Merpati Kertas

Merpati Kertas
HASRAT PENUH KEMARAHAN


__ADS_3

Aku berusaha semaksimal mungkin mengurus diriku sendiri menggunakan tangan kiriku. Sudah seharian penuh Nandes tidak menghubungiku. Aku sedih. Tetapi aku sangat berat hati menghubunginya duluan. Aku masih memikirkan apa yang membuatku enggan menghubunginya. Apa karena dia memarahiku atau karena aku sedang menghindarinya agar tidak menjelaskan apapun terkait Juan.


Aku memutuskan untuk pergi berbelanja ke sebuah minimarket di dekat kosan. Dengan sebelah tanganku yang di bebat dan menggunakan penyangga aku berjalan menuju minimarket. Aku meninggalkan hpku di dalam kamar kosan. Rasa dingin AC menerpa wajahku saat aku membuka pintu minimarket. Aku mengambil keranjang belanjaan berwarna kuning dan membawanya ke antara rak cemilan dan minuman. Aku mengambil salah satu minuman dan meletakkannya di keranjang lalu beberapa cemilan. 


Setelah membayar ke kasir aku membawa tas belanja keluar minimarket dan duduk di kursi tempat bersantai di minimarket itu. Dengan tangan kiriku aku berusaha membuka kaleng minuman itu. Aku Frustasi karena tidak bisa membukanya. Aku lalu menyerah.


" Ck…  padahal pengen banget minum", aku mengeluh. Aku duduk cukup lama merenungi apa yang sedang terjadi dalam kisah cintaku. Aku tidak bisa memungkiri ada sedikit rasa rindu yang ku simpan untuk Juan didalam hatiku. Tetapi aku sangat yakin dengan pasti bahwa aku mencintai Nandes. Mungkin karena Juan adalah cinta pertamaku dan aku berpisah dengannya karena sebuah alasan yang menyedihkan, aku masih menyimpan sedikit keinginan di hatiku saat dia menciumku. Keinginan menyukainya kembali , tapi aku tahu aku harus menepis rasa itu.


Aku perempuan egois yang tidak bisa memutuskan apapun dan selalu terlambat menyadari hatiku sendiri. Logikaku yang jernih menyuruhku untuk menepis segala rasa yang muncul karena Juan. Dan aku akan melakukannya.


Aku Memasukan kembali minuman itu ke dalam kantong belanjaan dan beranjak pergi meninggalkan minimarket.Dari jauh aku melihat Nandes berdiri di depan kosanku bersandar di mobilnya. Rasa senang terselip di hatiku, tapi aku berusaha tidak menunjukkannya. Dia tersenyum melihatku yang berjalan menghampirinya. 


" Darimana?", Nandes bertanya lembut.


" Minimarket", aku menjawab singkat.


" Maafin aku", Nandes menatapku. 


" Ya. Aku juga minta maaf sudah mengeluarkan perkataan yang ambigu seperti itu", kataku pelan. 


"  Aku kemarin hilang kendali. Nandes menarikku mendekat. Masih sakit?", Nandes melihat ke arah tanganku yang cedera.

__ADS_1


" Kadang sakit. Susah tidur, susah makan dan aku belum keramas. Jadi jangan dekat-dekat aku. Aku harus ke salon untuk keramas", Aku menolak Nandes menyentuh rambutku. 


" Aku akan membantumu, ayo kita ke apartemenku?", Nandes membujuk.


Aku menatapnya lalu mengangguk menyetujui " Ya..  aku ambil Hp Ku dulu", Aku masuk ke dalam kosanku. Aku tersenyum senang karena masalahku ternyata tidak berlarut-larut terlalu lama. Aku dengan cepat membereskan barang, mengangkat ransel kecilku dan langsung menemui Nandes.


“ Kamu sudah makan? Mau makan? ”, Nandes bertanya didalam mobill. 


Aku mengangguk bersemangat. “Kamu senang sekali aku datang?”, Nandes menebak.


“ Iya, aku kira kamu masih marah padaku.Aku kesulitan mengurus diriku sendiri. Aku tidak bisa keramas, susah makan tapi kamu tidak mengirim pesan sama sekali. Jahat”, aku mulai mengomel.


Nandes tertawa “ iya maafkan aku sayang. Aku sibuk sekali kemarin. Aku memikirkanmu sepanjang hari tapi tidak bisa meninggalkan pekerjaanku”, Nandes mengelus rambutku dengan sayang. 


“ Lihat. Aku sudah bisa melepas penyangga tanganku tapi pergelangannya masih sakit jadi tetap harus di bebat ”, aku menunjukkan tanganku yang cedera pada Nandes.


“ Apa itu masih sakit?”, Nandes bertanya dengan perasaan bersalah seolah-olah dia yang melakukan itu padaku.


“ Tidak sakit kalau tidak digerakan dengan heboh. Ini hanya kesleo saja. Aku baik-baik saja”, aku tersenyum pada Nandes. 


Nandes menatapku dalam. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku tapi juga ragu. Aku tidak mencoba bertanya padanya karena aku takut dia akan membahas hal yang kuhindari. Jadi aku mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


" Sayang besok aku harus ke kampus, bagaimana kalau kita tidur? Sekarang sudah jam setengah 12", aku menatapnya lalu berdiri. Aku menggunakan kemeja putih milik Nandes yang panjangnya sampai menutupi pahaku.


Alih-alih menjawab pertanyaanku Nandes malah menarikku terduduk dan meraih daguku, dia mencium bibirku dengan lembut dan dalam. Seolah-olah dia ingin menunjukan betapa dia menyayangiku.Aku menutup mataku menikmati ciuman hangatnya, lalu dia mencium pipiku, bahuku dan sampai ke tulang selangka. Nandes mulai agresif, dia menurunkan sebelah kemejaku sampai atas payudaraku terekspos.


Aku menahannya dengan sebelah tanganku yang tidak cedera “ Ada apa dengan serangan mendadak ini ?”, aku terkejut karena tidak siap. “ Aku belum.. akh”, Nandes tidak memperdulikan kata-kataku. Dia menangkup sebelah milikku dengan tangannya dan membungkam mulutku dengan mulutnya. Ciuman yang hangat dan penuh sayang berubah menjadi agresif dan sedikit kemarahan. Nandes menuntunku berbaring di sofa. Aku sedikit mendorongnya karena kehabisan nafas. Nandes melepaskan ciumannya dan membuka bajunya. 


“ Nandes, kamu kenapa? kenapa seperti ini?”, aku meminta penjelasan berusaha untuk kembali duduk tapi Nandes memaksaku untuk tidur dan mulai menciumku dengan penuh nafsu. Dia menarik lepas bajuku dan menyebabkan kancingnya bertebaran di lantai. Memperlihatkan mengekspos seluruh bagian dariku yang hanya berbalut pakaian dalam.


Nandes mencium leher, tulang selangka sampai ke atas salah satu keindahanku. “ Nandes kamu.. akh”, Nandes mencucup salah satunya dengan dalam dan tangan satunya memainkan ujung yang lain. Logikaku bekerja untuk menghentikannya karena dia sedang marah tapi tubuhku tidak bisa menolak rasa yang disuguhkan. Aku bergetar, suaraku tidak bisa kubendung,  nafasku sedikit memburu. Tangan kiriku menggapai rambut Nandes.  Aku memejamkan mataku, saat tangannya menyusup ke dalam balik pelindungku yang terakhir. Nandes tidak kerepotan karena aku memang hanya menggunakan kemejanya yang panjang tanpa repot-repot menggunakan celana rumah. 


Dia memainkan hal yang paling sensitif dari hidupku, membuat badanku bergetar dan aku mendesah dalam keterlenaan yang diberikan. Dia mencium perutku, mencium pahaku dan memberikan kecupan berbekas di sana. Nandes masuk menggunakan mulutnya ke inti dalam hidupku.  Nandes ingin menyiksaku dengan caranya. Dia memainkan roleplay yang panjang dan membuatku mengejang berkali-kali. Aku lemas saat dia mengangkatku dan mendudukanku di pangkuannya. 


Aku menatapnya dengan sayu, setengah diriku sudah hilang entah ke mana. Rambut panjangku tergerai menutupi punggungku. Nades masuk ke dalam ku dengan aku di pangkuannya. Aku menjerit tertahan, karena rasa yang menghantamku. Aku memeluk lehernya, sambil bergerak dia menatap mataku dan memaksaku melihatnya, sebelah tangannya di pinggangku.


“ Aku benci dia menyentuhmu. Bahkan seujung rambut pun”, Nandes berkata tajam dan penuh rasa benci.


“Hmmm…”,Aku yang lemas dan sudah terbuai dengan perbuatannya hanya bisa bergumam tidak jelas. Dia menghujamku sampai ujung batasnya. Dia mengerang di dadaku dengan aku yang jatuh terkulai di bahunya. 


Aku benar-benar kelelahan karena perbuatannya. Dia mencium kepalaku, mataku dan bahuku. “ Maafkan aku Embun, aku benar-benar mencintaimu. Aku takut kehilangan kamu ”, Nandes berbisik di bahuku.


Aku tidak memberikan respon apapun karena kelelahan dan sangat mengantuk. Nandes mengangkatku dan membawaku ke kamar. Menutupi badan kami dengan selimut dan kami tertidur dengan aku dipelukannya. 

__ADS_1


***


__ADS_2