
Hari-hari berikutnya aku lebih sibuk dan sering pulang sore. Karena persiapan Pensi yang super super padat, aku dan Elsa jarang pulang bersama lagi. Elsa sibuk latihan menari sampai jam 4 atau 5 sore. Kami hanya bertemu saat berada di kelas untuk pelajaran, saat jam istirahat kami mulai jarang ke kantin.
Juan juga mulai sibuk dengan persiapan latihan Try Out sekolah. Terkadang dia menghampiriku dikelas atau di ruangan Osis.
Menyebabkan banyak kabar burung bertebaran, isinya Embun berhasil merebut kak Juan dari Sarah, Embun dan Juan pacaran. Dan Juan diam saja tidak memberikan komentar apapun, membuat gosip itu semakin menjadi-jadi.
Beberapa kali juga aku melihat Nandes di depan sekolahku. Nongkrong bersama teman-temannya di saat jam pulang sekolah. Mereka anak STM dan terlihat mencolok dengan seragam perbengkelan yang sering sekali mereka gunakan.
Kalau sudah seperti itu aku akan berusaha tidak bertemu dengannya, bagaimanapun caranya misalnya aku pernah pulang sembunyi-sembunyi ikut berbaur dengan anak-anak yang bergerombol akan pulang. Dan itu sepertinya membuat Nandes semakin penasaran padaku.
Sampai suatu hari aku harus pulang bersama Juan dan saat itu Nandes dengan setia sedang menungguku di depan sekolah. Aku tidak menyadari dia ada di sana karena menggunakan baju seragam nasional sama seperti kami, jadi dia tidak terlihat mencolok seperti biasanya.
Di saat bersamaan Juan sedang menungguku di gerbang sekolah sambil mengobrol bersama Adam dan temannya yang lain. Sudah sangat sore, jadi tidak banyak siswa yang berseliweran lagi.
Ketika aku dengan ceria menghampiri motor Juan dan mengambil helm darinya, Nandes perlahan tapi pasti datang menghampiri kami. Teman-teman Nandes berdiri di kejauhan terus memperhatikan kami.
" Hai enu, mau pulang ya?", Nandes berbicara padaku tanpa memperdulikan Juan yang ada di sana.
Juan yang duduk diatas motornya menarik tangan kiriku agar lebih dekat padanya. Aku melihat sekilas, Adam dan teman-teman Juan yang semula dengan santainya duduk dan bersandar di motor masing-masing langsung waspada begitu melihat Nandes mendekat.
Dari reaksi mereka yang seperti itu aku langsung tau, kemungkinan besar mereka adalah musuh lama.
Nandes melihat ke arah Juan tidak suka, lalu tersenyum padaku " Yuk, aku antar pulang?".
" Em.. makasih.. tapi …", aku belum selesai bicara Juan sudah menyambar.
" Buta ya. Dia pulang sama saya ", Juan berkata tajam tanpa melepas tanganku.
" Embun, dengar suara lalat gak?", Nandes masih bertanya padaku.
Aku terkejut mendengar pertanyaan Nandes yang jelas sekali mengibarkan bendera perang. Juan diam saja tidak terprovokasi sama sekali, tapi matanya sangat waspada.
" Enu embun mau pulang sama saya? Yuk saya antar", Nandes memegang tangan kananku dan sedikit menarik aku menjauh dari Juan.
Beberapa siswa sekolahku yang masih ada di sekitar gerbang sekolah jadi memperhatikan kami karena adegan tarik menarik ini.
" Ternyata selain buta kau juga tuli ya? ", Juan menarik tangan kiriku supaya aku kembali ke posisi didekatnya
" Ha? Oh ada kau rupanya, ada masalah kalau saya pulang sama Embun?", Nandes menarik ku lagi sedikit menjauh dari Juan.
" Kau sudah gila ya? Mau mati? Jangan ganggu Embun", Juan menarik ku lagi mendekatinya.
__ADS_1
" Oh si bangsat ini mulai berani, seharusnya kau mati saja kemarin. Sialan", Nandes menarik ku lagi.
" STOP…. BERHENTI.. udah gila ya kalian", Tanganku sakit dan kepalaku sakit karena helm yang kupakai. Aku sangat kesal, apa mereka gak sadar semua orang menonton kami.
Aku melepaskan tanganku dari mereka berdua " sudah cukup… kalian seperti anak TK tau gak... aku mau pulang sendiri. Aku gak akan pulang sama kalian berdua. Oke, jadi berhenti", aku marah.
Setelah itu aku berjalan ke arah tempat aku biasa menunggu angkot, tetapi balik lagi ke arah Juan. Juan tersenyum berfikir aku berubah pikiran.
" Ini helm kakak. Sana pulang kalian. Bikin kesel aja", aku memberikan helm itu ke Juan dengan agak kasar dan mendelik sewot kepada Nandes yang dibalas dengan senyuman rasa bersalah, lalu aku pergi dengan mengomel.
***
Besoknya kejadian itu menjadi pemberitaan hangat di seantero sekolah. Juan bersaing dengan anak STM untuk memperebutkan Embun, Ternyata Embun selingkuh, Embun si sok cantik, Embun bla bla bla… aku sampai pusing mendengar laporan eksklusif dari Elsa. Semua orang memojokkan aku.
Saat bertemu Sarah lebih parah, dengan terang-terangan menyindir. " Gila ya sok kecantikan, gak puas sama satu doang ya. Emang sih udah kelihatan dari awal". Kira-kira begitulah isi sindiran itu.
"Gila-gila, kamu beneran jadi selebritis sekolah ngalahin si Yuni", Elsa mencomot baksonya.
" Wah... kamu liat gak aku sepertinya bertambah tua karena beban yang aku pikul", Aku mengeluh sambil mengaduk-aduk baksoku malas.
" Iya sih bebh, ada rambut putih di kepalamu", Elsa mengiyakan dengan kasihan.
" Eh tapi ya... dari gosip yang beredar, Nandes cakep banget ya? katanya sih memang kelihatannya petakilan gitu, tapi murah senyum gak kayak kak Juan yang gak pernah senyum ke orang lain tapi keren juga sih", Elsa mulai ngoceh-ngoceh.
" Dia lebih parah dari Juan. Dia nekat Sa" , aku mengeluh.
" Masa? wah romantis banget sih dia, sampe segitunya", Elsa memuji.
Aku melihat ke arah Elsa dengan tatapan ' kau sudah gila?'. Membuat Elsa nyengir gak jelas.
"Jadi kamu pilih yang mana?", Elsa bertanya lalu menyeruput es tehnya.
" Apa sih ! Gak ah aku gak tau. Mungkin mereka berdua cuma iseng aja. Paling juga bentar lagi mereka berhenti gangguin aku ".
Elsa mengangguk " Gak, menurut aku dan Adam mereka itu serius suka sama kamu".
Aku bengong " Kamu sama Adam? kalian udah sahabatan sekarang?", Aku menebak.
Elsa tergagap " eh.. iya. kita sahabatan sekarang, gak berantem lagi".
Aku mengangguk tidak sadar apa yang terjadi sebenarnya antara Elsa dan Adam. Aku yakin lama-lama gosip akan menghilang dengan sendirinya. Itu Pasti.
__ADS_1
***
Aku dengan rasa malas dan kantuk yang menyerang tetap duduk mendengarkan ketua panitia berpidato di saat rapat. Rasanya hari ini ingin pulang saja ke rumah dan berbaring sambil menonton film komedi atau horor.
" Embun, gimana? Kelas 3 sudah setuju kan untuk mengisi acara?", ketua panitia bertanya padaku yang sedang terbengong ria.
" Eh iyaa.. sudah kok. Mereka setuju, mungkin 2 lagu yang dibawakan", aku menjelaskan.
" Oke bagus, kita besok tidak ada rapat ya. Istirahat dulu, nanti akan dibuat undangan untuk beberapa sekolah tapi yang datang hanya perwakilan guru dan 5 siswa dari setiap sekolah yang di undang ", ketua panitia berbicara panjang lebar.
Sepertinya yang menyimak cuma sedikit, ini menjelang akhir pekan dan ketua panitia dengan hebohnya ingin rapat. Sangat menyebalkan.
Ketika rapat selesai, semua bergembira. Nyawa yang sempat hilang entah ke mana langsung kembali secara spontan. Aku cepat-cepat membereskan bukuku, hari ini Elsa pulang duluan. Kalau dia menungguku katanya kelamaan.
Aku berjalan dengan riang menuju gerbang sekolah.
" Embun duluan ya", beberapa teman menyapaku, semuanya ingin cepat-cepat pulang. Aku balas dengan senyum ramah.
Aku mempercepat langkahku. Tidak mau ditinggal sendirian di sekolah, ini sudah cukup sore.
" Hayo.. ", Juan keluar dari balik bunga pagar untuk mengagetkanku.
Aku terkejut dan hampir terjungkal, dengan sigap Juan menangkap aku. " Maaf… Maaf aku tidak sengaja", Juan merasa bersalah.
Aku melihatnya dengan mata berkaca-kaca " Dasar babon… bebek koreng… huhu… kodok jelek huhu", aku mulai menangis. Jantungku berdebar cukup cepat karena kaget sekali.
Juan terkekeh " Itu caci maki? Ya udah emang aku kodok jelek. Maafin aku ya ", Juan menenangkan ku.
Aku sedikit terisak, memegang perutku yang mulai berbunyi lalu melihat Juan.
Juan tertawa " Yuk makan. Ada nasi goreng enak di dekat sini", Juan menghapus sisa air mata di pipiku. " Tapi aku mau kasih kamu ini", Juan menyodorkan lipatan Merpati kertas berwarna kuning dan putih padaku.
" Maafin aku soal Sarah, aku benar-benar minta maaf, seharusnya aku lindungi kamu dari awal, Junet sudah memperingati. Tapi aku terlalu menganggap enteng. Maafin aku", wajah Juan terlihat sangat sedih.
Ada sedikit rasa nyeri di hatiku melihat wajah Juan yang sedih seperti itu.
" Iya aku gak apa-apa. Kamu udah nolongin aku hari itu. Kamu jagain aku juga. Makasih ya", aku menggenggam tangan Juan dan tersenyum.
Juan membalas genggamanku, lalu kami berjalan bersama menuju tempat parkir motor. Dan tanpa kusadari dalam hangat genggaman tangan Juan, terasa seperti ada kupu-kupu yang hinggap di perutku dan berterbangan naik ke dada. Aku bahagia saat ini.
***
__ADS_1