Merpati Kertas

Merpati Kertas
AKHIR


__ADS_3

Hari pindah rumah tiba. Noa sangat sibuk mengurusi ini dan itu. Dia benar-benar antusias memiliki rumah sendiri, aku ikut senang melihatnya.


Pekerjaan yang menanti ku dan Doni datang. Kami membuat taman mini di belakang rumah dengan tangan kami sendiri. Kami menanam bunga dan menggemburkan tanah atas perintah Jeni.


Jeni sudah seperti mandor yang bertugas mengawasi. Sedangkan Bella terus merecoki Doni. Aku sampai harus mengomelinya. Kakek duduk bersantai menonton kami bekerja.


Setelah semuanya selesai, aku dan Doni duduk di atas rumput taman. Aku mengipas-ngipas badan dengan topi yang ku pakai. Aku bangga melibat taman yang terlihat cantik itu.


" Sepertinya jika pensiun dari dunia bisnis, aku akan bekerja sebagai petani saja", aku berkata kepada Doni.


" Anda yakin tuan? Jika anda bekerja di dunia pertanian anda tidak boleh takut pada cacing", jelas Doni serius.


Aku sebenarnya tidak takut pada cacing yang menggeliat itu, aku hanya merasa geli. " haha aku tidak takut hanya geli", aku membantah.


Doni tertawa pelan. Bella menghampiri kami lalu menyerahkan sebotol minuman pada Doni bukan padaku.


"Ini kak. Haus ya? Kasihan, kakak capek banget ya", Bella membersihkan kotoran dari wajah Doni.


Doni terbatuk-batuk melihat kelakuan Bella. Sepertinya kehadiranku tidak terlihat oleh Bella. Aku menatap mereka dengan penuh curiga.


"Bella berhenti ganggu Doni", aku memarahi Bella.


Bella mendelik sewot padaku. " Apaan sih kak. Aku gak ganggu kok. Iya kan kak Doni", kata Bella berubah manis saat menyebut nama Doni.


Doni terdiam kaku, takut pada reaksiku.


Jeni datang menghampiriku dan memberikan sebotol air. " Terima kasih ya di hari libur kalian berdua sudah membantuku", kata Jeni senang.


Aku tersenyum padanya dengan penuh sayang. " Apapun akan ku lakukan untukmu", kataku bucin.


" Doohh.. Bucin banget", teriak Bella sewot.


" Apa sih kau", aku menjawab jutek.


" Ayo kita bersih-bersih. Kakek sudah menunggu", ajak Jeni.


***


Aku berjalan cepat ke arah pintu masuk toko bunga milik Jeni. Dari informasi yang aku dapat, ibuku datang mengunjunginya di toko bunga lagi hari ini.


Aku membuka pintu dan langsung masuk ke ruang kantor milik Jeni. Ibuku kaget melihatku, begitu juga Jeni.


" Sayang, ada apa kamu ke sini?", tanya Jeni padaku yang berdiri terpaku di pintu.

__ADS_1


" Mom, sedang apa di sini?", bukannya menjawab pertanyaan Jeni aku malah bertanya kepada ibuku.


" Eh.. mmm... mom ingin ngobrol dengan Jeni", ibuku berkata canggung.


"Mom ingin menindas Jeni lagi?", aku curiga.


" Tidak Juan. Mom tidak bermaksud jahat", jawab ibuku takut.


Jeni menghampiriku dan meraih lenganku. " Juan Mom dan aku hanya mengobrol urusan wanita. Jangan seperti itu pada mom", kata Jeni.


Aku memiringkan kepalaku heran. "Kalian sedang mengobrol? ", Aku tidak percaya.


Jeni menarik ku keluar dari ruangan itu dan bicara serius padaku.


" Juan aku dan mom sudah akrab sekarang, jadi kamu tidak perlu curiga apapun. Oke", Jelas Jeni.


" Yakin? Sejak kapan? ", tanyaku tidak yakin.


" Ada deh. Kamu kepo banget. Pokoknya kamu jangan ganggu", Jeni lalu masuk kembali ke dalam ruangan.


Ibu menatapku canggung. " Juan mom hanya ada rencana bersama Jeni. Apakah tidak boleh?", tanya ibuku.


" Rencana apa mom?", aku duduk di sofa berusaha tenang. Aku masih kuatir mengingat kejadian yang di alami Flits dulu, aku takut ibu membenci Jeni.


" Mom ingin meminta maaf kepada Flits dan istrinya. Jadi kami akan berkunjung ke rumah mereka, Flits sudah setuju dan istrinya tidak keberatan mom datang. Mom akan pergi berbelanja untuk cucu mom", ibuku berbicara malu.


Aku tersenyum, ada sesuatu yang lepas dari dadaku. Rasa sesak yang selama ini menghimpit sepertinya menghilang entah ke mana.


" Baiklah mom, jika sempat aku akan temani mom ke sana", aku berdiri dan memeluk ibuku.


" Maafkan mom Juan, selama ini mom egois pada kalian. Itu semua karena tuntutan nama keluarga kita. Maafkan mom, ternyata setelah semua ini mom sadar bahwa anak lebih penting dari apapun", ibuku memelukku erat.


" Terima kasih mom. Maafkan aku yang kasar padamu", aku mencium tangannya.


Di pojokan ruangan Jeni meneteskan air mata bahagianya. Aku menatapnya, gadis ini adalah keajaiban yang bisa mengubah isi hati seseorang. Aku bahagia memilikinya.


***


Aku menggenggam tangan Jeni saat masuk ke rumah. Dia tampaknya lebih ceria dariku.


" Kamu sepertinya bahagia sekali hari ini", aku menebak.


"Iya dong. Aku bahagia akhirnya mom mau menerimaku. Aku senang sekali", katanya polos.

__ADS_1


Aku mengelus kepalanya dengan sayang. " Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sayang", kataku.


" Ke mana? Ini sudah malam sayang", Jeni penasaran.


Aku tertawa, lalu mencium bibirnya cukup lama. Setelah itu aku berkata " kita akan pergi ke St. Moritz ".


Jeni menatapku tidak percaya. " Kita akan ke Swiss?", dia bertanya lagi.


" Ya. kita akan pergi ke Swiss", Aku mengulang pertanyaannya menjadi sebuah pernyataan.


Jeni berteriak senang lalu memelukku kuat. Dia sepertinya sangat bahagia dengan kabar yang ku berikan.


" Kamu suka?", tanyaku sambil mengelus kepalanya.


" Ya aku sangat suka. Terima kasih sayang", Jeni mengecup pipiku bahagia.


Aku membalas pelukannya erat. Tetapi apa yang sudah kita rencanakan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.


Beberapa hari berikutnya aku harus membatalkan rencanaku karena kabar yang tidak pernah ku duga. Jeni hamil anak pertama kami. Saking bahagianya aku sampai tidak bisa berkata apapun.


Saat ini kehamilan Jeni menginjak 2 pekan. Kami terlalu bahagia, sampai aku lupa bahwa hal buruk bisa saja terjadi.


Setelah kabar bahagia datang, kabar buruk menyusul.


Jeni mengalami kecelakaan yang membuat kami harus merelakan anak pertama kami.


Kehilangan anak pertama membuat kesedihan yang mendalam di hatiku, terutama Jeni. Dia melamun sepanjang hari, selalu menemukannya selalu menangis diam-diam. Jeni menjadi pendiam dan tidak banyak bicara.


Ibuku yang cemas dengan Jeni memintaku untuk berbicara dan membawanya pergi berlibur. Aku menuruti perkataan ibuku. Di suatu sore aku memeluknya di taman rumah kami.


" Sayang ", aku berbicara padanya.


" Ya, ada apa?", Jeni menatapku dengan tatapan tegar seperti biasanya.


" Aku ingin kamu tidak bersedih lagi. Aku ingin kamu ceria seperti dulu. Aku yakin semua akan baik pada waktunya", kataku pelan dan hati-hati. Aku sedih tapi Jeni pasti lebih terluka dariku.


Jeni menatapku dan mulai menangis " Juan maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita", Jeni sesenggukan.


Aku memeluknya kuat. " Tidak apa-apa sayang. Ini bukan salahmu, semua yang terjadi sudah ada dalam perencanaan Tuhan. Jangan menangis, Dia pasti akan memberi yang lebih untuk kita", aku mencium kepalanya. " Aku tetap mencintaimu", kataku lagi.


Jeni memelukku kuat dan menangis dengan sangat sedih. Pada akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Swiss berdua. Menikmati liburan bersama dan setelah kejadian ini kami menyadari bahwa kami saling menguatkan dengan cinta kami.


***

__ADS_1


__ADS_2