Merpati Kertas

Merpati Kertas
ISTRI YANG MENJADI PACAR


__ADS_3

Aku membangunkan Jeni yang tertidur dengan nyenyak di atas tempat tidurku. Sepanjang malam dia tidur dalam pelukanku, kami benar-benar seperti sedang jatuh cinta. 


 “ Hei, Jen. Ini akhir pekan ayo kita kencan”, aku membangunkannya. 


Jeni membuka mata pelan lalu melihat ke arahku. Dia tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan bantal. 


“ Jangan lihat wajah bantalku”, katanya dari balik bantal.


“ Kenapa? bukannya selama ini sudah aku lihat”, aku tersenyum melihat kelakuannya di pagi ini.


“ Ah.. pokoknya jangan… sekarang kan beda”, keluhnya lagi.


“ Aku tetap suka kamu walaupun kamu tidur dengan mendengkur”, aku mulai menggodanya. 


Jeni melepas bantal dari wajahnya dan langsung terduduk “ Ha? yang benar? aku mendengkur?”, wajahnya memerah karena malu.


Aku menahan tawaku, Jeni benar-benar mudah di bohongi. “ Ya, kamu mau aku tirukan suaramu mendengkur?”, aku berusaha serius.


“ Tidak perlu. Aku tidak mau tidur bersamamu lagi”, katanya cepat sambil turun dari tempat tidur. 


Aku tertawa lalu meraihnya dalam pelukanku “ Aku hanya bercanda, kamu tidak mendengkur hanya ngiler”.


“ Isss… “, dia mencubit pinggangku dan membuat aku menjerit kesakitan. Jeni menyipitkan matanya ke arahku kesal. 


“ Juan bantu aku membereskan tempat tidur “, katanya. 


“ Kenapa? nanti pelayan akan membersihkannya”, aku protes. 


“ Tidak, ini hanya tempat tidur. Jangan membebankan pelayan dengan hal kecil seperti ini”, katanya. 


Akhirnya dengan malas aku membantunya membereskan tempat tidur, melipat selimut berdua setelah itu dia mengusap kepalaku.


“ Anak pintar”, pujinya membuat wajahku memerah. 


“ Apa sih, memangnya aku anak-anak”, aku protes. Tapi jauh di dalam hati aku sangat menyukai perlakuannya saat ini padaku. Aku ingin bermanja-manja padanya, tapi sikap cool masih mendominasi dalam pikiranku jadi aku menunda kesempatan ini. 


Kami menyelesaikan sarapan pagi seperti biasa. Jeni duduk dihadapanku, dia tampak cantik dengan gaun santainya yang dihiasi bunga kecil-kecil. 


“ Jadi mau kemana kita hari ini sayang?”, aku bertanya sambil mengunyah makanan.


“ Sayang?”, dia balik bertanya.


“ Hmm.. kita harus punya panggilan kan. Tidak mungkin aku memanggil namamu saja, kita mungkin menikah karena kontrak. Tetapi sekarang kamu adalah pacarku. Jadi kamu adalah pacar sekaligus istriku”, aku menjelaskan. 


Dia tersipu “ Emm .. sayang”, ucapnya malu-malu. 


“ apa ini pertama kalinya seseorang memanggilmu sayang?”, aku bertanya. 

__ADS_1


“ Tidak, aku sering dipanggil sayang kok”, jawabnya spontan. 


Wajahku berkerut rasa cemburu  sedikit menyerangku. “ Siapa yang memanggilmu sayang?”, aku bertanya. 


“ Ibu, ayahku dan tanteku. Aku selalu dipanggil sayang”, jawabnya polos. 


Aku hampir tertawa mendengar jawabannya itu, anak kecil polos ini ingin ku cubit pipinya. 


“ Jadi aku adalah pria kedua setelah ayahmu?”, aku bertanya. 


“ Ya, kamu adalah pria kedua”, jawabnya. 


“ Baguslah, jika ada pria lain yang memanggilmu dengan sebutan sayang aku akan melenyapkan mereka semua”, kataku dingin. 


Jeni tersenyum dan menyodorkan tomat ceri ke arah mulutku. aku menggelengkan kepala karena tidak menyukai tomat ceri itu. 


“ Tidak akan ada yang memanggilku begitu selain kamu.Oke”, katanya lalu memasukan tomat ceri itu ke dalam mulutnya sendiri. 


***


Kami berkencan sesuai dengan daftar keinginannya. Hari ini kami akan piknik bersama. Jeni menyiapkan segala sesuatunya di dapur, sampai akhirnya dia mengatakan siap berangkat. 


“ Doni kamu hari ini libur saja. Aku akan pergi bersama suamiku tanpa pengawal, tanpa sekretaris”, Jeni memberi perintah menggantikan aku. 


Doni menatapku meminta persetujuan, aku mengangguk setuju. 


“ Baik nyonya”, Doni menjawab patuh. 


Aku menurunkan keranjang piknik kami dan mengikutinya dari belakang. Jeni menghirup nafas dalam dan merasakan angin menerpa wajahnya. Aku meletakan keranjang piknik di tempat yang sedikit teduh, di bawah naungan pohon. Jeni berlari ke arahku. 


“ Juan, aku suka tempat ini”, katanya girang.


“ Baguslah kalau kamu suka”, aku tersenyum melihat senyum ceria di wajahnya. 


“ Hah.. aku sangat menyukai padang rumput seperti ini. Rasanya ini adalah tempat terbaik untuk melepaskan semua beban hidup”, katanya sambil membongkar keranjang piknik.


Aku membantunya membentangkan kain bercorak floral kesukaannya. Dia meletakkan dua buah bantal di atas kain itu. Lalu berbaring di sana dan menutup matanya seperti berkonsentrasi. Aku mengambil ponselku dan merekam semua pergerakannya. 


“ Apa yang kamu lakukan?”, aku bertanya sambil merekam. 


“ Aku sedang bermeditasi. Udara disini sangat bagus untuk pikiran dan jiwamu”, sahutnya. 


“ Kamu terdengar seperti wanita berusia puluhan tahun”, aku menggodanya. 


Jeni langsung membuka matanya dan melihat ke arahku. dia langsung tersipu dan menutup wajahnya. 


“ Aku malu, jangan rekam lagi”, dia menutup wajahnya. 

__ADS_1


Aku tertawa dan mematikan rekaman, lalu bergabung dengannya berbaring di atas rumput yang dialasi kain piknik. 


“ Apa kamu pernah melakukan piknik seperti ini?”, tanyaku.


“ Belum. Ini pertama kalinya, bahkan piknik sekolah tidak bisa kau ikuti karena tidak punya uang”, jawabnya tanpa rasa sedih. 


Aku terdiam mendengar perkataannya. 


“ Juan, semua yang kulakukan bersamamu di akhir pekan adalah hal yang pernah dilakukan orang tuaku dulu. Aku ingin merasakan kebahagiaan mereka saat itu. Ternyata sangat menyenangkan”, katanya ceria. 


Aku ikut tersenyum dan merubah posisiku jadi menghadapinya, bertopang pada satu tanganku aku memperhatikan keindahan wajahnya yang sedang menikmati suasana yang tenang ini. 


“ Sampaikan setiap daftar keinginan kencanmu padaku, kita akan melakukannya bersama. Jangan pernah melakukannya bersama pria lain”, aku berkata padanya. 


Jeni membuka matanya lalu menatapku. “ Ya aku akan melakukan semua keinginanku bersamamu”, katanya lagi. 


Aku tersenyum membelai wajahnya “ Gadis baik”, pujiku. 


Dia tersenyum lalu berbicara ragu “ Ada sesuatu yang ingin aku lakukan saat piknik Juan”. 


“ Apa itu?”, tanyaku. 


Dia terdiam seperti malu untuk mengatakannya. “ Aku… aku ..”, dia menatapku. 


“ Katakan “, aku membelai pipinya. 


“ Aku… ingin… belajar berciuman”, katanya lagi. 


Aku menatapnya dengan senyum kecil di wajahku. Gadis polos ini benar-benar melakukan semua hal pertamanya bersamaku. 


“ Apa aku terdengar mesum? Jangan lakukan saja, aku malu”, lanjutnya sambil melihat ke arah tempat lain. 


Aku memegang dagunya agar berpaling kepadaku. “ ikuti iramanya dan ingat baik-baik lakukan ini hanya bersamaku”. 


Dia menatapku penuh kepercayaan di matanya lalu mengangguk menuruti perintahku. Aku menunduk ke arahnya yang berbaring di sampingku. Dia tampak kaku seperti remaja yang baru mengetahui apa itu pacaran. Aku mengecup bibirnya pelan sebagai pembukaan, awalnya aku melakukannya dengan lembut. Dia menutup matanya dan  mengikuti irama yang ku bawakan. 


Aku bisa merasakan manis bibirnya dan hangat mulutnya di dalam mulutku. Aku mengaitkan lidahku padanya, dia membalasku sedikit canggung. Seperti menikmati apa yang disajikan untuknya, tangannya tanpa sadar bertaut di leherku. Aku memainkan mulutku mulai lebih antusias. Jeni seperti tidak siap dengan permainanku, nafasnya memburu aku bisa mendengar suara desahannya saat mulutku berhenti melu*at bibirnya dan berpindah ke lehernya. 


“ Hmm .. ah”, Jeni menggeliat saat aku menggigit pelan bawah telinganya. Aku mengecup pelan lehernya saat Jeni memanggilku “ Juan”. Aku tersadar dan langsung berhenti dari aktifitas yang berlebihan itu. 


Aku memejamkan mataku di lehernya, menghirup wangi parfumnya yang menenangkan dan memikirkan bagaimana aku bisa lepas kontrol seperti seekor binatang. Aku tidak ingin mengulang masa laluku yang buruk kepada gadis yang percaya kepadaku ini.  Aku bisa merasakan nafas Jeni yang sedikit memburu  karena ulahku. 


Aku bangun dari tidurku di atas tubuhnya dan membantu Jeni untuk duduk. Aku tersenyum padanya dan mencium keningnya penuh sayang. membantu merapikan rambutnya dan bajunya yang sedikit turun.  Jeni menatapku dengan wajah merona merah, karena malu. 


Terdengar suara speaker Ice cream dari jauh. Doni datangs sesuai perintahku dan Bella mengikutinya. Mereka berdua membawa mobil berjualan ice cream ke arah kami. Aku berbalik menatap Jeni lalu berbisik di telinganya. 


“ Pelajaran kita selesai, sesi berikutnya akan kita pelajari di hari lain”, bisikku membuat wajahnya kembali merona. 

__ADS_1


Aku tersenyum lalu berbalik melambai ke arah mobil ice cream, sambil memikirkan cara agar aku  bisa menahan diri saat bersamanya. 


***


__ADS_2