Merpati Kertas

Merpati Kertas
Bagaimana Perasaanmu?


__ADS_3

Ternyata aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Maria mengatakan bahwa hari ini aku memiliki banyak agenda yang sudah diatur sejak bulan lalu. Saat menghadiri rapat pikiranku sedikit berkelana ke Jeni. Apakah ibuku melakukan hal yang buruk padanya? Ataukah ibu mengintimidasinya? Aku mulai cemas.


Di tengah rapat, Doni masuk ke dalam ruang rapat lalu mengangguk permisi kepadaku. Rapat seketika berhenti, aku melihat raut wajah cemas terpancar dari setiap wajah diruangan itu. Semua karyawan tahu Doni adalah bayanganku, jika dia menghampiri di saat seperti ini berarti sesuatu telah terjadi.


Doni menghampiriku dan berbisik pelan. “ Tuan, nyonya sudah ada di ruang kerja anda. Nyonya dalam keadaan baik-baik saja”, bisiknya pelan. 


Aku mengangguk sambil bernafas lega, lalu melihat ke arah tengah rapat. “ Maaf interupsinya, silahkan lanjutkan”, kataku.


Aku mendengar beberapa hembusan nafas lega, mereka pasti mengira Doni datang untuk mengadukan tingkah laku mereka di belakangku. Aku menatap dingin ke arah presentator dan  langsung fokus karena mendengar Jeni berada di ruanganku sekarang. 


Setelah rapat selesai dengan cepat aku kembali ke ruang kerjaku dan menemukan Jeni sedang tidur di sofa. Aku berjongkok di dekatnya, memperhatikan wajahnya yang tampak tenang. Tiba-tiba Jeni membuka matanya dan langsung bertatapan denganku. 


Dia cukup kaget sampai tidak bisa berkata apa-apa. Aku tersenyum padanya untuk mengurangi kecanggungan di antara kami. 


“ Apa kamu lama menunggu?”, tanyaku dengan jarak sedekat itu. 


“ Hmm… cukup lama aku menunggu”,katanya pelan. 


“ Maafkan aku”, kataku membelai wajahnya. 


“ Juan “, panggilnya. 


“ Ya ?”, aku menjawab pelan. 


“ Aku lapar “, katanya polos. 


Aku tertawa mendengar perkataannya yang tanpa malu-malu itu. “ Baiklah kamu mau makan apa?”, aku membantunya duduk. 


“ Aku ingin makan bebek panggang, juga salad buah dan kentang goreng”, katanya dengan penuh semangat.


Aku menautkan alisku “ Oke, ayo kita makan”, aku menyetujui keinginannya.


Dia tersenyum mendengarku mengiyakan permintaannya. Aku langsung tahu bahwa aku suka padanya, aku jatuh cinta pada gadis ini dengan segala tingkah lakunya.


***

__ADS_1


Kami duduk di sebuah restoran, memesan semua menu yang dia inginkan. Aku yakin kami mungkin bahkan tidak bisa menghabiskannya.


Aku ingat dia pernah seperti ini sebelumnya, saat menghadapi stres ketika tokonya di obrak-abrik. Saat itu Jeni memesan banyak sekali makanan dan duduk makan sambil menghela nafas panjang.


Saat ini pun dia terlihat seperti itu. Jeni memotong daging di piringnya dengan menghela nafas panjang berkali-kali.


“ Jeni apa ibuku bertemu denganmu hari ini?”, tanyaku mencoba mencari sumber stresnya.


Dia berhenti mengunyah lalu berbicara “ Ibumu bertemu denganku Juan. Dia mengatakan  bahwa aku tidak pantas bersamamu. Kita berbeda bagai langit dan bumi”, Jeni berbicara jujur sambil menghela nafas lagi.


“ Mungkin ibumu akan mengatakan bahwa aku adalah anak yang paling kurang ajar di dunia ini karena aku membantahnya. Walaupun hanya sekali”, lanjutnya. 


Aku berhenti mengunyah dan menatapnya. “ Apa jawabanmu?”, tanyaku penasaran. 


Jeni meletakan pisau dan garpunya. “ Aku mengatakan bahwa kau yang mengajakku menikah lebih dulu di hadapan kakekku. Ada beberapa hal yang mungkin terdengar lebay, tolong jangan marah aku hanya berniat melawan intimidasi dari ibumu. Aku bilang ke ibumu bahwa aku tidak akan meninggalkanmu dan jika ibumu mau dia bisa menyuruhmu menceraikanku”, Jeni mengangkat bahu. “ Aku mengatakan itu karena… hmm… karena … kontrak kita”, jelasnya canggung. 


Aku tersenyum mendengar jawabannya. Seperti dugaanku Jeni berbed. “ Benar aku yang mengajakmu menikah lebih dulu. dan mengenai ciuman kita tadi pagi. Aku tidak menyesalinya”, kataku menatapnya. 


Jeni terbatuk mendengar perkataanku, dia melihat ke sekitar meja kami seolah takut ada yang mendengar pembicaraan rahasia ini. 


“ Itu … ciuman pertamaku”, katanya dengan suara yang pelan.


“ Untuk apa aku berbohong? Aku tidak pernah dekat dengan pria seumur hidupku. Kau tahu uang adalah segalanya bagiku dulu. Lebih baik aku mencari uang daripada menghabiskan waktuku untuk hal yang tidak penting. Jadi bagaimana mungkin ciuman pertamaku hilang begitu saja karenamu”, jawabnya cepat dan pelan. Dia mengiris daging di piringnya dengan kesal.  


“ Jadi aku orang pertama yang menggandeng tanganmu, memelukmu, memanggilmu sayang, memelukmu saat tidur dan menciummu?”, aku menggodanya. 


“ Ya kamu yang pertama. Tapi memeluk saat tidur itu karena kamu terus menarikku dan tidak membiarkanku kembali ke tempat tidurku. jadi itu tidak dihitung “, bantahnya. 


Aku tersenyum mendengarnya “ Jadi bagaimana perasaanmu?”, tanyaku benar-benar melupakan makan malam ini. 


Dia terdiam menatapku lalu menjawab “ Jantungku berdebar bahkan .. saat kamu menatapku”, jawabnya kaku.  


“ Benarkah aku membuatmu berdebar?”, tanyanya  sedikit memajukan badannya. 


“ ehem… uhuk…. hmmm”, dia menjawab kaku lalu menyesap winenya. 

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar jawabannya. “ Aku akan sering melakukannya”, kataku. 


Dia terdiam tidak membalas perkataanku. Aku senang bisa mendengar pengakuannya. Apakah aku boleh mencintainya?. aku akan berdamai dengan masa laluku mulai sekarang. Semua rasa bersalahku akan ku simpan rapat di dalam hatiku, ini akan menjadi penderitaan yang harus aku tanggung. Tetapi aku akan tetap mulai membuka hidupku yang baru, hidupku pada gadis ini.


***


Beberapa hari berikutnya asisten Jeni datang menghadap dan mengatakan bahwa Jeni menangis setelah ibu tirinya datang mengunjungi Jeni ke toko bunga. 


Aku memukul meja dengan marah “ Wanita jahat itu mengatakan apa?”, Tanyaku.


“ Maafkan saya tuan, saya tidak mendengar apapun karena nyonya meminta saya keluar dari ruangannya”, jawabnya tertunduk. 


“ Baiklah. Blacklist keluarga itu, jangan biarkan mereka menghampiri Jeni bahkan dalam jarak 1 meter”, perintahku. 


“ Baik tuan”, Doni menjawab mewakili pengawal itu.


“ Beraninya suami istri itu mengganggu ketenangan kami ”, kataku dingin penuh kemarahan. 


Saat pulang ke rumah aku melihat Jeni duduk dengan murung di ruang tamu. Dia tidak sadar aku sudah pulang, sepertinya dia memikirkan sesuatu.


“ Jeni, aku pulang”, aku menegurnya. 


Jeni yang kaget dari lamunannya langsung kelabakan “ Hai, kamu sudah pulang?”, tanyanya memaksa tersenyum.


Aku menatapnya dan menemukan kesedihan “ Ada apa?”, tanyaku.


“ Tidak ada apa-apa Juan. Aku hanya kelelahan saja”, jawabnya sambil tersenyum. 


Aku mengangguk dan merentangkan tanganku. “ Apa kau perlu pelukan untuk menghilangkan lelahmu?”, tanyaku. 


Dia menatapku dan tidak menunggu dia berlari masuk ke dalam pelukanku, kepalanya bersandar padaku. 


“ Juan aku hanya begini sebentar saja. Jangan bertanya apapun”, Jeni berbicara dalam pelukanku. 


“ Baiklah “, aku menjawabnya. Sebelah tanganku memeluknya, sebelah tanganku yang lain menyalakan musik dari ponselku dan menyambungkannya ke speaker rumah. Lagu Wonderful tonight mengalun memenuhi ruangan. 

__ADS_1


Setelah itu aku membawanya berdansa bersamaku. Kami bergerak pelan ke kiri dan ke kanan. Jeni mengikuti langkahku dengan terus berada dalam pelukanku. Kami tidak berbicara hanya menikmati musik yang mengalun sejuk. Aku membawa Jeni dalam setiap gerakan mengikuti irama sampai dia tertidur dalam pelukanku. 


***


__ADS_2