
Aku berjalan memasuki rumah utama, kali ini Doni menunggu di ruang tamu. Aku mengunjungi ibuku yang sedang melakukan demo, ibu menolak makan selama seharian ini. Dengan terpaksa aku mengunjunginya di tengah semua kesibukanku. Bella menolak datang bersamaku.
“ mama mencari kakak, bukan aku. Jadi aku di sini saja. Pulang sekolah aku akan mengunjungi toko bunga milik kakak ipar. Jadi kakak pergi saja”, itulah jawaban yang ku dapatkan di telpon.
“ Ck, padahal aku juga ingin ke toko bunga”, aku menggerutu.
“ Maaf tuan, anda mengatakan sesuatu?”, asisten ibuku bertanya karena mendengarku menggerutu.
“ Tidak ada”, aku berkata dingin.
Saat ini aku sedikit bergembira karena tadi pagi Jeni datang dengan membawa bunga mawar berwarna merah muda. Yang setelah aku mencari tahu artinya adalah ucapan rasa terima kasih dan apresiasi. Aku cukup bangga melihat bunga itu di vas dan senyum manis di wajah Jeni. Pagi ini di lewati tanpa wajah cemberut dan aku tetap bersikap cool, seolah-olah aku tidak peduli padahal aku selalu memperhatikannya.
“ mama aku datang”, aku berbicara ke arah ibuku yang tidur memunggungi pintu masuk.
“ Pergilah. Semua anakku sudah pergi meninggalkanku. Mereka semua kabur dari rumah, tidak ada yang peduli padaku”, Ibuku berbicara lemah dan menghela nafas panjang. Tentu saja drama ini baru dimulai.
“ Mom, jangan berkata begitu. Kami hanya sudah dewasa dan ingin memiliki privasi sendiri”, aku berkata lembut masih berdiri di tempatku.
“ John, bawa tamu ini pergi. Aku tidak ingin diganggu”, ibuku berbicara kepada asistennya.
John sang asisten hanya berdiam di tempatnya, tidak berani menyuruhku pergi.
Aku mengambil duduk di pinggir tempat tidur. “ Mama harus makan, mama bisa benar-benar sakit kalau mogok makan seperti ini. Atau aku perlu memanggil dokter untuk mama? ”, aku berkata lembut berusaha sabar.
Ibuku langsung mengambil posisi duduk “ Juan, mama tidak mau makan sampai kamu mengabulkan permintaan mama”, ibuku merengek seperti Bella.
Aku menghela nafas panjang “ permintaan apa kali ini ma?”, aku bertanya.
“ Temuilah gadis pilihan mama. Anak dari sahabat mama Juan, gadis ini cantik, baik, pintar, bibit bebet bobotnya jelas. Sangat cocok untukmu”, pinta ibuku.
Aku menatapnya tanpa ekspresi, mendengar semua ocehannya “ Mama tahu kan aku tidak suka dijodohkan”, aku menolak.
“ Hah sudah mama duga. Didalam rumah ini tidak ada yang mendengarkan mama. Seandainya papa masih ada, mungkin mama tidak akan sedih begini", Ibuku menunduk sedih.
" Nyonya tolong anda jangan bersedih seperti ini, nanti asam lambung anda kumat", John ikut nimbrung dalam drama nyonyanya.
Inilah yang aku hindari saat pulang ke rumah. Semua paksaan dan keinginan mama yang harus ku emban karena perlawanan kakakku. Adikku memilih kabur dan hanya aku yang bisa berdiri menghadapinya. Apa yang harus aku lakukan untuk menghindari perjodohannya, aku tidak bisa berpikir.
"John jauhkan semua makanan dari hadapanku. Aku ingin tidur saja”, ibuku mengambil posisi berbaring.
__ADS_1
“ Oke Fine ma, aku pergi. Tapi hanya bertemu. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa mama. Aku hanya akan bertemu sekali”, aku akhirnya mengalah.
“ Terima kasih anakku. Iya temuilah sekali, tapi mama harap kalian berjodoh”, ibuku menatapku dengan mata berbinar.
Aku tersenyum “ Jadi sekarang makanlah. Dan Bella tinggal bersamaku, mama tidak perlu cemas”, aku berdiri ingin cepat-cepat keluar dari rumah.
“ Mama tahu. Makanya mama tidak mencarinya. Awas saja kalau dia pulang, mama akan menjewernya”, ibuku marah-marah.
“ Mama jangan terlalu keras padanya”, aku mengingatkan.
Ibuku mengganggu senang. Tentu saja senang karena untuk pertama kalinya aku mengikuti keinginannya. Aku berpamitan lalu pergi meninggalkan kamar itu.
“ Doni apa jadwal selanjutnya?”, aku bertanya saat kami keluar dari rumah itu.
“ Makan malam bersama direksi”, jawab Doni.
“ Batalkan, kita ke toko bunga”, kataku sambil masuk ke dalam mobil.
“ Baik tuan”, Doni menjawab patuh
***
“ Tuan, jika boleh memberi saran sebaiknya tuan turun dan menemui nona”, Doni berkata sambil memperhatikanku yang mulai gelisah.
“ Menurutmu begitu? “, aku menatapnya mencari dukungan.
“ Tentu saja”, Doni meyakinkan.
Akhirnya dengan penuh keberanian aku turun dari mobil dan berjalan mendekati toko itu tepat saat Jeni keluar dari toko. Aku yang sudah tertangkap basah oleh matanya tidak bisa balik lagi ke mobil. Pada akhirnya hanya bisa menyapanya.
“ Hai”, kataku sok cool.
“ Hai. Sedang apa kamu di depan toko bungaku?”, Jeni bertanya sambil menatapku heran, di tangannya ada buket bunga besar yang sepertinya akan segera di kirimkannya.
“ Eh.. aku… aku… mencari Bella”, aku beralasan.
Jeni menatapku seperti tidak percaya, tepat saat itu sebuah ojek online berhenti di depan Jeni. Sepertinya akan mengambil pesanan bunga itu.
“ Mas bawanya hati-hati ya. Jangan sampai rusak, nanti saya kasih bintang lima deh”, Jeni memberikan jempol ke tukang ojek itu.
__ADS_1
“ Siap non”, Tukang ojek itu menjawab ceria. Dan lihat Jeni, dia tersenyum dengan sangat manis tetapi begitu melihatku senyum tadi langsung hilang.
“ Jadi kamu mencari Bella?”,Jeni bertanya lagi.
“ Ya, apakah dia ke sini?”, tanyaku sepenuhnya tidak berbohong.
“ Ya tadi dia ke sini. Setelah itu dia pulang ke tempatmu”, Kata Jeni lagi lalu masuk ke dalam toko tanpa mengajakku.
Wah wanita ini sungguh luar biasa. Bisa-bisanya dia mengabaikanku, tanpa hilang akal aku mengikutinya masuk ke dalam toko itu. Dia kaget melihatku yang berdiri di ambang pintu.
“ Aku akan menutup toko”, katanya lagi.
Aku mengambil duduk di sebuah sofa kecil dan menatap berkeliling “ Jadi kau ingin mengusir pelanggan?”, aku berkata sok dingin.
Jeni mengerutkan wajahnya “ Hah, baiklah”. Dia menaruh tasnya lagi diatas meja dan berjalan mendekat ke arahku.
“ Jadi tuan pelanggan yang sombong, apa mau anda?”, Jeni bertanya sabar.
“ Karena kau seorang penjual bunga. Aku ingin berkonsultasi”, aku mencari akal.
“ Ya? “, Jeni bertanya hati-hati.
“ Jika seorang wanita marah. Kau akan mengirim bunga apa?”, Aku teringat ibuku yang sedang mogok makan.
“ Mawar merah, mawar kuning”, saran Jeni.
“ Baiklah aku akan membeli semua bunga yang ada di toko ini. Dan kirimkan ke alamat yang ku minta nanti”, kataku sambil berdiri.
“ Ha ha ha”, Jeni tertawa dengan terpaksa. “ Tapi tuan toko saya sudah tutup dan lagi karyawan saya sudah pulang. Bagaimana jika besok pagi?”, tawarnya.
Aku berlagak berpikir “ Besok pagi ya? Hmm.. aku mau malam ini”, kataku angkuh lalu berjalan ke pintu keluar.
Sebelum keluar aku melihat dia menendang sofa dengan kesal dan berteriak “ Juannnnn. Aku benci kamu”.
Aku tertawa dan berjalan ke arah mobil “ itu balasan karena kau melemparku dengan bantal”, aku tertawa bahkan saat di dalam mobil, membayangkan Jeni sangat sibuk malam ini membuatku merasa senang.
“ Haha, besok aku apakan anak ini”, aku tersenyum melihat Jeni yang masih marah-marah di dalam toko.
***
__ADS_1