
Aku menghentikan mobilku di jalanan sepi. Jeni masih sesenggukan, dia seperti melepaskan segala emosi di dalam dirinya selama ini. Aku diam mendengarkan suara tangisnya, sampai dia menjadi lebih tenang.
“ Jeni maafkan aku. Aku memang brengsek. Aku tidak bermaksud menyakitimu ”, aku meminta maaf tanpa mengatakan apapun lagi. Rasanya kepalaku kosong blank tanpa bisa mencerna apapun.
Jeni diam saja belum menanggapi ku, aku semakin gelisah karena dia tidak berbicara sama sekali. Jika saat ini dia mengatakan membenciku atau memukulku aku akan lebih tenang karena dia mengeluarkan perasaannya. Aku menatap ke depan melihat kegelapan yang hanya diterangi lampu dari mobilku sambil menunggunya berbicara.
“ Juan aku lelah bisakah kita pulang?”, Jeni berbicara kepadaku sambil melihat keluar jendela.
Aku menghela nafas frustasi dan tidak sabar. Aku sebenarnya ingin menyelesaikan masalah kami saat ini juga.
"Apa yang kamu dengar adalah sebuah kesalahpahaman. Aku menyukaimu. Masa laluku aku sedang berjuang keluar dari sana. Kamu bukan sebuah pelarian tapi tempatku bersandar", aku menatapnya.
" Apa kamu yakin? Apa kamu mencintaiku? Kamu bersedia melupakan gadis itu? ", Jeni bertanya tanpa melihatku. " Aku melihatnya Juan, wanita itu dalam gaun pengantin putihnya. Aku tahu, tapi aku tidak peduli karena pernikahan kita yang hanya pura-pura. Tapi aku . .. Hatiku sakit karena itu ", Jeni melihat ke arahku.
Aku tertegun mengingat foto dan undangan di ruang kerjaku. Yang selalu aku tunda membuangnya karena kebimbangan hatiku dan sekarang menjadi boomerang bagiku.
" Itu hanya foto lama. Aku akan membuangnya", kataku cepat.
" Aku menyukaimu Juan dengan hatiku. Tapi jika aku hanya mainan untukmu, aku tidak mau. Aku tidak sebaik itu dan aku cukup lelah dengan hidupku", katanya lirih. " Aku akan turun di sini dan naik taxi", katanya melepaskan seat belt nya.
Aku mengunci pintu lock utama. Dia berusaha membuka pintu mobil.
" Buka Juan. Aku mau turun", katanya.
" Tidak. kamu akan bersamaku. Kamu adalah istriku, kesalahpahaman ini harus selesai malam ini", aku menatapnya.
"Tapi aku capek. Aku mau pulang. Buka", Jeni marah.
" Tidak. aku akan mengantarmu pulang. Kita pulang bersama. Kita selesaikan masalah kita ", Aku mematikan mobilku.
__ADS_1
" Aku benci kamu... aku mau pulang. Brengsek... Buka pintunya huhu", Jeni mulai menangis. "Aku benci kamu Juan.. Kamu jahat", Jeni memukulku.
Aku meraih belakang kepalanya dan menciumnya. Aku bisa merasakan asin air matanya. Jeni mendorongku sambil menangis, aku memegang tangannya yang mendorongku dan terus menciumnya. Pada akhirnya dia diam menerima ciumanku. Jeni mengigit bibirku karena kesal tapi aku menanggapi itu berbeda.
Aku semakin agresif, semakin maju ke arahnya dan tanganku mencari tuas untuk menurunkan kursinya. Aku membuatnya berbaring dalam ciumanku. Aku melepaskan ciumanku dan mengecup setiap jengkal lehernya di tengah nafasnya yang memburu. Tanganku menjelajahi setiap jengkal pahanya dan semakin naik ke atas.
Tanganku di sana di salah satu keindahannya. Memainkan ujungnya membuat Jeni mendesah dalam mulutku. Aku yakin ini adalah yang pertana untuknya. Jeni menutup matanya dia menyerahkan dirinya. Aku melepaskan tanganku darinya dan melepaskan ciumanku.
" Mari kita selesaikan masalah kita di rumah", aku berbisik padanya lalu memperbaiki posisinya dan melajukan mobil dnegan cepat ke hotelku.
Sesampainya di hotelku Jeni tidak banyak berbicara wajahnya masih merah padam. Aku menarik tangannya, dia sedikit terkejut.
" Aku mencintaimu. Kau tidak boleh pergi dariku, coba saja kau pergi. Aku akan menghancurkan dunia ini agar bisa menemukanmu", kataku.
" Tapi.. kau ... Tid... Ah..", belum selesai Jeni berbicara aku sudah menempelkan badanku padanya dan mencium bahunya.
" Juan... Aku.. Belum mandi... hmp....". Aku menutup mulutnya dengan ciumanku kali ini lebih agresif dari sebelumnya.
Aku membuka bajuku dengan cepat lalu menarik resleting gaun Jeni yang berada di belakang punggung, membuatnya hanya berbalut baju dalam berwarna hitam. Aku mengangkatnya dalam gendonganku dan membawanya ke ruang kerja. Mendudukkannya di atas meja kerja membuat banyak berkas berjatuhan kelantai.
" Aku akan memakan mu malam ini pencuri kecil", bisikku dan mengigit telinganya. Karena mungkin ini pengalaman pertamanya dia banyak terkejut dan tersipu malu. Aku harus menuntunnya dan mengajarinya banyak hal.
Aku menyesap kedua bukit miliknya dengan mulutku membuat badannya bergetar. " Juan... Ah... ", dia melenguh di atas meja kerjaku.
Saat aku membuka penutup terakhirnya dia tampak menatapku malu. Aku tersenyum lalu berbisik "Kau adalah milikku", lalu menggendongnya dan membaringkannya di sofa.
Aku sedikit kesusahan saat memasukinya dan aku seperti menebus sesuatu yang ku tahu itu adalah kebanggaan semua wanita. Jeni mengigit bibirnya karena rasa sakit yang ku sebabkan.
Aku membawanya dalam permainan yang lambat dan lembut. Dia melenguh di bawahku, lalu semakin cepat permainanku, aku merubah posisinya memunggungi ku. Kami menikmati malam panas kami sampai akhirnya aku jatuh di punggungnya.
__ADS_1
Aku mencium punggung dan lehernya, Jeni menatapku kelelahan. " Aku mencintaimu ", kataku. Aku menggendongnya dan membaringkannya di tempat tidur menutupi diri kami dengan selimut. Dan kami tertidur bersama.
***
“ Aku bersalah. Aku memiliki masa lalu yang buruk. Aku pernah mencintai seorang wanita lalu aku meninggalkannya karena sebuah alasan. Aku kembali dan mengira bahwa perasaannya padaku masih sama seperti dulu begitupun sebaliknya”.
“ Aku memaksanya menyukaiku, aku memaksanya mencintaiku seperti dulu. Walau aku tahu dia mencintai pria lain. Dan pada akhirnya aku menyakitinya membuatnya bunuh diri karena ulahku yang kupikir karena aku mencintainya tapi pada kenyataannya aku hanya terobsesi padanya”.
“Inilah kesalahanku yang ku pikul bertahun-tahun. Gadis ini memaafkan ku tetapi karena kata maafnya aku semakin tenggelam dalam lumpur penyesalanku. Seharusnya dia membenciku, seharusnya dia balas dendam dan membunuhku. Tetapi dia tidak melakukanya. Dan saat ini aku padamu bukanlah sebuah pelarian tapi kau adalah penyelamatku dari lumpur penyesalan itu. Awalnya aku tidak serius padamu, tetapi kau menarik hatiku, kau mengisi kekosongan di hatiku. Hanya saja aku yang salah, tidak berani melangkah melewati garis penyesalanku. Maafkan aku”.
“ Jika kamu membenciku aku akan menerimanya. Jika kau ingin berpisah aku akan mengabulkannya tetapi kau harus tahu bahwa saat ini aku menetapkan hatiku untuk mencintaimu Jeni”, kami berbincang di atas tempat tidur saat bangun di pagi hari.
Jeni tidak memberi respon apapun, dia terdiam. Aku mengecup puncak kepalanya.
Jeni berbicara di dalam pelukanku “ Juan… aku baru merasakan sakit hati karena seorang pria. Rasanya seperti hatiku nyeri ditusuk pisau tajam berkali-kali, rasanya dadaku sesak setiap melihatmu tadi”, dia menghembuskan nafas.
“ Maafkan aku”, aku menyesal.
“ Tapi entah kenapa aku tetap menyukaimu. Mungkin jika kau menyakitiku lebih dari itu aku akan tetap menyukaimu. Kamu pria pertama yang ku sukai selama hidupku selain ayahku, kamu mengambil seluruh hatiku”, Jeni lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca. “ Aku benci menangis di depan orang lain, tapi aku melakukannya di depanmu karena aku percaya padamu Juan”, air matanya mengalir.
Aku memeluknya erat, sangat erat. “ Maafkan aku sayang, maafkan aku yang menyakitimu. Aku sayang sama kamu. Hiduplah bersamamu sampai akhir”, Aku mencium keningnya. Air matanya makin deras.
“ Aku hanya punya kamu sekarang Juan”, dia tersedu-sedu.
Aku makin memeluknya. Wanita ini yang awalnya sangat mandiri mulai bersandar padaku karena aku dengan sandar membuatnya menjadi seperti itu. Aku menyukainya, aku telah keluar dari masa laluku dan memilih bersamanya.
Kami tidur di tempat tidurku dengan Jeni berada dalam pelukanku. Aku mencintainya, semua yang ada dalam dirinya. Matanya, wajahnya, sifatnya yang keras kepala, aku menyukai semuanya. Aku jatuh hati padanya, pada Jeni wanitaku.
***
__ADS_1