
Aku menatapnya tajam. Dia terdiam seribu bahasa.
“ Jadi apakah kamu bahagia setelah meninggalkanku?”,Aku bertanya sekali lagi padanya. menuntut sebuah jawaban keluar dari mulutnya.
“ Maaf jika bukan urusan organisasi, aku akan sudahi percakapan ini”, Embun berkata lalu berdiri.
Aku tersenyum sinis “ Kamu mau pergi lagi?”, Aku menyesap wine di gelas. “ Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri untukmu ke organisasi itu. Tentu saja alasannya masuk akal. Kamu akan menikah denganku”, aku memotong daging di piring menjadi kecil-kecil.
Embun berbalik ke arahku , ada kemarahan di wajahnya “apa yang kamu inginkan dariku Nandes?”, dia berbicara tertahan ke arahku.
Aku berdiri dan menyuruh pelayan serta asistenku meninggalkan kami berdua . “ Aku? apa yang aku inginkan? aku ingin kebahagiaan. Aku akan jujur kepadamu, aku menderita setelah kamu membawa pergi hidupku. Sekarang aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan Embun”, Aku berdiri cukup dekat dengannya.
“ Batalkan surat pengunduran diriku Nandes. Jangan mencoba untuk mengintimidasi aku, karena itu tidak akan merubah sikapku padamu. Dan cari kebahagiaanmu sendiri”, Embun berkata ketus lalu berbalik hendak meninggalkanku.
“ Ayahmu… “, aku mengeluarkan kata yang membuatnya berhenti. “ Apa kamu tahu kebangkrutan ayahmu dulu menyisakan banyak utang?”, aku memutar gelas wine di tanganku. “ Aku telah melunasi semua utang itu. Tentu saja kamu tau jumlahnya tidak sedikit ”.
Embun berbalik dan melihat ke arahku “ Apa maumu? uang? aku akan membayar kembali ”, suaranya berat.
Aku menyesap minumanku dan berbalik memunggunginya. Agak lama aku berdiam sebelum mengatakan keinginanku.
“ Aku tidak membutuhkan uangmu. Kamu yang akan menjadi jaminan. Tinggal di rumah yang kusiapkan, turuti semua perintahku tanpa bantahan dan kamu harus mengurusi semua keperluanku layaknya seorang wanita bersuami”, aku berkata tegas.
“ Jika aku menolak?”, Embun bertanya dengan suara bergetar.
Aku berbalik dan menatapnya tajam “ Aku akan menyita semua aset keluargamu”.
Aku melihat wajahnya yang tercengang seolah tidak percaya dengan kelakuanku. Maafkan aku Embun, ini adalah satu-satunya cara aku mengikatmu agar tidak pergi lagi. Jika kamu tidak mencintaiku lagi aku tidak peduli. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan.
" Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Temui aku jika kamu sudah menemukan jawabannya", Aku berjalan melewatinya dan keluar ruangan, meninggalkan Embun sendiri mematung menatap ruangan kosong itu.
***
__ADS_1
Dua hari kemudian aku menerima telpon dari Embun.
" Aku butuh kontrak di atas kertas. Tanda bahwa kamu tidak akan menyusahkan keluargaku”, Embun berbicara di telpon.
" Datanglah ke Club YB. Aku menunggumu di sana bersama kontrak itu“ , lalu aku menutup telpon.
Pukul 9 malam aku menunggu di ruang privasi Club YB bersama 2 orang wanita yang bergelayut manja di lengan dan bahuku. Kemejaku terbuka setengah, aku melakukan ini untuk memprovokasi Embun. Aku ingin mengetahui perasaannya.
Rian masuk dan memberitahu bahwa Embun ada di luar.
" Suruh dia masuk", aku berkata dingin. Aku meraih salah satu wajah wanita itu dan mencium lehernya tepat saat Embun masuk. Sepertinya dia terkejut melihat kelakuanku saat ini. Aku berpaling ke arah Embun " Oh kamu sudah datang. Sebentar", aku berpaling ke arah dua orang wanita itu dan berkata lembut " Aku ada urusan sebentar sayang. Nanti kita main lagi", aku tersenyum.
Mereka berdecak kesal dan melihat ke arah Embun sinis. merasa terganggu dengan kehadirannya. Aku memperhatikan wajah Embun datar, tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Aku jadi kesal sendiri melihat pertahanannya yang seperti baja.
Salah satu wanita itu mengecup pipiku genit lalu mereka beranjak pergi meninggalkan kami berdua. Aku memperbaiki posisi dudukku. " Duduk, kamu mau sampai kapan berdiri di sana?", aku menegurnya lalu meneguk minumanku.
Embun duduk agak jauh dariku " bisakah kamu mengancingkan bajumu?", Embun berkata datar.
Aku melihat ke arah kemejaku yang setengah terbuka lalu melihat Embun " Biarkan saja. Aku tidak mau repot-repot membukanya lagi kalau mereka berdua datang. Tutup matamu jika kamu tidak suka melihatnya. Toh kamu pernah memainkan jarimu di sana ", aku menjawab santai.
"Tidak terima kasih", jawabnya cepat.
" Jadi apa jawabanmu?", aku melihatnya.
"Aku setuju. Tapi dengan satu syarat”, Embun berkata kaku.
Hatiku bahagia mendengar jawabannya. Setidaknya dia berada disebelahku. Untuk masalah perasaan akan ku pikirkan nanti.
“ Katakan”, aku berkata dingin.
“ Jangan pernah menyentuhku tanpa izin dariku”, Embun berkata pelan
__ADS_1
Aku tersenyum dingin “ Setuju. Aku tidak akan menyentuhmu dalam waktu dekat".
Tentu saja aku tidak akan menyentuhmu sekarang, tetapi nanti aku akan membuatmu datang kepadaku tanpa perlu izin apapun.
Embun mengangguk sepertinya kurang konek dengan perkataanku belakangan. " Jadi mana kontraknya?", Embun bertanya.
Asistenku menyerahkan lembaran cukup tebal, membuat kening Embun berkerut.
" Silahkan jika ingin membaca dulu. Aku akan menunggu", aku menjawab tatapan matanya padaku.
" Tidak perlu. Aku percaya padamu. Jangan ganggu kekuargaku dan jangan sentuh aku", Embun dengan cepat menandatangani surat itu.
“ Oke baiklah”, Aku menatapnya penuh kerinduan.
***
" Ini adalah rumah yang baru selesai ku bangun dan sudah bisa ditempati", aku berdiri di halaman sebuah rumah bercat putih dengan Embun di sebelahku.
Rumah minimalis yg tidak terlalu besar, dengan halaman yang luas. Di sisi kanan halaman ada taman yang telah ditumbuhi berbagai jenis sayur-sayuran. Tomat, cabai, bayam, sawi dan entah apalagi. Di sisi kirinya adalah taman terbuka dengan kursi taman dan kanopi kecil yang berfungsi melindungi pemilik rumah dari terik matahari. Rumah impian yang selalu dibicarakan Embun padaku dulu.
Embun berlari kecil ke arah kebun sayuran itu. Dia tersenyum bahagia lalu memetik salah satu buah tomat ceri dan memakannya.
" Kamu harus mencucinya dulu sebelum dimakan. Aku tidak mau mengurusi orang sakit karena makan sembarangan", aku mengomel dan berjalan meninggalkannya. Aku menyembunyikan senyumku, bahagia karena dia menyukai apa yang ku siapkan untuknya.
Saat masuk ke ruang tamu, ruangan itu kosong. Tidak ada perabotan di dalamnya. Hanya ada barang-barang Embun di kamarnya dan barang-barangku di kamarku. Sedikit perabotan yang ku bawa dari apartemen. Sisanya ku tinggalkan di sana.
Embun melihat ke arahku heran "Jadi kita harus duduk di mana?", tanyanya heran.
Aku mengeluarkan kartu berwarna emas padanya. " belanja saja seperti ibu rumah tangga lainnya. Isi rumah ini sesuai keinginanmu", setelah berkata begitu aku berbalik dan berjalan keluar rumah.
Embun mengejarku " Nandes kamu tidak ikut? Kamu mau yang seperti apa?", dia bertanya.
__ADS_1
"Aku sibuk. Terserah kamu. Apapun yang kamu mau isi saja. Aku pergi. Jangan lupa siapkan makan malam, aku makan di rumah", aku memberi kode kepada Rian asistenku untuk menemani Embun berbelanja. Lalu aku masuk ke dalam mobil, meninggalkannya yang keheranan.
***