Merpati Kertas

Merpati Kertas
WANITA BARBAR


__ADS_3

Saat ini. . .


Aku menatap sebuah rumah kecil didepanku. Proyek hotel yang akan aku bangun memiliki kendala karena salah satu pemilik tanah tidak ingin menjual tanahnya pada kami. 


“Keras kepala sekali kakek tua itu. Kenapa tanah miliknya harus berada di tengah tanah yang lain”, Aku menjatuhkan puntung rokok ke tanah dan menginjaknya dengan sepatuku.


“ Kakek itu akan menjual tanahnya jika cucunya sudah menikah", Doni menjawab anteng.


“ Syarat macam apa itu? Kalau cucunya tidak mau menikah sampai dia mati bagaimana?”, aku kesal mendengar alasan tidak logis itu. 


Doni hanya terdiam mendengar perkataanku. Aku berjalan memasuki pekarangan rumah kecil itu dan melihat berkeliling. Rumah kecil yang cukup layak, rapi dan taman kecil yang diatur sedemikian rupa menjadi indah dilihat, lumayan menurutku. Doni mengetuk pintu rumah itu pelan, selang berapa lama seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan keluar. Wajahnya tampak ayu, kulitnya berwarna sawo matang, rambutnya panjang sepunggung,  bulu matanya tampak sangat lentik, tingginya kira-kira sebahuku.


“ Cari siapa ya?”, wanita itu bertanya.


“ Kami dari perusahaan High nona. Bapak ada?”, Doni bertanya sopan.


Wajah wanita itu berubah masam. “ Kakek pergi, mau apa?”, tanyanya ketus.


Doni masih tersenyum ramah, aku berdiri sedikit jauh dari Doni tanpa menunjukan minat sedikitpun.  “ Kami ingin bertemu bapak Darma”, Doni menyampaikan maksud kedatangan kami dengan sopan.


“ Kakek pergi ke posyandu lansia. Kalau mau sana nyusul biar sekalian periksa, kayaknya kuping kalian sudah bermasalah”, wanita itu menjawab jutek. 


Aku tertawa mendengar perkataannya “ Wah, belagu sekali kamu”.


Wanita itu menatapku tajam, tidak suka sepertinya dengan perkataanku. “ lebih baik kalian pulang saja. sebelum sumbu emosiku semakin pendek”, wanita itu mengabaikanku dan hendak kembali masuk ke rumah.


“ Kamu mau uang berapa banyak? hanya tanah sepetak begini membuat kami pusing. Kami akan berikan apapun yang kalian mau. Tapi tolong jangan mempersulit kami”, aku berbicara dengan suara berat mengancam. 


“ Hah..”, wanita itu seolah tidak percaya dengan perkataanku. “ tunggu sebentar di sini ya. Aku ambilkan surat tanahnya”, wanita itu berbicara pelan lalu masuk ke dalam rumah. 


Doni menatapku heran “ Kok mudah sekali ya”.


“ Mungkin dia takut padaku”, aku berkata sedikit sombong.

__ADS_1


Tiba-tiba wanita itu keluar dari pintu samping dengan membawa selang air lalu tanpa peringatan dia menyemprotkan air itu ke arah aku dan Doni, terutama aku.


“ Uang? wah tuan sombong ini belum pernah di kasih pelajaran ya”,Wanita itu mengoceh.


“ Hei apa yang kau lakukan”, aku berteriak karena air yang membasahi badanku.


Doni sama kelimpungannya denganku “ Nona hentikan”, Doni berteriak.


“ Rasakan orang sombong ha ha ha ha”, wanita itu tertawa puas. 


Aku yang sudah basah kuyup mulai tersulut emosi “ Kau”, aku maju beberapa langkah ke arahnya. Karena merasa terancam dia mengarahkan selang air itu tepat ke wajahku, aku sampai terbatuk-batuk karenanya. Dengan cepat Doni menarikku pergi dari tempat itu. 


“ Kau.. awas kau.. wanita brengsek… tunggu pembalasanku”, aku berteriak kesal karena melihat wanita itu tertawa kesenangan.


“ Sudah tuan. Ayo masuk mobil”, Doni memaksaku masuk mobil dan dia dengan cepat melajukan mobil meninggalkan tempat terkutuk itu.


***


“ Wah… akan ku balas kau nanti. Akan ku usir kau dari rumah itu”, aku mengomel sendiri.


Doni masuk ke dalam kamarku dengan membawa setelan jas baru. Dia sudah sangat rapi. “ Tuan baju anda”.


“ Doni aku akan bekerja dari sini. Semua rapat dengan direksi alihkan ke online ”, aku berkata sambil lalu. 


“ Baik tuan”, Doni menjawab cepat dan menggantungkan setelan jas itu. 


“ Doni.. cari tahu semua tentang wanita barbar itu dan segera bawa kepadaku”, aku berkata dingin.


“ Baik tuan”, Doni menjawab lalu meninggalkan kamarku untuk mempersiapkan semua yang ku minta padanya. 


“ Wanita bar-bar tidak tahu diri. Aku akan membalasmu”, aku tersenyum dingin. 


Sepanjang hari itu aku tidak fokus pada pekerjaanku. Aku memikirkan wanita bar-bar itu, mengingat tawanya membuat darahku mendidih. Aku menelpon Doni “ Mana berkas yang ku minta. Bawa ke ruanganku sekarang”, aku memberi perintah lalu menutup telepon.

__ADS_1


Aku berdiri dan menyesap minumanku. Menatap keluar hotel melalui jendela balkon. Sudah tiga bulan berlalu sejak aku berusaha melupakannya, menyibukan diri dalam pekerjaanku dan menutup semua kabar tentangnya. Beberapa kali aku bertemu Nandes untuk sebuah pekerjaan tapi aku berusaha menjadi profesional tanpa menggali apapun darinya. Sedangkan Adam dia tetap menjadi sahabatku, kami sering bertemu tanpa membahas apapun tentang Embun. Dan tentu saja Elsa sangat membenciku karena aku menyakiti sahabatnya, aku paham itu. 


Doni masuk ke dalam kamarku dan meletakan sebuah dokumen di atas meja. Aku duduk dan membuka dokumen itu. Sebuah lembar profil dengan foto pas terpampang di sana. 


“ Jeni? namanya terlalu bagus ketimbang perilakunya yang buruk”, aku mencemooh. “ perangkai bunga?”, aku menatap Doni.


“ Nona Jeni mempunyai sebuah toko bunga tuan. Sebenarnya Kakek Darma adalah paman dari ayah nona Jeni. Nona memilih keluar dari rumah karena sebuah permasalahan keluarga tuan dan tinggal di sebuah apartemen. Ibunya saat ini adalah ibu tiri dari nona Jeni, melakukan hal semena-mena padanya dan mengusir nona keluar dari rumah. Sepertinya kemarin nona sedang berkunjung ke rumah kakek Darmawan”, Doni menjelaskan panjang lebar. 


Aku menatap Doni tidak suka “ Kau mencari tahu kehidupannya untuk menikahinya?”, aku ketus.


Doni menunduk hormat, tau jika aku sedang kesal-kesalnya. Aku meletakan berkas itu di meja. “ Sekarang adalah hari pembalasan. Pesan bunga dari tokonya dan buat dia mengantarkan bunga itu padaku dengan kakinya sendiri”, aku tersenyum licik.


“ Baik tuan akan saya laksanakan”, Doni membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan.


“ Jeni aku akan membuatmu basah dengan air matamu dan memohon ampun padaku. Tunggu saja ha ha”, aku menenggak minuman di gelas dengan senang. 


***


Hari pembalasan itu tiba. Doni mengatur dengan caranya agar Jeni datang mengantarkan bunganya ke kamarku. Aku berpakaian rapi tapi santai, meletakan sebuah jam Role* di atas meja. Seseorang mengetuk pintu pelan, aku menatap keluar jendela melihat cuaca sore hari yang sedikit mendung.


Doni membukakan pintu, seorang pelayan hotel masuk dengan Jeni di belakangnya membawa sebuah buket bunga cukup besar. Dia sepertinya sedikit kerepotan dan tidak terlalu memperhatikan keberadaan Doni. Dengan cepat Doni keluar dari kamar itu diikuti oleh pelayan hotel tadi, pintu ditutup dari luar.


“ Tuan, ini buket bunga anda. Di mana harus ku letakan?”, Jeni berbicara dari balik buket bunga besar itu”.


“ Letakan saja di atas meja”, aku berbicara dengan suara bariton milikku. Aku menghadap ke arahnya, memperhatikan dia meletakan bunga itu dengan susah payah. 


“ Terima kasih sudah memesan di toko kami. Semoga hari…”,  Jeni berhenti bicara saat melihatku. “ kamu, tuan sombong. Kenapa kamu ada disini?”, dia tampak bingung.


“ Aku? Aku ingin membalas dendam padamu karena perbuatanmu kemarin”, aku menatapnya tajam.


Jeni membelalakan matanya dan berbalik berlari ke arah pintu. Dia berusaha membuka pintu yang sudah terkunci itu. Aku dengan cepat melangkah ke arahnya dan memberi jarak sempit di antara kami. “ Mau ke mana kau wanita bar-bar? Sekarang terima pembalasan dariku”, aku menatapnya dingin. 


***

__ADS_1


__ADS_2