
Aku berguling ke kiri dan ke kanan di atas tempat tidurku. Wah liburan hari ini enaknya ngapain ya? Aku berpikir keras. Selalu tidak mempunyai rencana yang menyenangkan kalau sedang libur. Taunya hanya tidur, nonton, makan, lama-lama aku bisa menggendut seperti badak.
Aku meraih hpku dan menelpon Elsa. Siapa tau Elsa bisa pergi bersamaku hari ini.
" Ya halo Embun", Elsa menjawab.
" Saaa…. Kamu lagi apa?", aku berteriak di telepon.
" Duh… suara kamu ya kenceng banget. Lagi momong anak dong. Emang kamu jomblo", Elsa menjawab sewot.
" Iss… gitu banget ngatainnya", aku kesel.
" Ya lagian kamu, ada laki-laki jelas di depan mata malah kamu anggurin", Elsa malah ngomel.
" Siapa? Gak ada yang deket ah".
" Itu Nandes. Gak ada persahabatan antara cowok dan cewek. Kelamaan nanti diambil orang, gigit jari kamu", Elsa menasehati.
" Saa... dia itu hanya anggap aku adik kok, jangan berlebihan", aku menyangkal.
" Hei nona Embun tolong buka mata kamu lebar-lebar. Dilihat dari cara dia menatap kamu saja itu sudah jelas", Elsa makin ngoceh.
" Apa sih", Aku tetap keras kepala.
" Hah… batu ni anak di kasih tau. Jadi kamu sekarang libur? Dan bosan di rumah?", tanya Elsa.
Aku mengangguk seolah Elsa bisa melihatku " kamu memang besti aku, tahu semuanya tentangku",aku berkata bangga.
" Ya udah aku mau belanja bulanan ni. Si Adam kan lagi di rumah jagain Raysa. Kamu ikut aku aja. Nanti aku jemput ya", kata Elsa.
" Siap besti", aku bersemangat sampai melompat dari tempat tidur.
***
Aku mengambil pampers bayi ukuran M yang ditunjuk Elsa. Elsa dan Adam sudah menikah 2 tahun lalu, tentu saja Adam tidak mau Elsa lepas dari genggaman tangannya. Sebelum menikah mereka sempat putus dan hilang kontak.
__ADS_1
Lalu mereka bertemu lagi di Jakarta dan menjalin asmara kembali. Aku adalah saksi mata drama percintaan mereka. Saat mereka menikah di Bali, aku datang bersama Nandes. Dan tentu saja aku dan Elsa menangis terharu sambil berpelukan.
Sekarang anak pertama mereka perempuan menginjak usia 1 tahun. Elsa berhenti dari pekerjaannya dan fokus menjadi istri yang baik di rumah. Sedangkan aku sedang membanting tulang mencari nafkah dan jodohku.
" Embun, tanggal 16 nanti ikut makan malam di rumahku ya. Hari ulang tahun pernikahan kami", undang Elsa sambil memilih beberapa barang kebutuhan rumah tangga.
" Oke.. aku datang", aku menyanggupi.
" Sama Nandes juga", kata Elsa.
" Iya nanti aku ajak dia", jawabku singkat sambil tetap mendorong troli belanjaan mengikuti langkah kaki Elsa.
" Embun, kamu yakin akan mengabaikan perasaan Nandes terus? Dia sudah sangat lama menyukaimu loh", kata Elsa tanpa melihatku. Aku diam saja tidak menanggapi.
Elsa berbalik dan menatapku " Kamu masih menunggu dia kembali?", Elsa sangat serius.
Aku terpaku menangkap maksud perkataan Elsa. " Tidak, aku tidak menunggunya. Hanya saja aku masih belum bisa melihat Nandes sebagai pria yang membuatku berdebar", aku berkata pelan.
" Itu karena kamu terus menutup pintu hatimu Embun. Mau sampai kapan? Sampai Juan kembali? Berhenti Embun. Aku sudah lama mengenalmu. Jangan seperti ini terus, atau suatu saat kamu akan menjadi seorang biarawati. Pikirkan ovum di dalam sana yang merontah-rontah ingin dibuahi", kata Elsa kejam.
Aku melotot memukul tangannya pelan. Tapi apa yang aku katakan adalah hal yang jujur. Aku tidak pernah mengingat cinta pertamaku lagi, aku hanya belum bisa melihat Nandes dengan cara yang berbeda.
***
Aku minta diturunkan di depan apartemen Nandes sambil menurunkan satu tas belanjaan besar aku bertanya pada Elsa " Nanti harus menggunakan dresscode apa?", tanyaku.
" Bebas. Hanya makan malam biasa. Kamu seharusnya menjadi istri Nandes kamu sudah lihai mengurusnya", Elsa memuji yang tidak perlu.
" Gak, ini karena dia malas belanja bulanan. Makanya dia minta tolong sama aku. Udah sana. Makasih ya udah di traktir", aku mengusir Elsa yang terus mengompori.
" Selow besti", Elsa menyahut dengan senyuman jahilnya.
Dengan susah payah aku membawa tas belanjaan itu ke apartemen Nandes. Aku membuka pintu rumahnya dan menyeret tas belanjaan itu. Ruangan tampak gelap, Nandes pergi belum kembali sepertinya.
" Nandes, kamu ada di rumah? Duh saklar lampunya mana sih", aku meraba-raba di dinding, klik aku menemukan saklar lampu. Ruangan yang tiba-tiba terang membuat mataku terasa berkunang-kunang.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang meraih tanganku dan mengunciku di dinding. Aku terkejut dan langsung menjerit karena topeng tengkorak yang dipakai oleh orang itu, kakiku lemas seperti tak bertulang. Aku merosot ke lantai tetapi pria itu menangkapku dan langsung bersuara.
" Embun ini aku", Nandes berkata sambil melepas topengnya. Aku yang melihat Nandes di balik topengnya langsung menangis tersedu-sedu.
" Nandes babon huhu… kecoa goreng…. Huuuuu huuu", aku terduduk di lantai dengan wajah pucat.
Nandes panik " Kamu setakut itu? Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Aku tidak tahu kamu sekaget itu", Nades membuang topeng itu ke seberang ruangan dan hendak meraihku dalam pelukannya.
Aku menepis tangannya dan terus menangis menundukkan kepalaku. Nandes menghela nafas lalu memaksa meraihku dalam pelukannya.
" Maaf Embun, aku kira kamu gak akan setakut ini. Lain kali gak akan ku lakukan lagi ya", Nandes membelai rambutku.
"Kalau tadi aku kena serangan jantung bagaimana?", aku berkata di sela tangisku.
"Maafkan aku. Jangan ngambek lagi. Sebagai bentuk permintaan maaf, sebutkan 3 permintaanmu akan aku kabulkan", kata Nandes seperti biasanya.
Aku tersenyum dalam tangis dan dengan cepat mengangkat kepala. " Benar? Akan di turuti?", aku menatap matanya dengan mata yang dibinar-binarkan.
Nandes melihat ke arahku " kamu pura-pura menangis ya?".
Aku yang merasa hampir ketahuan langsung dengan cepat menundukan kepalaku lagi dan menangis lebih kencang.
" huuuuuu aku udah capek belanja bulanan. Tasnya berat… bawa dari lantai 1 sampai lantai 10... malah di giniin huuuu… aku mau pulang saja", saat ini aku memang terlihat seperti anak kecil, tapi beginilah aku jika bersama Nandes.
Nandes tertawa mendengar ocehanku. " Oke makasih karena kamu sudah capek berbelanja. Aku hanya akan mengabulkan 3 permintaan", kata Nandes sambil menghela nafas panjang.
Aku mengangkat wajahku dan memeluknya erat " Oke aku memaafkanmu", kataku tanpa menyadari wajah Nandes yang berubah merah dan dia menahan nafasnya karena pelukanku.
Aku melepaskan pelukanku dan berbicara sambil menatapnya " untuk permintaan pertama. Aku.... Mau. .. ", kataku dramatis.
" Jangan yang aneh Embun, please", kata Nandes penuh curiga.
" Kamu nonton drama bareng aku semalaman", aku tersenyum jahat.
Nandes jatuh terduduk " Nope... aku gak suka drama. bagaimana kalau nonton yang lain", rayunya.
__ADS_1
" No.. No... sekali drama tetap drama", aku mengangguk yakin.
***