
Aku menggandeng tangan Jeni saat turun dari pesawat. Jeni masih tidak percaya aku menghabiskan uang hanya untuk makan siang bersamanya di negara orang lain.
" Juan, apa ini seperti kamu sedang menghamburkan uang karena merasa bosan ?", dia masih mengoceh pelan di dekat bahuku.
Kami berjalan dengan masih bergandengan tangan. Dia sedikit menempel padaku menghindari tatapan beberapa wartawan yang mencoba mengambil foto kami. Sejak hari pernikahan kami, belum ada satupun kabar berhembus terkait perubahan statusku. Tetapi beberapa hari belakangan ini kabar tentang kami mulai berhembus dan beberapa wartawan berusaha mencari foto terkait Jeni.
" Uangku tidak akan habis hanya karena makan bersamamu", aku menjawab cepat sedikit berbisik sambil terus membawanya dalam genggamanku.
"Sekarang kita ke mana?" Tanyanya lagi sambil menunduk menghindari cahaya kamera yang menyilaukan.
"Pulang. Aku ingin berbaring di tempat tidur, aku ingin istirahat ", aku menjawab sambil membuka pintu mobil dan menuntunnya masuk. Dia menurutiku tanpa banyak protes.
Sepanjang perjalanan pulang kembali ke hotel, wanitaku ini terus mengoceh tentang ini dan itu. Kadang aku menanggapi tapi juga kadang aku hanya diam mendengarkan saja. Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya dan semua ocehannya.
Beberapa hari terakhir ini aku sadar bahwa kami mulai terbiasa bersentuhan, berpegangan tangan, sesekali Jeni tanpa canggung memelukku jika dia sedang bahagia. Aku tidak memberi jarak di antara kami, aku membiarkan semua itu mengalir seperti air.
Sampai di kamar hotel aku duduk di ruang kerjaku. Rasanya kepalaku sakit, badanku sakit dan aku merasa sedikit pusing. Aku menghela nafas panjang, aku berjalan ke dapur dan membuka kotak P3K. Mengambil obat penghilang nyeri dan menelannya.
Lalu aku berjalan ke arah kamar dan menemukan Jeni di sana sedang mengeringkan rambutnya. Dia melihatku sesaat.
“ Juan wajahmu pucat sekali, apa kamu sakit?”, tanyanya.
“ Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat Jen”, jawabku lalu jatuh tertidur di atas tempat tidurku tanpa mengobrol dengannya.
Di tengah malam aku benar-benar sakit dan mengalami demam tinggi. Dalam tidurku Aku bermimpi buruk seperti biasa. Bermimpi tentang seorang wanita yang berjalan meninggalkan jejak telapak kaki berwarna merah di lantai. Wanita itu berjalan meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya, tapak kakinya yang berwarna merah darah berbekas di lantai. Dia berbalik dan melihatku. Aku mengenali wajah ini, wanita ini bukan Embun melainkan Jeni. Jeni tersenyum ke arahku, memegang pisau kecil dan tampak setitik darah di bajunya. Darah itu semakin melebar, membasahi seluruh baju putih itu. Jeni seolah-olah di telan oleh warna merah dari darah itu.
Aku berteriak memanggilnya, tapi suaraku tercekat. "Tidak Jeni, Jeni… tolong… siapapun tolong… Jeni cepat lari… Jeni", aku berteriak dalam kepalaku.
" Juan… bangun…", Jeni mengguncang tubuhku cukup kuat.
Aku membuka mata dan melihat dia duduk di pinggir tempat tidurku. Air mata ku langsung jatuh saat melihatnya, aku syok karena mimpiku sendiri. Aku mencengkram lengannya meneliti setiap inci tubuhnya, memastikan apakah ada setitik darah di sana, lalui merengkuh wajahnya dalam tanganku. Mimpi itu terasa nyata bagiku.
__ADS_1
"Juan, aku baik-baik saja. Aku di sini, aku tidak akan lari meninggalkanmu Juan", Jeni membelai wajahku berusaha menenangkan.
Aku menatapnya dengan nafas memburu karena ketakutan. Jeni memelukku, dia menepuk punggungku pelan berusaha menenangkan.
" Aku di sini Juan. Aku tidak akan ke mana-mana. Dan aku baik-baik saja ", katanya.
Aku membalas pelukannya dengan erat tanpa bersuara, rasanya suaraku habis menghilang entah ke mana. Dan malam itu Jeni merawatku dengan baik. Aku terus menggenggam tangannya sampai aku tertidur.
***
Esok paginya, aku terbangun dengan dia tertidur dalam pelukanku. Aku menatapnya dalam, mengingat mimpiku sendiri. Aku takut karmaku akan datang menghampiri wanita ini jika aku mencintainya. Aku mulai menyukainya entah sejak kapan.
" Juan... Juan...", Jeni ribut pagi-pagi karena mencariku.
"Ya... Kenapa kamu berisik sekali pagi ini?", aku menyahutinya sambil memasang dasi.
" kamu sudah sembuh?", Jeni langsung meletakan telapak tangannya di dahiku. Beberapa saat kemudian dia bergumam sendiri "Oh sudah, bagus-bagus", katanya yakin.
Aku tertawa melihat tingkahnya yang seperti seorang ahli. Aku meraih tangannya dan menempelkan ke pipiku. “ Aku masih sakit”, kataku sambil menatapnya.
“ Aku sakit”, kataku lagi menggenggam tangannya dipipiku.
Dia melihat ke arahku, wajahnya bersemu merah. “ Aku … aku akan merawatmu Juan”, katanya sambil melihatku.
“ Ya, rawat aku. Aku butuh kamu disampingku, aku sakit “, aku berkata dengan suara yang menyedihkan.
Dia merengkuh wajahku dan menatap mataku dalam. “ Aku adalah malaikat penyembuh. Aku akan menyembuhkanmu”, katanya lagi dengan senyuman manis yang selalu mengangguku akhir-akhir ini.
Hatiku bergetar mendengar perkataannya. Aku menunduk dan mengecup bibirnya, aku tergoda. Dia terdiam menerima kecupanku, lalu menutup matanya.
Aku melepaskan ciumanku dan memperhatikan wajahnya yang manis. Aku tersenyum, ingin rasanya aku menciumnya lagi tetapi aku menahan diriku.
__ADS_1
“ Mau sampai kapan kamu akan menutup mata?”, bisikku pelan.
Jeni kaget dan langsung membuka matanya. Dia menatapku dengan salah tingkah, lalu langsung berbalik lari masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dibelakangnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
Aku mengetuk pintu kamarnya pelan “ Jeni aku pergi dulu ya. Nanti aku telepon”, kataku.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar, aku tersenyum lalu berangkat ke kantor dengan suasana hati yang sangat baik sekali.
***
Aku tersenyum sendiri di ruang kerjaku mengingat kejadian pagi tadi. Aku ingin menggodanya lebih dari ini. Ponselku bergetar, Bella menelpon.
“ Hallo Bella “, jawabku.
“ Kakak, apakah kakak bersama kakak ipar sekarang? ‘, tanya Bella.
“ Tidak. Ada apa?”, tanyaku penasaran.
“ Wah, sepertinya mommy benar-benar datang menemui kakak ipar di toko bunga. Aku pulang sekolah dan singgah di sini untuk bertemu dengannya, tetapi karyawan toko mengatakan kakak ipar pergi dengan seseorang”, jelas Bella.
“ Kau yakin? mereka pergi ke mana?”, tanya ku langsung berdiri dari kursi.
“ Aku tidak tahu. Tapi menurut mereka kakak ipar pergi bersama ibu- ibu dengan tampang sosialita. Siapa lagi kalau bukan mommy kita. Kakak cepat cari, mom pasti sedang mengintimidasi dia sekarang”, Bella terdengar cemas.
“ Ya, aku akan mencarinya. Kamu tidak perlu cemas Bella. Sifat kakak iparmu itu sekuat baja dia pasti akan melawan”, aku menenangkan Bella walau hatiku sendiri cemas. “ Kamu tetap tunggu di sana sampai mereka kembali, aku akan mencari mom”, lanjutku.
“ Oke”, jawab Bella singkat.
Aku menutup telepon. Ibuku benar-benar tidak menyukai Bella, dia masih ingin memaksakan kehendaknya padaku. Aku berdiri dan Doni ikut berdiri.
“ Doni cari keberadaan ibuku. Mereka membawa Jeni. Aku takut dia mengintimidasi Jeni”, perintahku.
__ADS_1
“ Baik tuan”, jawab Doni segera
****