Merpati Kertas

Merpati Kertas
Label Harga


__ADS_3

Kami menonton dalam diam. Nandes sepertinya tertarik dengan film ini, dia sangat serius menatap TV berukuran besar itu.


Aku yang sejak awal memang memiliki tujuan dibalik alasanku mengajaknya nonton tidak terlalu berkonsentrasi pada jalannya cerita film itu.


Aku menggigit salah satu ujung kuku jari tanganku dengan gelisah. Aku terus mencuri-curi pandang ke arah Nandes, memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk memastikan perasaannya padaku. 


Tiba-tiba Nandes bersuara yang membuatku terlonjak kaget “ Embun popcornnya habis. Kamu mau lagi biar aku buatkan?”.


Aku tergagap “ Eh… tidak…iya.. eh”, aku bingung sendiri.


Nandes mengerutkan kening ke arahku “ jadi, iya atau tidak?”, tanyanya lagi.


Aku menarik nafas menenangkan diri “ Tidak, nanti gendut”, kataku tegas lalu melihat ke arah TV dengan tatapan sok serius.


Nandes mengangguk lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur. Aku mengintip Nandes dari balik sofa, memperhatikan setiap gerak geriknya. Nandes berbalik ke arah TV dan langsung menangkap basah aku yang memantau pergerakannya. Dia menatapku curiga karena bertingkah sedikit aneh, aku cepat-cepat memperbaiki posisiku ke arah TV


Aku memikirkan apa yang dikatakan Elsa di supermarket kemarin sore.


“ Embun pastikan dulu dia masih suka kamu sebagai wanita atau tidak”.


“ Caranya gimana? aku tanya langsung?”, aku bertanya polos.


“ Ih si dodol. Rayu dia, tunjukan bagian dirimu yang berbeda”, kata Elsa.


“ Ha? gimana?”, aku masih bego.


“ Iss, tunjukan keseksianmu”, kata Elsa.


Aku memikirkan perkataan itu, maksudnya apa coba? aku harus gimana? aduh si Elsa ini, kenapa juga penjelasannya setengah-setengah gitu.


Nandes kembali sambil membawa sekotak popcorn. Aku berusaha memikirkan cara yang tepat untuk mengetahui isi hatinya padaku. Apa aku langsung bicara saja? aku bingung.


Nandes tampak kembali berkonsentrasi menonton TV. Aku menghembuskan nafas dan memulai aksiku dengan berpura-pura mengikat rambut agar bagian leherku terlihat olehnya.


Belum sempat Nandes melihat aksiku, tiba-tiba ponselnya berdering. Nandes melihat layar benda tipis itu.


“ Halo Monica”, Nandes menjawab teleponnya. “ Tidak sibuk, aku cuma sedang nonton bersama adikku. Ada apa?”, tanyanya lagi.


Aku melotot saat dia mengatakan ‘adikku’. Wah aku terlalu banyak berharap, aku cuma seorang adik untuknya. Aku menggigit bibirku sendiri kesal karena kenyataan yang ku terima.

__ADS_1


Nandes melirik ke arahku dan mengangkat tangannya memberi isyarat bahwa telpon ini penting. Dia lalu berjalan ke kamar dan sebelim menutup pintu meninggalkanku dengan serpihan popcorn di atas meja sempat-sempatnya dia berkata.


" Embun keringkan rambutmu dengan hairdryer, nanti masuk angin".


Aku menatap seowt ke arah pintu kamar Nandes “ Hah… adik, mengeringkan rambut. Wah…dia bahkan tidak melirik ke arahku sedikitpun", Aku melepas ikatan rambutku dengan kasar.


" Si brengsek itu seleranya sudah berubah ternyata, tinggi seksi? memangnya aku tidak seksi?”. Aku melihat ke arah dadaku, memang tidak bisa di bandingkan dengan wanita waktu itu tapi ini ukuran normal.


Dengan marah aku menekan tombol power di remot TV dan mengangkat semua piring kotor ke wastafel. Sambil mencuci piring aku masih mengomel “ persetan dengan perasaan. Bodo amat”. Setelah itu aku masuk ke kamar dan tertidur dalam kemarahanku. 


***


Besoknya sepulang kerja aku pergi ke rumah Elsa. Jujur saja aku semakin penasaran dengan Nandes. Sambil membantu Elsa melipat baju yang baru diangkat dari jemuran, aku bercerita ke Elsa dan tentu saja Elsa menertawakanku sampai wajahnya merah. 


" Kalau aku pikir-pikir lagi. Ini namanya karma kawan. Dulu Nandes benar-benar ngejar kamu kan. Sekarang kamu yang penasaran dengannya setelah dia diam", kata Elsa padaku. 


Aku cemberut " Aku hanya penasaran", Kataku. 


" Embun, sepertinya kamu mulai tertarik pada Nandes. Ingat, kamu terlalu lama sendiri. Selalu menutup hatimu dengan Es yang besar. Lihat sekarang sepertinya es itu akan segera mencair", Elsa bersabda seperti nenek-nenek yang menasehati cucunya. 


Aku mendengus tapi tidak membantah. " Tapi sepertinya dia punya pacar ", aku putus asa. 


Aku menghela nafas, mulai percaya semua perkataan Elsa dan meyakinkan diriku sendiri untuk tetap menjalankan rencanaku lagi.


" Jadi apa yang harus aku lakukan Elsa?" , tanyaku. 


" Malam ini pakailah bajumu yang paling beda dari biasanya. Buang semua training busukmu itu", kata Elsa. 


" Tapi aku tidak membawa baju lain. Aku bahkan tidak bertekad untuk pulang ke kosanku ", selaku. 


" Aku akan meminjamkan bajuku untukmu", Elsa lalu berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, lalu berapa menit kemudian dia keluar dengan membawa setelan baju yang masih memiliki label di tali bahunya. 


“ Wah kamu gila ya? aku hanya ingin memastikan perasaannya bukan mau mengajaknya tidur bersama. Bagaimana kalau dia marah dan menganggapku wanita tidak benar?”, aku protes melihat model baju tidur daster bertali tipis, cukup pendek dengan punggung terbuka. Baju itu tidak terlalu tipis tapi cukup menonjolkan bentuk lekuk tubuh orang yang memakainya. 


“ Aku yakin Nandes akan langsung memangsamu dan mengatakan aku masih menyukaimu”, kata Elsa dramatis. Wajahku memerah mendengar perkataannya. 


“ Kamu yakin kan Sa? kalau ini gagal, aku akan malu seumur hidupku”, kataku melihat Elsa dengan tatapan meminta penguatan. 


Elsa mengangguk mantap “ Aku yakin, sangat Yakin. Potong jariku kalau dia tidak terpesona padamu ".

__ADS_1


Maka terjadilah kelakuanku yang semakin absurd karena hasutan setan yang diberikan oleh Elsa. Dengan tekad baja aku memutuskan untuk menjadi wanita penggoda malam ini, hanya untuk Nandes. Aku akan membuatnya mengakui perasaannya padaku. 


***


Aku melangkah masuk ke dalam rumah Nandes, dia sedang membaca sebuah buku di kursi malasnya. Dia melihat ke arahku “ kamu baru pulang? aku kira kamu balik ke kosanmu?”, Nandes menutup bukunya menghampiriku.


“ Aku habis dari rumah Elsa dan aku berniat tinggal disini lebih lama. Kosan aku sedang di renovasi jadi berisik banget, gak tenang. Aku menginap disini dulu”, aku berbohong dengan tenang.


Nandes mengangguk “ kalau mamamu tahu, kita bisa dinikahkan loh ?”, kata Nandes membalikan kata-kataku waktu itu. 


Aku mengabaikannya dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar aku menarik nafas, mengeluarkan baju yang diberikan oleh Elsa lalu meyakinkan diriku sendiri “ Ya aku pasti bisa”. 


Dengan langkah gontai aku  berjalan ke kamar mandi, berlama-lama di kamar mandi. sebelum keluar aku mengikat rambutku agar punggung ku terlihat. Aku berdoa di depan kaca wastafel.


“ Ya Tuhan maafkan dosa hamba hari ini. Hamba hanya sedang mencari jodoh”, aku menyatukan tanganku seperti berdoa. Setelah itu aku membuka pintu dan melihat ke sekeliling, Nandes tidak terlihat. Aku menarik nafasku dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. 


Saat menuangkan air di gelas Nandes menegurku


“ Mandinya tumben lama”.


Aku melihat ke arahnya, dia sepertinya sedikit terpaku melihatku , apa ini berhasil pikirku. 


“ uhuk.. Kamu … cepat sana tidur. Aku ada pekerjaan”, Nandes berkata sambil menuangkan air di gelasnya.


Aku melongo, dia tidak tergoda sama sekali. Malah menyuruhku untuk tidur. Sialan Elsa akan kupotong jarimu, semua jarimu. 


Aku menghembuskan nafas kecewa dan berbalik hendak menaruh gelas di wastafel. Tiba-tiba Nandes terbatuk-batuk dan air tumpah ke bajunya. Naluriku sebagai seorang tenaga medis bangkit, langsung dengan sigap aku menepuk-nepuk punggung Nandes.


“ Kamu tidak apa-apa? “, tanyaku. Nandes sedikit menyingkir menjauhiku.


“ Aku tidak apa-apa”, katanya. Aku menatap heran ke arah Nandes. Ini jelas gagal total, dia bahkan menghindariku. 


“ Ya sudah “, aku berjalan meninggalkannya tetapi dia menarik tanganku dan berbisik pelan ke telingaku. 


“ Embun… Kamu… “, Nandes mendekatkan bibirnya ke telingaku, aku sampai bisa mendengar hembusan nafasnya. Jantungku berdetak tidak karuan, sebelah tangan Nandes meraih bahu kananku. Apa malam ini aku akan dibuat jatuh cinta olehnya?


Nandes menarik sesuatu dari tali bahuku dan melanjutkan bicaranya “ … lupa memotong label harganya”, Nandes menyerahkan potongan label harga baju ke tanganku.


Dengan wajah merah aku berlari ke arah kamar dan tidak keluar lagi sampai besok pagi.

__ADS_1


***


__ADS_2