Merpati Kertas

Merpati Kertas
Momen yang Aku Suka


__ADS_3

Aku duduk di kursi penumpang belakang dalam diam, melihat keluar jendela mobil. Memperhatikan setiap pohon yang kami lewati. Aku tau Nandes sesekali melirik ke arahku melalui kaca spion tengah.   Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku masih marah. 


Aku memakai selimut yang diberikan oleh Nandes dalam diam. Nandes berusaha memecah keheningan dengan berdehem pelan. 


" Ehem… Embun kamu lapar ? " , tanya Nandes. 


Aku masih marah tapi aku tidak bisa berlama-lama mengabaikan Nandes. Kalau dia meninggalkanku di tengah hutan bagaimana? Itu adalah kecurigaanku padanya saat ini, mengingat bagaimana cara dia membawaku ke sini. 


" Gak ", Jawabku singkat. 


" Ya udah kita beli cemilan saja kalau begitu", Nandes berkata sabar. 


" Terserah ", jawabku. 


Aku lihat sekilas Nandes tersenyum karena jawabanku yang jutek.


Kami melewati banyak sekali pepohonan di tengah hutan, cuaca dingin menggigit berkabut padahal sekarang masih jam 10.45 pagi. Matahari tidak mampu menembus hijaunya hutan ini. 


Aku menurunkan sedikit kaca mobilku, menghirup banyak-banyak udara segar yang di suguhkan alam ini. Aroma rumput berembun, suara  kicauan burung membuat perasaanku lebih baik. 


Tersadar bagaimana selama ini aku berada di tengah hiruk pikuk kota metropolitan yang sibuk. Ternyata berada di tengah alam adalah hal yang luar biasa untuk memperbaiki sekrup lepas di kepalaku.


Sejenak aku melupakan Juan, aku melupakan masalah keluargaku yang aku sendiri tidak tau sedang terjadi apa di tengah keluargaku.


Nandes membawa mobilnya lebih pelan dari sebelumnya seperti mendukungku menikmati alam yang memikat hatiku ini. Aku menutup mata membiarkan angin dingin segar menerpa wajahku. 


Selama setengah jam aku seperti itu, perasaanku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku menutup kaca mobil, kembali kepada kenyataan yang ada di depan mata.


Beberapa saat kami tidak memiliki pembicaraan apa-apa. Pada dasarnya aku tidak takut kepada Nandes, itu dibuktikan dengan aku yang tertidur di dalam mobil dalam diam. Nandes adalah anak yang baik, hanya saja  aku benci cara dia membawaku.


Cukup lama aku tertidur, suhu udara mulai berubah menjadi lebih hangat. Saat aku terbangun aku melihat keluar jendela, matahari bersinar tanpa rasa malu. Sudah hampir jam 12. 


" Ini dimana? Aku tidurnya lama ya?", aku bertanya pada Nandes. 


" Enu, kita sudah masuk ke salah satu daerah namanya Iteng. Ini daerah dengan cuaca panas, tapi tidak seextrem di Jakarta " , kata Nandes. 


Aku melihat keluar, memang pepohonan padat sudah jarang terlihat. Mulai terlihat beberapa lapangan terbuka membentang sepertinya bekas sawah. 



" Kamu ada keluarga di sini?", tanyaku. 


" Tidak. Hanya seorang kenalan.  Nanti kita singgah ke sana ya", Nandes tersenyum padaku, senang karena aku mulai baik kepadanya. 


" Kak… tapi… aku gak pakai sandal", kataku pelan dari kursi belakang. 


" Iya aku akan belikan kamu sandal dan makanan, semua yang kamu mau ", kata Nandes.

__ADS_1


Nandes menghentikan mobilnya di salah satu toko kecil, sebelum turun Nandes melihat ke arahku. 


" Ayo "  kata Nandes. 


Aku melihat keluar, toko itu tidak terlalu ramai jadi aku tidak akan terlalu malu karena tidak memakai sandal. Nandes membuka pintu mobil untukku.  


Aku turun tertatih-tatih, Nandes menyerahkan sandalnya padaku. 


" Eh gak usah, nanti kan kita beli sandal", aku menolak halus. 


" Pakai saja sampai sandalnya terbeli, aku sudah biasa gak pakai sandal", kata Nandes lalu berjalan masuk kedalam toko dengan kaki kosong. 


Aku memakai sandal itu dan mengikutinya dari belakang. Aku membeli Sandal berwarna biru muda. Lalu banyak sekali cemilan yang ku beli seperti takut kelaparan. Aku membawanya ke kasir. 


Nandes membawa 3 botol air mineral dan meletakkannya di kasir bersama semua makanan yang kupilih. 


" Sudah? Hanya ini?", tanya Nandes. 


" Bentar ", aku kembali lagi ke bagian es krim. Lalu memilih 2 es krim dan dengan cepat melesat kembali ke kasir. 


Nandes membayar semuanya termasuk sandal jepitku. Aku sendiri tidak bermodalkan apa-apa, semua ku tinggalkan di rumah. Jadi saat ini kugantungkan hidupku pada Nandes. Dan tentu saja Nandes tertawa terbahak-bahak saat aku mengatakan hal itu padanya. 


Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di depan. Membuka bungkusan es krim untukku dan juga Nandes. 


" Embun bagaimana caranya aku makan es krim itu? aku kan sedang nyetir", Nandes protes.


" Yaa… udah terlanjur di buka", kataku. " Ya udah deh aku bantuin pegang", aku membantu Nandes dengan es krimnya. 


" Oh ya? Wah…. Mau mau ", kataku senang. 


Nandes tersenyum lalu memajukan badannya lagi untuk menggigit bagian es yang lain. Aku sibuk dengan milikku sendiri sambil memperhatikan berbagai rumah yang kami lewati. 


" Embun… ", Nandes memanggilku pelan. 


" Ya ".


" Maafkan caraku hari ini ya, aku tidak bermaksud jahat".


" Ya.. gak apa-apa. Sudah terjadi kan, kita sudah sampai sini. Tapi kalau kamu begitu lain kali aku akan musuhi kamu seumur hidup", ancam ku. 


Nandes tersenyum " Iya, aku tidak begitu lain kali". 


Aku mengangguk. Aku teringat Juan, apa mungkin ini yang akan ku lalui hari ini bersama Juan kalau aku jadi pergi tadi. Tapi ya sudahlah tidak ada yang bisa disesali, kami sudah sampai di sini. Aku membuang pikiran jelekku sejauh mungkin. 


" Kamu tidak tanya kenapa aku begitu?", Nandes bertanya lagi.


" Karena kamu musuh Juan?", aku menebak asal. 

__ADS_1


Nandes tertawa " Karena aku suka kamu. Aku cemburu kamu bersama Juan terus. Jadi hari ini aku mau waktu kamu untuk aku. Aku akan buat kamu terkesan", Nandes meyakinkanku. 


Tidak ada komentar apapun yang bisa ku keluarkan untuk membalas perkataan Nandes. Jadi aku hanya bisa terdiam. 


***


Pantai membentang luas di hadapan kami. Aku bisa mencium wangi pasir pantai bercampur air laut. Aku turun dari mobil dan terkagum dengan pemandangan pantai yang disuguhkan di hadapanku. 


Air berwarna biru beratapkan langit biru jernih yang membentang di atasnya. Air menggulung silih berganti, berusaha secepatnya sampai ke daratan dan mengurai kembali dengan sendirinya, seperti sedang bermain. 


Aku tersenyum lebar dan melihat ke arah Nandes meminta persetujuannya apakah aku boleh menginjakan kakiku ke dalam air dangkal mengejar ombak yang mengurai. Nandes membalas tersenyum memberikan persetujuan, aku berlari kecil seperti anak-anak menyambut gulungan ombak. Setelah terkurung selama itu di dalam rumah akhirnya aku bisa melihat keindahan alam ini. 



Setelah puas, aku kembali menghampiri Nandes yang sudah duduk di bagasi mobilnya menghadap ke pantai. Pintu bagasi dibuka selebar mungkin, Nandes membentangkan sehelai kain sebagai alas. Aku curiga dia sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. 


" Duduk sini", ajak Nandes. 


Aku menghampirinya lalu melepaskan sandalku yang tentu saja penuh pasir. " ternyata sebagus ini ya ", kataku. 


" Iya dong, ini kan masih alami. Toh pengunjungnya tidak banyak banget ", Nandes menunjuk ke arah beberapa orang agak jauh dari kami. 


Aku mengangguk " itu warga sini?".


" Yaaa…. Alam itu harus dijaga sebaik ini. Jangan buang sampah sembarangan, kita harus peduli pada lingkungan. Supaya saat tua kita masih bisa menikmati yang seperti ini", Nandes berpidato. 


Aku melihat ke arahnya " iye, si pecinta alam", aku menyahut sambil mengunyah wafer. 


Nandes tersenyum " Aku suka momen seperti ini. Minum kopi sambil melihat ombak bergulung, atau bentangan padang rumput luas. Semua stress yang kita dapat selama aktifitas langsung hilang… kalau kamu suka momen seperti apa?".


Benar juga. Momen apa yang aku suka? Aku tidak pernah memikirkannya.


" Momen apa yang aku suka?", aku bertanya pada diriku sendiri. 


Nandes diam seperti menungguku bersuara, tidak mendesak ku untuk berbicara. 


" Aku tidak tau. Tapi yang aku tau, aku suka momen saat ini. Menenangkan hati melewati pepohonan tinggi hijau, rumput hijau basah, dengan suara hewan hutan yang bernyanyi. Melihat air biru jernih membentang luas dengan pasir putih di bawahnya dan langit biru sebagai atapnya. Semua beban pikiranku pergi entah ke mana".


Suasana hening, karena Nandes tidak merespon. Membiarkanku larut dalam pikiranku.


" Dulu yang ku tau hanya belajar, sekolah, ke mall, nonton bioskop, nongkrong di cafe, pulang rumah, belajar lagi. Berusaha menjadi anak baik, karena ku kira menjadi anak baik adalah hal yang hebat dan membanggakan untuk ayahku. Sampai akhirnya aku di bawa ke sini dengan alasan yang tidak ku tau dan bukan ayahku yang mengantar tetapi ibu tiriku. Haaaaaaah ", aku menarik nafas panjang. 


" Ternyata di luasnya bumi ini aku masih bisa melihat hal yang menenangkan hati seperti ini, aku menyukai momen ini. Sangat suka. Terima kasih kak Nandes", aku nyengir ke arah Nandes. 


Nandes melihatku dan tersenyum kecil. " Baguslah kalau kamu suka, pemandangan ini adalah milik kamu sekarang. Nikmati sepuasnya tapi ingat jangan dibawa pulang", Nandes mengacak-acak rambutku pelan. 


Aku tertawa. Ternyata ada hal yang bisa membuatku bahagia selain Juan. Suatu saat aku akan mengajaknya ke sini. Akan ku jadikan dia sebagai bagian dari momenku ini. 

__ADS_1


***


Hai pembaca terhormat. Terima kasih sudah mendukung sampai bab ke 20. berat sih huhu... tapi menyalurkan imajinasi adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan. Mohon dukungan dan juga komentar kalian untuk setiap bab yang terupdate. Masukan kalian adalah motivasi yang membangun ●<●. Sarange.


__ADS_2