
Aku memikirkan rencana yang diberikan oleh Monica. Apakah akan berhasil nantinya, aku tidak tahu. Jika misalnya sampai saat itu Embun tetap tidak menunjukan perasaannya, aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membayangkan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan jika Embun tidak ingin bersamaku lagi, Jika Embun memilih untuk meninggalkanku lagi. Mungkin aku tidak akan pernah menyukai siapapun lagi seumur hidupku.
Seseorang membuat keributan di luar pintu kantorku. Dari suaranya aku tahu itu Nadia. Aku memijat keningku saat dia menyeruak masuk, tidak mengindahkan perkataan sekretarisku. Wajahnya penuh emosi.
Sekretarisku melihat kearahku sedikit takut karena keributan ini. Aku mengangguk pelan ke arahnya menyuruhnya keluar.
" Nandes, bisakah kamu tidak mengabaikanku?", Nadia mulai berpidato.
Aku tidak menanggapinya. Melihat aku yang diam saja Nadia mendekati mejaku " Nandes kamu mau aku buat keributan disini?", Nadia mengancam.
Aku meletakan pulpenku di atas meja lalu menatapnya tajam " Nadia, sudah aku katakan berulang kali, kantor ini bukan tempatmu bermain. Apalagi yang kamu inginkan dariku? Aku sudah membantu untuk karir modelmu. Aku sudah memberikan sponsor untukmu. Sekarang jauhi aku", aku kembali memegang pulpen dan mulai mencoret-coret sesuatu di atas kertas.
" Aku mau kamu bukan yang lain", Nadia berteriak.
" Cukup. Berapa kali aku katakan aku tidak menyukaimu sebagai wanita Nadia. Aku hanya memandangmu sebagai partner perusahaan ini. Dan yang harus kau ingat, aku memiliki orang lain di hatiku. Paham. Sekarang keluar", aku berkata dingin dan menatapnya tajam.
Nadia menatapku penuh kemarahan " akan ku pastikan kau menjadi milikku", setelah itu dia keluar pintu dan menabrak Alex yang hendak masuk ke ruanganku.
" Hai Nadia", Alex menyapanya tapi tidak di gubris.
Aku menggeleng kepala tidak mengerti apa yang membuatnya terobsesi padaku.
" Wow kisah cinta yang rumit kawan", Alex duduk di sofa dengan santainya.
Aku tidak menanggapi, aku yakin sebentar lagi Monica akan datang bergabung ke ruangan ini dan benar saja itu terjadi. Monica langsung mengambil posisi berbaring terlentang di sofa.
" Jadi apakah ini ruang istirahat kalian?", aku berkata dingin sambil tetap fokus ke kertasku.
" Ya", mereka menjawab serempak.
Aku melihat mereka dengan kesal. Lalu mengambil ponselku membuka CCTV, Embun masih kursus bersama Chef pilihannya sendiri. Dia sangat tekun, seandainya aku bisa menikahinya aku pasti sangat bahagia. Aku tidak sabar untuk cepat-cepat pulang.
Aku menelpon sekertarisku "Hari ini skip jadwal yang tidak penting".
" Tapi pak semua jadwal hari ini adalah jadwal penting. Pertemuan yang sudah diatur sejak bulan lalu", sekertarisku menjawab tegas.
__ADS_1
Aku menghela nafas " Jadi jam berapa akan selesai ", aku bertanya penuh harap.
" Sekitar tengah malam pak".
Aku menutup telepon. Aku harus mengabari Embun bahwa aku akan pulang telat. Tapi apakah itu penting untuknya. Aku bimbang.
***
Pukul 11 malam aku sampai di rumah. Aku masuk ke dalam ruang tamu dan menemukan Embun tertidur di sana dengan TV yang masih menyala. Apakah dia menungguku? Apa seharusnya aku menelponnya tadi?.
Aku meletakkan jas kantor di sofa sebelahnya. Aku menekuk sebelah lututku dan menatapnya penuh sayang. Jariku merapikan rambut yang jatuh ke wajahnya. Aku menghela nafas, lalu mencium pelan bibirnya. Merasakan manis bibirnya di mulutku.
Aku melepaskan kecupanku dan menarik nafas menenangkan diri. Aku mengangkat Embun ke pelukanku. Dia sedikit bergerak, dengan mengantuk dia melihatku.
"Nandes..", dia memanggilku pelan
" Ya.. aku sudah pulang", aku berjalan pelan menaiki tangga, sengaja berlama-lama dengan dia dipelukanku.
" Hmm.. ",dia bergumam mengantuk lalu menyandarkan kepalanya di dadaku.
Aku tersenyum kecil, secara perlahan tapi pasti aku akan membuatnya kembali kepadaku. Aku berdiri di depan pintu kamarnya dan berubah pikiran. Aku berjalan ke sisi lain ruangan, menuju kamarku. Jika besok Embun marah, aku akan menghadapi setiap amukannya.
Aku tersenyum menatapnya, selelah apa dia sampai tidak sadar aku menggendong dan membawanya ke atas tempat tidurku. Aku terus menatap wajahnya yang sedang tertidur. Wajahnya yang selalu menghiasi mimpi malamku, senyumnya yang selalu muncul di kepalaku, tawanya yang terus berputar di memoriku.
Bagaimana mungkin aku membencinya? Setelah melihatnya yang aku tahu adalah aku benar-benar merindukannya. Merindukan setiap bagian darinya. Aku gila karenanya. Aku ingin dia bersamaku seumur hidup. Aku lalu menutup mataku tertidur di sampingnya. Tapa menyentuhnya sama sekali, karena aku mencintainya.
***
Aku terbangun di pagi hari dan menyadari Embun tidak ada di sampingku. Aku langsung tersentak bangun dan berjalan cepat keluar kamar. Apa dia marah padaku dan langsung pergi karena menaruhnya di atas tempat tidurku?
Aku mencari ke kamarnya dan tidak menemukannya di sana, di ruang tamu dan dapur aku tetap tidak menemukannya. Aku memanggilnya dengan ribut, jantungku berdebar, kakiku lemas. Aku sedikit menyesali perbuatanku tadi malam.
" Embun…. Embun…",aku memanggilnya panik.
Dengan kaki kosong aku berlari keluar rumah, mencari-cari sosok Embun. Dan menemukannya di kebun sedang memetik sayuran. Aku menghela nafas lega.
__ADS_1
" Embun..", aku memanggilnya keras sambil berjalan ke arahnya cepat
Embun melihat ke arahku " Oh, kamu sudah bangun? Hari ini sawinya…", belum selesai dia berbicara aku langsung menariknya dalam pelukanku.
Embun kebingungan " kamu kenapa? ".
Aku tetap memeluknya dalam diam, jantungku berdebar cepat. Sepertinya Embun bisa merasakan debar jantungku yang tidak karuan.
" Nandes kamu kenapa tidak pakai sandal. Nanti kakinya kotor", Embun terus mengoceh di pelukanku.
" Aku… pikir.. kamu meninggalkanku Embun. Aku takut", suaraku bergetar.
Embun diam saja, aku bisa merasakan dia menepuk pelan punggungku dengan kedua tangannya, mencoba menenangkanku yang panik.
" Aku di sini tidak akan ke mana-mana", Embun berkata lembut.
Aku melepaskan pelukanku. Menatapnya dan melihat senyum tersungging di wajahnya. Aku menghela nafas menenangkan diri. Lalu membalas senyumannya.
" Kamu… ", Embun tiba-tiba berkata datar. " Melanggar kontrak dengan menyentuhku, bahkan membawaku ke tempat tidurmu?", Embun mulai memarahiku.
Aku diam saja, pura-pura melihat ke tempat lain.
" Nandes…", Embun memanggilku, nada yang sama yang selalu ku dengar setiap dia marah kepadaku dulu.
" oke... oke... aku salah. Aku hanya menggendongmu dan aku tidak melakukan apapun kepadamu di atas tempat tidur. Aku hanya.. hanya merindukanmu", aku mengakui dosaku.
Embun menyipitkan matanya mempertimbangkan sesuatu.
"Baiklah… aku minta ganti rugi", Embun mulai bernegosiasi.
" Ya. Katakan", aku mengangguk setuju.
" Aku ingin bertemu Elsa dan Adam. Ayo kita ke rumah mereka", Embun menatapku penuh harap.
Aku tersenyum " baiklah. Aku akan menemanimu".
__ADS_1
Embun tersenyum cerah, secerah matahari pagi yang bersinar menyinari pagi minggu ini.
***