".
Terdiam sejenak seperti tidak percaya akhirnya Flit memegang pundakku "Oke aku akan membantumu. Adikku itu… ahh… aku akan mencari keberadaannya", Flit lalu menelpon seseorang. " Aku akan menghubungimu jika aku sudah mendapatkan kabar Nandes, aku berjanji", Flit menatapku.
Aku mengangguk lalu berbalik pergi meninggalkan Flit yang sibuk berbicara di telepon. Aku membawa mobil pulang memutari kota Jakarta berharap menemukan Embun di mana saja, tapi hasilnya nihil. Sampai tengah malam aku memutuskan pulang ke apartemenku. Aku menelpon Monica, menyerahkan semua pekerjaan kantor kepadanya.
Aku duduk di ruang tamu dengan berbagai macam pikiran yang terlintas. Apa yang terjadi? Apakah Embun bahagia bersamanya? Tapi kenapa Embun meminta tolong? Apa yang Juan inginkan setelah bertahun-tahun pergi? Aku menggenggam erat gelasku, lalu menyesap habis minuman di dalamnya.
Terkadang ada kemarahan yang menyelinap masuk kedalam otakku, terkadang rasa cemas yang hebat menyerangku karena Memikirkan apa yang terjadi pada Embun. Kadang ada rasa takut yang muncul, takut Embun meninggalkanku dan memilih Juan. Pikiranku kacau balau.
Aku menelpon Adam " Dam, belum ada kabar. Nanti kalau ada perkembangan aku akan hubungi kalian", Aku berkata singkat yang di jawab iya oleh Adam. Adam paham, aku tidak ingin banyak bicara saat ini.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri dan mengisi perutku. Aku belum makan apapun dari kemarin, sejak bertemu Elsa aku tidak merasakan apapun selain kecemasan yang menguasai pikiranku.
***
Aku sedang mengunyah rotiku saat Flit menelpon.
" Nandes aku menemukannya. Berangkat malam ini", Flit berkata singkat.
Aku menelan ludah, ada sedikit rasa takut di hatiku. Takut Embun memilih Juan. Aku tidak bisa memikirkan hal lain. Jujur dari hatiku yang paling dalam aku takut kehilangannya.
Aku menelpon Adam dengan tangan gemetar.
" Ya, Nandes bagaimana?", Adam menjawab telponku.
" Aku menemukannya".
__ADS_1
***
Sampai saat keberangkatan kami ke Jogja dan menginjakkan kaki di villa itu, aku masih memikirkan tentang segala kemungkinan yang menyakitkan untukku.
Villa itu tampak sepi,beberapa orang berjaga. Flit sempat tidak diijinkan masuk sampai penjaga yang dibawa Flit terlibat baku hantam dengan penjaga Villa itu. Aku berlari masuk ke dalam Villa, mencari Embun kesana kemari.
Flit ikut membantuku meneriaki nama Juan sampai seorang pelayan keluar dengan ketakutan. Ada noda darah di bajunya. Aku berlari ke arah ruangan yang ditunjuk. Aku terjatuh karena melihat darah yang menggenang di lantai. Pikiranku kabur, aku tidak bisa memikirkan apapun.
" Darah siapa ini?", Flit membentak pelayan.
Pelayan itu menangis ketakutan tidak berani menjawab. Flit menarik nafas mencoba sabar.
" Katakan, darah siapa ini?", Flit menatap tajam ke arah pelayan itu.
Aku menunggu jawaban. Jantungku berdebar tak karuan.
Menarik nafas menenangkan diri pelayan itu berbicara pelan dan takut " Tadi pagi tuan Juan dan nona bertengkar hebat. Nona melempar semua barang… dan … dan.. nona … menyayat tangannya sendiri", pelayan itu terisak.
" Sekarang mereka kemana? Katakan padaku? ", aku berteriak Frustasi.
Pelayan itu menyebut salah satu rumah sakit ternama di Jogjakarta. Tanpa basa basi aku berlari keluar ruangan diikuti oleh Flit di belakangku.
Aku kacau, sangat kacau. Apa yang terjadi? Aku terus menanyakan itu didalam hatiku. Apa Juan memperlakukannya dengan buruk? Aku memukul dasbor mobil dengan kuat. Flit hanya terdiam melihatku.
***
Aku berlutut melihat Embun yang berbaring diatas tempat tidur pasien. Kakiku lemas, badanku gemetar ketakutan. Aku sangat tahu keadaan ini, berapa belas tahun lalu aku menyaksikan kejadian yang sama seperti ini. Usaha terkahir yang dilakukan untuk membuat Meggy kembali.
Beberapa petugas medis sedang melakukan RJP pada Embun. Aku melihat Juan duduk terdiam sama menderitanya denganku, bajunya penuh dengan darah yang mengering. Aku linglung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Flit mondar mandir melihat semua itu.
__ADS_1
Ketika situasi membaik, aku duduk di sebelah Embun. Menggenggam tangannya yang terasa dingin. Melihat balutan luka di pergelangan tangannya. Tidak ada kata yang terucap dariku ataupun Juan. Kami sama-sama terdiam selama berjam-jam.
Wanitaku tampak kurus dan pucat. Tangannya terasa dingin, tidak ada kehangatan yang biasa kuterima. Tidak ada senyum yang terpancar untuk menyambutku. Air mataku membasahi tangannya. Aku menangis dalam diam, menangisi kebodohanku karena tidak bisa menjaganya, menangisi kebodohanku karena tidak bisa menemukannya secepat yang ku bisa, aku benar-benar tidak berguna.
Setelah cukup lama aku mendengar Juan bergerak dari kursinya. Dia hendak mendekati tempat tidur Embun saat itu juga aku menarik kerahnya dan menghajar wajahnya tanpa ampun. Tidak ada celah sedikitpun yang ku sisakan untuknya membalas. Dan dia tidak memiliki keinginan untuk membalas, dia diam menerima semua amukanku.
Sampai Flit datang dan memisahkan kami. Flit berusaha menarikku sekuat tenaga bersama seorang bodyguardnya. Aku melihat Juan meludahkan darah dari mulutnya, wajahnya berdarah. Dia tertidur di lantai berwarna putih itu dan menangis tanpa suara. Darahnya menempel di lantai. Aku berontak melepaskan diri dari Flit. Aku marah besar, aku mengamuk memukul tembok melampiaskan kemarahanku.
Setelah merasa lebih baik aku melihat Flit dengan mata yang tidak bersahabat.
" Bawa dia pergi sebelum aku membunuhnya", aku berkata dingin.
" Nandes… Maaf… aku benar-benar menyesal atas kejadian ini", Flit merasa sangat bersalah.
" Pergi Flit, aku tidak mau melihat keluarga kalian muncul di depanku", aku memotong perkataannya dengan penuh kemarahan.
Flit menatap sedih ke arahku, kami sudah bersahabat cukup lama. Dia adalah kakak yang sangat baik menurutku. Tapi aku memutuskan persahabatan itu dalam satu kalimat kemarahan. Dan aku tidak peduli, aku akan menghancurkan siapapun yang menyakiti wanitaku.
Juan berdiri dengan darah yang memenuhi badannya. Dia menatap sedih ke arah Embun, aku tahu dia menyesal atas apa yang terjadi. Tapi aku tidak peduli, dia menyakiti Embun. Dia hampir membunuh Embun.
Tanpa melihat Juan aku berkata dengan suara bergetar menahan Emosi " Juan! Cukup Meggy. ... jangan Embun. Tolong".
Juan mematung mendengar perkataanku. Cukup lama dia berdiri di sana. Lalu dia mundur beberapa langkah dan pergi meninggalkan ruang rawat dengan berlumuran darah, Flit mengikutinya dari belakang.
Sepeninggalan mereka ruangan terasa sangat sepi. Hanya terdengar suara alat medik yang berbunyi teratur, memunculkan grafik tanda kehidupan dari Embun. Aku melihat cincin yang ku berikan masih tersemat di jari manis Embun. Aku menangis, menangis sejadinya.
" Apa yang kamu lakukan? apa yang terjadi padamu? Embun bangun ! Ku mohon", aku mencium puncak kepalanya. Hatiku sedih, aku hancur melihat Embun terdiam.
Setelah cukup lama aku menelpon Adam memberitahukan situasi yang terjadi. Dan mereka langsung datang ke Jogjakarta keesokan harinya.
__ADS_1
***